Remaja Penyemir Sepatu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 2 December 2017

Di suatu siang yang amat terik, terdapat anak laki-laki yang sedang termenung di halte bus. Ia membawa kotak semir sepatu. Anak itu bernama Paijo. Ia adalah seorang anak yatim piatu. Ia sedang menunggu seseorang untuk menyemirkan sepatu kepadanya. Ia harus bekerja sebagai penyemir sepatu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolahnya.

Setelah lama menunggu, datanglah seorang bapak-bapak yang menghampirinya.
“Ada apa nak, kok duduk termenung sendiri di sini?” tanya bapak itu
“Saya sedang menunggu seseorang untuk menyemirkan sepatunya kepadaku.” ujar Paijo
“Di mana orangtuamu, sehingga kau harus bekerja seperti ini?” tanya bapak itu lagi
“Orangtua saya sudah meninggal, pada saat saya masih kecil. Orangtua saya meninggal akibat tragedi kecelakaan 7 tahun yang lalu. Saya menjalani hari-hari saya dengan sebatangkara. Oleh Karena itu saya harus menjadi penyemir sepatu untuk melanjutkan hidup saya.” ujar Paijo
“Apakah kamu bersekolah?” tanya bapak itu
“Iya, saya sudah sekolah. Saya sekarang telah duduk di kelas 2 SMP.” jawab Paijo

Kemudian bapak itu, mengalihkan pembicaraan, dengan menyuruh Paijo menyemirkan sepatunya. Setelah Paijo menyemir sepatu, bapak itu membayar Paijo dengan uang 100.000. Paijo merasa tidak enak, kemudian ia mengembalikannya kepada bapak itu, tetapi bapak itu menolak. Ia telah memberikan uang itu kepada Paijo. Paijo sangat berterima kasih kepada bapak itu. Kemudian bapak itu pergi dengan berkata “Engkau nanti akan menjadi orang sukses” kepada Paijo dengan tersenyum.

Matahari telah terbenam di ufuk barat, Paijo pun mengemasi barang kotak semirnya dan bergegas pulang, meninggalkan halte bus itu. Pada saat perjalanan pulang ia melihat sebuah poster tentang lomba cerdas cermat. Lomba cerdas cermat itu diadakan pada tingkat kabupaten. Ia pun segera mencatat informasi tentang cerdas cermat tersebut. Waktu pelaksanaannya adalah besok, pada hari minggu. Ia sangat senang karena bisa mengikuti lomba itu tanpa bolos sekolah. Setelah itu ia berjalan pulang dengan hati gembira. “Aku harus mengikuti lomba itu dan menjadi juara” gumam Paijo dalam hati.

Waktu pukul 19.00 WIB, ia tiba di rumah kecilnya yang terbuat dari kardus dengan luas 1m x 2m, yang hanya digunakan untuk tempat tidur dan menyimpan perlengkapan sekolahnya, dengan beralaskan tanah yang dilapisi dengan plastik tipis yang sudah rapuh. Kemudian ia belajar dengan sungguh-sungguh untuk persiapan lomba besok dengan menggunakan lilin yang ia nyalakan.

Tak terasa waktu berlalu, suara kicauan burung pun terdengar. Paijo pun menutup bukunya dan bergegas ke masjid untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat ia berkemas untuk persiapan menuju tempat lomba.

Waktu pukul 06.00 ia bergegas pergi ke halte bus untuk naik bus menuju tempat lombanya. Tempat lomba itu sangat jauh dari rumahnya dan pelaksanaannya pukul 08.00 WIB. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya ia pun sampai di tempat lombanya. Ternyata ia sampai pada waktu 07.50 WIB, ia sangat bahagia karena tidak terlambat mengikuti lomba itu.

Bel berbunyi, tanda lomba dimulai. Paijo pun mengerjakan soal-soalnya dengan teliti. Setelah 2 jam berlalu, bel berbunyi, tanda lomba selesai. Setelah mengumpulkan, Paijo pun keluar dari ruangan dan berdoa agar ia bisa mendapatkan juara. Akhirnya waktu yang telah ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pengumuman hasil lomba. Paijo pun sangat senang setelah juri mengumumkan bahwa ia mendapatkan juara 1 tingkat kabupaten.

Setelah ia mendapatkan juara 1 di tingkat kabupaten, kemudian ia dikirim lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Di provinsi ia mendapatkan juara 1, sehingga ia dikirim lomba cerdas cermat tingkat Nasional. Tak disangka ia mendapatkan juara 1 dalam lomba itu. Kemudian ia dikirim untuk mewakili Indonesia ke Jenjang Internasional. Ia mendapatkan juara 3 di lomba tingkat Internasional tersebut. Oleh karena itu, ia sekarang sekolah dan hidup di luar negeri. Hidupnya di luar negeri sangatlah terjamin.

Waktu berlalu begitu cepat, setelah ia hidup di luar negeri selama 2 tahun, ia pun kembali ke Indonesia. Ia sangat merindukan negeri yang tercinta ini. Ia kembali ke Indonesia dengan membawa segudang ilmu. Paijo pun mengajarkan anak-anak yang terlantar untuk mendapatkan ilmu walaupun tidak sekolah karena tidak bisa membiayai sekolahnya. Oleh karena itu, ia mendirikan sekolah untuk anak-anak tersebut. Walaupun ia telah mengajarkan ilmu bahkan mendirikan sekolah bagi anak-anak yang terlantar, tetapi ia tetap sekolah dan bekerja sebagai penyemir sepatu. Paijo tidak pernah sombong dan ia tidak pernah putus asa. Akhirnya Paijo pun menjadi seorang remaja yang sukses.

Cerpen Karangan: Rizki Tri Utami
NAMA: RIZKI TRI UTAMI
KELAS: VIII- A
SEKOLAH: SMP NEGERI 1 PURI

Cerpen Remaja Penyemir Sepatu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Sebuah Mimpi Dipahami

Oleh:
Tidak kusangka, siang yang tadinya ingin kujadikan waktu bersantai untuk melepas lelah. Setelah seharian berolahraga seperti minggu biasanya, malah berubah menjadi momen paling mengasyikan daripada hanya sekedar melepas rasa

Desiran Ombak di Senja Hari

Oleh:
Menggulung-gulungnya ombak melukiskan pasang surutnya kehidupan. Menepis menjauhi pantai ketika dia datang perlahan menuju imajinasi. Butiran pasir setiap saat dapat berubah menghantui pejalan kaki. Karamnya sampan tersebut ia perhatikan,

Anak Hujan

Oleh:
Matanya menyipit memandang terik matahari, kaki kecilnya berjalan lincah, hatinya bergeming penuh harap. Ketika sampai di rumah reot mirip gubuk matanya melebar mencari-cari sesuatu. Dia berjalan dan mengambil sesuatu

Jingga di Ujung Senja

Oleh:
“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”

Tiga Sahabat Berakhir Dua

Oleh:
Pagi ini kota indah Jogjakarta diselimuti awan dingin. Selimut tebal masih menempel di tubuh, agar si dingin tak menyambangiku. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkan dingin hanya dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *