Renungkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 26 June 2013

Alex terlahir dari keluarga cukup berada, masalah uang, alex tinggal mengulurkan tangan, masalah makan dan sebagainya sudah di atur oleh baby sister yang biasanya dipanggilnya “BIBI”. Dan semua keindahan itu menjadikan Alex sombong dan angkuh, Menjahili adik dan hidup berfoya-foya adalah kebiasaannya. Tawuran. sombong. judi dll

Orang tuanya mulai sakit-sakitan dan kini telah tiada. Di saat itu ia sedang tawuran dengan pelajar lain.

Alex berpikir semuanya serba gampang dan mudah di depan. itu karena memang apa yang di minta selalu di penuhi berkat warisan dari orang tuanya saat orang tuannya meninggal. Alex mendapt bagian warisannya. Semua adik dan kakanya kini telah hidup masing-masing dengan warisan yang sama.

Alex memutuskan pergi jauh untuk merubah nasibnya di rantau, namun di rantau bukannya berusaha mencari pekerjaan yang layak, justru uang warisan orang tuannya itu di gunakan untuk main perempuan dan berfoya-foya bersenang sepanjang hari.

Sebulan…
dua bulan…
dan tiga bulan kemudian uang itu pun tinggal kenangan tak tersisa karena ulah Alex sendiri.

Ia teringat kaka dan Adiknya yang dulu sering ia abaikan, ia meraih hape dan mencoba menelepon kaka dan adiknya, namun tak ada yang mau angkat. Alex semakin binggung dan frustasi. Ia kini menyadari saat dimana hubungannya dengan Adik dan Kakanya tak Harmonis karena ulahnya. tingkahnya yang angkuh.

Seorang wanita tak sengaja melihatnya menangis tertunduk di pinggir jalan. Wanita itu iba dan membawa Alex pulang, menjadikannya anak kepercayaan dalam rumahnnya. Alexpun menikah dengan gadis cantik pemilik rumah. Alex di tempatkan di perusahaan dengan posisi yang sangat baik. Wakil dari perusahaan. Semakin hari ia kerja makin giat, kerja pagi pulang malam. Istrinya di rumah setiap malam menunggunya di bawah terang rembulan, sampai kadang ia tertidur di teras dan terbangun dengan iler di pipi.

Istrinya dapat memahami dan mengerti Alex, karena ia selalu berusaha mencintai Alex sepenuh hatinya apapun kondisinya, meski sangat sakit jika di pikir, karena perhatian dan cinta Alex lebih kepada kerjaan bukan dirinya, Walau Alex selalu bilang, “ini demi keluarga”, dan ia ingin mandiri. namun ia lupa sekarang hubungannya dengan karyawannya sungguh sangat berantakan terlebih dengan istrinya, karena ingin meningkatan produksi perusahaan karyawannya di paksa kerja tanpa upah lembur, saat mereka sakit karena kelelahan Alex bukannya meliburkan, sebaliknya memecat mereka karena ia berpikir masih banyak yang butuh kerjaan. Disisi lain, istrinya harus sendiri di rumah, menahan setiap rindu dan sayang yang perlahan membunuh senyumnya, berganti dengan tangis yang kian tak henti. Bahkan orang-orang kepercayaannya yang dulu setia menjadi tangan kanannya, mulai satu persatu meninggalkannya karena tak tahan dengan amukan dan kata kasar yang mereka dengar setiap hari dari mulut Alex, namun dapat di atasi dengan merekrut karyawan baru yang lebih baik dan berpendidikan tinggi.

Hari ini ia mendapat kabar istrinya akan melahirkan, namun ia sibuk atau sengaja tak peduli, ia hanya bisa sms istrinya dan menguatkan istrinya dengan rayuan dan sesekali membawa-bawa alasan ekonomi, betapa sakit hati sang istri, ia mencoba redam, sedalam-dalam mimpinya tentang kenikmatan indah berumah tangga yang katannya indah, seperti kata teman-teman, ia hanya menangis dan berjalan merangkak ke tetangga untuk minta tolong karena sakit yang tak tertahankan, di saat seperti ini orang tuannya pun tak bisa berbuat banyak karena sekarang untuk berjalan saja mereka sulit, usia lanjut telah merenggut keperkasaan, masa jaya dimana hidup terasa indah di jalani, umur mereka terlalu tua, meski tergolong orang mampu, mereka hanya bisa membayar orang-orang yang masih mau mendorong kursi rodanya, walau sekedar melihat keindahan senja di ufuk.

Sang Istri sekarang di rumah sakit, dan ia melahirkan tiga putri kembar yang sangat-sangat cantik dan lucu-lucu. Momo, Echa dan Mayang nama ketiga anak itu.

ADVERTISEMENT

Saat Bidan mengatakan dimana ayahnnya, untuk mengurus surat-surat yang harus di isi. Istrinya hanya menatap tajam dan mengatakan. “sebentar lagi ia datang, semoga di saat seperti ini hatinya terbuka, katanya menahan pedih yang mengiris hati. Ia menahan air matanya karena tadi darahnya banyak sekali membuatnya tak kuat lagi menahan beban yang selama ini, seperti langit di atasnya dan ia bisa merasakan setiap tetes darahnya yang kian tak henti, melahirkan 3 orang bukan masalah mudah, dimana ia seperti ingin mati karena sakitnya sungguh luar biasa hebat.

Sementara tetangga hanya menunggu di samping tempat tidur, dengan mencoba merasakan beban batin yang di rasakan sang bidadari yang terbaring lemah di tempat tidur. Sambil sesekali menghapus keringat yang seperti orang berlari seribu kilo.

Besok hari datanglah Alex, dengan sepotong bunga serta makanan kecil lainnya dengan senyum lebar sekali, menaruh di sebelah istrinya, meremas kuat jemari serta memberi ciuman hangat membasahi bibir istrinya yang mengering karena takut, karena beban, karena sakit yang terlalu lama di pendam. karena lapar dan frustasi.

Istrinya perlahan-lahan membuka mata dan tersenyum hangat melihat suami yang sangat ia cintai. Ia mencoba tersenyum palsu menyembunyikan rasa sesal di dasar hati yang kian membara, ia menujuk ketiga putri cantiknnya yang cantik-cantik terbungkus kain di sebuah tempat tidur kecil. Alex menghampiri ketika putrinya dan membelai-belai pipi mereka manja, ia berlalu menghampiri istrinya kembali mengecup pipi istrinya dan pamit karena kerjaan di kantor menanti.

Meski berat, sang istri mengganguk lemah tak berdaya melepas orang yang seharusnya lebih mengerti keadaan ini dan tetap disampingnya, bercanda dan berbagi kisah, mengenang kembali saat mereka pacaran atau sekedar menceritakan sebuah dongeng untuknya agar ia kuat seperti saat pertama ia merayunya menuju pelaminan.

Ta… ta.. ta.. tapi.. semua kini terlambat, semua jauh dari kata INDAH

istrinya sekali lagi merelakan air matanya yang bicara memandang langkah suaminya pergi, di saat begini Alex telah lupa akan adik dan kakanya. telah lama ia tidak bertemu dan sekedar say hello. Walau hanya untuk mengenang masa dulu. Ketiga anaknnya Mayang, Momo dan Echa sekarang tumbuh dewasa dan memasuki sebuah tingkat SMA terbaik. Mereka bertiga hanya melihat Alex kalau malam telah tiba. itu pun kalau mereka belum tidur terlelap dengan mimpi, sementara sang istri sekarang mulai sakit-sakitan, namun ia menyembunyikan dari Alex, termasuk ketiga putrinya, karena ia takut itu akan menggangu sekolah serta pekerjaan anak serta suaminya.

Hari ini anak kembarnya ulang tahun, harusnya Alex disini, mengucapkan selamat kepada mereka walau untuk sejenak dan mengucapkan selamat ulang tahun, hanya sebuah kue Tar tingkat 2, di rayakan secara sederhana, ketiga anaknnya menyadari usaha mamanya yang dari pagi diam-diam membuat kue ini, dengan tubuh yang sengaja di paksakan karena sakit

“mah… aku merasa ada yang kurang hari ini? kenapa selalu seperti ini? Kami tak butuh ulang tahun kami di rayakan, tapi seseorang yang bisa merangkul kami kuat, kami punya ayah kan?” mayang sebagai kaka berkata, mungkin itulah harapannnya di ulang tahun mereka ini, jelas mereka iri setiap melihat di sekolah dimana seorang anak menggandeng ayahnya, mereka sangat sedih.
Semua terdiam, keadaan menjadi hening.. sangat hening.

momo mulai ke belakang dengan alasan tidak enak badan, sementara Echa tertunduk menahan gejolak di hatinya sambil sesekali memainkan garpu, Mayang dan ibunya saling berpandangan untuk kesekian kalinya.

“makanlah nak.., kue itu nanti basi, Ayah kalian sibuk” sang mama berkata menahan pedih di hati, ia tak punya jawaban atas pertanyaan anak-anaknya yang di rasa terlalu sulit di jelaskannya.

Di tengah malam Alex pulang dan seperti biasa sang istri menunggu di depan teras hanya berselimutkan kain, sementara anak-anaknya telah terlelap dengan mimpinya. Alex benar-benar lupa bila hari ini anak-anaknya ulang tahun, ia mencium pipi istrinya dan makan serta tidur.
“ayah…? apa kamu lupa sesuatu hari ini? kata sang istri memancing.”
Alex memeriksa semua baraangnya.
“tidak ada mah, maaf ya? papa sibuk banget hari ini, papa mau tidur? kata Alex berlalu masuk kamar, sementara sang istri tertunduk lemah di sofa sambil memandang langit-langit kosong.”

Suatu siang Alex mendapat kabar istrinya di rumah sakit dan Alex harus segera datang, namun lagi-lagi Alex terlambat, ia hanya melihat nisan istrinya ketika ia datang keesokan harinya, tanahnya belum kering karena hujan semalam. Seluruh pelayat meninggalkannya, termasuk ketiga putrinya yang tak mau mendekatinya. Kematian sang istri yang sangat ia cintai membuat ia mengurung diri dan melamun hanya tertunduk di kursi goyang.

Hasil uang yang Alex kumpulkan selama ini untuk menghidupi keluarganya sekarang ia kumpulkan untuk membiayai dirinya sendiri di sebuah panti jomblo eh jompo dengan fasilitas mewah. Namun ia sendiri tak ada adik kakak yang menengok apa lagi ketiga putrinya. Ketiga anaknya mayang, momo dan Echa telah hidup berkeluarga tanpa peduli pada Ayahnya.

Kidup ini cuma sekali, apa yang kita kerjakan di hari ini menentukan akan hari esok. Uang memang perlu tapi keluarga lebih penting, sekarang di mana pun kalian berada dan membaca ini, percayalah, kalian harus mencintai kaka, adik, papa, mama, sahabat, bahkan dirimu sendiri, percayalah suatu hari kelak kalian akan membutuhkan mereka juga.

Kita tidak bisa hidup sendiri, hargailah setiap pertemuan di hari ini, dan setiap kesalahan masa lalu adalah wajar,
Tidak akan wajar jika kesalahan itu berulang-ulang apalagi kamu tak pernah bisa merubahnya saat semua menjauh dan meninggalkan mu sendiri.

Sekarang pilihan ada di tangan kalian.
ini hanya sebuah karangan Alfred, yang akan kalian baca dan lupakan, tapi ingatlah jika saat ini kamu punya masalah dengan sahabat, kakak, adik, orang lain, selesaikan lah.

Ingatlah! suatu saat kalian membutuhkan mereka?
Jadi jangan abaikan hal-hal yang kecil jika ingin mencapai hal besar, karena setiap hal besar selalu di mulai dari hal kecil, seperti kamu terlahir dan menuju dewasa, namun prosesnya yang lebih penting, kita akan hidup dan sudah pasti MATI. tapi apa yang kita Tabur hari ini akan kita Tuai saat waktunya tiba.

Terlihat sederhana bukan?
tapi jangan sekali-kali kalian mengabaikannya. Atau kalian melewatkan kesempatan yang tak mungkin bisa di beli. Atau kata lain, kalian telah gagal.

Saya alfred salam cinta, kedamaian dan sampai jumpa semoga kalian terinspirasi.

ALFRED

MOTIVATOR ULUNG

bukan PEMULUNG

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie[-at-]yahoo.com

Yang mau curhat?
inbok gue ya?
alfredpandie[-at-]yahoo.com
or
Wechat or whatapps = 087817126653

Cerpen Renungkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rinjani Dalam Tulisan

Oleh:
Pagi yang manis. Udara dingin bercampur dengan aroma tanah basah yang menyejukkan. Kulirik jam dinding kecilku, pukul 7 pagi. Hampir saja aku kesiangan. Aku bergegas bangun dan mengambil handuk

Mbuletisasi (Part 1)

Oleh:
Ceritaku kuceritakan, inilah cerita kisah hidup sebenarnya beberapa orang yang pernah terjadi, bahkan rasanya yang mungkin akan selalu diingat kejadiannya dimana rumah yang menjadi pelindung untuk tubuh dikala panas

Jingga di Ujung Senja

Oleh:
“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”

Duduk di Sekitar Terminal

Oleh:
Jawablah jika kamu ditanya, dan jangan pernah bingung untuk menjawab, apapun itu jawabannya. Seperti hari ini aku pulang sekolah, dan seperti biasa aku naik angkutan umum yang melewati depan

Aisyah

Oleh:
Suasana terasa sangat dingin. Bukan faktor cuaca. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Hening namun tiada khidmat. “Bapak tidak mengerti jalan pikiranmu. Selama ini bapak membiarkanmu berteman dengan siapapun karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Renungkan”

  1. Reina says:

    Jujur, aku baca cerpen ini mau nangis tapi ngga bisa , cerpennya bagus, terus ada pesan moralnya lagi, sukses ya buat penulisnya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *