Requiem Karma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 July 2014

Perlahan cahaya lazuardi menghilang dari rangkaian senja petang ini, lampu-lampu mulai menyala di setiap sudut kota; di tepi jalan, tempat-tempat ibadah dan gedung-gedung tinggi pun tak mau kalah memberikan gemerlap cahaya dan menghiasi kota.

Betapa indahnya malam di kota ini, penuh gemerlap cahaya. Namun di balik keindahan itu semua masih banyak tak nyaman dipandang dari kota ini; asap-asap liar bertaburan memenuhi permukaan kota, jalan-jalan dibiarkan berlubang, sungai-sungai kini telah berwarna-warni sebab penuh sesaknya sampah yang dibuang disana dan juga anak-anak yang dibiarkan penuh borok dan kusta di tempat-tempat kumuh.

Aku terpaksa melakukan ini semua, tak ada maksud lain hanya demi menyambung hidup, karena seperti yang kau tahu di negeri ini tak mudah mendapatkan sepiring atau sebungkus nasi hanya dengan lima ribu rupiah, padahal uang sebesar itu masih sangat berharga untukku, bahkan bagi orang-orang yang tengah menengadahkan tangan di pinggir jalan itu.
Karena di negeri ini nilai tukar uangnya ke dollar di bursa internasional menukik turun, oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan aneh yang tak masuk akal bagi kalangan kami yang makin menyayat-nyayat hati.
Mulai dari menaikkan harga sembako yang bergantian naik, menaikkan harga bahan bakar, mungkin kau seringkali temukan harga tinggi yang tak sesuai dengan barangnya, terkadang juga harga celana dalam menjadi ratusan juta dan mungkin kau takkan temukan lagi kata-kata gratis di kota ini; minum, mandi dan buang air kecil pun bahkan harus bayar.
Maka dari itu, aku melakukan semua ini, aku tak ingin menjadi gembel-gembel yang bermukim di tempat-tempat kumuh; di bawah kolong-kolong jembatan, di pinggir rel-rel kereta api dan di gang-gang sempit. Meskipun dengan melakukan hal ini harus mengorbankan raga.

Aku tak peduli perkataan orang-orang tentangku, kujuga tak peduli tentang pekerjaan yang kujalani saat ini diberitakan di suatu surat kabar satu halaman penuh layaknya kabar duka milik orang-orang kristen yang menyesakkan satu halaman di suatu surat kabar di setiap kali terbitnya.

Pekerjaan yang kujalani saat ini memang mudah, tak perlu buang-buang tenaga dan membuat punggung bungkuk bahkan terkadang ku juga merasa nikmat melakukan pekerjaan ini.

Ekspresi wajah-wajah yang tak asing bagiku tiap malam bagi mereka-mereka yang berlalu-lalang di tempat urakan ini. Ada yang melirik licik, menyumbar senyuman manis dan merayu manja.
Mulai dari kalangan om-om yang tebal dompetnya, pejabat-pejabat dengan perut semakin buncit dan bahkan remaja-remaja ABG yang mungkin masih duduk di bangku sekolah.

Akan tetapi dari sekian banyak dari mereka, ada yang lain dengan salah satu klien ini yang tak seperti kebanyakan klien-klienku seperti yang sudah-sudah. Dia daang setiap malam tak lain hanya untuk mencurhatkan tentang sekelumit hidupnya.

Dia seorang direktur di salah satu perusahaan terbesar milik ayahnya di kota ini. Dia seumuran denganku namanya Alan, pria keturunan hindia-belanda yang setiap malam datang ke lubang neraka ini hanya untuk memintaku pendapat atau masukan tentang kehidupannya yang kelabu.
“aku tak mengerti padamu, lan. Mengapa harus kepadaku? Masih banyak di luar sana yang dapat membantumu memberikan jalan keluar. Pergi ke kiai kek, dukun kek atau sahabatmu?!.”
“entahlah, aku tak tahu harus kemana lagi. Aku hanya mengikuti naluri, seakan ada yang menuntunku kesini.” jawabnya singkat.
“Mungkin sekarang kau perlu hiburan?” ujarku seraya merayunya.
“maaf, aku tak bisa” sergahnya seraya melepaskan pelukanku.
“kenapa?!, bukankah itu tujuanmu datang kesini?!.”
“sekali lagi maaf, mungkin nanti kau akan tahu akan jawabannya.” Ucapnya seraya meniggalkanku dengan sekoper uang.

Waktu semakin kencang berlari, kami mulai akrab melewati malam-malam yang remang bersama. Setelah itu, perlahan ku mulai mengerti tentang kehidupannya yang kelabu, pernah ia bercerita tentang ayahnya yang semakin menjadi menggelapkan uang negara dan membuat ibunya terbaring tak berdaya di ranjang seng lapuk karena memikirkan ayahnya yang tiap malam bergonta-ganti pasangan dan berteman dengan sebotol bir.
Dan ia juga bercerita tentang hidupnya tak akan lama lagi karena penyakitnya yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya sehingga membuat ia bercerai dengan istrinya di usia pernikahan yang sangat muda.

Aku miris mendengar semua tentang kisah hidupnya, ternyata masih ada yang lebih menderita dariku. Agaknya semua akan sia-sia jika hanya terus menceritakan semua kepadaku, karena seperti yang kau tahu aku buakan siapa-siapa, ku hanyalah penghias malam dan berselimut kegelapan.

Aku tak akan bisa memberikan jalan keluar kepadanya, padahal ia telah mengorbankan seluruh uangnya kepadaku tanpa melakukan hal yang semestinya dilakukan klien-klienku seperti yang sudah-sudah.

Malam ini, kota begitu gemerlap. Entah malam yang keberapa ia menceritakan semua hal yang dialaminya. Tetapi ada yang aneh dengan dirinya malam ini, ia tampak pucat dan lesu tak seperti malam-malam yang sudah-sudah, nampak ceria meskipun rasa ketakrelaan terhadap takdir berkelindan di bahunya.
“maaf, mungkin malam ini adalah malam terakhir kita, ku mau bertanya satu hal sebelum kita berpisah”
“mengapa harus secepat ini?” tanyaku tak percaya.
“apakah kau mencintaiku?, jujur saja aku mencintaimu. Seandainya kau tak melakukan pekerjaan ini, mungkin ku sudah mempersuntingmu saat pertama kali kita bertemu, apa yang membuatmu terjerumus ke tempat urakan ini, padahal masih banyak di luar sana pekerjaan yang halal?”

Seketika ada yang keluar dari mataku, aku juga mencintainya mungkin kalau aku tak memilih pekerjaan ini mungkin aku akan bahagia bersama Alan. Tetapi entah kenapa aku sedih bukan karena itu. Seketika aku teringat pesan nenek dulu sebelum menutup segalanya.
“apa pun yang terjadi nduk, kamu jangan sekali-kali meninggalkan nenek, apalagi pergi ke kota untuk mencari bibimu, karena hukum karma masih berlaku, nenek takut”.
Dulu aku tak mengerti akan pesan nenek waktu itu. Tapi perlahan aku mulai paham akan semua. Aku berpikir, apa yang pernah diperbuat ayah dan ibuku dulu. Akankah hukun karma itu telah menimpaku?.

Cerpen Karangan: D Hasany Achmad
Facebook: Sany Acdovic

Cerpen Requiem Karma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ramadhan in Love

Oleh:
Sifa adalah seorang pelajar di sebuah SMA favorit di daerahnya, ia berhijab semenjak menduduki bangku MTs, ia adalah gadis desa yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Pengetahuan

Menjala Asa

Oleh:
Kom melihat dengan pandangan kosong sawah-sawah yang kini mulai keriput. Bongkahan-bongkahan bekas bajakan yang terinjak-injak kaki masih kentara. Memang disaat ini dapat dikatakan musim paceklik. Untuk mencari air saja

Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang

Oleh:
Suasana pagi nan indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan pantai yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Tak tertinggal, burung-burung berterbangan di sekitaran semenanjung pantai

Trapped By Love

Oleh:
Berjalan menyusuri keramaian kota pada sore hari. Aku terus berjalan untuk menemui seseorang di hadapan sana. Seth. Teriakku dengan suara yang menggema. Lelaki di hadapan sana terdiam dan memutar

Insan dan Waktu

Oleh:
Alkisah, di suatu Lautan Kehidupan berjajarlah beberapa pulau. Pulau-pulau itu bernama Pulau Masa Lalu, Pulau Mimpi, dan Pulau Masa Depan. Ketiga pulau tersebut saling terpisah, namun berdampingan. Suatu hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *