Restu dan Maaf Sangat Mengharukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 May 2013

Herman Putranto adalah orang yang baik, guru yang disukai anak-anak didiknya. Guru teater dan sastra di SMK berasrama. Para laki-laki semua, murid-murid yang berasal dari berbagai daerah, bisa menyatu dalam pagelaran drama, merupakan karya bermutu yang juga dipublikasi media elektronik dan media cetak, membuat sekolah mengangkat dia jadi pembina OSIS. Juga memberikan kesempatan padanya untuk mengawasi setiap murid yang tinggal di asrama.

Benih cinta tumbuh di hati anak pemilik yayasan, Clarisa Vania, 22 tahun yang mau selesai kuliah dan membantu ayahnya, Pak Markus Leonard, 50 tahun bapak yang baik namun sudah menjadi agak tertutup. Bapak Clarisa itu sebelum tahu kenapa Clarisa tertarik pada Herman, sangat sering berbincang dengan Herman agar bisa memperoleh nama baik sekolah di lingkungan pemerintahan daerah maupun di masyarakat. Pak Markus suka pada ide-ide Herman, agar memberdayakan siswa yang pintar maupun yang kreatif agar mau terjun dalam tiap event yang sifatnya bertanding. Kemudian menang dan di ekspos berita. Nama sekolah juga semakin harum dan jumlah calon siswa semakin bertambah, dan tentunya pendapatan yayasan semakin tinggi. Demikian jasa Herman hingga membuat Pak Clarisa mempercayakan Herman lebih dalam daripada Kepala Sekolah Pak Yuswan.

Pak Yuswan sebetulnya tidak iri hati untuk soal itu, tetapi karena adanya perhatian Clarisa pada Herman yang membuat Pak Yuswan mulai ada niat memisahkan hubungan itu demi mencari perhatian Pak Markus. Bukan karena Pak Yuswan ingin menarik hati Clarisa sih, tapi demi mendapat bonus dari Pak Markus, dia mulai memberikan informasi yang tidak bagus kepada Pak Markus. Ibaratnya menjatuhkan nama Herman tanpa bukti yang benar. Takut jabatannya dilengserkan karena anak pemilik sekolah telah tertambat hatinya pada Herman.

Nyatanya memang begitulah Clarisa yang sudah meminta Herman menerima cintanya. Herman diharapkan bisa mendampinginya untuk bisa mengelola sekolah dan asrama dengan baik sesuai amanat Bapak Clarisa. Herman semula tidak enak hati walau akhirnya dia setuju juga. Clarisa anak baik dan punya semangat walau tidak secantik beberapa guru wanita dan kenalan Herman. Namun yang jelas hatinya baik, itulah yang membuat Herman tidak berani meninggalkan Clarisa.

Pak Markus mendapat penuturan Pak Yuswan dengan perasaan heran. “Oh, jadi ada apa-apanya antara mereka ya?” serunya sambil merenungkan masa lalunya. Jelas pengalaman buruk itulah yang membuatnya jadi pendiam dan telah memutuskan sekolahnya untuk tidak menerima murid wanita karena demi masa lalunya itu. Bukan karena ada guru yang pacaran dengan murid wanita, atau ada berita miring lain, atau ada murid-murid berhubungan gelap lalu ada yang hamil seperti berita di berbagai media, yang membuat cemar nama sekolah, tetapi justru di dalam rumah tangga Pak Markus sendirilah sebabnya..

Ingat masa lalu, ketika Clarisa masih 3 tahun dan Bapak Markus sebagai pewaris dari Sekolah yang di kelola bapaknya. Pak Markus memilih terima warisan sebagai pengelola sekolah selain perusahaan lain yang di kelola ketiga adiknya, yaitu pabrik makanan dan perabotan. Memang dia berasal dari orangtuanya yang kaya sehingga Pak Markus hidup berkecukupan hingga sekarang. Namun sedihnya, dia punya istri yang tidak setia padanya.

Memang wajah Pak Markus tidak dikaruniakan ketampanan dan kegagahan. Wajah yang sederhana dan religius ini jelas tidak membuat banyak wanita suka dan ia pun tahu kalau ada wanita yang mau jadi istrinya lantaran suka pada hartanya. Tetapi dia tidak berkecil hati dan selalu menyarankan istrinya Ayu Shinta, agar fahami dirinya dan bisa menjadi wanita ideal, alias ibu rumah tangga yang baik.

Namun perangai sang istri pilihannya itu memang tidak terlalu baik. Godaan setan yang masuk dalam diri laki-laki anggota wakil rakyat, yang seperti pribadi Fathanah atau Ariel Noah itu, telah menjerat Ayu untuk berselingkuh. Ayu Shinta menganggap suaminya hanya di rumah saja, namun di luar, dia merasa bebas dan tidak boleh tahu urusan pribadinya. Dia hura-hura hingga akhirnya dikuasai sang laki-laki perusak rumah tangganya itu.

Pak Markus akhirnya ikhlas kalau istrinya yang perangainya sama seperti Cut Tari itu, menceraikan dan melupakannya. Pak Markus tidak mau tahu apa yang akan dilakukan istrinya bersama kekasihnya. Tetapi Pak Markus meminta hak pengasuhan anaknya di tangannya, pengadilan mengabulkannya.

Namun kini Clarisa sudah 22 tahun akan di wisuda tahun depan. Masa pengabdiannya di sekolah selain demi membuat skripsi juga belajar mengelola sekolah sebagai personalia dan memperhatikan gerak-gerik guru mengajar di sekolah, merupakan permintaan Pak Markus, ayahnya. Pak Markus berharap anaknya punya jiwa kepemimpinan dan bisa bekerja keras demi sekolah yang akan disiapkan berkembang mempunyai cabang, yaitu membangun gedung baru di lokasi baru. Itulah rencana Pak Markus yang diceritakan pada anak tunggalnya itu. Clarisa memang anak baik dan sangat pengertian meski tanpa ibu kandung, bisa menunjukkan rasa hormat pada Bapaknya.
Tetapi untuk cintanya pada Herman, Clarisa meminta bapaknya agar jangan memisahkan. “Papa, boleh kan aku memilih Pak Herman, seperti papa memilih dia jadi tangan kanan papa..”
“Tidak Clarisa, papa berharap kamu bisa menemukan jodoh dari tempat lain..,” seru Pak Markus dengan tegas.
“Papa jangan memisahkan kami. Biarlah aku menjalaninya agar papa tahu, tidak gampang mendapat laki-laki yang berdedikasi seperti dia..”
Mulanya Pak Markus merenung dan menyatakan setuju. Namun karena setiap kali dia mendapat hasutan dari Pak Yuswan, kalau Herman mulai melakukan tindakan melanggar aturan seperti merelakan anak asrama keluar malam, membuat Pak Markus memaki Herman di depan Clarisa.
Pak Markus menyatakan itu demi menyelamatkan masa depan anak-anak laki-laki yang masih belasan tahun agar tidak tergoda pergaulan dunia yang mungkin bobrok. Mental yang sudah di bina di sekolah, bisa rusak dengan cepat karena arus globalisasi, yang dirasakan memang benar dan harus diterima Herman ataupun Clarisa.

Clarisa menekan Bapaknya dan memilih kabur dari rumah. Ada sandiwara yang dilakukannya bersama Herman. “Oke, aku putus dengan Herman, pa, tapi aku akan loncat dari gedung ini!”
Dan Clarisa telah melakukan tindakan nekad itu walau diungsikan oleh murid-murid sekolah pada suatu tempat. Anggapan Pak Markus, Clarisa sudah mati, karena tidak mau menuruti permintaannya.
Pak Markus mendamprat Clarisa kalau cinta buta itu tidak tepat dilakukannya pada saat itu. Harus tahu pada siapa sosok Herman yang menurut Pak Yuswan adalah playboy yang pernah memutuskan pacarnya demi perempuan lain. Namun Clarisa sudah yakin Herman tidak lagi bertingkah nakal dan sudah loyal pada pekerjaannya.
Itu masa lalu Herman yang memang Herman akui kalau masa mudanya memang pernah disukai banyak wanita. Namun tak asda satu pun wanita yang mau menjadi pasangan hidup Herman. Dia menyebut, belum ketemu jodohnya.

Herman mulai jatuh hati dan kagum pada Clarisa. Dia mulai berpikir, alangkah bangganya dia, bisa menerima seorang perempuan yang berasal dari orangtua yang kaya. Apalagi mendapat restu dari calon mertuanya.
Hitung demi hitung, toh Pak Markus tetap belum setuju dengan Herman jadi menantunya. Kejadian di sekolah dengan anak-anak yang tertangkap karena melakukan tawuran dengan anak-anak dari suatu lingkungan hingga hampir sekolah mau di serbu warga, membuat Pak Markus mau memutuskan Herman dikeluarkan dari sekolah. “Kamu jangan biarkan murid-murid sekolah keluar dari sekolah tanpa pengawasanmu, Herman!” ujar Pak Markus menekan Herman.
“Harusnya kan ada guru lain Pak yang ditugasi, jangan saya saja!”
“Kamu sudah berani membantah ya!” serang Pak Yuswan yang ikut berbicara saat Pak Markus memanggil Herman menghadapnya.
Pak Herman guru yang mulai konsisten berada dalam jalur benar ini memang harus mengalah demi menenangkan pikiran Pak Markus. Tentunya dia juga sudah mulai mendekati para muridnya. Mencari tahu seluk beluk serta mendengar curhat anak-anak asrama, merupakan jalan yang harus dilakukan Herman. Anak-anak sekolah mulai sadar akan kesalahannya dan berjanji tidak akan keluar rumah hingga malam hari. Janji itu juga dilengkapi ingin menyatakan agar Pak Herman harus bertunangan dengan Ibu Clarisa.

Pak Markus yang lebih tegang pikirannya, ketika muncul mantan istrinya itu yang meminta ingin kembali padanya. Ayu Shinta menyatakan kalau dia sudah bersalah karena terlampau bodoh menjadi simpanan laki-laki playboy yang walaupun wakil rakyat jelas tidak nyaman. Ayu Shinta merengek pada mantan suaminya agar di terima sebagai ibu bagi anaknya dan sebagai teman bagi Pak Markus.
“Terlambat, hampir dua puluh tahun hal itu tidak kamu ucapkan pernyataan maafmu, Ayu!”
Ayu punya pernyataan yang mengejutkan buat Pak Markus yang membuat Pak Markus kesal. Dia meminta sebagian harta dari rumah Pak Markus buat biaya sakit kanker payudaranya. Sesuatu yang membuat Pak Markus berpikir keras agar dia tidak mudah mengalah namun tidak boleh angkuh pada mantan istrinya. Dia harus kasihan pada Ayu yang sudah 47 tahun itu.

Herman dan Clarisa juga datang pada waktu berikutnya. Pak Markus hanya bisa berkata,” Ini masalah berat bagiku, memberi keputusan yang membuatku harus mengalah demi kalian..”
Clarisa menemui ibunya dan menyatakan kepada ayahnya, “Papa harus menerima mama, demi hidup mama..”
Tidak banyak yang bisa dikatakan Pak Markus, selain dua keputusan, istrinya akan di bawa ke rumah sakit setelah peresmian pertunangan Clarisa dan Herman. Lalu, selanjutnya…
Clarisa sukses meraih gelas S1 nya. Namun Ibunya… meninggal dunia, karena operasi yang dijalankan demi mengangkat penyakit kankernya, telah gagal. Ibu Ayu meninggal dunia. Pak Markus terharu dan menerima kalau dia masih mencintai istrinya.
Pernyataan istrinya pada masa kritisnya: Pa, mama kagum pada papa, yang ideal jadi laki-laki. Tidak pernah mama lihat, papa jauh dari kegiatan beribadah. Tidak pernah papa mencari hiburan duniawi yang merusak moral papa. Tapi papa setia pada jalan hidup yang benar. Mama salut.. Semoga Tuhan memaafkan mama dan melindungi papa dan anak kita.. Doa mama dan pertunangan anak kita, semoga mereka berbahagia sampai akhir hayatnya.

Pak Markus tetap seorang laki-laki yang punya perasaan. Juga Herman dan Clarisa. Juga Pak Yuswan dan masih banyak orang yang mengerti keadaan keluarga Pak Markus. Begitu pula anak-anak sekolah itu. Tuhan memberkati… Semoga arwah Bu Ayu tenang di sana!

Cerpen Karangan: Jovian Andreas
Dari Petamburan VI Rt.01/07 NO. 5 Jakarta Pusat

Cerpen Restu dan Maaf Sangat Mengharukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


17:00

Oleh:
Wanita tua itu masih terdiam di beranda runahnya bersama secangkir teh hangat di kanannya. Tangannya yang telah keriput telah menunjukkan umurnya yang telah lama, setengah abad lebih enam tahun

Kereta Api

Oleh:
Awan hitam kembali menggantung di kolong langit. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan deras. Hembusan angin mulai bertiup dan semakin kencang. Udara dingin mulai turun dan menusuk kulit. Alam

Reuni Angkatan ‘8

Oleh:
Sinar mentari menerobos masuk lewat dinding-dinding kaca di ketinggian 50 lantai. Di kantorku hampir seluruh bangunan terbuat dari kaca, dari sinilah aku bisa menikmati hangatnya sang mentari yang beranjak

Duampanua Di Penghujung Oktober

Oleh:
“Belum turun hujan?” tanya Aulil kepada Alimuddin yang memandangi awan terang benderang, ia hanya menggeleng kepala pertanda tidak. “Yah kita mesti bersabar menunggu,” Aulil berpaling dan meninggalkan Alimuddin yang

Ibu… Perhatikanku…

Oleh:
Hari ini, ngapain ya? mau apa? ah tahu deh, cape aku, mikir ibuku yang ketusnya minta ampun. Pagi hari tepat sahur pukul 4 dini hari, aku terbangun dari tidurku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *