Rizki dan Cita-Cita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 April 2013

Butiran air bening menghiasi pagi-pagi rizki sang anak pesantren, sekaligus anak yang terpandang rajin di pesantren darul ihsan, semua teman-temannya senang bergaul dengannya setiap malam puncak di pesantren tersebut rizki selalu mendapat rengking satu, kerja kerasnya menghasilkan nilai-nilai sempurna dan memuaskan dirinya.

Rizki merupakan anak yang biasa-biasa saja namun dia mewarisi ilmu ayah-nya yang sudah lama meninggal kan rizki dan ibunya, miskin tak membuatnya gengsi harus berteman dengan orang yang kaya dari dirinya namun kekayaan rizki jauh lebih tinggi dari derajat presiden di negara ini, dia mempunyai kekayaan yang tak tertandingi, kekayaan itu melekat dihatinya ketabahan, keikhlasan, keimanan, kedisiplinan, dan lainya masih banyak yang ia tanam di hatinya.

Riki tak pernah mengharap kalau dia akan selalu dikirim setiap minggu oleh ibunya, karna dia takut membuat ibunya merasa terbebani karna selalu dikirim setiap minggu, justru kalau ibunya tidak mengirim rizki beliau akan merasa berdosa karna telah membuatnya menunggu.

Rizki sangat terampil, menginjak kelas tiga MA dia semakin bersemangat untuk belajar, motivasi dan bimbingan dari guru ia turuti semua, dialah siswa yang di sayangi guru-gurunya, sempat dia berfikir kelak setelah keluar dari pesantren ini dia akan melanjutkan study-nya kemana, matanya berkaca-kaca membuat kebingungan yang tak jelas, rizki diam dan tak mau bersuara, zainal datang dan menghampirinya sambil dia bertanya apa yang rizki pikirkan,

“apa yang kau pikirkan riz”
“aku tak tau nal hendak bagaimana aku nanti jika sudah lulus dari pesantren ini!!!”

Zainal berhenti bertanya padanya, zainal pun ikut membingung dan pikirannya juga timbul pertanyaan yang sama dengan rizki, teman sekamar rizki itu kemudian keluar dan menghilang dari pandangan rizki, otak-otaknya penuh dengan pertanyaan yang tak mungkin terjawap secepat itu, namun itu tak berlangsung lama, rizki kembali bersemangt dari sebelumnya agar dia tidak sia-sia jika lulus nanti pikirnya, begitulah rizki dia tak mudah menyerah hanya untuk sekejab saja namun dia akan berkorban untuk mendapatkan hasil yang ingin dia capai.

Neon-neon yang berjajar rapi menghias malam di pesantren darul ihsan sangat indah dan mengagumkan hingga suau ketika rizki terjaga dia memandangi beberapa neon yang bersinar terang di teplok itu, sekejap rizki melangkah dan menyentuhnya kemudian dia segera menghabiskan malam dengan mengambil wudlu dan melanjutkan dengan shalat malam-nya, semua menjadi hening kala malam itu, rizki bermunajat lewat malam itu rizki bermunajat lewat air mata itu, dia meminta agar kelak dia dapat berjumpa kembali bersama keluarganya kala kelak dia tak menghirup bumi, air angin dan malam menari-nari menghias malamnya dia meringkus seluruh tubuhnya memejamkan kelopak matanya walau sebetulnya dia tidak ingin tidur setelah usai shalat malamnya.

Jarum jam merah mengelilingi setiap angka yang tertulis di dalam bundaran yang terlapisi kaca tran sparan tersebut, dari angka satu hingga kembali ke angka satu lagi kehidupan dimulai dengan detik jam yang mengelilingi bumi ini, mereka seakan berjalan mengajar waktu atau waktu yang mengejarnya, lembaran setiap kehidupan berbeda mereka tidak tau apa yang akan terjadi kepada mereka semuanya kebingungan.

“riz… riz… bangun sudah hampir subuh sana wudluk dulu”
“iya, aku tertidur tadi”

Langkah kosong membuat pemuda yang cerdas itu gamang tanpa tujuan matanya belum juga sadar dan bingung, namun mimpinya menebar tanda tanya kedalam memory-memory, dan urat-uratnya, semua mendengus ke angkasa, padahal dia tak mengerti apa-apa.

Setelah selesai shalat subuh rizki dan zainal mengindang tubuhnya dengan bersama, menantikan embun hening yang akan hinggap ke tubuh-tubuh dinginnya,

“aku masih ingat perkataanmu riz, tentang kelulusan itu”
“lalu kenapa!!” sambil rizki membalikkan badannya dan membuat punggungnya tersiram embun
“aku sampai sekarang tetap saja binggung apa yang akan aku lakukan”

Mereka berdua memanjakan tubuhnya sambil berbincang-bincang tentang kelulusan mereka namun mereka sama-sama tak mengerti apa yang akan mereka lakukan untuk tahun selanjutnya.

****

Semua kenangan pesantren hanya tinggal bayangan semu kini rizki sudah lulus dan demikian zainal mereka berdua menjadi alumni yang terpandang giat namun lebih giat rizki dari pada zainal, cita-cita zainal ingin jadi polisi dan cita-cita rizki hanya ingin melanjutkan study-nya ke jenjang mahasiswa, namun itu tak membuatnya berhasil dia tak mendapat restu dari ibunya, melainkan dia harus membantu pekerjaan ibunya untuk menjahit baju pesanan tetangga-tetangganya, semua semanagat-nya membusuk dan menguap lewat asap-asap bau-nya, lembaran kehidupan dia habiskan dengan menjahit dan terus menjahit hingaga semua berubah dan apa yang ia cita-citakan berhasil, berkat ketekunan-nya pada ibunya,

Rizki mengulangnya lagi dari depan hingga semuanya berubah.

Pemuda. 07/april/2013

Cerpen Karangan: Shafwan Maulidi
Facebook: Uzhumakhi Kanzho
Shafwan Maulidi adalah nama asli pemberian kedua orang tua saya namun saya menamakan nama pena saya dengan sebuatan Abu Shafwan salah satu nama yang diwariskan oleh almarhum pabak saya namun di cerpenmu.com ini saya rasa Shafwan Maulidi yang Lebih tau….

Cerpen Rizki dan Cita-Cita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Past, Present, Future

Oleh:
“Siapa kamu?” Hanya seorang manusia dari masa depan yang datang ke masa lalu untuk melihat kejadian kejadian yang merubah dunia ini. Yang membuat dunia ini seperti yang sekarang dan

Where Are You Now?

Oleh:
Beginilah aku di sepanjang tahun, berkutat di meja belajarku dengan laptop di depan mataku. Kursi kantor yang bisa bergoyang itu betul-betul memanjakan tubuhku. Aku bisa seharian duduk berjam-jam bermain

Lembayung Senja Dikala Hujan

Oleh:
Bak senja dikala hujan, sebuah keindahan yang tersembunyi dibalik jutaan tetes air yang terus turun. Yang merengkuh jemariku erat, menuntunku menuju sebuah titik terang tak berpenghujung yang menjadi awal

Gubuk

Oleh:
Senandung angin mengusik celah kayu jendela, menerobos masuk menusuk tulang renta seorang perempuan yang tebaring di samping anaknya. Rembulan malam tidak sedang menangis, seakan memandang dua orang itu dengan

Bubur Untuk Kakek

Oleh:
“Kek, Aisyah lapar..” Rintih gadis kecil berbaju hello kitty yang sudah mulai pudar warnanya. “Sabar ya Aisyah, dagangan kakek belum ada yang laku” ucap kakek sambil sekali-kali mengusap kepala

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *