Robot Berikutnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 May 2012

Hari lebih sunyi dari biasanya. Namun lebih terang-benderang. Aku jadi sedikit memuji rumah sakit ini. Karena penerangan dan tata cahayanya. Yang begitu putih dari ratusan neon yang bahkan tak terlihat satu pun kecuai yang nempel di atap-atap. Malam bagaikan siang di Koridor ini. Sama sekali tidak membuat ngeri layaknya di rumah sakit. Padahal tidak ada seorang pun di ruangan ini kecuali aku.

Dan hari ini aku terpaksa menginap di sini karena mobil temanku Erlangga tanpa sengaja menabrak trotoar pembatas jalan sepulangnya kami dari acara Djarum Black Night Slalom di Jakarta semalam. Untunglah kami telah tiba di Bandung saat kecelakaan itu terjadi. Dan seingatku, ketika siuman setelah pingsan entah berapa lama, aku telah berada di RS Bromeus Bandung. Dan tadi seingat aku, ada uwak aku, sepupu-sepupuku, juga orang tuaku menemani. Namun kini mereka entah dimana.

Aku terus berjalan menyusuri Koroidor benderang ini. Dan rupanya infusanku telah dilepas kini. Badanku pun terasa ringan dan sehat. Seolah kecelakaan yang membuatku harus dijahit di kepala dan dada sebanyak 13 jahitan ini sama sekali tidak terasa. Sekarang aku ceritanya tengah mencari kamar tempat Erlangga dirawat.
Hingga tiba-tiba…

“Dude !” Panggil suara di belakangku. Rupanya pria itu. Pria tinggi kurus yang ku kenal saat acara Black Innovation Awards yang ternyata sekampus denganku, dan menjadi dekat pada akhirnya. Seorang pria penuh inovasi muda bernama Erlangga.
“Lang! Kamu nggak apa-apa?” tanyaku, seraya berlari ke arahnya untuk memeluk dia, karena sejujurnya aku khawatir. Sangat!
“Nggak apa-apa! … See? Cuma luka kecil! Manja!”
“Sukur deh kalau nggak apa-apa! Tapi sayang ‘tu mobil Cuy, nggak bisa ikutan Autoblackthrough minggu depan? Padahal mau di liput yah?”
“Nggak masalah!”
“Oh iya. Kamar kamu dimana?”
“Blok B, nomor 17!”
“Jauh dari sini?”
“Enggak. Tinggal belok kanan. Sampai!”
“Kita ke kamar kamu ya kalo gitu? Pasti banyak makanan kan?”
Enggak ah! Gua pingin jalan-jalan dulu. Cari angin. Lo temenin yah?”
“Boleh! Gak apa-apa!”
Seiring dengan sambutanku atas ajakannya, koridor terang yang kami tapaki tanpa alas kaki ini pun mengecil dan berubah menjadi banyak seperti membelah diri. Aku terheran-heran. Namun Erlangga tampak santai dan biasa saja. Dan kini dia mengajakku untuk memasuki koridor kecil pertama.
“Kita mau kemana?” tanyaku.
“Ke tempat kita mulai diprogram!” jawabnya.
“My Goodness! Ini bukan mimpikan? Gak bakalan ada Fredy-The Nightmare nya kan?”
“Enggak, tenang aja! Cuma kita kok!”

Kami akhirnya keluar dari koridor itu. Cahaya semakin redup, hingga akhirnya gelap gulita. Kemudian terang lagi.

Aku melihat suasana sekitar. Ada diriku berusia lima tahun di sana. Seorang bocah tambun nan lucu, dengan potongan rambut belah pinggir sedang memainkan robot-robotan. Aku ingat robot-robotan Power Rangers itu. Dulu mereka adalah mainan kesayanganku. Dan sang bocah yang sama sekali tidak melihat aku itu, kini melempar-lempar robot monster yang ceritanya sudah terkalahkan itu. Hingga sang monster terlempar keluar jendela kamar yang masih sedikit terbuka. Aku pun merengek pada ibuku. Meminta beliau yang masih muda mengambilkan robot monster ku. Namun beliau berkata…
“Udah, besok lagi aja! Di luar gelap! Takut! Nanti ada monster betulan. Hiiiii…!” Aku pun di gendong kembali menuju kamarku.
“Itu software takut lo ketika diinstal! Wajar kalau sekarang lo takut gelap! Padahal waktu itu nyokap lo aja yang malas ngambilin robot-robotan lo keluar!” Ucap Erlangga. Dia kemudian menggandeng bahuku. Kami pun kembali kederetan koridor. Terang, gelap, benderang. Seketika berganti.

Kini aku berada di sekolahku ketika Taman Kanak-Kanak. Ada aku sedang bermain dengan Lucius anak asal Ambon yang ayahnya bertugas di Bandung. Saat itu sekelompok teman-temanku mendekati aku. Mereka berbicara dalam bahasa anak kecil, yang intinya: “Kenapa kamu main dengan si Hitam itu? Dia kan aneh? Dia nggak sama dengan kita! Dia itu jelek! Mama aku bilang, kita harus waspada sama dia!”
Aku terdiam. Dan aku menyesalakan, mengapa si Aku TK itu pergi meninggalkan Lucius dan mau saja terhasud oleh omongan teman-teman sombongku itu.

“Dan karena kejadian ini, di otak lo ada softwere rasis, ngebeda-bedain temen, nganggap orang lain yang beda dengan kamu itu FREAK! Wajib diwaspadai!” Ucap Erlangga kini.
“Sekarang ayo kita ke koridor ke tiga! Gua tahu lo pasti sebel dihakimi! Nggak ada seorang pun yang suka, dikasih tahu tentang kenyataan dirinya! ”Erlangga menggengam tanganku. Kemudian dalam kecepatan cahaya, kami sudah berada di depan koridor ke tiga.
“Lihat! Ini hidup semua orang! Hampir semua orang, sebenarnya. Hanya segelintir yang enggak!”

Kami pun berjalan masuk ke sana. Dan setibanya di ujung koridor ke tiga ini. Suasana agak sediit berbeda. Kami menjadi lebih besar dari semestinya. Entah semua orang yang jadi mengecil. Kami bagaikan melihat sebuah planet beserta kehidupannya lewat pintu loker seperti di film MIB. Namun yang kami tahu, lokasi ini adalah Indonesia.
Dalam waktu yang berjalan dengan kecepatan cahaya pula, hidup seseorang dimulai dan di akhiri. Mereka tumbuh, kemudian bersekolah TK-SD-SMP-SMA-Kuliah-Bekerja-Menikah-Memiliki anak-Mati. Begitu terus siklus kehidupan mereka. Semuanya bergerak seperti robot. Usia 6-13 tahun berada di SD, duduk rapih, mempelajari hal yang sama hingga siang menjelang. Terbiasa dinilai berdasarkan peringkat di kelas, seolah itulah kualitas hidup mereka. Usia 13-15 tahunan berada di SMP. Mulai mempelajari tentang alam semesta tempat mereka tinggal. Namun masih dasarnya saja. Hanya cangkang. Mereka belum bisa berekplorasi karena dibatasi kurikulum. Usia 15-18 tahun. Manusia Indonesia di usia itu rata-rata berada di SMA. Pendidikan sekolah wajib minimal, katanya. Sementara pada usia inilah seorang mencari jati diri mereka yang sebenarnya. Kebanyakan dari mereka sudah mulai mempertanyakan, untuk apa saya ada, untuk apa saya sekolah, saya ini siapa sebenarnya? Mengapa ada getaran-getaran di perut dan sekujur tubuh saat melihat lawan jenis?

Jawaban yang mereka cari tidak ada di dalam buku paket. Bukan di bangku sekolah pula mereka akan puas menemukan jawaban itu. Dan orang dewasa yang telah lebih dulu terdoktrin sebelum mereka, akan memberikan jawaban semodel percocokan paham turun-menurun yang menjadikan mereka semua sama.

Kamu hidup untuk sekolah. Itu yang ditekankan, bukan bagaimana kamu hdup untuk mencari ilmu. Kamu adalah manusia berkualitas manakala kamu selalu mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Dan lawan jenis fungsinya adalah untuk kamu nikahi … Nanti setelah kamu bekerja dan sukses !!!

Yang jadi masalah adalah … Kapan mereka ini bekerja, dan sukses? Sementara di dunia kecil mereka ini, memperoleh pekerjaan adalah suatu titik akhir kehidupan, di mana pada akhirnya mereka akan terjebak rutinitas membosankan yang itu-itu saja. Hingga kemudian mereka melupakan prioritasnya untuk bahagia dan mengambil banyak harta sebagai prioritas alternatif. Ego kini muncul, kemudian lawan jenis yang fungsi awalnya adalah untuk dinikahi, kini dipandang sebagai peghambat karir belaka.

Namun ada pula kebalikannya. Segelintir manusia yang ini menganggap bahwa lawan jenis adalah memang untuk dinikahi. Namun karena mereka belum bekerja dan sukses, mereka tidak dapat menikahi lawan jenis yang mereka cintai dan mencintai mereka secara resmi dan syah. Namun keinginan dasar hewani mereka sudah tidak tertahankan. Akhirnya terjadilah seks bebas. Karena rupanya untuk menikah saja, manusia dihalangi oleh aturan yang mereka buat sendiri, namun pada kenyataannya hal tersebut justru malah merepotkan mereka pada akhirnya.

“Kita ini semua sok pintar padahal bodoh!” Ucap Erlangga kini.
“Mengaggap diri modern, padahal berpola hidup seperti suku pagan. Nganggap sekolah dan atribut-atribut hidup jadi dewa kita. Padahal kita sendiri udah lengkap tanpa semua itu! Tapi kita yang suka membatas-batasi diri sendiri. Padahal kita bisa melakukan lebih! Tapi hidup kita seolah sudah dipola! Diprogram! Dan kita jadi robot-robot!”

Aku diam. Terenyuh saat Erlangga yang sebelumnya tidak pernah berbicara seperti ini tiaba-tiba mengatakan hal berfilosofi seperti itu. Dan seperti yang dapat membaca pikiranku, tiba-tiba saja dia berkata…
“Emang, segala sesuatu akan lebih jelas kelihatan dari atas sini. Percaya nggak? Manusia itu bakalan lebih sadar dalam keadaan tidak sadar. Akan lebih melihat dalam keadaan enggak melihat. Karena mata, telinga, hidung, kulit, semua itu cuma alat! Hardware!”
“…..” Aku tidak berkomentar.
“Sekarang kalau kamu sudah bosan jadi robot… ayo ikut gua ke koridor ke empat!” Ajaknya.
Namun kali ini sebelum melangkah, tiba-tiba saja aku mendengar suara ibuku berteriak. Seketika aku merasakan feeling tidak enak.
“Tar dulu!” Ucapku.
“Kamu ini udah mati ya?” Tanyaku kini pada Erlangga.
“Mati? Lo sadar dong, Dude! Kita ini nggak akan mati! Kita hanya bertransformasi kedalam bentuk lain. Dari mulai kita ada, sampai nanti ke neraka atau surga, kita tetap hidup! Yang ada kita meninggal! Meninggalkan dunia ini untuk menuju dunia selanjutnya! Sekarang lo mau ikut gak?” ajak Erlangga.
Aku tidak menjawab. Benakku sibuk menimbang.
“Ya terserah! Itu pilihan lo!
Tapi kalo lo nggak berani ngelawan arus ROBOTISASI itu… lo jadi robot!”
“Iya! Makasih udah ngingetin!”
“Ya udah! Kalo gitu gua pergi sendiri yah? Lo nanti maen ke kamar gua yah?”
“Pasti!” Jawabku.

Dan di sana kami berpisah. Aku kembali melihat cahaya terang. Dan kali ini aku mulai merasakan adanya udara yang mengalir di hidungku, adanya rasa sakit di sekujur tubuhku. Banyaknya suara di sekelilingku. Dan saat aku membuka mata, aku melihat keluargaku sedang berkumpul di ruang ICU ini. Dan mereka bilang, ini adalah hari ke-7 aku tidak sadarkan diri.

Aku lemas. Namun aku sempat mananyakan Erlangga. Dan satu bulan kemudian setelah aku benar-benar pulih, aku pun mendatangi kamar Erlangga sesuai janjiku. aku berterima kasih dan berjanji padanya untuk berusaha supaya tidak menjadi robot berikutnya setelah semua orang yang ku lihat waktu itu bersama Erlangga. Kemudian aku pun berpamitan. Aku tidak ingin berlama-lama mengganggu istirahatnya di kamar barunya di blok B nomer 17 pada pemakaman umum di kota ini.

Cerpen Robot Berikutnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dalam Kebisuan Hujan

Oleh:
Gelap telah menyapu langit yang berwarna jingga kebiruan. Rintik-rintik hujan kembali menghujam bumi, laksana jarum-jarum bius yang berusaha ‘menidurkan’ aktivitas manusia. Aku menatap kosong ke arah ‘jarum-jarum’ itu. Sorotan

Bunga Terakhir Dari Surga IBTABU

Oleh:
Lihatlah ke arah pohon besar yang menancap di tanah itu, di sana terdapat bocah yang sedang memainkan seruling bambu dengan lambaian angin sepoi. Tanah yang disinggahi bocah berusia tidak

Ibuku Malaikatku

Oleh:
Ibuku bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga, untuk menjaga anaknya. Ibu kesayanganku, dia adalah sosok ibu yang paling baik sedunia. Setiap hari ibuku bangun jam 2 pagi untuk menyiapkan

Desiran Ombak di Senja Hari

Oleh:
Menggulung-gulungnya ombak melukiskan pasang surutnya kehidupan. Menepis menjauhi pantai ketika dia datang perlahan menuju imajinasi. Butiran pasir setiap saat dapat berubah menghantui pejalan kaki. Karamnya sampan tersebut ia perhatikan,

Te Amorr, Nai! – Senandung Cinta

Oleh:
Siang itu Nara sedang melepas lelah di kamar kozannya. Rita nampaknya masih di kampus dan sibuk dengan tugas jurnalistiknya. Maklum lah, dia memang mahasiswi fakultas Dakwah dan Komunikasi, jadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Robot Berikutnya”

  1. dhea says:

    bulu kuduk saya merinding baca endingnya. best!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *