MyCerpen 2: Rumah Tua Bawa Petaka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 October 2012

Gak kerasa, sekarang udah 2 tahun lebih dari kematianya Erin. Dilain sisi aku gak akan pernah bisa ngelupain semua hal tentang Erin, namun nyatanya, dikelas 3 SMK ini aku sudah punya pacar, dan udah kejalin cukup lama. Namanya Devi, dia ceria, senyumnya manis, dan tawanya selalu membuatku semangat. Aku gak akan pernah berpikir kalau Devi adalah penggantinya Erin, namun kehadiran Devi di Diary Harianku, seolah mengisi kekosongan. Hingga suatu hari terjadi…

Di minggu pagi yang indah, aku dan Devi lari pagi bersama dipesisir jalan kota Sumedang. Hangatnya mentari menyinari atmosfer bumi, menambah keharmonisan langkah kaki kami berdua. Ditengah suasana itu, tiba-tiba Devi berhenti, dan melihat kesebuah rumah tua tanpa cat dinding dan tak bertuan. Tanpa jendela, dan satu-satunya kehidupan, hanyalah rumput liar yang sayup tertiup angin.

Aku ikut terdiam, melihat wajahnya yang polos tanpa emosi. Aneh, baru kali ini aku melihat dia begitu tertarik dengan rumah, yang sama sekali gak layak untuk dihuni siapapun, termasuk seekor nyamuk sekalipun. Kemudian tersentak aku kaget, dia memintaku untuk menemaninya masuk kerumah tersebut. Awalnya aku menolak, tapi karena aku gak tahan rintihannya, bujukan semu yang baru kali ini aku mendengar dari mulutnya. Jadi tanpa rasa sesal dan rasa lain, aku menemaninya masuk kerumah tersebut.

Rumah Tua Bawa Petaka

Langkah pertama kami dirumah itu, langsung disambut oleh beberapa ekor tikus dan kelelawar. Aku heran, kenapa dia sama sekali tidak merasa takut atau geli, dengan kedua hewan pengerat yang begitu aja melewatinya. Bahkan tanpa ragu lagi dia langsung masuk kerumah tersebut, dan melepaskan pegangan tangannya dari tanganku. Sekarang aku dan Devi, berjalan melihat suasana rumah sendiri-sendiri.

Aku coba lihat kesetiap dinding, dikanan pandanganku ada pajangan besar, dengan objek Bis Pariwisata yang rusak. Saat kulihat gambar bis tersebut, aku mulai merasakan hal negatif. Serentak aku palingkan wajahku, sekarang aku melihat sebuah cermin, gak tau kenapa? Aku tertarik kecermin tersebut, dan mendekatinya. Sekarang aku bisa melihat jelas wajahku sendiri di cermin itu. Aku coba senyum, tapi yang ditunjukan cermin itu sebaliknya, sekarang aku benar-benar merinding. Aku teringat Devi, aku langsung membawa dia keluar dari rumah itu. Dipintu keluar, aku melihat jam dinding rusak, yang menujuk ke angka 09.59. Aku lihat jam tanganku menunjuk ke angka 09.01. Aku tak pedulikan jam tersebut, aku langsung menarik Devi keluar dari rumah itu.

Kami berhasil keluar dan duduk jauh di seberang beberapa menit, sekarang aku mulai bisa merasakan ketenangan. Aura sejuk dan nyaman, mulai terasa, dan membuat pikiran bersih. Aku ceritakan ke Devi semua yang terjadi di rumah itu. Dan aku memintanya untuk menceritakan semua hal yang dia lihat dan dia rasakan. Heran sekali aku mendengar cerita yang begitu panjang, seolah dia tinggal lama, berhari-hari, bertahun-tahun, dan seakan selamanya. Aku tidak tahu, apa dia sedang menceritakan karya fiksinya atau benar-benar yang dia alami dirumah itu. Dan diakhir cerita dia bilang,”Sayank, kamu harus percaya kalau aku benar-benar sempat melihat ruangan gelap, dan ada seseorang yang bersayap indah yang memanggilku”. Aku gak percaya, dan anehnya lagi, dia kesal karena aku membawanya keluar saat itu.

Ujung-ujungnya aku malah bertengkar dengan Devi. Aku bilang,”Pasti itu cuman karangan cerpen kamu yank, dan halusinasi, cuman itu, gak mungkin ada yang lain”. Dan aku tegaskan kembali kalau dia hanya melamun dirumah itu, dan itu benar-benar gak mungkin terjadi, dan pasti cuman kebohongan. Kemudian dia diam dan berpaling, dengan wajah yang paling aku benci, ekspresi muka yang paling ngeselin sepanjang sejarah dunia percintaan yang ada.

Setengah jam lebih Devi diam, dan selama itu aku gak bicara apapun sama dia. Tapi kali ini aku benar-benar merasa gak enak, karena sikap keras kepalaku tadi. Aku pikir, walaupun kemungkinan besar dia bohong, tapi seharusnya aku ngerti apa yang dia rasain. Harusnya aku liat dulu keadaan dia sekarang, yang lagi aneh-anehnya. Dan aku coba minta maaf,”Mmm dev,,, Yank. Maaf ya tadi, aku terlalu kerasan ke kamu, aku bersikap seperti itu, ya karena… Untuk kamu juga”. Dia melihat kearahku dan jawab,”Gapapa,, aku udah lupain itu… Cuman aku pengen kamu nganterin aku lagi kerumah itu”. YA AMPUN!!!! Aku kaget dicampur gelisah, tapi aku bertekad aku gak bakalan mau, walaupun dia membujuk aku seperti apapun. Dan akhirnya kami berdua mulai adu mulut lagi.

Lama-lama perbincangan hebat kami malah semakin sengit, dan terakhir dia bilang,”Ya Udah! Kalau gak mau nganter, aku pergi sendiri aja”. Tapi aku masih teguh pada pendirianku,”Silahkan aku juga gak akan pernah nganter kamu kembali kerumah itu”. Dia malah kesal dengar jawaban dariku, dia langsung pergi, untuk nyeberang lagi ke rumah itu. Aku diam aja gak peduli apapun, tapi aku lihat jam dan angkanya menunjuk ke 09.59, dan itu mengingatkanku kembali akan semua kejadian dirumah itu. Aku langsung perhatikan Devi menyeberang jalan, tapi dikejauhan jalan aku lihat ada satu Bis Pariwisata dengan kecepatan penuh, dan mungkin supirnya tidak sadar kalau di depan masih lampu merah. Kemudian aku perhatikan lagi Devi telah setengah jalan keseberang, aku langsung lari, aku gak peduli akan pendirianku. Aku berusaha untuk selamatkan Devi, karena sepertinya dia dan penyeberang lainya gak sadar akan Bis tersebut. Tapi tiba-tiba Bis langsung menabrak kendaraan yang ada didepannya, dan aku lihat terjadi tabrakan beruntun. Aku cemas, jangan-jangan… Aku cari dimana Devi, apa dia udah sampai keseberang, apa dia selamat? Asap dan debu menghalangi pandanganku.. Aku melihat kepinggir,,, orang-orang berusaha membantu kecelakaan ini,,, tapi aku masih belum menemukan Devi, mungkin dia udah sampai dirumah itu pikirku… Tapi… Aku lihat disebelahku ada mobil yang ketabrak, disebelahnya lagi aku melihat tubuh perempuan tergeletak berlumuran darah… Aku mendekatinya perlahan, dan ternyata… “itu Devi”.. Innalillahi,,, Tubuhku lemas, aku terjatuh diantara semua keributan pasca kecelakaan ini… Aku lihat kekanan, kembali ada satu lagi Bis Pariwisata mendekat dan sangat cepat, aku gak mengerti kenapa aku malah diam saja disamping jasad Devi, disaat Bis itu hendak menabrakku,, tubuhku seolah tidak bisa digerakan dan seakan menerima takdir, yang beberapa detik lagi akan menimpaku… Kemudian saat bemper Bis tersebut tepat nempel di wajahku,,, Aku tersadar ternyata semua itu hanya lamunanku. Ternyata sekarang aku masih dirumah tua itu, melihat diriku sendiri di cermin. Aku lihat jam tanganku masih menunjuk angka 08.31, dengan penuh kesadaran, aku membujuk Devi untuk segera pergi dari rumah tua ini. Dia ketakutan dan dia juga memintaku untuk mengantarnya langsung pulang kerumah.

Akhirnya, sampai juga dirumah Devi dengan selamat, dia mengajaku untuk masuk dan diam dulu dirumahnya. Aku mau, karena aku akan Shalat Dhuha juga bareng keluarga dia. Di ruang tamu aku duduk dengan Devi, kami saling menceritakan semua hal yang dialami dirumah itu, aku menceritakan lamunanku, dia juga menceritakan yang dia alami. Ceritanya sama dengan apa yang dia ceritain saat aku berhalusinasi, namun kali ini dia bilang, kalau itu gak nyata, dan cuman halusinasinya dirumah itu. Dia ceritain kalau, dia sempat melihat keruangan gelap, dan melihat sesorang yang bersayap indah. Dan dia tinggal di sebuah tempat seperti Surga, bertahun-tahun dan abadi. Tapi, ketika dia hendak didorong ke kawah api (Mungkin itu Neraka), dan terjun kedalamnya. Dia tersadar kalau itu cuman lamunannya. Aku masih bingung dan belum mengerti, apa yang benar-benar terjadi, tapi karena aku banyak tugas dirumah, aku pamitan sama Devi dan keluarganya, aku langsung pulang kerumah.

Dirumah, aku masih memikirkan kejadian hari ini, terutama yang terjadi padaku. Aku pikir, apakah lamunanku dirumah itu, masa depan yang akan terjadi. Aku istirahat dan duduk dikursi melihat acara tivi. Aku coba liat berita dan aku kaget dan tidak percaya, kalau di lampu merah dekat seberang rumah tua itu, ada kecelakaan beruntun, yang disebabkan oleh dua Bis Pariwisata. Dan aku lihat waktu kejadianya pukul 09.59, dan memakan korban tewas 28 orang, temasuk para penyeberang jalan. Aku pikir, kalau Devi bersih keras seperti yang kulamunkan, korbannya pasti akan 30 orang, ditambah aku dan Devi. Tapi aku masih sulit memahami yang terjadi, rumah itu, Devi, dan petaka yang hampir saja menimpaku dan Devi hari ini. Hingga selama sebulan aku gak berani datang lagi kerumah itu, walaupun hanya melihat dari jauh.

Sampai terdengar berita, kalau rumah itu di bongkar dan diratakan, untuk dijadikan pemakaman umum. Aku penasaran dan pengen lihat, karena kabarnya, banyak korban kecelakaan yang tewas dimakamkan disana. Dan sampailah aku disana, ternyata kalau sudah rata, tempatnya menjadi kelihatan lebih luas. Aku lihat ada orang tua berpakaian hitam disana, aku hampiri dan dia berucap,”pemakaman ini dulunya adalah pemakaman juga”. Aku tidak mengerti, tapi aku mengobrol cukup banyak dengan dia. Hingga aku beranikan diri untuk menceritakan kejadian sebulan kebelakang, tentang aku, Devi, rumah, dan kecelakaan pukul 09.59. Dan aku tidak percaya, ternyata dia menanggapi ceritaku,”Semua yang kamu alami bukan takdir nak,, kamu memang belum waktunya untuk meninggalkan dunia ini, tapi jika kamu memang dapat melihat masa depan dirumah itu,,, itulah yang dianggap godaan setan,,, kamu harus berhati-hati, petaka dirumah itu tidak akan terjadi jika kamu tidak memasukinya”. Terus apa yang terjadi sama Devi,”Orang bersayap yang dilihat teman wanitamu, adalah jelmaan. Jika dia berpikir berada disurga dan dijatuhkan keneraka, artinya surganya setan adalah nerakanya tuhan, setiap orang harus berhati-hati dalam mengambil jalan pilihan”. Aku mengangguk, walaupun jujur sebenarnya aku kurang paham, apa yang dia ucapkan. Tapi aku pikir, itulah jalan yang ditunjukan tuhan dan aku harus menerimanya, mungkin itu pesan untuk jadi pelajaran hidupku.

Serentak aku tanggahkan kepalaku kelangit, aku lihat awan, dan aku rasakan angin sejuk dipemakaman itu. Aku rasa, sudah waktunya aku lebih banyak bersyukur, dan sudah waktunya aku lebih dekat dengan tuhan. Karena itulah cara terjauh dari petaka, dan hal buruk yang mencoba mendekatiku. Terakhir, aku lupakan semua yang terbelakang, dan aku coba semangat lagi untuk lari kedepan… THE END…

Cerpen Karangan: Ajang Rahmat
Facebook: http://facebook.com/ajangrahmat
Blog: http://boytrik.blogspot.com/
Web: www.ajangrahmat.com
Twitter: @ajangrahmat
Motto Hidup: Sukses adalah spirit saya untuk tidak gagal, dan gagal spirit saya untuk bisa sukses.

Cerpen MyCerpen 2: Rumah Tua Bawa Petaka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Indah Yang Singkat

Oleh:
Disore hari kala menuju senja ada hal yang aku ingat, yaitu berakhirnya kisah kita. Aku ingat, betapa sedihnya dirimu saat itu, perlahan air matamu mulai menetes membasahi pipi indahmu.

Ukiran Mimpi Dalam Takdirku

Oleh:
Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar begitu mengalun-alun seolah mereka sedang menyanyikan sebuah tembang yang mampu menyihir orang-orang yang mendengarnya sehingga mereka tertidur dengan pulasnya dan hidup

Mawar Untuk Sarah

Oleh:
Sarah duduk bersandar di kursi goyang, menikmati guguran daun kering yang jatuh di halaman rumahnya sambil sesekali mengayun kursi goyangnya yang terhenti. Wanita tua itu mengamati anak–anak berseragam sekolah

Mata Terindah

Oleh:
Dia datang dan menghampiriku. Lalu ia memberikan setangkai bunga mawar merah yang sangat cantik, seraya berkata, “Terimalah bunga ini. Bunga yang cantik seperti parasmu. Aku akan selalu hadir di

Perjuanganku Terbalas (Part 1)

Oleh:
Mataku selalu tertuju dengan sosok pria yang berada di kelasku, Dia duduk di depan sebelah pojok. Seorang pria yang Cuek, sangat cuek. Tidak mempan dengan semua usaha yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “MyCerpen 2: Rumah Tua Bawa Petaka”

  1. Noe SyafiQah says:

    keren!
    I like this one !!! (y)

  2. ltg123 says:

    kak ajang kalau bikin cerpen selalu bagus
    lanjut terus ya kak

  3. Nela naila says:

    Aku sampai merinding!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *