Rumah Yang Mati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 August 2019

Kesunyian yang mematikan mengantung di udara, tiada tawa, canda ataupun kebahagiaan. Hanya keheningan yang menyiksa. Mereka semua hidup, hidup dan bernyawa, tapi hanya mata yang memandang tanpa cahaya, kelam. Rumah ini telah mati oleh orang yang ada di dalamnya yang tersisa hanyalah arwah yang tak terpuaskan jiwanya.

Pilar-pilar yang kokoh, ukiran, pahatan, lukisan yang mahal dan furnitur yang mewah tak lantas membuat rumah ini hidup karena jiwa-jiwa yang telah mati. Wanita tua yang tinggal di dalamnya mengeluh tanpa henti, tak mensyukuri kekayaannya yang orang lain mengangapnya sebagai tuah. Ia hidup dengan pengharapan agar ajal mendatanginya denggan cepat dan mengakhiri hidupnya yang amat ironis ini. Mengerahkan seluruh hidupnya demi uang karena menyangka bahwa uang dapat membawa kebahagiaan namun ketika cita telah tercapai, hidup telah bergelimang harta. Bahagia tetap tak tergapai.

Dari kejauhan dari rumahku yang kecil dan sempit. Aku sering memperhatikan wanita tua itu. Setiap kali aku memperhatikan kehidupannya yang mewah dan membandingkannya dengganku senggatan rasa iri akan mengalir pada diriku. Hingga aku mengeluh seandainya aku dapat menjadi sepertinya. Tapi selama aku memperhatikan wanita tua itu tak sekalipun aku pernah melihatnya tertawa dengan tulus, ia memang tersenyum tapi dapat kulihat bahwa matanya tak tersenyum, ia kelihatan kuat sekaligus amat rapuh, tak ada cahaya kebahagiaan di matanya seolah ia telah menangung derita yang amat besar. Muncullah keheranan dalam hatiku yang bodoh ini, mengapa ia tampak begitu menderita sedangkan ia memiliki kekayaan yang begitu banyak, lalu apa lagi yang jadi masalah dalam hidupnya, apa lagi?

Aku telah berusaha keras untuk meredam rasa penasaranku itu tapi manusia tak akan pernah puas sebelum mendapat apa yang mereka inginkan.

Saat itu langit sore tampak amat kelam, awan tampak amat berat tak sabar untuk mencurahkan air agar basahlah bumi ini, angin pun bergemuruh. Dengan lamat dan ragu aku bertanya padanya apa yang selama ini telah membebani pikiranku. Sejenak setelah aku bertanya aku pikir ia akan marah padaku tapi kenyataanya ia hanya memandangiku.
“Ah….” wanita tua itu menerawang jauh menatap ke depan, sambil menghela nafas dengan berat seolah pungungnya telah terbebani oleh beban yang demikian beratnya

“Jika kau pikir kekayaan bisa membawa kebahagiaan maka kau adalah orang yang paling bodoh di dunia ini” dia berbicara dengan suara yang amat kecil seolah ia hanya berbicara kepada dirinya sendiri
“Ingatlah ini mungkin akan penting bagimu suatu hari nanti, kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kau miliki tapi pada hati” ia mengucapkan itu sambil menatap wajahku setelah itu hening. Aku sibuk dengan imanjinasiku, hayal mudaku yang tinggi berusaha memahami apa yang dimaksud oleh wanita tua itu dan sesunguhnya aku sudah paham.

Ucapannya sempat mengganguku berhari-hari berpikir bahwa apa yang ia katakan ada benarnya. Tapi pada akhirnya aku menyerah pada hasrat mudaku, pada apa yang aku ingginkan. Lagipula mana mungkin kita tak bahagia bila kaya, segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang dan dengan harta yang bergelimang kita dapat mendapatkan semua yang kita inginkan bukankah itu suatu tuah.

Dengan keyakinan itu dan sikap angkuh, aku mengejar apa yang aku inginkan. Mengejar lebih, dan lebih tak pernah merasa puas hingga aku pun lupa kapan terakhir kali aku bersyukur. Dengan tekad yang kuat itu sampailah aku pada apa yang aku ingginkan, pada apa yang aku kejar tapi aku pun tetap tak bahagia.

Sinar senja menyentuh kulitku denggan lembut menyadarkanku dari lamunan, teh yang tadinya mengepul asap panas kini telah berubah menjadi dingin, hembusan angin meniupku secara perlahan membawa kenangan yang tak dapat kembali. Perasaan sesal hingap di hatiku.

Hayal mudaku pun telah meningalkanku kini yang tersisa hanyalah wanita tua yang penuh sesal. Rumah yang megah itu, harta yang bergelimang. Tak dapat membawa kebahagiaan dalam hatiku pada akhirnya jiwaku pun mati begitu pula rumah ini.

Cerpen Karangan: Astryelisa23
Blog / Facebook: Astry noviani
Ketika kesedihan memuncak maka hanya pena lah temanku. Tempat aku menyurahkan segalah kepedihan di hati.
Aku bukanlah penulis handal, aku hanya seseorang yang menyuarakan kesedihannya lewat pena.

Cerpen Rumah Yang Mati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mak Ijah dan Perempuan Malam

Oleh:
Mak Ijah menghela nafas lagi, dan selalu saja, desah itu kian gelisah dari yang sudah-sudah. Kini kekhawatirannya menumpuk dan mulai menyesakkan dadanya dengan bongkahan rasa sedih. Dia mendongak ke

Sepeda Agus

Oleh:
Saat terbit fajar, ia bangun dan segera mandi di sumur. Dengan langkah cepat dan sigap Agus, anak lelaki berumur 12 tahun itu berpakaian sekolah. Baru pukul 06.00 pagi, ia

Akhir Hayat Sang Honorer

Oleh:
Suasana pagi itu tak seperti biasanya, rumah yang sepi kini mendadak menjadi ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang hilir mudik ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari ayaman bambu. Tak

Cah Ndeso

Oleh:
“Dasar kau anak miskin, pergilah menjauh dari pandangan ku” kata bibinya. Semua orang memandang dirinya rendah, tidak berpendidikan dan yang jelas tidak mempunyai masa depan yang terang. Menganggapnya hanya

Setetes Embun di Pagi Hari

Oleh:
Penderitaan adalah lambang kekuatan jiwa, tak akan aku tukarkan penderitaan ini dengan sukacita manusia. Jiwaku menemukan ketenangan manakala hatiku bersukacita menerima himpitan kesusahan dan kesesakan kehidupan. Hatiku terpenuhi kegembiraan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *