Rumput Tetangga Jauh Lebih Hijau?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 21 May 2021

Setiap sore ada dua bersaudara yang selalu ikut serta kakeknya menuju padang rumput yang begitu luas. Sampai sekarang keduanya masih menggembalakan kambing-kambing milik sang kakek yang sudah lama meninggalkan permukaan bumi ini. Berkisah kenanganlah yang membuat hari-hari sepinya begitu cukup berarti. Dengan rumput-rumput yang bergoyang. Desir manja angin petang. Atau rintik-rintik di musim penghujan. Tak ada hidup yang indah kecuali dijalani hidup itu dengan hati yang lapang.

Saat itu keduanya masih terbilang muda untuk mengenal perjuangan berpikir. Kakeknya adalah pemikir ulung dan pemecah permasalahan jika ada dari penduduk sana mempunyai sengketa. Dan diantaranya yang pernah didengar pada waktu kecilnya si kembar itu yaitu masalah tanah. Dia sebenarnya tidak tahu apa makna yang diperagakan kakeknya itu saat memberi penjelasan dengan terperinci mungkin. Sedetail mungkin penjelasan itu mengalir dan sampai ke pikiran yang mencari jawaban atas permasalahan itu; si penanya. Sampai berakhirlah masalah itu dengan damai. Seakan mudah sekali bagi kakek memadamkan api yang hampir menghanguskan separuh ladang hati kedua belah pihak. Semudah membalikkan tangan saja.

Bisik sang kakek: “Logika, nak.” Katanya sambil mengetukkan telunjuk kanannya pada pelipis kanannya. Isyarat supaya memulai berpikir. Bagaimana tidak mau berpikir, penggambarannya saja seperti ini:
“Memang kambing tak ada yang berpikir. Memang kambing tak ada perasaan. Sudah lama pemiliknya banting tulang mencari rerumputan di daerah seberang, tapi saat disuguhkannya rumput hijau itu, sang kambing malah berpaling. I’roduka anis sya’I dalalat ihtiqaruka alaih, berpalingnya dirimu dari sesuatu merupakan bukti bahwa engkau telah menghinakannya (Arti kalam mutiara itu-Pen). Dan saat kita berpaling misalnya, bukannya kita fokus, melainkan sudah tak ada yang diharapkan dalam pikiran; memilih hal luar yang sebenarnya tidak bisa dijangkau. Hilang fokus. Hilang tujuan.”

“Atau macam kambing yang disuguhkan tapi fokusnya malah rumput di seberang jalan. Macam remaja kering kerontang yang sebenarnya cukup hidup itu ‘dah nikmat. Eih… diliriknya gemuk itu yang padahal nasib si gemuk juga sepadan. Berdiet drastis untuk menjadi kurusan. Sepadan karena keduanya ingin pribadi yang lain. Mungkin keduanya mulai tak peduli lagi dengan takdir. Oo… aku saja yang terlalu suuzon mungkin. Tak boleh itu!” Keduanya tak disangka masih mau mendengarkan. Tak disangka seperti ini jadinya.

“Kambing-kambing berkumpul dan diberi makan satu persatu dengan seikat rumput. Seikat yang dibedakan satu sama lain secara sengaja. Milik kambing bernama Tini sedikit dan kecil. Milik Tedi banyak dan besar. Tini mengeluh mengembik minta tukar. Ditukarlah. Eih… tak kuat Tini memikulnya. Tubuhnya kecil sedang beban yang dibawanya terlalu besar. Bak bayi yang meminta nasi, ya masih diberi makan ASI pastinya. Diberi nasi nanti malah muntah-muntah dan –jangan sampai- mati. Karena itulah yang cocok kepadanya, walau dengan keinginan tak sama, ya tetap diberi. Ingat takdir! Ingat hal luar yang direncanakan Tuhan pasti baik, pasti benar.” Beneran keduanya tak paham. Masih berusia taman kanak-kanak yang hanya butuh kambing saja untuk ditungganginya, dipermainkannya. Masalah kata-kata, biarlah tua-tua saja yang menikmati hal tersebut. Toh, keduanya tak paham.

Dan sekarang saat tepat untuk berpikir, keduanya akhirnya bercerita mengenai hal tersebut di sela-sela pengembalaan kambing milik kakeknya yang sudah menjadi warisan. Dengan bermodal pengetahuan yang sudah diserap dari sekolah-sekolah di luar kampung, keduanya ingin mengembangkan potensi kampungnya itu. Lihatlah pegunungan yang banyak sekali lahan dan kucing-kucing liar. Bolehlah kucing itu dibudidaya lalu dijual. Atau bisnis-bisnis lain yang tak perlu dibicarakan disini. Sampai suatu masa di saat pembicaraan keduanya mulai bermajas, keduanya didatangi oleh sepasang suami istri. Dan bertanya.

“Bagaimana, kak. Dijawab dengan cara kakek?”
“Baiklah” jawab sang kakak dengan spontan.

Keduanya bergemuruh kata-kata yang tak mudah dipahami oleh kedua belah pihak. Tanpa disuruh pulang, sepasang kekasih itu langsung undur diri tanpa pamitan. Sampai kesimpulan pun dibuat oleh kakak beradik itu. “Mungkin bukan masanya lagi kata-kata bijak seperti kakek berlaku di era ini. Mungkin sekarang kita jelaskan secara lugas seperti yang berada di telepon pintar itu. Cepat dan tepat tidak lupa menggebu-gebu. Barangkali laiknya iklan” keduanya terkekeh geli.

IBNU SYA’NAH. RUMAH 01/08/2021

Cerpen Karangan: Uwais qorni
Blog / Facebook: ibnu sya’nah
Uwais Qorni AS lahir di Pasuruan 07 februari 2003. Bernama pena Ibnu sya’nah. Aktif dalam kegiatan kepenulisan. Beralamat lengkap Pejaten, desa Tampung, RT02/07, blok PonPes Raudlatun Najah Pajaran 2, kecamatan Rembang, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ia bisa disapa di fb-nya yaitu Ibnu sya’nah.

Cerpen Rumput Tetangga Jauh Lebih Hijau? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Black Work

Oleh:
Cakrawala membentang bagai permadani alam tanpa ujung, di sana semuanya misteri. Lebih dalam disingkap, semakin dalam pula pandirnya manusia berulah. Di bibir pantai Sanur, siang memaki dengan terik tak

Anak Terlantar

Oleh:
Hangatnya mentari menemani kota Bogor pagi itu. Terlihat masyarakat yang sudah mulai sibuk dengan urusan mereka, entah itu pekerjaan, sekolah atau hanya sekedar menyibukkan diri. Jalanan mulai dipenuhi dengan

Dibalik Duka ku ada Duka yang lain

Oleh:
Saat itu rencana keluargaku berlibur ke Pulau Bali. Aku sangat bahagia, karena selama ini aku hanya bisa mendengar cerita teman–temanku yang pernah ke sana, atau melihat di internet situs–situs

Semu

Oleh:
Aku diam menatap wajah semu yang semakin hilang. Benakku mengingat jalan, sawah dan pohon-pohon yang setiap detailnya menceritakan sesuatu. Tak hilang wajah manis yang selalu kecut ketika menatap diriku,

Tilang yang Berdarah

Oleh:
Seperti biasa jalan-jalan di kota ini dari pukul 03.00 sampai 00.00 tidak ada matinya, apalagi menjelang petang. Perempatan menuju Perumnas 3 itu selalu padat lalu lintas, perempatan ini entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *