Saat Lapar Minum, Haus Minum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 June 2018

Tahun ini genap 25 Tahun Buya, wartawan bangkotan ini menjalankan profesinya. Perjalanan yang cukup panjang penuh romantika, suka dan duka cita bila dikenang. Dengan idealisme dalam profesi, itu dijalaninya selama bertahun-tahun.

Manis getir sebagai pemburu dan penulis berita memang profesi yang dicita-citakan Buya sejak kecil. Berbagai khayal kala itu melintas dengan iming-iming keindahan. Mulai akan bertemu orang besar dan terkenal, para penjahat hingga sosok orang berilmu arif bijaksana nantinya. Kenyataan itu terwujud benar adanya.

Kini ceritra itu sudah lama berlangsung. Kenangan usang hanya tinggal makna pelajaaran hidup saja. Dampak, pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran dan menyita waktu itu, secara tak sadar banyak mempengaruhi karakter Buya dalam bertingkah pola laku sebagai mahluk sosial.

Kini semua aktifitas kewartawanan itu sudah setahun enam bulan tidak digelutinya lagi, meskipun beberapa teman di berbagai daerah sempat menanyakan karya-karyanya yang tidak tersiar seperti dahulu. Namun semua hanya dijawab dengan sumringah, dengan ekspresi santur. Tidak seperti saat dirinya masih aktif menulis dahulu, tertawa lepas pun acap kali tampak saat tergur sama dan bercergrama sesama rekan seprofesi.

Dalam lamunan Buya di atas katil reotnya, di dampingi Sang isteri tercinta, sempat terdengar helaan nafas panjang berhembus beraromakan rok*k kretek kelas bawah.

“Sudah cukup lama ya Ummy bila diingat kenangan hidup sebagai wartawan. Tapi apa yang didapat ya Ummy? Materi?” cerita Buya pada bininya yang dikawininya 14 Tahun silam. Senyum manis Sang bini sembari mengelus kumis Buya yang tampak kian memutih.

“Sudahlah Buya… Yang penting semua Buya lakukan dulu, sejak jadi wartawan di Ibukota Jakarta hingga ke Provinsi Bengkulu ini tetap sehat dan selamat hingga kini. Kita harus bangga dan punya jiwa besar terhadap apa yang sudah kita perbuat. Jangan dikenang terlalu dalam, nanti bisa merusak pikiran”, tegur Ummy menenangkan kegundahaan suaminya.

Buya tampak dari tadi menatap ke arah susunan genting rumah yang mulai berlumut. Berbagai ceritera dari kenangan sembari perintang malam terus terucap dari mulutnya. Seakan-akan memaksa bininya mendengarkan kisah lama kenangan usang itu.

“Buya jadi ingat tatkala masih tahun awal jadi wartawan dahulu”, bisik Buya sedikit bergeser berbaring menghadap Ummy yang tampak menahan kantuknya.

Kala itu cerita Buya, rekan-rekan wartawan usai pulang dari lapangan. Raut muka mereka tegang, perut mulai keroncongan sudah pasti. Mereka selalu berteriak dan mengelitik hati setiap usai menulis berita.

“Teriakan apatu?”

Sembari merebahkan diri dikursi seperti biasanya, rekan wartawan selalu saja ada yang berteriak, “Setiap hari kayaknya lapar minum haus minum”, jelas Buya sembari ketawa geli.

Lucunya… sontak Buya terdiam, saat tidak ada reaksi dari bininya. Ternyata saat dilongok, Ummy sudah terlelap tidur, pergi berlayar ke ‘pulau kapuk’.

Malam sudah kian larut, namun Buya masih hanyut dalam kenangan perintang malam. Apalagi saat dirinya teringat tatkala dirinya sempat digiring oleh dua orang ajudan seorang wakil rakyat yang bertubuh kekar, tegap yang mengiringnya masuk dalam sebuah ruangan uuntk di interograsi terkait pemberitaan yang sempat ditulisnya.

Resiko kerja itu terjadi, karena dirinya memberitakan Sang wakil rakyat, karena diduga terlibat penyebab kematian salah seorang rekan sekerjanya sebagai wakil rakyat.

Untung saja kala itu tidak terjadi kekerasan fisik yang berarti. Hanya saja sedikit shok akibat beberapa ancaman yang sempat dilontarkan.

“Bila nggak ada rekan wartawan lain yang melihat kejadian itu, pasti aku sudah bonyok, dihajar centeng yang sudah tampak geram itu” kenang Buya dalam lamunan larut malamnya, sebelum kantuk berlahan mulai menjemputnya untuk tidur.

Malam kian hening. Suara jangkrik dan dengkuran saja yang sahut menyahut mengapai fajar.

Saat adzan berkumandang. Buya tersentak bangkit bangun dari katil reotnya. Rupanya Ummy sudah tidak berada di sisi kirinya. Bininya sudah bangun lebih dahulu dan tampak baru usai membacakan Kalam Illahi seperti biaasanya saat menjelang fajar.

“Aaaiih… Kesiangan aku Um! Dah lama Ummy bangun ya?” sapa Buya sembari jalan menuju sumur yang letaknya di belakang dapur rumah mereka.

“Udah Buy… Tadi memang sengaja Ummy nggak membangunkan Buya, soalnya Ummy lihat Buya tampak letih dan mendengkur. Emangnya Buya tadi malam begadangkah? Maaf ya… Tadi malam tidur duluan, soalnya ngantuk berat”, ujar Ummy sembari membentang sajadah kusamnya persiapan shalaat berjamaah.

Celoteh isterinya tak dijawab. Buya langsung mengambil sarung dan segera mengajak bersiap shalat berjamaah.

Usai beribadah, bergegas Ummy menuju dapur untuk memasak air, guna membuatkan kopi.

Rupanya kebiasaan minm kopi itu belum bisa ditinggalkan mantan wartawan bangkotan ini, termasuk menghisap rok*k. kretek. Meskipun umurnya menjelang setengah abad. Sang istri sungkan menegur, takut keharmonisan mereka ternoda akibat kebiasaan lama yang di kecam para ahli kesehatan itu untuk dihentikan.

Dari beranda rumah mereka, pasangan laki bini ini, baklayaknya pengantin baru, tampak saling lempar senyum.
Sayangnya ini tak sempat berlangsung lama. Candaan romantis terhenti ketika ke empat anakya sudah bersiap-siap untuk berangkat pergi ke sekolah.

“Duh Ummy… Ummy” bisikan mengoda Buya. Rupanya bisikan itu mengelitik hati bininya, sehingga satu cubitan nakal mampir dipinggang Buya.
“Adduuuh”.
“E eh…” teriakan kaget mantan wartawan bangkotan itu sedikit mencoba menghindar cubitan kedua Ummy yang umurnya hanya selisih beberapa bulan saja darinya.

Sembari menyeruput kopi kental pahitnya, Buya kembali mengajak pujaan hatinya itu kembali untuk mendengarkan nostalgianya saat masih jadi wartawan idialis yang ternyata nyaris ‘buyanis’. Orang Bengkulu bilang, itu kebodohan.

Ummy tampak suka cita di raut mukanya, mendengarkan kisah-kisah lama perjuangan hidup suaminya. Apalagi selama rutinitas menjalani profesi kewartawanan kala itu, Buya tidak pernah sempat untuk bercengkrama berduan, karena kesibukannya yang tak berujung. Meskipun kedudukan sebagai editor senior usai diraihnya. Tapi apa hendak di ayal, ulah membuat berita dan menulis memang acap membuat seseorang lupa akan bininya, termasuk dirinya sendiri. Saat teriakan rasa “lapar minum, haus pun minum”, baru ia tersentak.

Kini aktifitas tinggal kenangan bersama hasilnya. Kebutuhan pangan, papan dan sandang kian gencar merongrong Buya. Rupanya kapal besarnya kini tidak butuh kiasan.

Kemudi masih tetap lurus, akibat di gelombang masih tinggi, arus pun masih terlalu deras untuk dihadang.

“Lantas apa yang kini harus diperbuat? Usaha apalah yang bisa dan cepat mendapatkan uang Yah?” cetus Ummy yang membuat lamunan Buya buyar.

Tak ada sepatah pun jawaban yang keluar. Selain masih hanyut dalam kenangan, dengan pertanyaan mengapa wartawan tak kaya seperti pemilik medianya. Apakah itu akan terus berlangsung hingga nanti? Kenapa wartawan abal-abal lebih punya duit? Mungkinkah mereka selalu ingin meminta jatah dari uang haram atau subhat itu?

“Ah… Terserahlah”.

Matahari mulai memancarkan panasnya. Gelas kopi sudah tidak ada lagi di atas meja yang tampak bersih dan rapih.

Suara peralatan masakpun tiba-tiba berbunyi dari dapur rumah. Seakan itu merupakan isyarat tidak baik yang datang dari dalam rumah.

Buya kembali tersentak saat musik keroncong mengalun merdu dari radio yang diputar bininya.

“Ah… Terlalu santai dan aku harus hidup. Kapal ini harus terus berlayar”.

Buya teringat akan hidup ini yang tidak akan berhenti hingga ajal tiba. Hidup berarti pandangan cerah dan kemampuan. Kian besar tantangan sejak tidak menjadi wartawan lagi, Buya merasa dirinya makin hidup.

Di sisi lain Buya tidak bisa begitu saja melepas profesi yang sudah lama digelutinya, terutama kebiasaanya menulis berbagai tulisan. Namun dirinya harus hidup layak dan pendapatannya meningkat.

“Janganlah meminta tolong pada orang lain, walaupun untuk sepenggal pekerjaan kecil. Usahakan untuk melakukannya sendiri”, seorang penyiar radio menyampaikan sebuah pesan ajaran agama.

Terlihat tertegun dan bingung Buya. “Mungkinkah aku harus jadi pengusaha media?” pikirnya sembari tegak menemui bininya.

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie
Blog / Facebook: benny hakim benardie
Penulis alumni Universitas Islam Djakarta 1993

Cerpen Saat Lapar Minum, Haus Minum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pekerjaan

Oleh:
Uang sebesar tujuh puluh lima ribu hanya tersisa di dalam kantong saku celanannya. Ia harus pandai mengatur jumlah pengeluaran setiap hari. Ia makan sehari satu kali, bayar cicilan hutang

Mengulang Rindu

Oleh:
“Ingat anak-anak, kalian harus berpuasa, sholat tarawih, dan perbanyak beribadah di bulan Ramadan ini!” kata Bu Rosmini ketika kami hendak pulang. Aku menempuh jarak 10 km pulang dari sekolah

Cahaya yang Hilang (Part 1)

Oleh:
Gerbong adalah rumahku. Penumpang adalah langgananku. Tukang asongan, pengamen dan penjaga adalah teman karibku. Suara peraduan antara roda besi kereta dan rel mengawali harapan hidupku hari ini. Entah sampai

Gerbong

Oleh:
Langkahku terburu memasuki stasiun kota Jakarta, stasiun kereta yang di bangun tahun 1870 hasil dari otak seorang arsitek Belanda kelahiran tulungagung bernama Frans Johan Lowrens Gijsels dan kawan-kawannya itu

Pesan Lilin Untuk Sang Pencipta

Oleh:
Kejadiannya terlihat semakin mencekam dan dia terus Meronta kesakitan karena lelehan cairan panas di sekujur urat nadinya, karena kegelapan dunia. Cahayanya terlihat semakin terang disaat terpaan angin tak menyentuhnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *