Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 9 November 2016

“Rina izin sakit” begitu info di whats app group.

Aku melengos kesal..
Hmm alasan lagi nih gak ikut meeting… biar bisa leha leha di rumah…

Setiap kali teman aku ini izin sakit, kecapean dan lain lain, udah gak surprise lagi.. Dia emang terkenal sangat suka menghindari konflik, gak suka dikritik tapi punya opini kritis terhadap orang lain yang begitu tajam.. tapi dia cenderung diam orangnya, ntar dikeluarin semua pas dia lagi pengen nyindir, atau di depan forum ada orang lain.. makanya dia jarang punya teman yang benar benar dekat untuk waktu yang lama… Cenderung pendendam.. Jadi jika ia tersenyum, itu belum berati dia lagi senang sama lawan bicaranya…

Tapi pendapatku yang skeptis tentang dia lama kelamaan terkikis.. Gara garanya aku sempat sekilas baca tentang kisah 2 orang sahabat yang saling mendukung, saat yang satu sakit, sahabatnya memberikan support dan dukungan moril yang membantu pemulihan sahabatnya sampai sahabatnya bisa melewati masa masa suram dan menjadi seseorang yang berhasil…

Bagaimana dengan aku… waktu sahabatku sakit, aku malah berprasangka negatif.. Hmm kenapa yah arti sahabat jadi dingin seperti ini.. Apa karena pengaruh hidup di kota metropolitan yang sangat individualis, sibuk dengan rutinitas masing masing, mau besuk temen yang sakit aja mikirin jalanan yang macet… Hmmm degradasi juga yah arti dan nilai sebuah persahabatan…

So it has to be changed from my mindset first.. Belajar percaya pada omongan sahabat.. Setidaknya kalau dia gak sedang sakit beneran, kemungkinan besar ia butuh diperhatikan… Atau butuh teman curhat dalam berbagi beban dan kepenatan hidup di kota metropolitan ini…

Sebenarnya bukan hanya artikel atau cerita tentang sahabat itu yang mengubahkan cara berpikirku, tapi setelah salah seorang saudaraku sakit, aku jemput dia, dia menginap di rumahku dan aku bisa lihat bagaimana ketahanan fisiknya menghadapi stress di pekerjaan dan kost lembab yang tidak cukup layak huni.. banyak kelabang dan kecoaknya… sehingga ia rentan untuk sakit… Bisa saja sahabatku disana mengalami hal yang sama…

Bahkan ketika aku sakit minggu lalu, hati dan jiwa sebenarnya pengen bekerja full dan beraktivitas seperti biasa, tetapi apalah daya, hidung meler terus, badan lemas dan tenggorakan yang gatal karena batuk… huaaa… setelah mengalami ini, aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak cepat menghakimi atau menuduh yang negatif terhadap orang lain yang bilang ijin karena sakit…

Terima kasih TUHAN, aku jadi belajar introspeksi dan memperbaiki cara berpikirku dalam mengasihi sahabatku… Aku tak mau, ketulusan kasih persahabatanku terkikis oleh modernitas hidup…

Menulis adalah kegiatan sehari hariku, entah itu curhatan hati sendiri, curhatan orang, inspirasi atau sekedar diary.. pelepas penat saat tak ada yang mau jadi tempat sampah unek unek…
Orientasi people, suka buat kartu ultah dan menuliskan kata kata motivasi buat temen.. lumayan sekali setahun… diberi ruang dengar secara paksa maupun tidak hehehe…

Cerpen Karangan: Vie
Facebook: Devie Manatar

Cerpen Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ditooo… Apa Lagi (Part 3)

Oleh:
Sore itu Dito sedang bersantai di sebuah cafe sambil menyeruput kopi panasnya. Ia tidak sendirian tetapi ditemani oleh sahabatnya Tody, cowok ngocol lulusan PTS yang sama, bedanya si Tody

Potret Hitam (Part 1)

Oleh:
Di ujung jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang membawa sekeranjang kue dengan wajah berbahagia. Entah apa alasannya yang pasti banyak alasan yang bisa melukiskan senyum manis anak

Titik Api

Oleh:
Dulu, Kalimantan ditajuk sebagai paru-paru dunia. Barangkali, “dulu” tinggallah menjadi mozaik-mozaik masa silam. Dan kini, lihatlah, para penguasa, konglomerat, pembisnis, atau setara dengan itu mengeksploitasi hutan besar-besaran. Maka kemarau

Happy Birthday Fay

Oleh:
Sabtu 11 desember, Jarum jam menunjukkan tepat pukul 11 malam, tapi belum juga ku lihat tanda kehadiran Fay dan Nabil, padahal pada waktu itu aku, tante Lina dan Om

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *