Sahabat di Kesunyian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 July 2016

Awan begitu tipis hari ini hingga Matahari terasa sangat menyengat aku pun berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang yang akarnya sangat kokoh. Aku teringat tentang sebuah peristiwa besar yang membuatku berubah seperti ini kejadian 5 tahun lalu yang telah mengoyak kehidupanku hingga aku seperti ini.

Aku masih ingat betul suasana malam itu, ketika ia menatapku dengan tajam seakan hendak mengulitiku aku hendak bertanya padanya namun ia berkata lebih cepat dari pada aku
“aku tidak akan pernah menyetujuinya” katanya
“tapi kenapa baru kau lakukan sekarang mengapa tidak dari dulu?” selanya dengan cepat, mimik mukanya seakan-akan hendak meledak namun tertahan oleh sesuatu.
“Apa yang harus aku lakukan” kataku memelas.
“Cuma itu jalan yang diberikan” kataku dengan menatap sayu.
Ia terlihat hendak meneteskan air mata namun seolah tertahan oleh Bendungan yang amat besar.
“Apa kau tahu perasaanku saat ini?” Katanya dengan nada meninggi.
“Tentu, aku tahu. Tapi apalah dayaku” Balasku.
Bagai duri yang ditancapkan di dalam hati. Namun, aku tak bisa menangis di depannya aku seorang laki-laki aku harus tegar.
“Apa kau akan meninggalkan aku sendiri?” tanyanya.
Kali ini bendungan yang kokoh sedari tadi tak kuat untuk menahan gejolak perasaannya kulihat ia menitihkan bulir air mata jatuh ke pipinya bak embun pagi yang menetes dari daun yang sayu.
“Dengarkan aku, saat ini berbeda dengan yang dulu sekarang aku sudah miskin kau harus tahu itu” kataku menjelaskan.
“Apakah dengan kau miskin aku akan mudah melupakanmu?” balasnya dengan tempo yang cepat cepat.
“Dengarkan aku sekali lagi, keluargamu tidak mau aku disini bersamamu mereka lebih senang jika aku pergi dari sini. Mereka mengusirku…!” kataku sambil menahan seluruh gejolah hati.
Tiba-tiba ia memelukku dengan meneteskan air mata suaranya tersengal-sengal tepat di bawah daguku
“Enggak mas, jangan pergi jika kau pergi aku juga harus berada di sampingmu” katanya tersengal-sengal karena tangisnya.
Belum sempat aku berkata ada seseorang di belakangku berteriak dengan lantang bak suara meriam yang ditembakkan.
“Pergi kau dasar orang tidak berguna…! jauhi anakku ceraikanlah kau sudah tak berguna bagi keluarga ini” katanya dengan cepat ia menarik tangan istriku yang memelukku.
Tanpa menoleh ke belakang aku pun melangkah ke luar rumah dengan langkah yang berat aku meninggalakan seluruh jerih payahku sendiri, karena kesalahanku aku sudah tak punya siapa-siapa dan tak punya apa-apa lagi.

Dulu kenapa aku dengan mudah tertipu oleh mertuaku saat aku memiliki segalanya mertuaku mengancamku dengan perceraian. Aku pun dengan mudah memberikan semua hartaku kepada mertua kurang ajar tersebut. seharusnya, aku sadar saat aku melamar anaknya ia meminta sebidang tanah untuk maharnya. seharusnya, gelagatnya sudah sudah kuketahui namun semua telah berlalu, saat ini aku sudah berdamai dengan hatiku ini.

Terakhir kali kudengar bahwa mantan istriku yang kucintai mati gantung diri 3 tahun lalu, aku tidak tahu apa sebabnya mungkin itu karena diriku itulah buah cinta buta yang harus aku petik namun tak apa aku sudah merelakan meskipun sekarang aku menjadi gelandangan seperti ini itulah kisahku.

Sudahlah aku harus pergi dari sini matahari mulai tenggelam aku akan mencari tempat untuk tidur, oh ya terimakasih ya pohon engkau sudah mendengar kisah piluku engkaulah teman yang dapat kupercaya saat ini dan kau tak mungkin berbohong denganku, sampai bertemu lagi.

Cerpen Karangan: Hasan Nur Komari
Facebook: Hasan Nur Komari
Asal : Bojonegoro, Jatim

Cerpen Sahabat di Kesunyian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Sejati

Oleh:
Aku terduduk melamun, menerawang jauh dan mengulang kembali kisah kebahagiaan ku disaat masih bersama dia. air mataku mulai berjatuhan. tak kuasa menahan kesedihan ini, perih rasanya. andai waktu bisa

Malin Tambang

Oleh:
“Nak, ingek pasan Bundo, satinggi-tinggi tupai malompek pasti jatuah juo. Kok hujan batu di nagari awak, hujan ameh di nagari urang, nagari awak tetap nan utamo. Dek ulah tangan

Cinta Berkicau

Oleh:
“Pak Arka, ada?,” tanya Felly kepada resepsionis kantor. “Pak Arka sedang meeting dengan pihak luar negeri. Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Saya mau bertemu dengannya sekarang juga.” “Maaf,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *