Sahabat Penanti Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

Hembusan angin mulai terasa di tubuh, perlahan lahan anginnya berhembus dengan kencang hingga meliuk liukkan pohon palma di depan terasku. Terlihat dari kejauhan banyak burung pipit berteduh di bawah pohon jati milik Pak Badrul, tetanggaku. Aku mulai merasa bahwa ini pertanda akan terjadi hujan badai. Akhir akhir ini hujan disertai sambaran petir sering terjadi di ibukota Jawa Tengah.

Sebelumnya perkenalkan namaku Vito. Kehidupanku sangat bertolak belakang dengan sahabat karibku, Reza. Dia begitu menyukai hujan. Entah hal apa yang membuat dirinya tidak membenci hujan, tidak seperti aku. Aku sangat benci hujan, dari kecil aku benci hujan. Penyebabnya adalah karena hujan yang telah merenggut nyawa saudariku, Mia. Saat berumur 10 tahun, dia sering sekali bermain dengan hujan. Hingga pada suatu hari dia jatuh sakit akibat hujan. Nyawanya tidak terselamatkan karena demam bersuhu 49° C telah membawanya pergi dari keluarganya, halusnya meninggal dunia.

Hari ini, aku dan Reza pergi liburan ke puncak bersama Arini, Mahendra dan Clara, teman kuliahku. Liburanku kali ini berbeda dengan liburan lainnya, bukan penginapan atau villa yang kami pesan melainkan 2 buah tenda yang kami sewa untuk menginap selama 5 hari ke depan. Ini adalah niatan yang kami rencanakan 2 bulan yang lalu. Perkiraan cuaca melaporkan bahwa untuk hari ini sampai 3 minggu ke depan akan terjadi hujan badai. Mau tidak mau kami harus menerjang hujan yang deras dengan mobil pemberian ayahku. Walau kebencianku pada hujan mengubah hidupku, tidak ada pilihan lain selain menghadapinya demi liburan kami hari ini.

Pagi itu dinginnya udara bagai memaku seisi tubuhku. Untung saja aku membawa jaket dan selimut dari rumah. Setelah jaket telah kukenakan lalu aku masuk ke dalam tenda dan membaringkan tubuhku dengan selimut dengan maksud agar dinginnya berkurang. Merenung adalah cara satu satunya bagi temanku Clara, yang sedang memohon pada Sang Maha Pencipta agar liburannya kali ini disertai dengan hujan. Sangat berbeda pola pikir denganku.

“Hei Clara bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku pada Clara.
“Tanya apa Vit?” sahut Clara.
“Apa yang kau inginkan dari hujan?” kataku.
“Apa maksudmu?” heran Clara.
“Kudengar kau sangat ingin hujan ada di tengah tengah liburan kita.” ungkapku sedikit ragu.
“Hujan adalah perantara ucapan rasa syukurku pada Tuhan karena karunia yang telah diberikannya padaku. Hujan selalu hadir di tengah persoalan kita. Hujanlah yang menjadi teman kita saat kita mengurai air mata. Itulah sebabnya Vit, aku sangat merindukan hujan.” kata Clara sambil meneteskan air mata haru.

Cerita Clara membuat air mataku tak kurasa menetes di pipiku. Kebencianku pada hujan telah membutakan mata dan hatiku untuk merasakan rahmat yang telah Tuhan ciptakan untuk kita rasakan. Ternyata Reza benar, hujan patut kita syukuri bukan dibenci.

5 hari begitu cepat berlalu, aku bersama teman temanku pulang. Banyak pelajaran bermakna yang dapat kupetik dari liburanku. Salah satunya adalah mensyukuri pemberian Tuhan yaitu hujan. Aku dan Reza punya prinsip, bahwa kami akan selalu menanti hujan di mana pun dan kapan pun. Selama ajal belum menjemput kami.

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan
Hobi: Berenang dan menulis cerita
Harapan: Ingin menjadi penulis

Cerpen Sahabat Penanti Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bait Perjuangan

Oleh:
Kala itu di sore hari, awan hitam menyelimuti langit menunggu aba-aba Tuhannya menurunkan hujan. Gerimis mulai mendarat di Desa Lalahan. Angin berhembus menerobos lubang-lubang jendela. Seminggu sudah tiap sore

Sepotong Roti

Oleh:
Langit cerah matahari merangkak naik semakin tinggi. Burung pipit hinggap di pepohonan bersiul menghangatkan hari. Udara segar ku hirup dalam dalam hingga terasanyaman di hati. Apalagi temanku membawa secangkir

Benciku Atas Dasar Cinta

Oleh:
Sudah tiga tahun persahabatan sebelas remaja itu terjalin. Mereka menjalin persahabatan saat mereka sama-sama duduk di bangku SMP di sekolah yang sama, di SMP Kedamaian. Kesebelas remaja tersebut terdiri

Pudarnya Kejujuranmu

Oleh:
Hari terakhir Ujian Nasional (UN). Huda kembali diminta “mencoret-coret” lembaran soal sembari mengawasi siswa kelas VI yang tengah melaksanakan Ujian Nasional di Sekolah Dasar tempatnya mengabdi. Tak ada prasangka

Semu

Oleh:
Aku diam menatap wajah semu yang semakin hilang. Benakku mengingat jalan, sawah dan pohon-pohon yang setiap detailnya menceritakan sesuatu. Tak hilang wajah manis yang selalu kecut ketika menatap diriku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *