Sakit Ya Mas?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 November 2017

Aku menghempaskan tubuhku kasar. Dress merah marun masih melekat di tubuhku yang berkeringat. Benar-benar mengecewakan. Rasa sakit ini kurang ajar sekali. Sangat menusuk ulu hati.

Dasar nggak tahu diri. Aku benci dengan semua drama kehidupan di keluarga jahanam ini. Sangat tak berkelas dan bermoral. Pencitraan dinomor satukan. Cihh, basi.

Semua yang kucintai akan hancur begitu saja. Kucing yang menjadi sahabat pertamaku harus mati dilindas mobil. Bola sepak hadiah dari kakak harus berakhir karena gunting ibu. Rambut yang sengaja aku panjangkan juga berakhir karena gunting ibu.

Banyak sekali. Banyak hal yang aku cintai. Namun ya, semua berakhir karena ibu. Sepatu, boneka beruang, miniatur doraemon, dan masih banyak lagi. Kalau aku sebutkan satu-satu, tidaklah cukup buku setebal wikipedia.

Terserah ibu mau mengurungku di rumah bagai burung dalam sangkar. Namun satu bu. Jangan ambil sesuatu yang aku cintai. Tolong sangat.

“Yang sabar ya dek” dia kakakku. Aku biasa memanggilnya mas.
“Adek benci semua ini mas” tangan mas mengelus rambutku.
“Ibu hanya sayang”
“Itu yang namanya sayang mas? Adek nggak minta ibu harus menjadi apa yang adek mau. Tapi mas, adek ingin ibu mengerti kita. Menyayangi kita seperti ibu yang penuh kasih. Adek kadang iri sama ibu temen adek yang pengertian”

Kalau perampok menginginkan anaknya untuk tidak jadi perampok maka ibu tidak. Dia malah menginginkan anaknya jadi perampok. Dan aku benci jadi apa yang ibu mau. Pekerjaan hina di antara yang paling hina. Semua pekerjaan akan terasa hina kalau kita terpaksa. Sekalipun itu pekerjaan mulia.

“Mas tau rasanya dek”
“Mas hanya tau. Nggak merasakan yang adek rasakan. Dia anj*ng mas”
“Walau bagaimanapun dia yang melahirkan kita dek. Tanpa dia kita nggak akan ada di dunia ini”
“Syukur mas, kalau kita nggak lahir di dunia. Kita nggak perlu merasakan yang namanya penderitaan”

Dia pernah menghinaku anak setan. Dia nggak mikir apa ya? Aku anak setan. Dan dia ibuku. Berarti dia yang setan. Aku hanya anaknya. Goblok sekali otaknya yang katanya lulusan S2 itu.

Pernah juga aku dihina anak durhaka. Kala itu aku menghina sastra Indonesia yang tak membolehkan kata ibu durhaka. Jadi aku ganti saja ibu terkutuk bin nauzubillah. Jangan karena anak yang menentang ibunya dinamakan anak durhaka. Anak punya hak membela harga dirinya. Dan ibu yang terkutuk tidak boleh menghina anaknya durhaka. Pun kalau anaknya melawan.

Komplit sekali hidup yang kualami. Uang nggak punya, orang terkasih nggak punya, selalu dihina dan direndahkan. Hanya bilur merah yang membentang di sepanjang puggung yang menjadi temanku. Juga tak lupa sundutan rok*k. Aku tak sudi memakan uang haram yang ibu berikan. Walau itu menggoda untuk digunakan.

“Kalau saja Tuhan bisa mengabulkan doa adek. Adek akan minta untuk tidak dilahirkan mas”

Tuhan ya? Aku sampai lupa dengan nama itu. Aku percaya dengan adanya Tuhan. Aku percaya dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Namun aku membenci Tuhan, karena setiap doa yang aku lantunkan saat hari minggu di Gereja tak pernah sekalipun diijabah. Dan mulai saat itu aku benci memohon kepada Tuhan.

Aku pernah berdoa kepada Tuhan untuk memulangkah ayah. Sampai sekarang ayah tidak pulang. Aku berdoa agar ibu bisa menjadi ibu yang baik. Nyatanya ibu makin buruk saja. Aku berdoa agar mas tidak pulang dalam keadaan babak belur. Malah mas pulang dengan keadaan yang lebih parah. Aku berdoa agar ibu mati. Sampai sekarang dia seger waras saja.

Semua yang aku harapkan malah datang dengan kebalikannya. Tuhan berniat mengujiku apa membunuhku?
“Apa adek lelah?”
“Sangat mas. Adek lelah sekali. Puncaknnya malam ini mas. Adek benar-benar ingin pergi sekarang juga”

Ibuku seorang g*rmo. Atau kalian bisa memanggilnya mucikari. Kalau saja cerita ini sama dengan film yang sering tetanggaku lihat. Yang menceritakan kehidupan pel*cur untuk membahagiakan anaknya. Maka aku akan bangga mengatakan dia ibuku.
Sayang sekali. Ceritaku sangat berbeda. Di sini. Tepatnya malam ini. Dia rela menjual keper*wanan anaknya hanya untuk sekoper uang. Dia ibu biadab yang sangat tak punya aturan. Kembali sesuatu yang aku cintai alias keper*wanan terenggut karena ibu.

“Ayo kita pergi. Kalau kita tetap di sini. Mas yakin, akan ada polisi membawa mas ke penjara”
“kenapa?”
“Mas membunuh lelaki itu”

Ah, aku tidak menyadari wajah mas yang seharusnya tampan malah terlihat mengerikan. Lebam sana-sini menghiasi. Ada cipratan darah di kaus mas yang berwarna biru toska. Dan juga sobekan di lengan kiri yang kuyakini karena senjata tajam.

Kau terlambat datang menyelamatkan adikmu mas. Saat dia datang, acara pemerk*saan sudah selasai dilakukan. Aku tak tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu. Tubuh ini sudah melangkah pulang. Pulang dalam keadaan sehancur-hancurnya.

Kuelus rahang mas yang lebam berwarna keunguan. Aku tahu itu menyakitkan. Mas hanya berpura-pura tersenyum.
“Sakit ya mas?”
“Sakitan hati mas yang nggak bisa melindungimu”

Cerpen Karangan: Sheilah Aktar Naina
Facebook: Na Naina

Cerpen Sakit Ya Mas? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Yang Abadi

Oleh:
Malam ini sungguh sunyi.. Hanya terdengar suara detingan jam di sudut ruang keluarga. Semerbak tiupan angin membelalak jendela rumah. Percikan hujan di luar membuatku gelisah nan gundah Malam ini

Imayani

Oleh:
“Mamak! Daeng Sira kena bom!” Ijal berteriak dari pintu depan. Astaga, cepat-cepat ku tinggalkan kupasan kerang hijauku. Dari jauh ku lihat orang kampung sudah ramai berkumpul di Puskesmas pulau.

Dirimu Apa Adanya

Oleh:
Gadis berjilbab ungu itu begitu manis, senyumnya begitu menawan, dan lesung pipinya sangat menarik hati. Gadis itu tengah bersandar pada pohon kelapa di kebun milik Pak Totok sembari membaca

Bunga Tidur Jagoan Mama

Oleh:
Terlahir menjadi seorang laki-laki dari sepasang raja dan ratu yang telah mengindahkan hidupku. Ucapan beribu terimakasih sama sekali tidak cukup untuk kupersembahkan kepada mereka. Bahkan sekuat apapun usahaku tetap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *