Salah Diagnosa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 12 July 2012

Pada suatu hari, sepasang suami istri sedang berobat ke dokter karena sang istri merasa badannya ada yang tidak beres, pinggang sang istri sering terasa panas. Setelah diperiksa dokter mengatakan sang istri ada gejala kencing batu, untuk memastikannya sang istri disarankan untuk memeriksakan urine ke laboratorium swasta. Setelah diperiksa dan melihat hasil test-nya, ternyata hasilnya negatif. Mereka pun membawa hasil test tersebut esoknya ke dokter yang merekomendasikan untuk cek urine. Sang dokter bingung dan menyimpulkan bahwa sang istri kurang istirahat sambil memberikan resep vitamin.

Sepulangnya dari dokter sehabis menebus resep, mereka berdiskusi dan sepakat. Ada baiknya periksa lagi ke laboratorium swasta yang lain keesokan hari, demi kepuasan dan kepastian tentang penyakit yang sebenarnya. Ternyata hasilnya juga negatif. Sang suami pun menjadi kesal.

Suami (kesal): “Gimananya ini, sudah bolak balik ke laboratorium ternyata hasilnya negatif. Sudah bayar dokter, beli resep, bayar hasil test dua kali, sudah banyak uang yang keluar. Kok tidak ketahuan juga penyakitnya. Sepertinya kualitas dokter-dokter dan petugas kesehatan di kota ini sudah tidak bisa dipercaya”

Istri: “Sabar tho paak.”

Suami: “Gimana mau sabar, sudah menunggu giliran diperiksa dokter lamanya minta ampun. Untung saja pemeriksaan di laboratorium cepat. Tapi kan sudah buang-buang waktu kita selama perjalanan ke laboratorium”

Istri: “Yaa sabar pak. Kan masih ada untungnya tidak pakai lama sewaktu periksa ke laboratorium.”

Suami: “Ya iyalah dek. Masih ada untungnya. Tapi hati abang masih kesal. Coba bayangkan, kemaren abang dengar cerita dari teman. Istrinya periksa ke dokter, didiagnosa istrinya sakit kanter usus dan disarankan operasi. Ternyata hasil laboratorium tidak ada apa-apa, negatif. Periksa ke Singapur, ternyata istrinya sakit tukak lambung berat. Cobalah bayangkan, kalau jadi operasi istrinya waktu itu.”

Istri: “Yaa mau gimana lagi bang, mau pergi ke Singapur kita tak punya duit.”

Suami: “Yaa karena tak punya duit itu abang jadi kesal. Gimananya adek ini…”

Istri: “Gini ajalah bang, adek mau tanya sama abang sekarang. Boleh?”

Suami: “Boleh…. nanya apa sih?”

Istri: “Ceritanya abang kesal karena sudah keluar uang dan waktu abang banyak tersita sehingga kerjaan abang tertunda, iya kan?”

Suami: “Ya eyalah… udah taunya adek ini.”

Istri: “Jadi apa yang abang harapkan dari rasa kesal abang? Apa abang ingin penyakit adek benar-benar terbukti sakit ginjal baru abang gak kesal lagi? Itu masih mendingan bang, misalkan abang adalah suaminya istri teman abang itu dan misalkan istrinya teman abang adalah adek. Apa abang berharap benar-benar penyakit kanter usus baru abang lega gak kesal lagi? Seharusnya karena tidak terbukti adek mengidap penyakit ginjal atau misalnya kanker usus, abang harusnya bersyukur.”

Suami: “Lhaa… kalau jadi operasi bagaimana pula?”

Istri: “Ya kan nyatanya tidak sampai terjadi bang.”

Suami: “Kalau sampai….”

Istri: “Bang, jangan mengandai-andai lah bang. Kalau mengandai-andai, adek pun pintar bang. Andaikan kita banyak uang bisa pergi ke Singapur dan ternyata harus dioperasi karena sakit jantung berat maka jantung adek harus di ganti. Kalau tidak, waktu hidup adek hanya 2 bulan. Tapi karena untuk mendapatkan donor sangat susah dan antriannya panjang maka harus menunggu setahun baru dapat. Yaa adek keburu ko’it bang”

Suami: “Ya janganlah sampai begitu walaupun seandainya banyak uang kita dek.”

Istri: “Ya begitulah bang, syukuri aja kenyataan yang ada sekarang ini.”

Suami: “Terus sakit pinggangmu bagaimana sekarang?”

Istri: “Sudah tidak terasa panas lagi bang. Setelah makan obat resep dokter itu.”

Suami: “Owalaah… Kenapa tidak bilang dari tadi sih.”

Tiba-tiba terdengar bunyi HP istrinya.

Istri: “Sebentar ya bang” (sambil mengambil HP dan berbicara).

Tiga menit kemudian sang istri menutup pembicaran HP-nya, lalu sang suami bertanya: “Dari siapa itu?”

Istri: “Dari dokter yang kemaren bang.”

Suami (ketus): “Mau apa lagi dokter itu.”

Istri: “Mulai lagi deh, sudahlah bang. Mau tahu apa yang dikatakan dokter itu sama adek?”

Suami: “Apa katanya?”

Istri: “Pertama dia menanyakan kondisi adek sekarang ini. Dan katanya lagi, dia berdo’a semoga hasil diagnosanya salah.”

Suami (nyengir kecut): “Waduuh….=D>”

Cerpen Salah Diagnosa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mentari Pergi

Oleh:
Di sebuah desa terpencil di pinggir jalan hidup seorang gadis yang cantik dan periang. Dia tak mengenal kata putus asa. Setiap hari dia selalu membantu pekerjaan kakeknya. Gadis tersebut

Khotbah Wak Usman

Oleh:
Wak usman begitulah kami memanggilnya sehari-hari terbangunkan oleh kokokan ayam, di kampung ini hanya ayam jantan yang berkokok. Seirama dengan sang sinar fajar yang menjulang di antara belarak pohon

Gadis Bergaun Kebencian

Oleh:
07.00 am Ku awali pagi ini dengan senyuman yang indah. Tatapan mata yang ceria dan penuh dengan riang. Hari ini aku sudah merencanakan sesuatu untuk ibu tercinta, beliau ulang

My Twin Sister

Oleh:
“Hoam…” uapku setelah bangun tidur di pagi hari. Pagi ini ku rasakan sejuk sekali. Tapi yang ku lihat setiap hari sama tidak ada bedanya, tidak ada warna-warna indah, yang

Rinduku Berakhir Duka

Oleh:
Tujuh belas tahun usiaku, bukan waktu yang singkat untuk dilalui. Apalagi dengan kehidupanku yang berantakan, broken home. Perceraian orangtuaku saat aku baru menginjak bangku smp begitu mempengaruhi mental dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *