Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 February 2014

Senja di pelupuk matanya mengantarkan warna kelabu dalam sanubariku. Aku sangat mengenalnya, tapi kali ini aku masih saja menikmati ketidaktahuanku tentang apa yang seharusnya aku tahu darinya. Aku bahkan tak percaya ketika dia percaya bahwa aku adalah sahabat terbaiknya. Semua telah berubah dan tak seindah masa-masa yang begitu banyak melukis canda tawa antara dia dan aku. Entah bermula dari siapa dan darimana sehingga semua terlihat berbeda.

Di pagi itu aku ingin sekali menyapanya laksana fajar pagi yang dengan lembut merangkulku, tapi apalah daya kalau yang terlihat justru balutan awan tebal yang menutupi senyumnya. Namun aku paksakan untuk membuka tabir gelap yang menyimpan cahaya dari senyumannya yang tak kunjung datang. Meskipun sedikit ragu ku menyapanya. “Jan, selamat pagi” dengan nada pelan dan sedikit senyum kulemparkan padanya. Tanpa menjawab salam dariku dan hanya menatapku dengan penuh pilu lalu menunudukkan kepalanya. Semakin besar tanda tanya di kepalaku dan semakin besar pula hasratku untuk tetap memaksanya membuka mulut dan berucap akan sesuatu yang mampu membuat rasa penasaranku akan apa yang terjadi padanya hilang.

“maaf jan, aku tak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin kamu dapat berbagi cerita denganku, sudah hampir seminggu kamu menunjukan sifat yang sedikit aneh menurutku. Bahkan cukup membuat aku merasa kehilangan ketika beberapa hari ini kamu sepertinya menghindar dariku. Ada apa denganmu Jan? ceritakan padaku.” Desakku terhadapnya dengan kalimat yang ku lantunkan lembut. Suasana hening tercipta ketika aku menunggu mulutnya berujar untuk sebuah pertanda bahwa ia merespon pertanyaanku. Dibalikkan kepalanya dan menatapku, wajah yang begitu sayu terlihat memaksa untuk tetap tegar namun tak bisa. Mengalir air mata dari kelopak keindahan wajahnya membasahi dataran pipi yang ranum. Dengan pelan dan nampak gemetar bibirnya yang telah dibasahi air mata memaksa untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya telah aku lontarkan. “aku tidak bisa Gas” hanya kalimat itu yang ia ucapkan. Bergegas ia meninggalkanku setelah menambah rasa penasaran didadaku. Aku semakin tak menentu.

Masih di tempat yang sama. Setelah ia berlalu yang aku pun tak tahu kemana ia pergi. Hanya tanda tanya yang ia tinggalkan di kepalaku. “apakah perkataanku telah menggores luka yang telah ada dalam tubuhnya. Ataukah memang ia tidak mengingikanku untuk hadir di hadapannya dan mengucapkan kalimat-kalimat bodoh?” ribuan atau bahkan jutaan pertanyaan menghujamku. Ingin aku biarkan saja dan tak lagi peduli padanya, karena itu semua hanya membuatku penat. Hilang selera dan semangatku untuk belajar di hari itu. Aku pun bergegas meninggalkan tempat yang katanya wadah pendidikan tertinggi, meskipun sebenarnya aku masih ragu akan hal itu. Aku pun berlalu menuju sangkarku.

Di tempat lain. “braaggghhh” “hancurkan saja semuanya Tuhan” teriaknya sambil menghancurkan televisi dengan melemparkanya ke dinding kamar. Terdengar di balik pintu kamar “jannn, apa yang sedang kamu lakukan? Buka cepat pintunya!!” namun tak sedikitpun teriakan ibunya digubris. Sehigga ibunya pun berlalu dan membiarkannya dalam kamar. Dengan tersedu-sedu ia berkata pelan. “Tuhan, apa agamamu? Dan yang mana umatmu? Kenapa beban keyakinan ini harus kau berikan kepadaku?”

Keesokan harinya, tepat di hari minggu. Saat fajar mulai meninggi ia melangkahkan kakinya untuk beribadah. Jarak Gereja tak begitu jauh dengan rumahnya, sehingga tidak begitu banyak mengambil tenaganya untuk berjalan kaki. Ketika khotbah disampaikan, sangat terasa dalam ia rasakan kehadiran Tuhan. Terlihat begitu khusyuk. Sedikit tenang ia merasakan jiwanya dari kekacauan sebelumnya yang ia alami. Setelah selesai beribadah ia tidak segera keluar dari rumah ibadah itu, diambilnya telepon genggam dan tanpa ragu membuka menu pesan. lalu…

Di tempat yang berbeda. Aku baru saja membasuh tubuhku dengan dinginnya air di pagi itu. Dengan hanya berbusana handuk, disaat aku sibuk memilih pakaian yang hendak aku kenakan tiba-tiba saja terdengar dering pesan telepon genggamku. Tapi kubiarkan saja, aku tetap melanjutkan aktifitasku tanpa peduli dengan dering telepon genggam yang baru saja berbunyi. Ketika telah selesai urusanku dengan penampilan, aku pun langsung keluar dari sangkarku untuk mencari santapan yang dapat menambah energiku untuk tetap bertahan hidup di hari itu. Aku lupa dengan dengan telepon genggamku yang tadi sempat mengalihkan perhatianku.

Dua jam kemudian. Tepat sang surya berada di atas kepala. Saat aku kembali dalam sangkarku, barulah aku teringat dengan telepon genggamku. Bergegas aku mengambilnya. Terlihat pada layar telepon genggamku, “2 pesan baru” setelah ibu jariku menekan papan tombol pesan terlihat nama Janet pada tampilan depan menu pesan. Dua pesan itu ternyata dari janet. Aku tak menduga sebelumnya kalau ia akan menghubungiku. Dengan perasaan yang berdebar aku membuka pesan yang pertama. “aku butuh kamu Gas, banyak hal ingin aku bicarakan padamu. Aku tak tahu ingin ceritakan cerita ini pada siapa. Dan sepertinya aku memilih kamu untuk berbagi cerita ini” bahagia bercampur haru yang aku rasakan saat itu. Sebab ternyata janet telah mampu untuk membuka diri dari masalah yang ia hadapi dan yang tak pernah aku pahami serta yang telah mampu membuatku kesal padanya.

Tak lama setelah sedikit memainkan imajinasiku tentang apa yang dirasakannya, aku pun membuka pesan yang kedua. “kenapa kamu tak sama sekali merespon pesanku Gas? Maafkan aku kalau aku telah membuatmu bosan dengan tingkahku belakangan terakhir ini. Kali ini aku mengerti kalau memang tak ada seorangpun yang mampu membasuh airmata dan keringat kecewaku. Terimakasih Gas” sentak suasana jiwaku kembali bergemuruh setelah membaca pesannya yang kedua. “astagfirullahaladzim, aku tak bermaksud untuk tidak menggubris pesanmu Janet” berkata aku di dalam hati. Secepatnya aku membalas pesan darinya. Kukirimkan pesan singkat yang menanyakan dimana keberadaannya. Lama aku menunggu, ternyata pesanku tunda. Aku coba untuk menghubunginya, dan ternyata ia tidak mengaktifkan telepon genggamnya. Semakin berantakan pula jiwaku memikirkannya yang menurutku ia pun sedang bergelut dengan jiwa yang berantakan.

Menggema suara adzan dzuhur. Terpanggil jiwaku untuk menyelesaikan kewajiban spritualku menghadap pada Yang Maha Segalanya bagiku. Kutunaikan ibadah shalat dzuhur. Kuselipkan nama Janet dalam doa yang kupanjatkan di siang itu. “bismillah” ku ucapkan asma Allah ketika aku bangkit dari tempat ibadah. Aku ingin bertemu dengannya. Aku percaya pada kebesaran Allah bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang diluar kemampuan hambanya. Bergegas aku menuju rumahnya. Terik Sang Surya menyegatku di jalanan. Aku tak peduli. Sengatan masalah yang dialaminya pastilah lebih dari apa yang kurasakan pada lapisan terluar kulitku ini.

Sesampainya aku di rumahnya. “selamat pagi” ku ucapkan salam. Lama aku menunggu jawab dari salamku. Setelah berkali-kali aku ucapkan salam, barulah terdengar suara agak sedikit parau. “iya, selamat pagi” ternyata ibu Janet yang menjawab salam. Perlahan ibu Janet menghampiriku. “oh kamu Gas, ada perlu apa Gas? Cari Janet ya?” Tanya ibu Janet kepadaku. Dari raut wajah yang kupandangi terlihat ibu Janet baru saja mengeluarkan air mata yang tak sedikit dari kelopak matanya. Tapi tanpa basa-basi aku langsung saja menyakan dimana keberadaan Janet. “sejak pagi tadi Janet sudah keluar rumah Gas, sepertinya dia pergi beribadah. Tapi tak seperti biasanya jam segini dia belum pulang. Ada perlu apa ya Gas?” tanya Ibu Janet lagi. Aku hanya menjawab “tidak ada apa-apa. Hanya ingin bertemu dengan Janet saja Tante. Aku mau langsung pamit pulang saja kalau begitu tante. Nanti setelah Janet telah di rumah barulah aku kesini lagi”

Di tempat berbeda. Di sebuah tepian sungai yang jaraknya tak begitu jauh dengan rumah Janet. Di bawah rindang pohon. Duduk ia disana sambil tersedu. Sudah kuduga kalau Janet pasti berbagi kesedihan dengan gemericik air. Dengan iringan doa dalam hati aku menghampirinya. “Jan, maaf” belum kuselesaikan kalimatku ia langsung menyela “aku telah memaafkanmu Gas, kamu tidak salah. Aku yang membawa kesalahan-kesalan ini pada sekitarku, sehingga semuanya merasa bersalah” “maksud kamu Jan?” kembali aku bertanya. “Ini semua bermula dari sebuah keyakinan yang ternyata tak mampu membuatku yakin” ia pun memulai ceritanya. “Seminggu yang lalu ibuku mengubah keyakinannya. ia mengikuti pilihan hatinya yang telah lama membeku semenjak ditinggal ayah untuk selama-lamanya. Awalnya aku mengira bahwa ibu tidak akan mencari pengganti ayah semenjak kehidupan merenggut nafas ayah, tapi ternyata dugaanku itu salah. Minggu lalu selepas aku pulang beribadah Ibu memperkenalkanku dengan calon suami barunya. Dan yang lebih dari apa yang membuatku kecewa adalah ketika aku tahu bahwa Ibu akan berpindah keyakinan untuk menyatukan cinta mereka. Sebab keyakinan mereka berbeda” aku hanya bisa diam dan ingin ia terus bercerita.

Ia melanjutkan kembali ceritanya. “kamu tahu kenapa aku merasakan hancur seperti ini Gas?” ia melontarkan tanya yang tak bisa ku jawab. Matanya yang sendu terus menatapku seakan mengharapkan jawaban dari pertanyaannya. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa aku tak tahu. “sejak saat itu aku sangat merasa sendiri Gas. Semenjak aku menengok dunia dari rahim ibuku, mereka telah memperkenalkanku dengan keyakinan yang mereka peluk dan yakini. Tapi mengapa justru kini aku sendiri dalam keyakinan yang mereka berikan?” “tidak Jan, keyakinan itu bukan mereka yang berikan, keyakinan adalah takdir manusia” potongku. “apakah kamu yakin bahwa setiap manusia dilahirkan telah ditakdirkan dengan sebuah keyakinan? Kalaupun seperti itu mengapa Tuhan membiarkan ibuku mengubah takdirnya? Bukankah ia sama saja mengkhianati pemberian Tuhan?” aku hanya mampu menelan ludah. Entah jawaban apa yang harus aku berikan padanya.
“tapi itu semua sudah berakhir Gas, Tuhan telah memberikan jawabannya padaku saat aku memanjatkan doa padaNYA di pagi tadi” kutatap wajah Janet yang penuh pilu. Kulihat genangan air di kelopak matanya. “jawaban apa yang Tuhan berikan Jan?”
“Tuhan memberikan jawaban lewat masalah ini, dari hatiku yang sepi jawaban itu datang. Aku tak bisa mengusirnya. Tak bisa aku pungkiri bahwa aku membutuhkan teman disaat sepi. Mungkin itu yang dirasakan oleh ibuku. Dan satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku pun sangat membutuhkanmu” Belum pernah aku sadari sebelumnya. Saat aku sendiri tertidur dan gejolak di hati memaksaku untuk bangun. kamu adalah alasan kenapa aku harus bangun. Sepertinya aku mencintai kamu Gas meskipun tidak harus mengorbankan keyakinanku dan hal ini harus kamu yakini” sungguh diluar dugaanku. Tidak mampu dan tidak tahu apa yang seharusnya aku katakan. Yang jelas sebenarnya aku pun memiliki rasa yang sama dengannya. Tapi bagaimana dengan masalah dan keyakinan yang sempat bergelut dengan Janet?
“masalah ini sudah selesai Gas, mungkin aku harus melihat bahwa keyakinan kita sama meskipun sebenarnya berbeda. Sebagai usaha mengejar keinginan hatiku” tersedu ia mengeluarkan kalimat demi kalimat. Begitu lepas ia berbicara padaku.
“itu adalah Jawaban Tuhan yang sesungguhnya Jan!!” kamu tidak perlu mengorbankan keyakinanmu untuk sebuah cinta yang belum pula kamu ketahui kedalamannya. Sebab aku pun melihat perbedaan ini sama. Dan tentunya Tuhan pun demikian. mari kita berjalan dan menyelam bersama dalam perbedaan ini untuk mengetahui seberapa panjang dan seberapa dalam cinta yang menghampiri kita. Ini dan itu sama. Aku dan kamu pun sama Jan”

selesai

Cerpen Karangan: Reza Fauzi
Facebook: Reza Fauzi

Cerpen Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kasih Sayang Dalam Gelap

Oleh:
Nisa, begitulah orang-orang memanggilku. Aku lahir sebagai anak ke 2 dari dua bersaudara. Dari sejak aku lahir hingga saat ini semua kebutuhanku selalu terpenuhi, namun satu yang sampai saat

Botol

Oleh:
Hamparan permadani biru tak terlihat sebagaimana mestinya. Pagi, sinar yang menembusnya malu-malu bersandar pada hari yang akan sama seperti belakangan ini. Yang semakin tak ubahnya ia membungkus bumi kota

Bagian Kota Bagian Dirimu

Oleh:
Aku melihatmu di tengah hujan. Namun, kau berlalu begitu cepat. Aku menoleh, mencari dirimu, berharap melihat rambutmu yang hitam kecokelatan di bawah tudung jaket biru itu, namun kau telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sama”

  1. Gunawan says:

    Cerpennya bagus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *