Sampan Pak Salim

Judul Cerpen Sampan Pak Salim
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

Angin laut bertiup sendu, menyampaikan pesan alam bagi mereka para penghuni pesisir Pulau Pekasih bahwa air sudah mulai pasang. Beberapa nelayan telah menurunkan kendaraan mereka, siap sedia bersama semua jaring dan jala, menjadi senjata utama untuk menangkap hasil alam yang berkeliaran di bawah kedalaman birunya lautan.

Di sana, seorang kakek tua paruh enam puluhan sedang mengulur sampannya dengan tergesa-gesa. Kakek itu sendiri adalah salah satu pelaut di kampung kecil ini. Kampung nelayan khas masyarakat Melayu yang terpencil di daerah kepulauan Batam. Ia merupakan salah satu dari beberapa bagian kecil rakyat mungil yang masih menumpang hidup dari alam bagi memenuhi kebutuhan pangannya. Di kepulauan ini mayoritas mengandalkan hasil laut untuk bertahan hidup. Lahan pertanian atau perkebunan tidak dimiliki semua orang. Tanah-tanah sudah dietsakan dengan nama pemilik berakta sah. Menumbuhkan sebatang pohon kelapa di tanah yang tidak legal bagi mereka sama dengan penggunaan infrastruktur yang melanggar hukum —penerobosan teritorial kronis. Bagi mereka yang tidak diberkahi dengan harta tanah warisan —terutama yang tidak punya ijazah memadai— hanya lautlah tempat terakhir mereka bertarung mengais rezeki.

Pak Salim sendiri sudah enam puluh tahun sekian tinggal di kampung ini. Ia lahir di keluarga miskin, dengan sejarah yang tidak mencolok. Layaknya kebanyakan warga miskin lainnya di daerah terpencil seperti ini. Ia punya seorang istri, yang juga datang dari keluarga miskin biasa. Kedua orang itu tidak sekolah karena memang kemampuan ekonomi dan kapabilitas pada zamannya tidak memberi mereka peluang untuk itu. Tapi, syukur, mereka setidaknya bisa menghidupi anak-anak mereka dengan tataan yang disebut pendidikan secara jelas. SD, MTs, Aliyah. Keenam anak mereka bersekolah dari jenjang terkecil hingga naik ke peringkat atas. Mereka memang tidak banyak yang jadi sarjana, namun itu tidak berarti mereka tak beruntung. Bagi Pak Salim yang sudah tua, telah menyelesaikan tugas dengan memberi pendidikan bagi anak-anaknya sudah jadi keberuntungan besar tersendiri. Dan itu tidak dia lakukan dari hasil kebun melimpah atau gaji bulanan yang sangat besar. Melainkan mengandalkan satu-satunya keahlian yang dia miliki di dunia ini. Yaitu, melaut.

Hasil laut memberinya kehidupan. Tidak banyak, tapi cukup membuat mereka bisa hidup sampai sekarang. Mungkin, banyak yang akan menggelengkan kepala, bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang nelayan miskin yang hanya melaut menggunakan sampan lapuk dan jala yang tidak lebih lebar dari setengah lapangan voli itu bisa memberikan kehidupan layak bagi anak-anaknya. Makanan, pakaian, pendidikan dan kehormatan.
Tidak— Ini bukan murni hanya sekedar usaha menghasilkan uang saja. Ini lebih besar. Sampan lapuk itu hanya celah kecil bagi Pak Salim dari mencapai kesuksesan kecil tersebut.

“Aku ini miskin, mana mungkin bisa sekolahkan anak-anak aku seperti orang-orang berada, dengan jumlah sebanyak itu. Maka dari itu aku ajarkan mereka untuk hidup keras dan tawakal. Karena kami miskin, maka dari itu mereka harus belajar untuk berjuang.”

Pak Salim pergi ke laut setiap hari. Dia mencari dan mencari, terus tanpa henti, bergumul dengan gelombang panjang yang tak kenal lelah. Dia bertarung dengan alam demi mendapatkan penghasilan baru setiap harinya.
Dari situ ia memperlihatkan pada anak-anaknya, bahwasanya manusia miskin seperti mereka tidak mungkin bisa tumbuh tanpa bergerak. Pak Salim dan sampan kecilnya tidak mungkin bisa mewujudkan mimpi mereka. Karena itu, Pak Salim memberikan kunci penting kepada anak-anaknya bagi tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Pak Salim mengajarkan pada anak-anaknya untuk bekerja keras dan tidak bermalas-malasan.
Anak-anaknya pun memahami betul bagaimana kondisi mereka. Mereka tidak membuang waktu untuk diam di tempat dan menadahkan tangan, meminta-minta pada orangtuanya. Melainkan turun ke lapangan untuk bekerja.
Kedua anak perempuannya menjahit, sedangkan anak lelakinya bekerja sebagai kuli bangunan, ikut menjaring dengan orang-orang berkapal besar ke laut dalam, mengurus kebun kelapa juragan tanah, dan jadi kuli membuat kue apam. Berkat kerja keras mereka, kesemua anak-anak itu kini telah tumbuh menjadi orang dewasa yang telah belajar menjadi manusia tegar. Keenamnya sekarang sudah berkeluarga dan punya kehidupan masing-masing.

Mungkin mereka akan bilang, kehidupan anak-anak Pak Salim saat ini bukan berkat titik keringat yang Pak Salim teteskan, melainkan dari kerja keras mereka sendiri. Ungkapan tersebut mungkin saja benar. Tapi, bisa juga keliru.
Kerja keras memang datang dari diri mereka sendiri. Tetapi, prinsip hidup dan filosofi jiwa mereka tumbuh berkat ajaran Pak Salim. Mereka memahami seberapa beratnya ayah mereka banting tulang setiap hari, menempuh ombak deras yang tanpa ampun bisa-bisa saja menelungkupkan sampan lapuknya, atau bahkan membunuhnya. Sedangkan ibu mereka hanya bisa duduk di rumah karena sakit. Berkat tuturan dan pendidikan akhlak serta motivasi hidup dari Pak Salim, anak-anaknya bisa jadi seperti apa mereka saat ini.

“Bapak mau pergi melaut juga hari ini?” Si istri berdiri di samping sebuah pohon kelapa dengan tongkatnya, memperhatikan Pak Salim yang sedang ingin naik ke sampan.
“Apa lagi yang aku boleh buat? Ini kerja aku, kan.”
“Anak-anak kita mau pulang siang ini. Bapak duduklah dulu di rumah, tunggu mereka.”
“Kau tunggulah mereka pulang. Mereka bukan budak-budak lagi. Mereka sudah dewasa. Tahulah mereka balik sendiri.”
Pak Salim naik ke sampan. Ia menoleh sebentar sebelum akhirnya berujar.
“Tunggulah mereka. Aku nanti pulang bawak ikan. Kita makan sama-sama.”
“Iyalah, Pak. Hati-hati kalau begitu.”

Setelah menerima pesan tersebut, Pak Salim pun meluncur dengan kedua dayung tuanya. Tangan-tangannya yang menghitam dan rapuh akibat sengatan matahari dan gelitikan udara malam menggerakkan kendaraannya dengan lancar. Sampan Pak Salim meluncur di laut bergelombang. Dari kejauhan ia istrinya melihat dengan pandangan tabah. Pak tua itu masih belum berhenti berjuang. Mungkin, dia tidak akan berhenti sebelum ajalnya datang menjemput ia pergi menuju Tuhan.
Perjuangan adalah apa yang Pak Salim telah turunkan pada anak-anaknya.

Cerpen Karangan: Faz Bar
Seorang penggemar animaga dan dunia RTS game (Real Time Strategy). Sangat terobsesi untuk menulis light novel dan memiliki mimpi bahwa LN tersebut di adaptasi menjadi anime. Mimpi terbesar dalam dunia sastra ialah untuk menjadi seorang seniman prosa yang berkebolehan tinggi dan dikenal luas. Hobi menulis dan membaca. Hal yang tidak disuka ialah anak alay. Sekarang tengah belajar di Universitas Putera Batam jurusan Sastra Inggris di semester 7.

Cerita Sampan Pak Salim merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lighter (Part 2)

Oleh:
Orang yang meminjam korek padaku itu, dia adalah beranda rumah yang menyambutku, dan Ipunk pria dari BBm group yang sekarang berteman denganku dia adalah api yang membakar kerasnya kepalaku

Di Terminal

Oleh:
Minggu lalu, di terminal, aku menunggu truk mau pulang kampung. Siang itu memang panas sekali. Tampak bukan hanya penjual asongan yang kepanasan. Barang-barang dagangan mereka pun tampak kepanasan. Mereka

Secangkir Kopi dan Renungan Sore

Oleh:
Kopi sudah menjadi bagian dari keseharian. Menikmati secangkir kopi di pagi hari dan sore hari, bagiku sudah menjadi ritus yang wajib kulakukan. Ibarat beribadah jika aku melewatkanya seperti ada

Bocah di Sudut Pasar

Oleh:
Aku sekarang duduk di bangku kelas IX SMP tapi Ayah masih juga belum menambah uang sakuku. Kadang aku kesal, ketika melihat teman-temanku membeli aksesoris cantik yang harganya cukup mahal.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *