Sang Barista

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 May 2013

Kegilaanku akan kacang dan coklat selama ini membuatku menjadi salah satu pelanggan setia sebuah cafe yang tidak jauh dari rumahku. Meskipun cafe itu tidak memiliki banyak pengunjung di tiap harinya, namun tetap buka hingga sekarang. Minuman yang selalu aku pesan disana adalah coklat hangat dan hazelnut coffee.

Sore ini aku sengaja datang ke cafe itu untuk mencoba minuman baru mereka, stroberi mint coffee. Sebenarnya sudah seminggu mereka menawarkan itu, tapi kurasa ini waktu yang tepat untuk mencoba minuman baru itu.
“Stroberi mint coffee.” Kataku pada Aldo, pelayan cafe itu yang kebetulan tetanggaku sendiri. Hanya anggukan dan senyuman sebagai jawaban darinya.

Tak lama, minuman dingin beraroma mint itu sudah ada di mejaku. Meskipun bernama stroberi, namun kopi tetaplah kopi, tidak berwarna merah layaknya stroberi. Tegukan pertama memang membuatku sedikit jatuh hati padanya, apalagi aroma mint yang mampu membuatku sedikit lebih relaks.
“Gimana rasanya?” Tanya Aldo yang sengaja datang menghampiriku.
“Enak.” Tentu saja enak, karena aku mulai jatuh hati pada minuman yang satu ini, aku menjawab sambil mengangkat kedua jempolku.

Aku melihat sekeliling cafe yang sudah ada dua tahun ini, tak ada yang berubah, hanya susunan kursi dan meja yang berganti posisi. Aku masih asyik dengan sekelilingku, sambil membuka kembali memori-memoriku dengan cafe ini, sampai pandanganku tertuju pada lelaki yang sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi.
Sudah seminggu aku tidak datang ke cafe kesayanganku itu, tugas-tugas kuliah memaksaku untuk melupakan cafe De’Blue. Aku mulai merindukan hazelnut coffee dan coklat hangatku, dan sesuatu yang membuatku ingin lebih mengenalnya.

“Clara.. akhirnya kamu datang juga.” Kata Aldo saat datang ke mejaku. Aku hanya tersenyum sambil meminta buku menu, tak seperti biasanya memang, karena aku tak pernah melihat buku menu sebelumnya. Aku membaca menu-menu itu dengan seksama, sebenarnya aku tak tahu harus memilih menu apa selain hazelnut coffee, coklat hangat, dan stroberi mint coffee. “Mau pesan apa?” Tanya Aldo yang sedari tadi berdiri disampingku, menungguku memilih mimumanku.
“Aku pesan sendiri ke baristanya boleh?” Tanyaku sambil menyembunyikan nada pengharapan.
Aldo mengerutkan kedua alisnya, ini benar-benar tak seperti diriku, tapi aku hanya ingin melihat barista itu lebih dekat. Aldo tertawa sambil meninggalkanku sendiri yang sedang mempersiapkan diri untuk menemui barista yang sedang meracik kopi pesanan pengunjung. Pasti Aldo tahu alasanku melakukan hal ini.
“Mas, hazelnut coffe satu, meja 12 ya.” Kataku pada barista yang bernama Sindu itu, bagaimana aku tahu namanya? Tentu saja dari name tag yang nemempel di dada kirinya.
Dia hanya menjawab “Ya.” Tanpa senyum. TANPA SENYUM!!

Semenjak itu aku selalu memesan minumanku langsung pada Sindu, dan selama ini pula aku belum pernah melihatnya tertawa, hanya secuil senyuman dan itupun bukan untukku. Sikapnya yang menurutku aneh itu malah makin membuatku penasaran padanya. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Tapi aku juga tak mau bertanya pada Aldo, karena aku malu. Aku harus mencari tahu sendiri.
“Vanilatte satu, take away.” Kataku pada sang barista misterius itu.
“Hot or Ice?” Tanyanya dingin. Hiiih!! Sombongnya barista itu, mentang-mentang ganteng apa? Gerutuku dalam hati.
“Ice” jawabku datar.
Aldo menghampiriku dan memberitahukan bahwa mulai besok dia tidak bekerja di cafe itu lagi karena harus pergi melanjutkan kuliahnya di luar kota. Selama perbincangan kami, aku selalu melihat Sindu dari ujung mataku, tapi sedikitpun dia tidak melihat ke arah kami, mungkinkah dia hanya mendengarkan? Tahukah dia bahwa namaku Clara karena dari tadi Aldo selalu menyebutkan namaku?
Sindu semakin membuatku kesal namun juga penasaran. Aku ingin lebih mengenalnya, bisakah dia menjadi temanku? Bisakah aku memilikinya? Ah… bayangan Sindu semakin jelas dipikiranku, namun aku tak tahu apapun selain namanya.

Sore ini aku tak melihat lelaki tinggi putih itu di tempatnya. Hatiku sedikit kecewa, takut dia kenapa-napa. “Mbak, Mas Sindu gak berangkat ya?” Tanyaku pada pengganti Sindu setelah mengumpulkan keberanianku selama sepuluh menit.
“Oh.. lagi sakit mbak, mungkin besok sudah masuk lagi, kenapa mbak? Mau komplain tentang dia juga ya?” Tanya barista yang bernama Nana itu dengan sangat ramah.
“Komplain?” Tanyaku yang membuat Nana menceritakan ada beberapa pengunjung cafe yang tidak suka dengan sikap Sindu yang kurang atau bahkan bisa dikatakan tidak ramah, meskipun tampan tapi sikapnya itu membuat pengunjung sedikit jengkel.
“Nah, makanya si Bos ngasih Sindu peringatan mbak, dia diliburkan 3 hari, harusnya sih hari ini dia masuk, tapi ternyata dia sakit, jadi baru masuk besok.”
Setelah mendengar cerita dari Nana aku terus memikirkan Sindu, aku tak tahu harus bagaimana, aku sendiri yang menciptakan masalah yang membuatku bingung sendiri seperti sekarang ini, aku juga tak mengenal dia, tapi aku ingin dekat dengannya, dia yang tak pernah tersenyum, namun aku malah makin suka padanya, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku harus bagaimana? Bagaimana kalau dia tahu aku suka padanya? Haruskah aku mencari cafe lain agar tak datang ke cafe itu lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliling didalam kepalaku, menyerang otakku, dan kemudian membuat hatiku sakit.

Esoknya, aku datang lagi ke cafe itu setelah semalaman aku bersusah payah untuk membunuh pesaraanku pada Sindu, meskipun bagiku membunuh perasaan itu lebih kejam dari bunuh diri, namun sampai kapanpun aku berusaha, aku tidak akan pernah mendapatkannya. Ku lihat Sindu ada disana. Masih sama seperti sebelumnya, dia memakai kaos berwarna merah dan celana panjang hitam, name tag di sebelah kiri, rambut di sisir rapi dengan belahan sebelah kiri, tanpa senyuman. Namun wajahnya itu yang membuatku gila beberapa bulan ini, wajah itu pula yang membuatku lega karena aku bisa melihatnya. Aku menghampirinya, tanpa senyum. Namun pagi itu, dia yang melemparkan senyumannya terlebih dahulu, senyuman yang membuat wajahnya tampak lebih tampan, dan membuat jantungku berdetak lebih kencang.
“Coklat hangat, hazelnut coffee, atau…?”
“Hazelnut coffee.” Jawabku cepat, kurasa hazelnut coffe sangat pas untuk hari ini, gurihnya hazelnut, manisnya krim, dan pahitnya coffee bercampur jadi satu menjadi secangkir minuman enak, menghangatkan, itulah perasaanku hari ini.
“Ini Clara.” Kata Sindu menyerahkan pesananku sambil tersenyum. Dua kali, dua kali dia tersenyum padaku di hari yang sama, bahkan dia menyebut namaku. Namun aku sudah bertekad bulat untuk membunuh perasaanku padanya, walaupun dia menjadi baik padaku, dia akan selalu menganggap aku pelanggannya, begitu pula denganku, aku selalu menganggapnya sang barista yang selalu memberiku secangkir kepuasan, tidak lebih.

Cerpen Karangan: Bellinda Amelia
twitter @bellindaamelia

Cerpen Sang Barista merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Detik yang Pergi (Part 1)

Oleh:
“Leah!” pekik seorang lelaki berparas lugu itu menyebut nama gadis yang dikasihinya. “Devin, tenanglah dulu. Dia pasti ditemukan,” ujar seorang lelaki berkaca mata yang biasa dipanggil Gio. “Bagaimana bisa

People Change

Oleh:
Aku Maulida Anjani, panggil saja aku Lida. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung. Lahir 19 tahun lalu di Semarang dan berada di tengah-tengah keluarga yang

Bunga Tulip Menjemput Senja

Oleh:
Renita Puspita Sari, itulah nama kekasih hatiku. Tetapi aku sering memanggilnya Rere. Dia adalah gadis yang cantik dengan kesederhanaan tampilannya. Meski ia tergolong gadis yang manja, tetapi ia sangat

Hingga Akhir Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kasihan Naaa Kak Ramly, aku melihat sendiri mukanya babbak belur dan darah mengucur deras di mulutnya.” “Liiin, sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tak akan mengungkitnya di hadapanmu.

Lelucon Takdir

Oleh:
Gadis itu sendiri dengan pandangan menerawang entah kemana. Udara dingin yang menusuk tidak dihiraukannya. Entah tidak dihiraukan atau kulitnya memang sudah terbiasa. Beberapa kendaraan melintas di hadapannya, tapi tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *