Sang Jazzy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

Mr. Vyord melemparkan gulungan kertas ke atas meja, tepat di depanku. Sebelum laki-laki paruh baya itu berbicara, aku sudah tahu masalahnya. Kugigit kuku jari jempol tanpa menatapnya, tanpa ada rasa bersalah, tanpa berniat meraih gulungan itu, ataupun sekedar mengintip isinya. Sejujurnya aku sudah membaca isi gulungan itu 10 menit sebelum Mr. Vyord masuk ruangan.

“Kenapa lagi-lagi?” tanya Mr. Vyord penuh kemarahan.

Aku tetap diam sembari memandangi kuku jari hasil gigitan selama 1 menit. Pemotong kuku berpelisir perak yang diberikan Griselda tertinggal di apartemen. Tak ada waktu untuk pulang demi membenahi keanggunan jari-jari kekar ini sebelum mencakarkannya di wajah lelaki berkacamata minus 3 dengan kapasitas otak minus 15. Sayang sekali hal itu tak akan sopan dilakukan pada produser yang sudah menaikkan nama berikut popularitasku. Dalam industri musik, dia adalah ayah dan (seharusnya) aku adalah sang kakek.

“Aku ingin lagu baru. Lagu yang menakjubkan semua kepala. Membekukan lidah para netizen. Popularitasmu sudah mendunia. Apa kata mereka jika mereka disuguhi lagu picisan seperti ini?”

Aku tetap diam. Kaki tetap bersilang. Enggan sekali menatap mata birunya yang sama sekali tak menarik. Terlebih lagi, Tuan Gendut dan Pemarah ini terus meraungkan kemurkaan yang sudah kukecap sejak 2 tahun lalu ketika nama besar Alexandro Dwoorp bergabung dengan manajemennya. Dia mengiming-imingi dollar lebih tinggi daripada hasil yang kuperoleh dari Rumah Produksi Brilliantz.

“Alexandro! Dengarkan aku!” bentak Mr. Vyord.
“Aku dengar,” jawabku enteng.
“Kau bisa berjanji untuk memberiku lagu yang mengejutkan semesta? Apa kau ingat bahwa kau adalah seorang penyanyi Jazz? Aku mengangkat namamu bukan dengan lagu pengantar tidur. Kau….”
“Kau ingin lagu religi? Aku akan menemui seorang pendeta yang kukenal untuk memberiku sebait kalimat petuah. Atau kau ingin lagu pembuka untuk acara Oprah Winfrey yang baru? Wanita itu pembawa keberuntungan bahkan hanya dari sepotong kalimat yang diucapkannya saja. Aku juga bisa membuat lagu tentang meja kerjamu yang baru. Kau tahu bahwa…”
“Hentikan omong kosongmu!” sela Mr. Vyord semakin murka. “Bersikaplah sopan pada pria yang sedang mengguruimu!”
“Maafkan aku…” ucapku ringan sambil melirik arloji, “…bisa aku pergi sekarang? Aku harus berlatih dengan Frambell. Kami baru berlatih sebanyak 2 kali untuk konser minggu depan.”
“Kau memang perlu belajar tata krama selain belajar menulis lagu,” geram Mr. Vyord.
“Akan aku lakukan besok saat hari cerah,” sahutku ringan sambil beranjak dari tempat duduk dan melangkah keluar dari ruangannya.

Dengungan amukan Mr. Vyord terus terdengar seperti lebah memenuhi kepala. Ini tahun ke-3 sejak perdebatanku dengan lelaki penyuka kemeja bermotif daun itu. Belum ada satu lagu baru pun yang kuselesaikan untuk telinga para fans. Aku memang digandrungi beberapa komposer yang menyukai lenggak-lenggok suaraku. Namun, ada penyanyi baru yang terjun ke dunia musik menjadi pesaing terberat tahun ini. Dia memiliki karakter suara dan pitch control yang tak diragukan lagi.

Bukan satu dua netizen lagi yang membandingkanku dengan Sang Jazzy baru itu. Memang apa kelebihannya? Dia tetap seorang amatir yang tak akan bisa menandingi kehebatan Alexandro Dwoorp dengan popularitas pada tahta utama di seluruh daratan Eropa. Baiklah, nama keren itu memang sedikit melebur untuk beberapa waktu terakhir. Tapi itu bukan jaminan jika Sang Jazzy baru -yang enggan kusebutkan namanya- lebih hebat dibandingkan aku, Alexandro Dwoorp dengan tarif termahal sekalipun hanya 10 detik meniti tangga panggung.

Sesekali aku mengajak Pepo untuk mengaransemen lagu lama agar pamorku tidak menukik seperti meteorit sejak kedatangan pesaing baru. Meski untuk itu, Mr. Vyord harus menggebrak meja atau melemparkan naskah lagu ke sudut ruangan sebelum (akhirnya) menandatangani kontraknya. Dia selalu ingin lagu dan warna baru, bukan sekedar aransemen.

Kusandarkan kepalaku berbantalkan kedua telapak tangan. Menjemukan sekali saat mendengar desakan Mr. Vyord untuk selalu meluncurkan setidaknya 1 single setiap tahun. Tak ada yang salah dengan permintaannya, tapi dia selalu menekan dan mencela semua karyaku dengan berbagai macam filosofi yang tidak pada tempatnya.

Bahkan pihak Label tak pernah keberatan sekalipun aku menjajal area Alternative Rock. Mr. Vyord hanya ingin aku dikenal sebagai penyanyi Jazz saja. Bukan hanya penyanyi Jazz biasa, tapi penyanyi kelas pro untuk musik Jazz. Bukankah dengan seperti ini saja aku sudah dikenal sebagai seorang pro?

“Menurutmu aku gila?” tanyaku pada Steve yang sedang asyik mixing lagu dengan headphone di kepala. Steve melepaskan headphonenya dan beralih menulis sesuatu di atas kertas.
“Semua orang menanyakanmu. Saat kau tidak melahirkan satu lagu baru pun selama sekian tahun, orang akan berpikir kau memang gila,” jawab Steve tanpa menoleh.
“Atau Mr. Vyord yang gila. Aku ingin dikenal sebagai penyanyi yang bisa melakukan semuanya tanpa mengubah style-ku. Pop, Blues, Heavy…”
“Kau berencana beralih haluan? Kukira Mr. Vyord melambungkan namamu dengan sangat baik.”
“Ya. Namaku saja, tapi tidak dengan mimpiku. Padahal dia sudah menjanjikannya,” sahutku sambil mendesah.
“Kejutkan dunia, maka lelaki tambun itu akan mengakui kegilaan paling normal yang kaulakukan,” kata Steve asal.
“Kau benar. Kau harus membantuku untuk itu. Aku memang ingin membuatnya tergila-gila dengan aliran yang kubawakan.”
“Maksudmu Alternative lagi?”
“Tidak. Tapi Calypso.”
“Kau tahu Mr. Vyord membenci semua sentuhan Calypso,” tolak Steve.
“Aku sudah menduga jawabanmu. Kalau begitu kau harus setuju untuk kali ini. Aku ingin Hip Hop. Tidak ada bantahan. Aku sudah menyiapkan liriknya, kutulis setelah melangsungkan pesta ulang tahun putra pertamaku. Aku tahu aku seorang Jazzy. Dan kau tahu harus melakukan apa.”
Steve tidak menyahut. Hanya jemari tangannya saja yang kulihat bergetar seperti tersulut aliran listrik dari kabel terbuka keyboardnya.

“Kau tahu aku seorang profesional,” ucapku tenang di depan meja kerja Mr. Vyord.
Mataku terfokus pada kuku jari yang sudah bertambah panjang. Lagi-lagi penggunting kuku berpelisir perak itu tertinggal di apartemen. Griselda sudah membeli penggunting kuku baru dengan pelisir emas namun aku lebih menyukai yang perak. Terpaksa kurapikan kuku dengan menggigit kecil bagian ujungnya.

“Kau hampir membuatku mati berdiri saat aku menandatangani kontrak itu,” sahut Mr. Vyord sambil menopang kepalanya tepat di kening dengan kedua tangan yang terkatup.
“Aku bukan si Jazzy penggubah lagu bernuansa Afrika. Dia tetap seorang amatir sekalipun namanya melejit cepat,” lanjutku lagi.
“Aku hampir membakar surat kontrak bersama dengan rumah barumu.”
“Beruntung kau tidak melakukannya. Kau akan kehilangan meja kerja dan reputasimu jika itu terjadi,” ucapku datar tanpa rasa bersalah.
“Kau harus belajar sopan santun,” Mr. Vyord mendesah kasar yang tetap kutanggapi dengan datar.
“Steve mendidikku dengan baik.”
“Aku harus mengajari laki-laki itu juga.”

“Jadi kapan aku bisa melakukan konser tunggal? Kau menjanjikan hal itu jika aku berhasil menerobos pasar terbaik dunia. Penjualan albumku terus melesat naik jauh melebihi penyanyi lainnya. Terutama Jazzy amatir yang tak akan mampu berdiri tanpa bantuan netizen yang membandingkan namanya dengan nama besar Alexandro Dwoorp.”
“Campuran Hip Hop dan Jazz itu mimpi buruk,” desis Mr. Vyord, “Beruntung kau sudah menyelamatkan rumah barumu.”
“Sudah kubilang aku seorang pro,” sahutku enteng.

Gigitan terakhir di kuku kelingking akhirnya selesai. Semua bagiannya sudah sangat rapi dengan sempurna.

Kesempatan untuk mengalihkan perhatian ke arah si tambun berkemeja motif daun. Dia masih memijit kening dengan pasrah. Mungkin merasa kalah karena aku melambung di atas awan bukan hanya sebagai penyanyi Jazz. Dan kini aku ingin berbalik menekannya. Toh, dia sudah berjanji dan sudah terlambat untuk menarik ucapannya.

“Apa aku boleh memilih EO kepercayaan untuk konser tunggal pertamaku?” tanyaku sambil mengatupkan tangan di atas meja, berusaha menjaga tata krama di depan seseorang yang sedang mengguruiku.

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen Sang Jazzy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taman Syurga Raudhatul Jannah

Oleh:
Suara gemuruh hati menikam dari dalam jiwaku. Hasrat tuk menjejaki suasana baru itu membuatku resah tak karuan. Sebenarnya apa juga yang harus kuresahkan. Praktek menjadi seorang guru itu kan

Hantu Si Hitam Besar

Oleh:
“Pohon itu angker. Kau tidak boleh pergi ke sekitar pohon itu. Nanti kau bisa sakit, atau hilang dibawa makhluk hitam besar!” Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh ayahku. Bosan

Siapa Malingnya

Oleh:
“Mas, boleh minta tolong ndak?” Seorang laki-laki berbadan tinggi besar menghampiriku di pos ronda. “Minta tolong apa ya?,” Aku meminta penjelasan. “Itu, bantuin saya ngangkat kayu ke mobil.” Kata

Di Ujung Kegagalanku

Oleh:
Aku dan kamu takkan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Bahagia dan kesediahan selalu berdampingan, begitupun juga tentang harapan dan kekecewaan. Segala perasaan melebur dalam hidup. Namaku Renata.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *