Sang Penyesat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 15 March 2016

Matahari terasa terik sekali siang itu, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Alzi, seorang pemuda pengurus mesjid di kampungnya, tampak sesekali menyeka keringat yang mengucur dari keningnya sambil membersihkan lantai mesjid. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, Ibunya telah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu karena sakit. Meskipun sakit Ibunya sebenarnya bisa disembuhkan, tetapi karena Ayahnya tidak mempunyai biaya, tidak bisa membawanya berobat ke Rumah Sakit, sehingga Ibunya meninggal tanpa mendapat perawatan medis yang selayaknya.

Sejak kejadian itu, Ayah Alzi selalu murung, hingga akhirnya dia pun pergi tanpa pesan entah ke mana. Meninggalkan Alzi sendiri. Beruntung ada seorang tokoh kampung bernama Ustadz Edi yang kasihan kepadanya dan mengangkat Alzi sebagai anak. Sejak saat itu, Alzi diurus oleh Ustadz Edi. Sudah sekitar 10 tahun Ayahnya Alzi meninggalkan dirinya tanpa kabar. Selama itu juga Alzi diurus oleh Ustadz Edi. Keluarga Ustadz Edi adalah keluarga yang sangat religius. Meskipun mereka bukan keluarga yang kaya secara materi, namun mereka kaya secara spiritual dan tetap taat menjalankan agamanya. Hal itulah yang membuat Alzi juga menjadi sosok yang taat beragama.

Selama 10 tahun ditelantarkan, Alzi menganggap ayahnya mungkin sudah meninggal. Hingga suatu hari, ayahnya kembali untuk menjemputnya. Namun, sosok Ayahnya yang dulu kini berubah total. Ayahnya yang dulu selalu berpakaian lusuh, tidak terlalu religius, dan miskin, kini berubah menjadi sosok yang berpakaian layaknya seorang pemuka agama yang religius, berwibawa, dan memiliki materi berlimpah. Rupanya ayahnya datang untuk menjemput Alzi. Dia kini menjadi seorang pemuka agama yang sangat terkenal di kota. Dia ingin Alzi ikut bersamanya untuk membantu dia dalam melayani jemaatnya.

Ayahnya akan menjadikan dia tangan kanan sebagai pelayan untuk umat dan komunitasnya. Alzi pun ikut bersama Ayahnya. Sebagai seorang Pemuka Agama yang sangat terkenal dan disegani di Kota. Dia memiliki komunitas untuk para Jemaatnya yang dinamakan Komunitas Akhir Zaman atau disingkat KAZ. Ayahnya juga dianggap sebagai seorang wali yang mempunyai karomah khusus dari Yang Maha Kuasa. Beberapa karomah yang dia miliki, menurut penuturan para anggota jemaatnya, salah satunya bisa menurunkan hujan, menyembuhkan orang sakit, mendoakan seseorang agar bisa mempunyai keturunan, dan lainnya.

Hal itulah yang membuatnya sering didatangi oleh para pejabat dan orang-orang terkenal yang ingin didoakan olehnya agar bisa terkabul keinginannya. Ayahnya juga sering menjadi Imam salat di mesjid-mesjid besar. Namun, ada yang aneh menurut pengamatan Alzi. Ketika di rumah, Ayahnya sering berlama-lama di sebuah ruangan yang khusus. Semua orang, bahkan dirinya tidak diperbolehkan masuk. Alzi pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.

“Ayah, itu ruangan apa? kenapa tidak seorang pun boleh masuk?” tanya Alzi penuh keheranan. Kemudian Ayahnya pun menjawab. “Ruangan itu adalah tempat ayah bermuhasabah mendekatkan diri dengan Tuhan dan para Wali Tuhan, Nak.”
“Kenapa tidak ada orang lain yang boleh masuk?” tanya Alzi kembali.
“Itu karena Ayah tidak mau orang lain mengotori tempat itu, karena di situ Ayah beribadah, berdoa, dan mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.”
“Tetapi, bukankah mesjid adalah tempat yang paling utama untuk ibadah?”
“Nak, mesjid adalah tempat beribadah secara berjamaah. Tetapi tempat yang paling tepat agar kita bisa lebih khusyuk dalam berdoa dan bemuhasabah adalah tempat di mana kita bisa menyendiri.”

Mendengar jawaban ayahnya, Alzi pun terdiam. Namun di balik semua itu, masih terselip rasa penasaran di dalam hatinya. Benarkah karomah yang dimiliki oleh Ayahnya itu? atau mungkin itu semua adalah rekayasa yang diutarakan para pengikutnya?

Suatu hari, Ayahnya diundang ke sebuah acara salat meminta hujan yang diselenggarakan oleh suatu Organisasi. Ayahnya pun datang menghadiri acara tersebut. Dan ajaibnya, setelah Ayahnya datang, hujan pun turun dengan lebatnya di lokasi tersebut. Bukan itu saja, Ayahnya juga mengadakan acara pengobatan gratis di kota tersebut yang diselenggarakan oleh relawan medis anggota KAZ, sebagai wujud pengabdian terhadap masyarakat. Dan ajaibnya lagi, banyak orang sakit yang langsung sembuh setelah berobat di tempat tersebut. Bahkan orang yang lumpuh pun bisa kembali berjalan setelah berobat di Pengobatan Gratis KAZ.

Hal yang luar biasa dan di luar nalar. Padahal di tempat tersebut hanyalah pengobatan biasa, layaknya di sebuah Puskesmas ataupun klinik, tiada yang khusus. Hal yang membuat Alzi lebih takjub, adalah banyak Tokoh terkemuka dan terkenal datang bertemu dengan ayahnya. Bukan hanya tokoh nasional, seperti politikus, pejabat, dan artis, para Tokoh Internasional juga kenal baik dan sering berkunjung ke rumah Ayahnya tersebut. Tapi meski begitu, Ayahnya tidak begitu menyukai media untuk meliputnya. Tokoh relawan KAZ juga mayoritas banyak yang berasal dari Luar Negeri.

Dan anehnya, mereka semua adalah non muslim, kebanyakan dari mereka adalah Yahudi yang tinggal di negara-negara Eropa. Dari situ juga Alzi mengetahui dari Ayahnya, bahwa nenek moyangnya dulu adalah seorang Yahudi. Mereka adalah Yahudi dari Belanda yang kemudian pindah ke Indonesia. Hal itu juga yang membuat ayahnya kenal dengan banyak orang Yahudi, yang menjadi relawan dan donatur bagi KAZ. Alzi pun penasaran, dari mana awal mula Ayahnya bisa mendapat Karomah dan kenal dengan orang-orang Yahudi tersebut.

“Ayah dari mana asal mula Ayah mendapat Karomah dan kenal dengan banyak orang penting itu?” tanya Alzi.
“Dulu Ayah sangat putus asa ketika Ibumu meninggal. Ayah kemudian meninggalkanmu. Namun suatu hari, Ayah bermimpi didatangi seorang kakek berjubah putih dan bermata sebelah. Dia berkata dia adalah Wali Tuhan. Namanya adalah Arafak. Dia berkata Ayah adalah keturunannya dan suatu hari kelak Ayah akan menjadi Wali dan mendapat Karomah. Sejak saat itu, Ayah seolah dibimbing olehnya. Sehingga Ayah bisa menjadi sekarang ini dan memiliki Karomah.”

Mendengar jawaban ayahnya, Alzi pun terdiam. Namun masih ada hal yang membuat dirinya penasaran. Terutama dengan ruangan yang sering digunakan Ayahnya untuk menyendiri. Ruangan apa itu? Apa saja yang ada di dalamnya? Suatu hari, Alzi pun menyelinap ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa ada apa di dalamnya. Ternyata itu adalah ruangan biasa, layaknya ruangan kerja, terdapat tumpukan buku dan beberapa dokumen terletak di meja Ayahnya.

Namun dari dokumen-dokumen tersebut Alzi tahu, Ayahnya adalah anggota KAZ Internasional. Tujuan Organisasi tersebut adalah merusak Islam dari dalam. Dengan mengirim orang seperti Ayahnya yang mereka sebut “SANG PENYESAT” untuk menyesatkan orang sebanyak mungkin. Ayahnya dan para relawan KAZ juga ternyata bukan orang sembarangan, mereka adalah orang-orang yang pandai, memiliki Ilmu Mistis, memiliki gelar dan kedudukan terhormat. Sehingga sulit bagi orang menuduh mereka sebagai orang yang buruk karena gelar dan kedudukan mereka.

Salah satu trik bagi mereka menyesatkan orang adalah dengan memberikan beasiswa kepada para Muslim yang pandai ke Negara Eropa atau Amerika. Di sana, melalui para pengajar dan anggota KAZ lainnya yang dekat dengan mereka, perlahan mempengaruhi pemikiran mereka, dengan kata lain “cuci otak” secara halus. Dengan menanamkan nilai-nilai moral dan pemikiran yang sebenarnya bertentangan dengan Islam. Dan berbagai cara lainnya untuk menyesatkan mereka. Alzi pun kaget membaca semua dokumen tersebut. Di situ dia sadar, Ayahnya bukanlah Ayah yang selama ini dia kira. Ayahnya telah melenceng dari ajaran agama yang sebenarnya. Dia sadar, dia harus melakukan sesuatu untuk Ayahnya.

Suatu pagi, Alzi membuatkan segelas teh manis untuk Ayahnya. Dia pun menyajikan teh tersebut kepada Ayahnya. Tak lama kemudian, setelah Ayahnya meminum teh tersebut, tubuhnya roboh, tidak lagi bernapas. Ayahnya telah tewas akibat meminum Teh yang telah diberi racun oleh Alzi. Dengan wajah menyesal dan penuh air mata, Alzi pun berkata kepada Ayahnya. “Maafkan aku Ayah, cuma ini yang bisa aku lakukan untuk Ayah!” ucap Alzi sambil menutup mata Ayahnya yang telah tiada.

Cerpen Karangan: Algi Azhari
Facebook: https://www.facebook.com/algi.azhari

Cerpen Sang Penyesat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penggila

Oleh:
Lelaki itu duduk tak tenang pada batu cadas yang keras, sekeras deru debam kendaraan yang lalu lalang pada mulusnya Pantura yang tak pernah lengang. Sinar mentari pagi yang mulai

Hijab Pragawati

Oleh:
Masa putih abu-abuku disibukkan dengan rutinitas yang menuntutku menjadi orang lain. Dituntut untuk menebar senyum kepalsuan dengan wajah topeng bak kanvas yang bisa dilukis dengan tinta-tinta yang menggores di

Kemanakah Kita Akan Kembali

Oleh:
Setelah kematianya barulah kita sadar akan tujuan hidup yang sebenarnya. Berlinang air mata keluarga, berdegub jantung setelah mendengar kematian itu, berusaha agar ia dituntun ke tuhannya bersamaan dengan syahadat

Sayap Bidadari (Part 1)

Oleh:
Tangan mungil itu menggenggam sang bunda dengan erat. Seakan berada dalam detik-detik perpisahan yang membuatnya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Seakan ia akan kehilangan sentuhan lembut yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *