Sao Luis Cafe

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 May 2013

“1971?

“1972?

“Tidak. Aku yakin 1971?

“1972. Tahun yang sama dengan kelahiran Doroteia”

“Doroteia lahir November 1971 dan kau tahu itu”

“Tidak sampai aku mengadopsinya dari panti asuhan”

“Cih. 1971?

“1972?

“1971?

“1972. Sudahlah mengalah saja. Akuilah ingatanku memang lebih baik darimu”

“Ya, aku akui hal itu. Tapi tidak untuk hal ini!”

“Keras kepala”

“Pikun”

“Hahahahahahahaha..”

***

“Mereka warga senior di sini. Yah, kau bisa lihat dari rupa mereka”

“Apa yang mereka perdebatkan?”

“Seperti biasa, hal-hal tidak penting. Hihihi.. Tuan Osvaldo; yang berbaju merah itu; yakin bahwa mereka pertama kalinya sampai di Pelabuhan Madeira pada tahun 1971,”

“Pelabuhan Madeira di Sao Luis? Mereka pendatang?”

“Ya dan ya. Jangan memotong ketika aku berbicara. Lalu Tuan Gaspar; yang berbaju hitam; dia percaya bahwa hal tadi terjadi tahun 1972. Mereka pendatang dari Brasilia, katanya dulu bosan tinggal dan bekerja di ibukota, sehingga mereka mencari tempat tinggal lain. Mereka sempat melanglang-buana mencari kota yang nyaman di seluruh penjuru negeri namun akhirnya pilihan mereka jatuh ke kota kita; Sao Luis”

“…”

“Kenapa kau diam begitu?”

“Kukira kau belum selesai. Aku tidak mau memotong bicaramu”

“Oh. Sudah kok. Tanya lagi”

“Hmm.. mereka ********** atau bagaimana? Akrab sekali”

“Astaga. Jaga omonganmu! Dasar anak kemarin sore. Kau ini tidak bisa ya bedakan antara ********** dengan sahabat? ********** itu seperti si Sanchez dan Julio yang tempo hari menggodamu. Ingat? Kau hampir masuk ke Cadillac kuning mereka dan di boyong entah ke mana”

“Whattt? Yang kemarin itu pasangan ***?”

“Hhhhh. Ya agar kau tahu saja sih.. Kulanjutkan ya. Tuan Osvaldo dan Gaspar sahabat sejak remaja. Ingat pelajaran sejarahmu, demo revolusi besar-besaran di Brasilia tahun 1968? Mereka bertemu di sana, berbagi ideologi dan minat yang sama, dan voila, sahabat sampai sekarang. Dan oh ya, mereka berdua sudah pernah menikah. Secara normal. Istri mereka berdua sudah tiada, dan kami ingat tahun-tahun kejadian itu adalah masa berduka bagi warga Sao Luis. Patricia, istri Tuan Osvaldo, meninggal karena anthrax tahun 1987. Shera, istri Tuan Gaspar, tewas dalam kebakaran apartemen Madeira sana tahun 1989.”

“Seluruh kota berduka? Sebegitu terkenalnya-kah mereka?”

“Jangan memotong”

“Aku rasa pertanyaanku tadi diperlukan”

“Bebal kau. Hhhh. Tentu saja semua kota berduka. Wabah anthrax yang menyebabkan Patricia meninggal juga menyerang seperlima warga Sao Luis. Sementara kebakaran apartemen Madeira menewaskan 41 orang lainnya juga selain Shera. Kejadian-kejadian besar macam itu tentu saja membuat warga kota berduka, bodoh!”

“Wah. Aku tak pernah tahu itu.”

“Ya tentu saja. ABG sepertimu cuma peduli soal gaya, gaya, dan gaya”

“Tolong lanjutkan”

“Hmm.. Tuan Osvaldo dan Gaspar memiliki.. Ah. Sebentar. Kau layani dulu wanita itu”

“Sudah. Kau tak lihat sedari tadi aku membuat espresso blueberry ini? Ini pesanannya”

“Kerjamu lumayan cekatan ya. Tapi coba lihat baik-baik draft pesanan ini”

“Hm?”

“Strawberry. Bukan blueberry. Bodoh.”

“Waduh”

***

“Kurasa sebentar lagi kita mati”

“Huahaha. Kau berpikiran sama ya sepertiku”

“Berapa sih umur kita? Aku tak bisa ingat sejak kapan menggunakan tongkat sialan ini untuk berjalan”

“Tahun lalu, wahai Valdo kawanku”

“Dua tahun lalu, seingatku, wahai Gaspar sahabatku”

“Tahun lalu”

“Dua tahun lalu”

“Kau bilang kau tidak bisa mengingatnya. Aku masih ingat. Tahun lalu”

“Dua tahun lalu”

“Tahun lalu. Saat cucuku lahir”

“Umur cucumu sudah dua tahun..”

“Ah yang benar? Baru jalan satu tahun..”

“Dua tahun”

“Satu tahun. Dia cucuku, Valdo.”

“Here we go again..”

“Hahahahahahahaha…”

***

“Maaf, blueberry-nya kubayar saja, sekalian untuk makan siangku”

“Tidak perlu. Anggap saja kutraktir. Harus ku akui kerjamu bagus belakangan ini.”

“Benarkaaah?”

“Hm”

“Kau mulai menyukaiku yaa?”

“Iiissh. Justru yang tidak kusuka darimu. Terlalu pede. Tidak bagus untuk dunia kerja, anak muda!”

“Hehehe”

“Mau lanjut dengar tidak tentang Tuan Osvaldo dan Gaspar?”

“Oh! Tentu! Aku hampir lupa”

“Hmm. Jadi.. wanita tadi.. yang kau… Anu, tolong ambilkan vanili cair di laci 4?

“Oke”

“Yak. Jadi.. wanita tadi itu yang barusan kau layani, adalah Doroteia. Ia anak dari Tuan Gaspar. Di adopsi dari panti asuhan di kota sebelah.”

“Oh? Yang tadi itu?”

“Ya. Masih cantik ya?”

“Hmm.. hmm”

“Anak pertama Doroteia baru lahir dua tahun lalu. Warga blok ini sungguh bersuka cita mendengarnya”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan, bodoh. Ya pasti senang kan mendengar tetanggamu punya anak. Namun yah, melahirkan di umur setua itu tentu banyak resikonya. Bahkan memang Doroteia sempat kritis. Itulah kenapa kami semua berbahagia mendengar anaknya lahir normal, dan ibunya juga sehat.”

“Apa pekerjaan Tuan Os dan Gas?”

“Jangan seenaknya memanggil sok akrab seperti itu.”

“Maaf”

“Hm, mereka pernah bekerja di real estate dekat Madeira sana, pernah juga bekerja di pemerintahan, namun mereka tidak sreg di perintah oleh seorang bos. Akhirnya mereka berwirausaha sampai sekarang”

“Wirausaha? Bisnis apa?

“Bukan bisnis untuk anak kecil sepertimu”

“He?”

“He? He? Wajahmu kocak juga jika sedang melongo begitu. Hihihi.”

“Ugh.. Katakan padaku, bisnis apa?”

“Ricardo,”

“… Ya?”

“Kau tau tidak cafe di blok 5 Sao Luis, yang bangunannya sederhana itu namun mampu menarik banyak pengunjung karena keramahan dan kenyamanannya, dan kemudian menginginkan tenaga-tenaga muda untuk mengurusnya? Tenaga anak muda sepertimu”

“…”

“Ya, cafe yang sejak tiga minggu lalu setiap pagi kau sambangi.. Cafe butut ini, Ricardo.. Inilah bisnis mereka”

“…”

“Hehehe. Senyumlah. Mereka ingin bertemu denganmu”

“A, Ah…..”

“Kukatakan pada mereka bahwa ada anak muda yang sombong dan gayanya minta ampun, namun di balik itu ia memiliki etos kerja yang tinggi dan selalu bisa membawa senyum kepada pelanggan”

“…”

“Kau memujiku.. Aku masih belum terbiasa.. Ugh”

“Hahahahahaha. Sudah sana! Temui mereka”

“Terimakasih”

“Sama-sama. HEI. Jangan harap gajimu naik gara-gara baru bekerja sebentar dan mendapat pujian dariku ya!”

“Ugh..”

“And keep up the good work. Jangan kecewakan kami”

“Ugh.. Lihat… Aku tersenyum”

“Hahahahahaha!”

***

“Doroteia, aku sudah lama tidak minum yang seperti kau itu..”

“Ayah.. gulamu tinggi. Aku harap Ayah tidak lupa”

“Buatkan yang rendah gula.. Atau tidak pakai gula sama sekali juga boleh”

“Ayah, kumohon”

“Biarkan saja Doroteia. Sesekali saja. Toh ayahmu dan aku memang sudah tidak bisa hidup lama.. Hahahahaha”

“Paman Valdo..”

“Aku bercanda”

“But anyway, Gaspar benar, Dory..”

“Ayah.. Jangan memulai”

“Ah, sayang.. Jangan keluarkan lagi air matamu.. Kumohon”

“Dory..”

“Aku tak peduli dengan apa yang terjadi dengan kalian berdua NANTINYA. Aku hanya tak sanggup membayangkannya sekarang.. Kumohon, bisakah kita tidak membicarakannya?”

“…”

“…”

“…”

“Heh Valdo. Kau menghancurkan mood sarapan pagi ini”

“Tapi tadi kau mendukungku..”

“Tidak”

“Tadi kau kan bilang…”

“Shhh! Ayah! Anak itu kemari!”

“Anak itu?”

“Anak yatim piatu yang tempo hari mau Ayah bantu biaya sekolahnya”

“Yang mana?”

“Cih ayahmu begitu pikun kan, Dory?”

“Hih! Memangnya kau ingat?”

“Ingat! Yang tiga minggu lalu mulai bekerja di sini kan?”

“Yang mana ya?”

“Lho. Kukira perempuan”

“Ricardo memang bukan nama perempuan, Paman Valdo.. Hihihi”

“Aku bersumpah tempo hari kudengar namanya Rosalyn”

“Aku boleh pikun, Valdo. Tapi kau sudah jadi tuli”

“Mmmhhh..”

“Hihihi. Sudah sudah, Ayah, Paman! Dia datang!”

“…”

“…”

“…”

“B, bu, buenos días .. me llamo.. Ricardo..”

Que mañana, cinco sonrisas ascendente en Sao Luis Cafe..

-end-

Cerpen Karangan: Kateb
Blog: arcorplegacy.wordpress.com

Cerpen Sao Luis Cafe merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happened To Me

Oleh:
Bipolar Disorder itu kata-kata yang akhirnya aku temukan setelah lama aku mencari. Pagi ini cuaca sangat terik dan aku memutuskan untuk tidak pergi keluar kos-an. Akhirnya aku sibukan keseharianku

Rifki

Oleh:
Wajahnya tampak lelah, bajunya bisa dibilang cukup kotor, walaupun berbau cukup wangi. Tangan kanannya memegang erat tas jinjing yang entah apa isinya, sementara tangan kirinya memegang map yang kutebak

Perempuan Dalam Foto Itu Tersenyum

Oleh:
Setelah lama memandang sebuah foto di tangannya, laki-laki itu sadar hari sudah memudar. Maka dia beranjak turun dari kamar, bergegas menuju warung yang ada di bawahnya. Langkahnya sedikit goyah

Lighter (Part 2)

Oleh:
Orang yang meminjam korek padaku itu, dia adalah beranda rumah yang menyambutku, dan Ipunk pria dari BBm group yang sekarang berteman denganku dia adalah api yang membakar kerasnya kepalaku

Imbalan Termewah

Oleh:
Malam mengapa kau tidak kunjung berlalu, apa kau tidak merasa kasihan melihatku sendirian dan kesepian menyelimuti diriku ini. Rumahku hanyanya beralas bumi dan beratap langit, ya dari ujung ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *