Sarcasm is a Custom

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Bagi kalian yang bertelinga lebar, apa ada pernah diejek lembeng sebelumnya…?
Lembeng dalam artian ini adalah, seseorang yang bertelinga lebar. Di kampungku, orang-orang yang bertelinga lebar adalah mayoritas. Dan kebanyakan dari kami mempunyai masalah pendengaran. Biarpun lebar, kami agak sukar untuk mendengar suara, atau kadang salah mendengar -mishear. Karena keadaan tersebut, biasanya, waktu SD, orang-orang lembeng di kampungku sering sekali jadi bahan olok-olokan. Tidak jarang anak gadis sampai menangis dan tidak masuk sekolah beberapa hari karena diejek begitu.
Sungguh, masa-masa kecilku, dengan telinga lebar ini, sangat tidak menyenangkan. Untungnya, ejekan itu tidak berlaku saat aku masuk SMP. Namun, kelihatannya syukurku soal telingaku ini belum bisa sepenuhnya dirayakan. Karena, sarkasme lain sedang menunggu di lingkungan baruku itu.

“Lembek, lembek, lembek.”
Begitulah ejekan baruku saat aku masuk SMP. Lembek. Yang artinya dalam bahasa kami, lemah.
Tubuhku sangat kecil saat aku SMP. Berbeda dengan anak-anak seusiaku, aku tumbuh lebih lamban, dan memiliki postur yang tak begitu menjanjikan sebagai seorang laki-laki. Selain kecil, aku juga kurus, menyebabkanku mudah sekali untuk didorong jatuh. Seorang gadis seusiaku pernah tidak sengaja menyenggolku saat kami sedang main kasti di pelajaran penjaskes, membuaku jatuh dengan kepala duluan, sampai pingsan. Aku baru terbangun setelah jam pulang tiba. Gadis itu bahkan tidak minta maaf…

Keesokan harinya, teman-teman sekelasku pun menggunakan panggilan itu untukku. Asal mula ejekan tersebut datang karena sebuah senggolan kecil, membuatku harus tersiksa dengan tekanan batin selama satu tahun.
Ya, hal semacam itu sering terjadi. Bukan hanya sering, tapi sudah jadi sebuah budaya. Budaya kontemporer yang paling banyak diterapkan.
Budaya Sarkasme.

Sarkasme ialah satu bentuk sikap yang dilakukan dengan media bahasa -tertulis ataupun lisan-lisan- yang memakai penggunaan kata yang menyakiti hati orang lain. Sarkasme, atau lebih mudahnya, ejekan, merupakan bentuk jamak bagi nominal keseharian bangsa Indonesia. Ibaratkan Teh Botol Sosro, apa pun lingkungannya, tetap, sarkasme hiburannya.
“Dasar hitam, dasar bencong, dasar babu, dasar anak tukang cuci, dasar tolol, dasar orang gila, dasar muka jelek, dan lainnya.”
Semua itu merupakan contoh-contoh sarkasme. Hal-hal yang diutarakan merupakan bentuk dari sifat besar kepala yang menganggap diri mereka -si sarkastis- lebih baik dari terejek. Seolah dialah yang paling besar dan sempurna di dunia ini.

Sarkasme, aku pernah mengalaminya, dan pengalaman itu tidak sedikit pun terasa menyenangkan…
Taruh saja satu contoh, tentang seorang temanku di SMA.
Berbeda denganku waktu SMP, aku yang di SMA sudah tumbuh besar dan tinggi-bahkan banyak yang bilang aku ganteng. Masa-masa SMA-ku tidak semenyedihkan hari-hari SMA-ku. Aku tidak dicaci lagi. Kurasa karena aku sudah tumbuh jadi seorang laki-laki yang lebih menarik, baik secara fisik dan sifat.
Namun bukan berarti sarkasme, kebiasaan mengejek, di SMA-ku berhenti seperti pengalaman burukku.

Banyak sekali siswa yang mengalami sarkasme di SMA aku sekolah. Ada seorang anak kelas 1 yang sering dipukul bokongnya, dipanggil sayang, dan diteriaki The Next Miss Universe oleh siswa laki-laki di SMA-ku. Dia seorang anak kampung biasa. Seorang laki-laki kecil yang tak begitu maskulin, atau, secara berbeda bisa disebut, agak feminin…
Anak itu lahir dalam keluarga besar, yang isinya perempuan semua. Dia punya empat kakak perempuan dan satu adik laki-laki, dan seorang ibu yang penyayang. Namun dia tidak punya ayah. Ayahnya meninggal saat kelahiran adik perempuannya, kecelakaan di laut saat ingin pulang dari menjaring. Waktu itu dia baru 3 tahun.
Karena tak pernah dididik oleh seorang ayah, sikap anak tersebut pun tidak berkembang layaknya anak-anak seusianya. Dia tidak diperlakukan seperti perempuan, tidak satupun dari keluarganya mendidiknya seperti perempuan. Hanya saja, karena tak ada yang mengajarkannya atau menunjukkannya bagaimana cara menjadi laki-laki, sikap naturalnya pun secara perlahan menjadi sangat lembut.
Tapi, ya… hanya sifatnya saja. Maksudku, dia tidak mengalami fase perubahan menjadi seorang bis*xual. Dia tetap laki-laki, dan punya ketertarikan pada perempuan. Hanya saja, cara dia berinteraksi atau mengambil tindakan, tidak terlihat seperti seorang laki-laki sejati.

Anak itu bicara dengan intonasi suara yang sangat lembut. Saking lembutnya, dia terdengar mirip, layaknya seorang perempuan. Caranya berjalan juga berbeda. Dia melangkah dengan goyangan, seperti jalan perempuan, membuatnya terlihat seperti mereka. Yah… Wajahnya juga cantik. Harusnya dia kusebut ganteng sepertiku, tapi malah tampak cantik. Aku pernah berpikir kalau, jika saja dia didandani sedikit dan dipakaikan sebuah wig, mungkin dia akan tampak seperti seorang perempuan asli.
Namun, ide buruk mengatakan pemikiran itu padanya.
Aku bilang, “Kau kalau pakai rambut palsu, pasti cantik jadinya.”
Anak itu tidak merespons dengan jawaban ataupun tampikan. Dia hanya tersenyum dengan sebuah ekspresi tak jelas-apakah marah atau biasa saja.
Setelah beberapa saat, dia pun menjawab, “Aku laki-laki Bang,” katanya sambil menunduk, “tak pantas berdandan macam perempuan. Melanggar agama dan kodrat kalau aku buat begitu.”
Sungguh jawaban yang sangat dalam dan menikam. Jika saja hatiku tidak kuat, pasti aku akan jatuh saat itu juga oleh serangan telaknya. Anak itu memang terlihat, berjalan dan memiliki suara perempuan pada dirinya. Soal semua itu, aku tak bisa menghakiminya tanpa mengerti situasinya. Dia sebenarnya memang punya oktaf suara seperti itu, begitu juga dengan kaki dan wajahnya. Kakinya mengalami kelainan saat lahir, dan tidak lurus seperti normalnya. Sebenarnya alasan kenapa dia berjalan melenggok adalah karena kelainan tersebut, bukan sebab dia ingin menyamai perempuan. Semua itu adalah kondisi yang diberikan padanya oleh sang Pencipta.

Sejujurnya, dia merupakan hamba yang taat pada Tuhan-nya. Dia tak meninggalkan sholat, berpuasa di bulan Rhamadan, membaca Al-Qur’an setiap habis sholat maghrib, dan anak yang berbakti orangtuanya. Seorang anak Shaleh berbudi pekerti.
Aku tahu semua itu dari kakaknya yang berada di kelasku. Dia sangat menyayangi adiknya, dan terus saja membela adiknya jika dia dilecehkan. Tidak jarang kakaknya sampai memukul siswa yang mengejeknya sampai berdarah, bahkan ada yang giginya bertaburan karena ditinju kakaknya -yang merupakan murid silat di kampungnya, Pekasih.
Namun sang adik, yang diejek, tidak pernah menyukai sikap kakaknya itu. Dia bukan tak mau dibela. Hanya saja, dia tidak mau kakaknya menggunakan kekerasan pada orang lain, menyakiti mereka. Dia tidak suka kekerasan. Manusia yang tak suka menebar kebencian dan suka dengan kata sabar.
Karena dia tak menganggap ejekan itu benar, makannya dia tidak menghiraukan sedikit pun pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Untuknya, biarlah orang mau berkata apa. Jika hal yang mereka katakan tidak mencerminkan kita, maka untuk apa didengarkan. Semua itu hanya akan membuang-buang waktu.
“Lebih baik aku belajar, jadi lebih pintar, biar dapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Kedokteran nanti.”
Seorang anak yang tangguh hatinya. Sangat mengesankan ada manusia seperti itu.
Sebaliknya orang-orang yang mengejeknya hanya jadi sampah masyarakat yang didaur ulang menjadi sampah lagi -langganan masuk hotel.

Sekarang anak itu sudah menggapai tujuannya yang lain, jadi salah satu angkatan di Universitas Kedokteran di luar kota. Dia merupakan siswa cemerlang, dan tetap seperti itu. Selain cerdas juga berhati mulia. Dia melebihiku dalam banyak aspek. Agak menyedihkan jika mengingatnya. Aku juga merasakan seperti apa menghadapi sarkasme, namun tidak dapat beasiswa sama sekali. Inikah perbedaan nasib…?
Haha, kurasa iya.
Yang jelas, tidak ada yang buruk dari menjadi orang sabar. Sementara orang-orang menyukai kalimat-kalimat hina, kita sebaiknya jangan menerima api yang mereka semburkan itu. Hati itu ibarat gas metana dalam kotak kaca. Jika tidak dipegang baik-baik, maka akan jatuh. Kalau sudah jatuh, maka akan menyulut api, kemudian membakar kita.
Jika menuruti ejekan yang sudah dibiasakan oleh orang-orang pengobral kebencian itu, bisa dipastikan, perang sikap tak akan pernah usai.

Kenapa tidak meniru sikap adik kelasku itu. Biarpun dia biasa tersiksa, hatinya tak sedikit pun merasa sakit. Dia tak dendam dengan kaum sarkastis yang mencela dirinya, malahan menganggap bahwa mereka bukanlah orang jahat yang layak mendapat hukuman.
“Mudah-mudahan mereka sadar nantinya,” ujarnya.

Siapa pun pasti pernah diejek. Menjadi bahan verbal bully juga pasti pernah dialami oleh segelintir anak-anak zaman kontemporer ini. Kebanyakan dari mereka marah dan melawan balik karena tersinggung, lalu sisanya merasa terkutuk dan meninggalkan dunia karena tidak kuat menghadapinya-bunuh diri. Ada juga yang menjadi seorang autis karenanya.
Sifat suka merendahkan orang lain, mencela fisik dan rohani mereka, juga mengobrak-abrik mental mereka, adalah permen karet dalam mulut manusia Indonesia ini -bahkan dunia.

Orang-orang Melayu merupakan langganan terbesar. Bangsaku merupakan kaum pengejek paling kejam di dunia ini.
Kenapa aku bilang begitu…?
Karena aku mengalaminya sendiri, makannya aku bilang begitu. Ejekan mereka bahkan lebih mengerikan dari pocong yang sudah tidak pakai kafan.

Tidak banyak anak kuat seperti juniorku. Walau aku berharap semoga orang-orang sepertinya merupakan mayoritas.
Sarkasme adalah salah satu penyebab banyaknya kasus kematian di dunia. Karena ejekan manusia bisa saling bunuh, bahkan mendendam. Kampung Ini dan Kampung Itu pun memasang portal penghalang, menghalangi warga dari kedua belah pihak agar tidak bisa masuk. Kalau sampai ada yang masuk, akan dibacok, disembeleh di tempat. Masalahnya sepele. Gara-gara warga Kampung Ini bilang anak Kampung Itu tidak bisa main bola. Lalu anak Kampung Itu pun bilang anak Kampung Itu kebanyakan bacot. Lalu muncullah perkelahian kecil, menyebar, kemudian jadi perang dingin antar kampung.
Apa kira-kira yang akan terjadi kalau para presiden di dunia ini tidak punya kesadaran dalam berbicara. Salah mengucapkan pidatonya di podium PBB, bisa-bisa Perang Dunia 3 bisa meletus.
Gara-gara mengejek.

Apa pun itu, sebaiknya permen karet bikin penyakit itu segera dilepehkan saja. Tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa, “Orang yang sering mengejek bisa cepat naik haji dan bakal bisa beli Range Rover tercanggih jika sanggup mengejek 20 orang setiap 1 jam.” Itu pernyataan konyol.

Mengejek itu hanyalah kekonyolan. Dan kekonyolan itu membuat kita -pengejek- terlihat bodoh di hadapan masyarakat.
Sebaiknya hentikan budaya mengejek. Lebih baik kita belajar untuk jadi orang-orang sabar dan pintar mengutarakan ilmu bermanfaat, menciptakan alam aman tanpa pertikaian.
Begitulah dunia modern ini seharusnya terlihat bukan…

Cerpen Karangan: Faz Bar
I’m just an ordinary guy, with no talent or awesomeness. I like to write, especially a light novel. My dream is to write a light novel that then being adapted into an anime series (I’m serious about this). I like anime and J-Pop music, and all about Japan. My favourite protagonist is Hikigaya Hachiman, whether the heroine is Yukinoshita Yukino from Oregairu. I’m still an amature. But, I sure can be one of like those great writer whom had made history with their works. I want to be one like that. A famous writer (once again, I’m serious about this).

Cerpen Sarcasm is a Custom merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cahaya Malam di Bumi Jabaliyah

Oleh:
Di bawah sinar matahari yang teriknya, gadis kecil itu masih berdiri sambil meneteskan air matanya. Bajunya kotor dan ada sedikit bercak-bercak darah. Jilbab yang dipakainya tak seluruh menutupi rambutnya.

Di Balik

Oleh:
Hitam menyelimuti langit kota Tanjung Pendam yang tak henti-hentinya menitikkan bulir-bulir rahmat Tuhan. Pukul tiga dini hari, dingin, sepi dan melenakan untuk mereka yang enggan menyibak selimut, bangun dan

Hitam Putih Hari Raya

Oleh:
Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.. Allaahu akbar.. Walillaahilhamdu Samar, kudengar lantun merdu takbir raya memenuhi langit maghrib petang itu. Aku mengusap wajahku dengan

Kartu Nama

Oleh:
“Hei, pada minggir semua. Jangan main di jalan raya”, hardik seorang pengemudi mobil ke sekumpulan remaja yang sedang bermain di tengah jalan. Begitulah keadaan yang setiap hari terjadi pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *