Sarjana Bajingan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 February 2019

Hening suasana kamar Ibnu, terlihat kondisi kamar ibnu yang berantakan bak kapal pecah. Kertas-kertas berceceran di meja belajarnya, sebagian ada yang terbuang di tempat sampah. Printer infuse yang sudah usang kini telah menjadi barang rongsokan di pojok kamar, jari-jemari ibnu terus bergerilya menyusuri info loker secara online, sekarang ibnu sudah jenuh dengan androidnya dan berbaring lemas di atas dipannya yang keras.

“Apa-apaan ini, Aku seorang sarjana dari universitas terfavorit di Jogjakarta, dulu aku pernah punya ambisi lebih dari sekedar pengangguran, sudah kujalani Sembilan tahun belajar mengajar di bangku sekolah dan kulanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Apa yang salah denganku?” Katanya memecah keheningan.
“Sekarang apa gunanaya aku usaha, sudah beribu-ribu lembar kucetak Curriculum Vitae hingga pencetaknya telah menjadi sampah tak berguna dan telah kutulis pula lamaran nasib hingga tinta bolpoinku habis, dan beratus ribu jumlahnya ku keluar masuk perusahaan, bahkan toko-toko atau meable, tak ada sama sekali panggilan sampai sekarang, mungkin ada satu dua perusahaan yang tertarik dengan Riwayat hidupku dan lamaranku, namun setelah interview, rata-rata dari mereka menyuruhku untuk menunggu, bertahun-tahun aku menunggu sampai sekarang belum diputuskan aku diterima atau tidak, dasar bedebah…” Ibnu bangkit dari tidurnya, dan merenungi nasibnya hingga mengeluarkan airmata.

Teman Ibnu, Fadeli datang mengetuk pintu rumahnya, Ibnu tak acuh menyuruh fadeli masuk ke dalam kamar, “Astaga kawan, apa yang terjadi padamu, apakah separah ini keadaanmu?” Fadeli melongo melihat kamar yang berserakan dan duduk di samping Ibnu.
“Fadeli, Thanks kawan sudah menemaniku di sini, I need Job, I need money. Kau kan tahu aku berpangku tangan pada ibuku setelahku lulus kuliah selanma dua tahun, mau ditaruh kemana mukaku?”
“Ib, iya aku tahu, makanya aku datang kemari, ada tawaran Job kawan… Tak perlu modal ijazah, semua orang boleh masuk ke dalamnya asal ada orang dalam”
“Benarkah? Job apa itu?” Ibnu merasa bahagia
“Tak usahlah kau banyak Tanya, sekarang cepat lekas mandi dan kita akan bergegas kesana”
“Terimakasih kawan, apapun Jobnya, pasti kan kuterima”

Tanpa ba bi bu, Ibnu langsung mengambil handuk dan menyiram rata badannya, tak lama kemudian ibnu dan Fadeli pergi menggunakan motor bututnya Fadeli.

Satu jam telah berlalu, jalan raya yang ramai dan jua beribu-ribu pepohonan yang subur telah dilalui mereka, tibalah mereka di jalan setapak, tak lama kemudian sampailah mereka ke sebuah tempat.
Tempat yang angker, begitu kumuh dan kotor seperti rumah Ibnu, namun rumah ini lebih parah, karena siapapun yang melihatnya pasti bergumam yang sama.

“Tempat apa ini li?”
“Tenangkan dirimu Ib, ini kantor kita?”
“Kumuh sekali? Apa kau berniat menjadikanku petugas kebersihan di sini?”
“Tidak, Kau istimewa. Kau cerdik dan pandai, mana mungkin ku menjadikanmu cleaning service, Ayolah, masuk saja.. nanti saya perkenalkan kamu dengan rekan-rekanmu”

Mereka, melangkah maju, masuk menelusuri ruangan, Ibnu sedikit ragu dan takut, bila kau ingin menerka bayangan tempat itu kau bisa bayangkan sebuah gudang tak terurus di samping tempat kalian, pasti apa yang akan kalian fikirkan sama dengan yang difikirkan Ibnu, Kotor dan banyak tikus.

Terlihat di sana, seorang bertubuh tegap dan berjaket kulit layaknya artis Hollywood sedang memainkan korek api, dan menghidupkan setengah putung rokok yang tadinya mati, lalu dengan segenap rasa, ia menghirup dan mengeluarkannya dengan penuh nikmat. Sedangkan dua teman lainnya sibuk bermain catur dengan segelas arang kopi hitam yang tersisa dengan rokok yang digenggaman tangannya ia bersungguh-sungguh berfokus pada papan catur.

“Selamat siang teman-teman!” Sapa Fadli kepada teman-temnnya yang entah apa pekerjaannya, Aku yang tak tahu menahu hanya ikut menyumbang senyum akrab. Kini fokus mereka tertuju pada kami.
“Eh, Bro Fadli…, sama siapa Loe” Salah satu dari mereka menjawab
“Eh, iya Bro Gopak, kenalin ini Ibnu, Rekan baru kita.” Dengan senyum yang lebar mereka mencoba bersikap hangat kepada Ibnu, entah apa yang di fikirkan ibnu, dan raut wajahnya menunjukkan rasa tidak enak, namun Ibnu sendiri menghiraukannya.
Setelah itu mereka saling berjabat tangan, baru diketahui bahwa nama mereka adalah Gopak, Dongos dan Busra.

“Li, kamu serius ini kantor kita? Apa yang akan kukerjakan?” Aku berbisik, Gopak yang mendengar langsung merespon
“Oh ya Bro Ibnu, maaf aku memotong, intinya kita di sini adalah sebuah organisasi sosial yang mengedapankan orang miskin daripada orang kaya, karena kamu nanti yang akan ikut beroprasi dengan kita atau dengan kata lain adalah rekan kita, maka kita berharap loe bisa menyesuaikan diri dengan kita” Kata Gopak
“Maksudnya?” Tanya Ibnu bingung
“Gini nih, Ib. Kamu sudah bilang kan yah kalau kamu mau kerja apa aja karena kamu butuh uang tidak mau berpangku tangan pada orang lain, termasuk pada ibumu?”
“Iya, Lalu?” Tanyaku tambah bingung
“Jadi kita adalah (Same of the Rich), organisasi yang kita rilis tahun dua ribu tiga belas kemarin”
“Iya, lalu? Apa pekerjaan yang akan kulakukan?” Tanya Ibnu menerka nerka
“Bro, gini… Organisasi kita itu organisasi sosial, jadi organisasi kita mempunyai Visi membantu rakyat miskin dari yang kaya, saya jamin kita mendapat banyak pahala karena membantu orang miskin, dan kita akan kaya, karena penghasilan kita tidak ada bosnya, atau dengan kata lain kita yang menentukan sendiri penghasilan kita” Si Busra menjelaskan dengan detail, namun Ibnu masih belum faham.
Mungkin ini yang menjadi penyebab Ibnu tak diterima jua di ribuan perusahaan, karena aku tak mengerti dan bodoh. Tapi mungkin dengannya ikut di Organisasi ini, akan menambah pengalamannya.

“Sudah Ib, sekarang jangan bingung-bingung. Terima saja ini dan ikut beroperasi dengan kami setengah jam lagi” Fadli memberikan jabat tangannya, Ibnu menenjabat balik disusul oleh rangkulan-rangkulan hangat ketiga teman barunya.
Good, is very good, Ibnu tak tahu pekerjaannya seperti apa dan ia langsung bekerja, benar-benar good. Pikirnya sembari tersenyum. Dalam dunianya tak ada yang seperti ini, dulu saat bersekolah di sekolah dasar, bila ingin sepeda atau menginginkan hal lain kepada orangtuanya harus mengikuti syarat seperti harus mendapat peringkat satu, atau nilai yang didapatkan harus diatas Sembilan puluh Sembilan, dan pada saat lulus kuliah pengen kerja harus melamar, interview dan menunggu. Itu pun belum pasti diterima, namun tidak di sini. Ibnu tersenyum lebar.

Setengah jam kemudian, operasi mulai dilakukan. Ibnu dan kawan-kawan mulai menjajaki calon korban dan mengenakan aksesoris seadanya. Sungguh sangat fantastis, awalnya ia memang tak tahu menahu soal pekerjaan yang dilakoninya, tapi yang ditahu olehnya saat melihat fadli dan Dongos berpura-pura mati, lalu Busra dan Gopak meminta uang tutup mulut kepada si penabrak, tentu saja banyak yang memberikan uangnya secara ringan tangan, kadang pula Ibnu yang berpura-pura tertabrak oleh mobil mewah, lalu salah satu teman kita ada yang minta ganti rugi, hahahaha kadang-kadang mereka merasa geli, melihat banyak sekali orang-orang kaya yang bodoh. Atau menjambret tas seorang wanita kaya, lalu berpura-pura menjadi pahlawan dan mengembalikan tas kosong tanpa uang karena uangnya sudah diambil, rata-rata dari mereka bersyukur kepada kita, dan memberikan imbalan yang benar-benar lumayan. Mungkin mereka lebih senang bila identitas mereka dan kartu kredit mereka selamat daripada uang mereka.

Ibnu benar-benar senang, ternyata mencari selembar ratusan ribu begitu mudah, bahkan dalam satu minggu, perorang dari kita dapat komisi lima belas persen dari hasil bekerja, itu pun per orang bisa mendapatkan lebih dari lima juta perminggunya, sisanya yang duapuluh lima persen diberikan kepada panti asuhan atau lembaga social lainnya, dan terus terang mereka berterimakasih pada kita atas bantuan yang mereka terima.

Tahun demi tahun Ibnu jalani, dan ia dapat membeli sebuah mobil mercedes benz yang mewah itu dengan sangat mudah, rumahknya kini menjadi megah dan mewah, begitupun dengan fadli dan kawan-kawan.

Begitulah sebuah akhir cerita indah yang menurut kelompok ibnu sangat baik dan ia perjuangkan untuk kemaslahatan bersama, hingga ajal kematiannya ibnu tak mengetahui jika yang dikerjakannya dilarang oleh agama, pekerjaan itu benar-benar langgeng hingga masa tuanya. Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, begitu pula dengan profesi yang dijalankan Ibnu beserta dengan kawan-kawannya yang malah membuat mereka menjadi kaya, saat mereka masih bekerja mereka terus merekrut ribuan orang-orang baru, mereka terus mengembangkan jiwa-jiwa bajingan yang terus menerus beranak pinak di dalam satu lembaga dan satu kesatuan, bahkan jikalau lembaga itu sudah bubar, sifat dan kelakuan anak-pinak ini tak akan pernah berubah karena sudah mendarah daging hingga akhir zaman.

Sekian

Cerpen Karangan: Adibul Wafa
Facebook: facebook.com/adibul.w.ii
Penulis adalah seorang pemula, mohon bila ada kesalah dari awal hingga akhir kepenulisan banyak kesalahan
Penulis, berharap kritik dan saran dari kawan-kawan
Monggo, ditunggu kritik saran dan jua perbaikan dari kawan-kawan semua
Atau kritik via WA 085200832908
Terimakasih

Cerpen Sarjana Bajingan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Anak Itu

Oleh:
Kopi ini membuat otakku merangkai semua kejadian yang aku saksikan tadi sore, di pinggir jalan depan masuk gang. Ibu tukang sampah membawa dua anaknya untuk ikut bekerja bersama. Dua

Manusia ke Tiga

Oleh:
Jikalau kau memandang seseorang di jalanan kota sana, mungkin kau akan sadar tuk sekedar bertanya, “dari mana asal nya!” Haruskah ku sebut apa, tentunya ialah jelmaan manusia. Dandanannya sunggu

Terima Kasih, Ibu

Oleh:
Ibu, setiap pagi dengan senyum mengembang kau menuntun sepeda tuamu menawarkan pisang ke rumah-rumah penduduk. Keringat letih membasahi tubuhmu tetapi tidak terkalahkan oleh semangatmu untuk mencari nafkah. Dengan menuntun

Aku Sudah Menikah Tiga Kali

Oleh:
Seorang saudara sepupu yang tidak bertemu, hampir 28 tahun, yang teringat ia seorang anak lelaki 5 tahun ditinggal ibu kandungnya, berperut buncit bernama Mimid. Dan dalam pertemuan itu, Nana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *