Sarjana Kalkulator

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 27 June 2017

Akulah si sarjana kalkulator. Di dunia ini, hanya aku yang memiliki gelar tersebut. Semenjak aku berhasil menyelesaikan pendidikanku dan berhasil juga menyematkan gelar tersebut di belakang namaku, aku semakin terkenal. Apalagi setelah aku berhasil menemukan kalkulator dengan fitur seperti ponsel, yakni memiliki kamera dan dapat terhubung ke internet.

Orang-orang yang sangat kontra dengan kehebatanku, tentu saja langsung tidak terima atas hak paten kalkulator tersebut waktu itu. Mereka bilang ini sama saja seperti ponsel, tapi aku tidak terima. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar aku bisa memiliki hak paten atas barang temuanku ini seperti Edison dengan bohlamnya. Aku tak mau kalah dengan orang-orang iri seperti mereka. Jadi aku memutuskan untuk mencopet.

Mencopet memang perbuatan buruk, jadi jangan dicontoh ya. Tapi aku melakukan semua ini karena terpaksa oleh keadaan. Lagipula, yang aku copet bukanlah rakyat miskin atau sejenisnya, melainkan adalah koruptor. Sebagai sarjana kalkulator, aku sangat bangga bisa mencopet koruptor, yang padahal cara dan tekniknya itu tak pernah kudapat ketika mengenyam pendidikan di bangku sekolah maupun kuliah. Aku merasa seperti pahlawan karena telah membuat koruptor itu menangis. Ya, tentu saja aku sangat bangga. Karena aku sudah muak dengan wajah koruptor itu yang selalu tersenyum dan tak tahu malu.

“Apa itu di kantongmu, nak?” Tanya ibuku saat aku sedang melepas tali sepatu untuk masuk ke dalam rumah.
“Oh, ini dompet, bu. Dompetnya si pak koruptor itu.” Jawabku dengan bangga sembari mencolek hidung seperti Bruce Lee.

Ibuku diam saja. Ia kembali ke dapur dan langsung terdengar “glontang-glonteng” dari perkakas-perkakas dapur. Aku sedih. Pasti ibu marah, batinku. Dengan rasa kecewa yang sangat meluber-luber, aku langsung membuang dompet itu ke dalam kloset. Alangkah gobloknya aku, ternyata dompet itu tak langsung tenggelam. Karena ukuran dompetnya lebih besar daripada lubang klosetku. Aku semakin geram dan terus menyirami kloset itu dengan air. Byar! Byur! Byar!

Akhirnya, dompet itu melesat jauh pergi menuju septic tank. Aku sangat bahagia walau pakaianku basah.
“Nak, cepat ganti pakaian dan segera ke depan!” Tiba-tiba ibuku memanggil.
“Ada apa, bu?”
“Itu banyak tamu. Ibu lagi sibuk nih.”
Aku mendengus kesal. Memang terkadang, tamu suka tak tahu diri.

“Hei, selamat ya! Kamu memang hebat!”
Aku termangu. Seluruh tetanggaku memenuhi ruang tamu. Ada yang membawa kado. Ada yang membawa buah-buahan. Aneh. Padahal ulangtahunku masih tiga bulan lagi. Bahkan kulihat sampai ada yang mengusap air matanya. Entah itu terharu, entah itu matanya kemasukan kotoran cicak.

“Bu, ini acara apa?”
Aku mendatangi ibu yang sedang berdandan di kamar.
“Ibu masak banyak. Niatnya ingin syukuran karena anak ibu sudah membuat seorang koruptor menangis dan kehilangan uangnya. Negara kita memang membutuhkan pencopet seperti kamu!”
Aku terpaku. Membisu tanpa sebaris kata-kata. Ibu langsung beranjak memelukku erat.
“Ibu sangat bangga sama kamu, nak.”

Pada awalnya, tujuanku mencopet sebenarnya ingin menyogok para hakim dan pihak yang berkaitan dengan hak patenku agar mereka bisa mempermudah jalanku untuk mendapatkan hak paten “Smartcalc” tersebut. Tapi kini dompet yang berisi uang banyak itu sudah terkubur ke dalam septic tank. Aku memang bodoh.

“Lagi galau ya?”
Tanya Minda, mantan pacarku ketika masih SD dulu. Entah reaksi kimia apa yang terjadi padanya, tapi sekarang ia semakin cantik, terlebih lagi semenjak menjadi mantan pacarku.
“Nggak juga. Aku hanya ingin memandang selokanku yang sedang banyak keongnya.”
“Kamu apa kabar?”
“Baik. Kupikir kamu nggak akan muncul lagi di hidupku.”
“Aku yakin kamu pasti bakal minta balikan setelah melihatku yang sekarang ini.” Jawabnya dengan bangga. Aku langsung membelalak memandangi tubuh moleknya itu. Ketika berkacak pinggang pun, ia kelihatan semakin sangat lebih paling cantik. Untung teramat untung, mumpung sunyi dan sepi, aku segera menerkamnya bagai kucing garong. Tentu ia tak melawan.

Satu jam kemudian…
“Ceritain dong kenapa kamu memilih jurusan kalkulator…” Pintanya manja.
“Aku takut aku hanya akan menjadi pengangguran ketika memilih jurusan yang biasa. Iya kalau aku punya modal, jadi bisa buka usaha sendiri, buka praktik sendiri. Tapi ini kan aku miskin, pasti peluang pengangguran lebih besar.”
“Lah, bukannya ini kamu seorang pengangguran?”
“Nggak juga. Kan aku sedang sibuk mengembangkan smartcalc. Itu pekerjaanku sekarang.”
“Yang namanya kerja itu harus berpenghasilan, tahu!”
Aku tertawa. Ia segera mengangkat kepalanya dari bahuku. Ia geram dan mencubit perutku.
“Bagiku, pekerjaan adalah sesuatu yang harus kau senangi, tanpa ada rasa menuntut dan mengincar apapun. Dengan begitu, kau akan lebih cepat bahagia.” Senyumanku melebar.
“Oh, pantesan kamu miskin.”
Tawaku semakin kencang.

Hari ini aku ingin mengubah target. Aku takkan lagi fokus terhadap penyogokan itu. Aku harus menemukan solusi lain. Sebagai sarjana kalkulator, aku paham betul soal angka-angka. Untuk mendapatkan angka 2, tak hanya dibutuhkan 1 + 1. Banyak cara lain, seperti 2 x 1. Artinya, satu masalah seribu solusi.
“Halo?”
“Ya?”
“Apakah anda penembak jitu?”
“Tidak. Saya penembak manusia.”
Aku hanya mengernyitkan dahi mendengar suara parau dari ponsel ini.
“Saya sebagai sarjana kalkulator membutuhkan jasamu.”
“Saya tak tamat SD, mana mungkin punya ijasah. Mungkin anda salah sambung.”
Kugigit lidahku sekuat tenaga saking geramnya.
“Jasa, budek! Bukan ijazah!” Bentakku.
“Oke, ayo mulai serius!”
“Dari tadi juga aku sudah serius, daki kebo!”

Setelah berpanjang lebar bernegoisasi, akhirnya kami sampai pada kata sepakat. Aku memerintahkannya untuk membunuh para warga yang kontra akan hak patenku. Dengan begitu, jalan untuk mematenkan smartcalc semakin mulus. Dan aku sebagai sarjana kalkulator juga semakin terkenal.

Seminggu kemudian…
“Sudah kubereskan.”
Aku hanya mendengarkannya sambil manggut-manggut menyeruput susu hangat buatan ibuku.
“Tapi kenapa saldoku masih belum bertambah?”
Tut.
Kutekan tombol merah. Telepon terputus. Tanpa basa-basi, kumatikan ponselku. Kubuka kartunya, dan kupasang yang baru. Nah, selesai. Si penembak itu takkan pernah bisa menghubungiku lagi untuk meminta bayaran. Apalah gunanya gelar sarjanaku jika tak bisa membodohi orang yang tidak tamat SD. Hidup ini memang harus cerdik. Cerdas dan licik.

Setelah kuikat tali sepatu, kusalami ibu, kubaca doa, kusemprot parfum ke baju, kumakan permen mint, aku pun berangkat. Sebuah perjalanan seru menuju kantor hak paten. Kini, dengan bangga aku mempersembahkan diriku, sang sarjana kalkulator, yang mampu mengguncangkan dunia dengan temuan inovatifnya, Smartcalc!

Aku sudah sampai. Tak kusangka, gelar “penemu” dan “tokoh dunia” sudah di depan mata. Aroma kesuksesan juga sudah masuk menelusuri sistem pernapasanku.
“Hei, kau si sarjana kalkulator!”
Orang itu. Ia adalah, entah deh. Intinya dia orang yang sangat berpengaruh dalam kepengurusan hak patenku nanti.
“Ada apa, pak?”
“Hak patenmu kutolak.”
Tiba-tiba kepingan langit terasa berjatuhan dan pecah menimpa kepala dan hatiku.
“Dengarkan rekaman ini.”
Pria itu menyodorkan sebuah tape kecil padaku.

“Smartcalc sebenarnya kalau kamu mau tahu, bukanlah barang yang begitu hebat. Banyak yang lebih canggih di zaman sekarang.”
“Terus-terus, kok bisa ya kamu menemukan benda Smartcalc itu?”
“Ya bisa dong. Itulah kenapa aku suka memandang selokan samping rumah. Karena sering ada ponsel jatuh tergenang di situ.”
“Jadi itu maksudmu ponsel?”
“Ya iya dong. Kan memang benar. Aku menemukan, bukan menciptakan. Hak cipta sejati hanyalah milik Tuhan. Kita hanya menemukan apa yang telah ia ciptakan dengan ilmu kita, Minda.”

Demikian suara rekaman itu. Hati dan pikiranku langsung terobrak-abrik bagai diterjang tsunami. Ternyata Minda adalah wanita bermuka dua. Dia menjebakku. Dia adalah utusan dari…
“Dia adalah utusan dari Rambo.”
Aku diam saja. Siapa gerangan Rambo? Seekor ayam jago atau sosok bertubuh kekar berambut gondrong?
“Dia adalah penembak jitu dan salah satu orang yang kontra atas hak patenmu.”
Matahari pagi seperti menjilat-jilat dadaku. Bebatuan panas seperti menyembur keluar dari perut bumi. Ternyata orang yang kupekerjakan adalah orang yang membenciku. Aku seperti memakan hasil muntahan sendiri.
“Minda dan Rambo adalah suami istri. Mereka bekerja sama untuk menjatuhkanmu.”
“Kenapa?”
“Katanya, hutang ibumu belum dibayar. Sebuah hutang yang sangat besar demi mensarjanakan anaknya.”

Pria itu tertawa dan berjalan meninggalkanku. Aku sebagai sarjana kalkulator merasa malu dan hancur. Gelar yang sangat kubanggakan ini hanya membawa segelintir masalah. Hah, bahkan aku sampai lupa namaku siapa!

Seruyan Tengah, Desember 2016.

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani
Bagi yang nggak bisa kuliah, jangan bersedih
Sarjana hanya meningkatkan kualitas nama, bukan kualitas diri.
Pengalaman tetaplah guru terbaik.

Cerpen Sarjana Kalkulator merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m is Reporter (Part 1)

Oleh:
Sikap angkuhnya begitu ketus, namun kulayangkan senyum lebar ke arahnya, dengan memalingakn muka dia meniggalkanku. Tentu ini sudah menjadi resiko menjadi seorang wartawan yang terus memburu berita, sampai berurusan

Bizarre Car dan Penyelamat Cinta

Oleh:
Bizzarre car atau mobil yang aneh. Mobil ini berkelakuan sangat aneh dan jarang kita bisa menemukannya. Mengapa mobil ini bisa berada dibumi?. Mobil asal luar angkasa telah mengguncang bumi,

Rahasia Kepulauan Seribu (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan memasuki lorong-lorong rumah sakit, membaca tulisan yang terletak di depan setiap ruangan yang telah ku lewati, berharap segera menemukan ruangan yang bertuliskan, ‘Kamar Mayat’ tepat di atas

Life is Game

Oleh:
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah celah tirai jendela. Ruangan berdekorasi stiker bunga sakura pink itu sudah ditinggal pemiliknya dengan kasur dan meja belajar yang tertata rapi seperti

BMW

Oleh:
Perawakannya sedang, kulitnya sawo matang, matanya bundar, punya lesung pipi kalau tersenyum, hidungnya mancung dan berbibir tipis, kesimpulan? Cowok yang ada di barisan depan dekat mimbar mesjid itu membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sarjana Kalkulator”

  1. Andara Claresta Rabbani says:

    Lucu, menarik, bagus, dan memiliki banyak pesan. Good lah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *