Sarung Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 29 November 2018

Perutku semakin tidak karuan setelah sekian lama berada di kereta yang para penumpangnya bersatu padu dalam satu gerbong. Dimana segala macam wewangian yang menusuk hidung sedang berperang memasuki hidungku. Yang mana, menambah mual dalam perutku makin bergejolak. Jika bukan karena telepon dari ibuku beberapa minggu lalu yang menyuruhku agar segera kembali ke kampung. Aku mungkin sangat malas untuk balik ke sana.

Masih terngiang di kepalaku apa yang dikatakan oleh gadis tersebut dua tahun lalu “Mungkin ini sudah jalannya mas” kata sang gadis yang tidak lain adalah pujaan hatiku yang sebentar lagi akan menikah dengan juragan kambing karena hutang bapaknya yang telah menumpuk kepada juragan tua bangka tersebut. Aku tidak suka dengan ketamakan orang tersebut. Memberi pinjaman dengan bunga yang sangat tinggi serta tempo yang dapat dibilang cukup singkat. Orang desa pun telah mengetahui hal tersebut tetapi, apa mau dikata jika ingin ke bank harus berjalan sejauh berpuluh kilometer untuk ke daerah kota.
“Tapi, apa kamu mau ka menikah dengan tua bangka lintah darat seperti dia!” kataku kepada gadis tersebut yang bernama rika sang pujaan hatiku.
“Ya, mau gimana lagi mas. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara melunasi hutang hutang bapakku.”
“Ditambah lagi hasil panen bapakku tahun ini tidak semelimpah seperti dulu, aku tidak ingin hutang bapakku tambah menumpuk lagi” sambungnya dengan muka tertunduk tanda pasrah.
“Sudah bertahun-tahun kita menjalin hubungan ini namun, kamu dengan mudahnya kamu pasrah dengan keadaan!” balasku. Terlihat digerak geriknya tanda akan menangis.
Sambil menangis ia berkata “Memangnya mas tahu keadaanku sekarang! Bapakku terlilit hutang dan panennya bahkan setengah saja tdak balik modal! ‘hiks hiks” katanya sambil menangis.
“Tungggu mas, mas akan merantau dan setellah mas sukses kita akan menikah. Dan semua utang bapakmu akan mas lunasi. Tunggulah.”

Tapi itu adalah janji dua tahun tahun lalu. Dia sekarang telah menikah dengan jurangan tersebut karena terpaksa dan kecewa (mungkin) dengan janji yang tidak dapat kutepati tersebut. Sekarang yang harus aku lakukan adalah pulang ke kampung dan menemui orangtuaku. Setelah bertahun tahun pergi merantau ke kota.

Setibanya di ambang pintu, aku mengucapkan salam sambil mengetuk pintu berkali kali. Perlu sampai tiga kali ketukan sebelum ibuku membukakan pintu. Wajah itu. Wajah yang penuh dengan guratan peluh dan kerja keras. Wajah yang selama ini selalu kubayangkan saat berdoa di setiap sholat-sholatku. Kuciumi tangannya yang berurat tanda kerja kerasnya selama ini. Kupeluk tubuhnya yang masih berbau keringat tanda ia tidak peduli dengan bau tubuhnya selama anaknya dapat makan.

“Bapak di mana bu?” tanyaku heran karna tidak kelihatan. Ada jeda panjang sebelum ia menunjuk ke arah kamar.

“Assalamualaikum” salamku sebelum memasuki kamar. Tapi, aku terperanjat saat melihat bapakku tertidur tak berdaya di kasur. “Bapak kenapa bu?”
“Bapakmu sakit nak, sudah sebulan ini dia sakit ispa (infeksi saluran pernapasan atas) kata bidan desa.
Memang desa kami banyak orang yang bekerja sebagai petani, tetapi karena jalanan di desa kami berdebu (maklum jalanan beraspal belum masuk ke desa kami) maka setiap hari bapakku harus menghirup debu yang berada di jalan. Apalagi sawahnya ada di seberang jalan. Setelah diceritakan oleh ibu apa yang dikatakan oleh bidan desa. Aku tahu kalau penyakit bapakku sudah menahun hasil berkutat dengan debu selama pergi ke sawah dan di sawah.

Lalu, suatu malam saat aku sedang memijit ibu. Suatu kebiasaanku saat malam karena sedih melihat ibu bekerja setiap hari. Saat itulah bapak memanggilku. Aku yang sedang memijit ibu langsung pergi ke kamar tempat ayahku beristirahat. Ibu pun turut mengikutiku. “ini bapak titipkan kain sarung bapak kepadamu. Semoga kamu bisa menjaganya dan jika bisa ambil hikmah dari kain ini.” aku tidak mengerti apa maksud bapak kali ini. Yang aku tahu ini kain sarung kesayangan bapak setiap ke masjid, ia selalu memakai kain sarung ini dan kain tersebut selalu bersih karena ia pun rajin mencucinya. Tapi, ternyata itulah saat teakhir kalinya ia bersama kami. Selang beberapa menit setelah itu ia pun meninggal dan dikebumian keesokan harinya.

Aku masih tidak mengerti apa yang ia maksud ‘ambil hikmah dari kain sarung ini’ bertahun-tahun aku bersama bapak tapi ia tidak pernah bercerita tentang kain sarung tersebut. Aku pun hanya bisa melamun setiap hari selama berada di kampungku. Memikirkan setiap kemungkinan apakah bapak pernah bercerita atau sekedar memberitahu tentang kain itu. Tapi hasilnya nihil.

Sudah saatnya aku kembali ke kota. Kembali ke pekerjaanku yang telah kutinggalkan. Tidak enak rasanya membiarkan pekerjaanku sekian lama. Dan bahkan sampai sekarang pun aku tidak mengerti apa maksud bapak. Akhhh mau pecah rasanya kepalaku memikirkan kata-kata terakhir ayah itu. Sampai saat aku sedang beristirahat sembari sholat di salah satu masjid. Aku melihat seorang bapak tua yang memakai kain sarung yang tua juga sedang berzikir dengan khusuk. Kain sarungnya terlihat sangat tua tetapi dapat dikatakan cukup bersih.

Aku yang penasaran pun memberanikan diri mengucap salam kepadanya dan dia pun menjawab salamku.
“Maaf, pak. Apa saya boleh bertanya?”
“Oh iya dek, ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?” jawab bapak tersebut dengan ramah. Sekelebat aku melihat ada tanda hitam di jidatnya, yang kata orang sekarang itu adalah tanda orang yang rajin sholat.” maaf sekali lagi jika sekiranya saya seperti lancang. Tapi kenapa bapak memakai kain sarung lusuh seperti itu? Padahal saya melihat jika bapak amat dipandang di sini.” memang setelah sholat aku melihat bapak tersebut disalimi oleh banyak orang seperti seorang tetua adat di sini. “ohh kain sarung ini? Walaupun terlihat seperti tidak layak dipakai namun, kain sarung ini lah yang telah menemani saya disetiap sholat saya, disetiap dzikir saya, bahkan jika dia memiliki mata maka selain allah swt. Dan para malaikat, kain sarung ini lah yang melihat bagaimana saya beribadah.” aku terkaget dengan jawabannya. Jawban yang tidak kusangka-sangka. Lalu aku pun menceritakan tentang kain sarung bapak, apa yang dikatakan bapak untuk terakhir kalinya. Tak lupa akupun menunjukkan kain sarung yang dimaksud. Orang itu terdiam sejenak tanda berfikir sambil sesekali meliat ke arah kain terakhir ayahku. Terlihat dari raut wajah seriusnya bahwa ia adalah orang yang sering berfikir, entah apa aku tidak berani bertanya. Lalu ia membuka mulutnya. “Seperti yang sudah saya katakan kepadamu, kalau kain sarung ini jika memiliki mata, telinga, seperti manusia dapat melihat pemakainya apakah ia sering sholat, dapat mendengar apakah pemakainya sering berdzikir. Karena sebenarnya bapakmu ingin kau agar selalu memakai kain sarung ini setiap kau sholat, berdzikir, mengaji.” aku mengangguk tanda setuju dengan orang ini. Tak salah tebakanku ternyata bahwa orang yang sudah agak tua ini adalah orang yang arif dan bijaksana.

“Lalu, apakah kamu tahu kenapa kain sarung ini terlihat sederhana dan seperti yang kamu ceritakan selalu terlihat bersih?” aku menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
“Bapakmu ingin kau menjadi seperti kain sarung ini, sederhana namun dapat membawa orang yang memakainya melakukkan hal kebaikan. Seperti sarung ini yang jika dipakai beribadah dapat membwa pemakainya ke surga.” sambungnya lagi. Lagi-lagi aku terperangah dengan orang seperti ini yang dapat mengambil hikmah bahkan dari kain sarung ini. Aku tersenyum.
“Lalu, kenapa kain sarung ini selalu terlihat bersih?” kali ini ia yang tersenyum. “Bapakmu ingin kau menjadi seorang yang bersih dengan segala kesederhanaannya seperti sarung ini.” aku tak menyangka ternyata hikmah dari sarung ini begitu dalam, yang tak pernah sekalipun terbersit dari pikiranku tentang yang dikatakan bapak ini.
Setelah aku berterima kasih kepada bapak itu, aku pun melanjutkan perjalanan dengan masih menaiki kereta api menuju kota.

Jika sebelumnya aku harus menahan rasa mual dan bau di perjalanan sebelumnya. Di perjalanan ini aku bergelut dengan pikiranku tentang apa yang dikatakan bapak di masjid tadi. Aku pun bertekat akan menjadi seperti kain sarung, tak perlu mahal yang penting dapat digunakan setiap orang untuk kebaikan, tak perlu mewah karena tujuan awalnya hanya beribadah kepada allah swt. Maka sekarang pun aku akan berguna bagi setiap orang dan beribadah kepada yang maha kuasa.

Cerpen Karangan: Rizqon
Blog / Facebook: Rizqon Nur Fajrian
seorang perintis yang ingin karyanya dikenal, mohon kritik dan saran.

Cerpen Sarung Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Kehilangan

Oleh:
Bilqis adalah seorang anak remaja berumur 18 tahun, dia seorang yang pekerja keras, ramah, dan penyabar dia memiliki seorang adik bernama Cha gadis cantik berumur 15 tahun. Sifat Cha

Bulan dan Ramadhan

Oleh:
Hari sudah mulai gelap, adzan magrib beberapa menit lagi akan berkumandang. Ramadhan kali ini terasa aneh bagi Bulan, gadis yang baru saja lulus SMA itu merasa sepi di tengah

Izinkan Aku Menangis dalam Senyummu

Oleh:
Langit begitu muram, membakar awan hingga tampak merah menganga. Menyulut hingga dasar hatiku, membakat rongga-rongga dada hingga jantungku. Membuat hatiku murka pada Kekuatan Abadi yang memaksa bapakku kembali ke

Surat Terakhir buat Kakak

Oleh:
“boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” Sejenak kumenghentikan

Mahasiswi Hijab Syar’i Dan Dosen Rok Pendek

Oleh:
Semalam, teman lamaku berkunjung. Pertamanya aku tak mengenali dia, dia banyak berubah. Menurutku perubahan yang aneh, bayangkan saja di kota Semarang yang panasnya sudah melebihi Jakarta ini, dia memakai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *