Satu Langkah Di Atas Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 20 July 2017

Dunia memang tak selalu seperti apa yang diharapkan tapi kenyataanlah yang harus dijalani. Pun dengan hidupku, tak seorang pun menginginkan hidup yang terlahir dari keluarga yang tak berada. namun nyatanya aku harus terlahir di keadaan yang tak kuinginkan. Benar, aku tak menginginkan kehidupan yang susah dan cenderung papah. Hidup yang penuh keterbatasan mambawaku pada sebuah lorong gelap nan sempit hingga membuatku susah. Di lorong itu jangankan membuatku untuk bergerak, bernafas pun nyatanya sulit. Kenyataan terkadang memang berujung pada kesengsaraan.

Dari segala keterbatasan yang aku punya, pada akhirnya membawaku pada dunia mimpi yang penuh dengan asa yang tak nyata. Mimpi-mimpi yang kubangun dengan pondasi-pondasi yang syarat pada penderitaan itu nyatanya terterpa oleh angin cacian dan hinaan yang berujung pada kekufuran. Hinaan dan cacian itu layaknya lauk pauk bagiku yang harus ditelan sepahit dan seburuk apapun rasanya.

Suatu hari aku mencoba menggantungkan mimpiku LAGI pada tiang langit. Kugantungkan tak terlalu tinggi namun penuh harapan. Berharap bahwa hidupku lebih baik bahkan jauh lebih baik dari apa yang kuhadapi sekarang. Namun lagi-lagi, angin kejam menjatuhkan mimpiku tanpa ampun. Koyak. Hancur lebur. Tak tersisa dibawanya entah ke mana. Kucoba bertanya pada kupu-kupu nan elok yang melintas di jalanku. Dengan penuh sejuta harapan aku bertanya:
“Ke mana gerangan angin membawa mimpiku?”
Tak ada jawaban. Kupu-kupu itu tersenyum lalu pergi hanya menyisakan bekas luka di sudut hatiku. Sakit. Perih sekali. Seolah tiada yang menyakitkan selain berharap pada sesuatu yang penuh kesia-siaan. Tapi aku harus tetap melangkah walaupun tujuan belum pasti, tapi setidaknya aku harus mencari mimpi yang dibawa angin. Aku tidak akan menyerah hingga kutemukan mimpi itu lagi.

Lelah. Putus asa bahkan rasanya ingin mati saja. Kadang aku berjalan pelan terkadang aku berlari. Kadang aku terjatuh, lalu bangkit lagi. Menagis lalu tertawa lagi. Aku tidak akan menyerah hingga kutemukan mimpiku lagi. Berpetualang melanglang buana pada padang yang tak terkira luasnya.

Suatu hari, aku bertemu pada manusia yang kuanggap segalanya. Yah, benar. Aku penganut aliran my everything. Kuceritakan segala bentuk penat nan lukaku pada seseorang yang kusebut my everything itu, aku berbagi apapun padanya. Aku merasa takut ketika aku jauh darinya, aku kesepian jikalau tak kudengar sendu tangis dan gelak tawanya. Yah, dia temanku my everything. Aku mulai menulis lagi mimpi-mimpi yang dulu hilang itu bersama my everything, lalu kami gantungkan pada tiang langit. Kami ikat dengan kuat mengenakan tali kesabaran yang kuat nan kokoh dan tak sembarangan dijual di toko kelontong yang berada di sudut pasar kehidupan. Dengan tali kesabaran itu, aku percaya angin kejam takkan menjatuhkan mimpi-mimpi yang kutulis bersama my everything.

Hari demi hari mimpi yang kami ikat itu semakin kuat bahkan badai sekalipun tak sanggup melepaskan ikatan mimpi kami. dan aku pun mulai berani untuk beranjak pada keadaan yang kuanggap susah. Aku dan my everything selalu berjuang, dan berharap bahwa suatu hari mimpi yang kami ikat bersama itu pun bisa kami letakkkan pada tiang yang lebih tinggi. Tiang tertinggi itu adalah kunci keberhasilan kami. jikalau kami mampu menggantungkan mimpi kami pada tiang itu maka kami juga bisa membantu mimpi-mimpi orang lain dan menaruhnya pada tiang yang lebih tinggi lagi.

Namun suatu hari terjadi, aku melihat mimpi yang kugantungkan itu tergeletak di bawah tiang langit. Ada apakah gerangan? Kenapa mimpiku terjatuh? Apa angin semalam terlalu deras hingga mimpi yang diikat dengan tali kesabaran itu bisa jatuh lagi bahkan hancur menyisakan kepingan-kepingan. Tapi tunggu dulu, kenapa hanya mimpiku yang terjatuh sedangkan mimpi my everything telah berada satu tingkat lebih tinggi dari tempat semula kami mengikat mimpi-mimpi itu. Aku bertanya pada seseorang yang sama-sama menggantungkan mimpinya di tiang langit yang bersebelahan dari tiang mimpi kami.

“Bisakah kau memberi tahu apa yang telah terjadi hingga mimpiku jatuh seperti ini?”
Seseorang itu enggan menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap wajahku dengan iba. Ada ragu di wajahnya.
“Katakan saja! Aku akan merahasiakan segalanya. Apa angin kejam yang telah menjatuhkan mimpiku?” Kataku penuh harap.
“Seseorang yang kau katakan sebagai my everything-lah yang telah menjatuhkan mimpimu semalam. Katanya jika kalian masih menggantungkan mimpi bersama maka yang ada kau hanya memperlambat perjalanan mimpinya.”
Aku tertegun mendengarnya. Bagaimana mungkin seseorang yang kuanggap sebagai my everything itu menjatuhkan mimpiku hingga koyak berkeping-keping. Tidakkah ia merasa kasihan padaku yang telah mati-matian menulis lalu menggantungkannya dengan susah payah di tiang langit.

Oh, ke mana akan kubawa hatiku yang sakit ini. Hati yang penuh dengan kekecewaan karena terkhianat oleh seseorang yang kuanggap my everything. Di manakah letak balasan untukku yang telah menganggapnya sebagai my everything? Dan adakah yang lebih menyakitkan dari semua ini? Harus kuapakan mimpi-mimpi yang pecah untuk kesekian kalinya ini?
Tak satupun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yang ada hanya keheningan yang berbalut terik surya. Kuputuskan untuk mengumpulkan kembali kepingan-kepingan mimpiku. Dan membawanya pergi bersamaan dengan luka menganga. Dan semua hal yang terjadi, kenapa begitu sakit saat berharap dengan sesama manusia. Dan aku memutuskan untuk tidak berharap dengan siapapun terlebih manusia. Karena setiap kali aku berharap pada manusia, terlebih pada mereka yang kuanggap sebagai my everything maka hasil yang kudapat adalah nothing, zero, nol besar.

Aku kembali berjalan di jalan setapak yang sempit, berdindingkan duri-duri dan beralaskan kerikil-kerikil tajam. Yang mana jika sekali saja aku jatuh maka duri dan kerikil itu tak segan-segan melukaiku tanpa belas kasihan. Dengan membawa segenap hati yang hampir musnah, aku tetap melawan arus angin yang deras. Kadang-kadang aku mencaci sampah-sampah dan daun kering tanpa perasaan. Kadang-kadang aku menagis meratapi kesakitan dan kekecewaan. Kadang-kadang aku berlari-lari mengejar keadilan hidup yang tak kunjung kudapatkan. Aku berteriak sekuat mungkin hingga binatang-binatang merasa risih.

Dari perjalanan yang sulit ini. Aku telah sampai pada persimpangan jalan yaitu jalan untuk menyerah atau melanjutkan perjalanan dengan sejuta kesusahan. Tapi aku memutuskan untuk tidak memilih keduanya, kupilih jalan pulang. Aku tahu saat ini yang kubutuhkan seseorang untuk bersandar. Walaupun aku tahu seseorang itu tak akan banyak membantuku tapi aku yakin setidaknya orang itu bisa menenangkanku dari hingarnya dunia yang kejam.

Aku bertemu dengan perempuan yang kupaggil sebagai ibu. Menangis, meratapi kehidupanku yang susah dan selalu gagal. Kuceritakan segala bentuk kepahitan dunia. Kujelaskan betapa sakitnya pengkhianatan. Betapa melelahkannya membangun harapan. Namun, apa yang kudapat? Aku mendapatkan tamparan yang kuat sekali. Apa-apaan ini?

“Bu, bukan tamparan yang kubutuhkan sekarang. Aku butuh bantuan untuk menaklukan kehidupan kita yang semakin hari semakin mencekik. Aku butuh bantuanmu untuk menjadikanku manusia yang mampu membangun mimpiku lagi. Aku butuh dukunganmu untu menjadi perempuan yang lebih tegar setegar kau menghadapi kenyataan.”
Ibuku tak menjawab kemudian ia menciumku.
“Apa kau senang?”
Aku mengangguk.
“Ibu Cuma ingin, ketika kau merasakan betapa hangatnya kecupan ibu kau harus merasakan terlebih dahulu betapa sakitnya ditampar. Dunia tidak pernah berpihak pada pecundang nak, ketika kau lelah menggantungkan mimpimu dan berhenti menulis mimpimu. Maka sejak itu pula kau tak ada ubahnya layaknya jasad tanpa nyawa. Oleh karena itu pergilah nak, lanjutkan perjuanganmu, bawalah kesulitan yang kau hadapi ini sebagai senjata. Doaku sebagai ibumu adalah perisai bagimu yang telah kutitipkan pada Tuhan. Dan Tuhan akan memberikan perisai itu ketika kau merasa benar-benar tidak sanggup lagi.”
Tak ada suara yang keluar dari mulutku. Ibuku benar, tapi dari mana akan kumulai perjalanan ini. tiang yang manakah tempatku mulai menggantungkan mimpiku.
“Mulailah pada jalan yang paling kau ingin tapaki nak. Mulailah pada tiang paling dekat denganmu nak. Kau memang tidak selalu mendapatkan apa yang kau inginkan tapi Tuhan yang maha tahu nak, Dia-lah yang paling tahu tentang sesuatu hal yang baik bagimu.”

Aku keluar dari rumah membawa segala kekalutan, keresahan, dan ketakutan yang segera ku hadapi, tak ada bekal yang kubawa. Hanya saja aku membawa kesusahan yang telah lama kusimpan sebagai senjata. Memulai berjalan kembali, merangkai mimpi-mimpiku yang telah pecah, melawan arus samudera kehidupan, melawan badai yang siap mengombang-ambingkan. Terbersit Tanya, sampai kapan aku akan berjalan tanpa tujuan. Aku merasakan lelah yang teramat sangat dan mulai mencari obat penghilang lelah tuk sementara. Lagi-lagi belum kutemukan. Kulanjutkan perjalanan ini walau dengan merangkak.

Aku mencoba memulai kembali merangkaikan mimpiku satu per satu. Mimpi yang telah koyak menjadi kepingan kecil yang tercipta karena pengkhiatan. Pernah suatu ketika seseorang bertanya padaku:
“Untuk apa kau merangkai kembali potongan mimpi-mimpi itu? Percuma, hidupmu telah susah dan penuh dengan derita. Kau tidak akan bisa merangkainya lagi. Lihat wajahmu penuh dengan kecewa dan kakimu juga penuh dengan luka darah. Berhentilah kau bermimpi, dunia memang kejam untuk manusia papah seperti kita. Kelak kau akan tambah kecewa karena mimpimu yang tak kunjung nyata.”

Mungkin benar jika aku terus memberanikan diri merangkai kembali mimpi-mimpi aku akan tambah kecewa jika mimpi itu tak kunjung nyata. Tapi, bukankah ibuku mengatakan jika aku masih mempunyai perisai yang ia titipkan pada Tuhan. alangkah sia-sianya mimpi yang sudah ku tulis dengan susah payah terkubur begitu saja bersama dengan kecewaku yang tak kunjung pudar. Tidak! aku akan melanjutkan mimpiku, merangkainya kembali dan akan kugantungkan di tiang langit yang tinggi bahkan lebih tinggi dari mimpi seseorang yang pernah kusebut sebagai my everything.

Aku masih berjalan membawaku serta mimpiku. Walaupun tak ku ketahui ujung jalan yang kupilih ini. tapi aku masih percaya bahwa di sana. Di ujung jalan yang kutunjuk ini pasti akan berujung pada sebuah telaga yang jernih yang akan menghilangkan dahaga, tempat membasuh luka darah yang nganga.

Di suatu hari yang terik penuh dengan bau keringat yang menyengat. Aku duduk di bawah pohon sebagai tempat persinggahan akan perjalanan kehidupan yang telah kutelusuri. Seseorang memberikanku angin segar pelepas penat. Ia memberikanku petunjuk kalau di ujung jalan yang kupilih ini terdapat sebuah jembatan yang menuju telaga. Yah, telaga yang kubayangkan itu nyatanya benar-benar ada. Ia menyuruhku untuk berlari dengan kencang agar aku cepat sampai pada jembatan itu. Seseorang itu mengatakan bahwa jembatan ini tidak akan memberimu kesempatan kedua, sekali aku menyiakan kesempatan ini maka lakukanlah terbaik.
Bergegas aku menuju jembatan yang tak memiliki kesempatan ke dua, jembatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang tak mudah menyerah apalagi putus asa. Dan aku sudah benar-benar berada di bibir jembatan ini. dengan cekatan aku melangkah, dengan hati-hati agar aku tak salah langkah. Aku tidak mau melangkahkan kakiku dengan sia-sia. Kesempatan untuk melewati jembatan ini tak akan kudapatkan dua kali.

Jembatan menuju telaga ini sangatlah panjang dan berkabut. Mataku tak bisa melihat dengan jelas apa yang akan terjadi. Jadi, yang aku lakukan hanya melangkah dengan hati-hati. Hati-hati sekali. Nyatanya jembatan ini juga tak semulus yang kubayangkan. Kenapa banyak sekali rintangan yang kuhadapi setiap kali aku memilih jalan. Di jembatan ini terkadang aku tejatuh hingga lutut ku berdarah, terkadang jembatan ini terasa ada gundukan-gundukan hingga memaksaku mendaki, terkadang juga aku dipertemukan pada lorong-lorong gelap yang semakin membuat penglihatan gelap. Terkadang kakiku tergelincir hingga hampir saja aku jatuh ke jurang yang sangat dalam hingga aku yakin saat seseorang jatuh ke dalam jurang itu ia tak akan bisa bangkit lagi.

Bertahun-tahun aku melawati jembatan ini yang telah mengajarkanku banyak pelajaran. Ilmuku untuk melawan dunia pun semakin hari semakin bertambah saja. Sesekali ilmu yang sudah kupelajari dari pengalamanku ini kubagikan pada orang-orang yang memang membutuhkan petunjuk. Aku yakin meskipun tak banyak setidaknya ilmu itu bisa mereka manfaatkan untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Oh kapankah pejalanan ini berujung. Bolehkah aku mengatakan bawa aku sangat lelah..?

Tiba-tiba suatu hari ketika aku terjaga dari tidurku yang lelap. Melihat seberkas cahaya jingga di timur sana. Cahaya itu perlahan namun pasti menerangi sedikit demi sedikit menuntun langkahku menuju telaga kehidupan. Tempatku membasuh luka dan duka lelahnya menggantung impian yang tak kunjung datang.
Dan pada akhirnya aku bisa menghirup betapa manisnya air telaga kehidupan yang kuperjuangkan untuk mendapatkannya. Banyak hal sudah kulewati, kegagalan atas mimpi-mimpi yang kugantungkan, pengkhianatan yang berujung kekecewaan dan kepahitan dan kesengasaraan karena keterbatasan.

Hari ini, mulai kugantungkan kembali harapan dan mimpiku yang dulu hancur menjadi serpihan. Mimpi itu telah usai kususun kembali layaknya bermain puzzle tanpa petunjuk. Perisai yang dititipkan oleh ibu pada Tuhan telah ia berikan padaku hari ini. dengan perisai itu pula aku bisa menggantungkan mimpiku lebih tinggi dari tiang langit bahkan satu langkah lebih tinggi di atas langit. Kesusahan yang pernah kurasakan terbayar ketika aku melihat ibu dan adikku tersenyum senang ketika toga tanda kelulusanku melewati rintangan apapun demi menggantungkan mimpi itu.

Empat tahun sudah aku melewati jalan-jalan penuh pengkhianatan. Ajaran ibuku melekat bahwa untuk melihat betapa indahnya pemandangan di atas gunung setidaknya aku harus mendaki terlebih dahulu. Tak ada cara instan menikmati telaga kehidupan yang ada hanya hanya jalan-jalan sulit yang setiap saat bisa membanting tubuhku kapan pun ia mau. Memanfaatkan kesempatan ketika ia datang, tidak berleha-leha karena kesempatan itu hilang kapan saja tanpa memberikan waktu untuk kedua kalinya.

Aku memang telah berhasil menggantungkan impianku satu langkah lebih tinggi di atas langit. Tapi tantangan dan rintangan yang sudah kembali menunggu ketika aku membuka gerbang level selanjutnya. Tapi satu hal yang telah melekat pada diriku bahwa tak akan ada artinya ketika aku terlalu berharap pada manusia, yang ada hanya luka nganga yang terperih karena kecewa, cukup pada Tuhan dan hanya pada Tuhan. Tuhan telah menciptakan banyak pilihan jalan untuk dilewati, dan penunjuk jalan itu ada di sini, di hati yang akan memilih jalan mana nantinya akan kupijaki. Hidup itu pilihan dan pada akhirnya memang harus memilih. Memilih untuk tetap bermimpi atau tidak jawabannya ada di sini, di hati.

*tulisan ini ditulis saat aku merasakan kesakitan dan pengkhianatan karena terlalu berharap pada manusia.

Cerpen Karangan: Yentha Vie Kunchay
Blog / Facebook: Yentaviekhun.blogspot.com / Yeyen Okta Viani Kunchay

Cerpen Satu Langkah Di Atas Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Ujung Kegagalanku

Oleh:
Aku dan kamu takkan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Bahagia dan kesediahan selalu berdampingan, begitupun juga tentang harapan dan kekecewaan. Segala perasaan melebur dalam hidup. Namaku Renata.

Hujan di Medan Senja

Oleh:
Hujan di Medan Senja, Satu persatu air dari awan kelabu yang menggantung di atas langit mulai menjatuhkan diri, terhempas kedalam peluk bumi. Membuat jalanan becek, genangan air beriak-riak teriak.

Perjalanan Menata Hati

Oleh:
Apakah anda merok*k? Ya, Tidak, Kadang-kadang Berapa jam anda bekerja dalam sehari? 8 jam, 10 jam, 24 jam Aku bingung untuk mengisi questionser ini pertanyaan yang menurutku sangat tidak

Pengorbanan Seorang Ibu

Oleh:
Pagi buta sebelum berangkat bekerja Ibu salat subuh terlebih dahulu. Setiap hari Ibu bekerja dan bekerja. Pekerjaan Ibuku itu, memang menurut saya tidak terlalu berat, karena saya belum merasakan

Titik Noda

Oleh:
Seperti gadis belia pada umumnya, aku memiliki banyak teman dengan segala kegembiraan yang ada. Senyuman seolah tak pernah sirnah menghiasi wajah yang memang tak seberapa dibanding sekian teman dekatku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *