Satu Malam Penuh Arti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

Malam kian menunjukan gelapnya, bintang pun satu persatu hadir menampakan sinarnya. Namun, tak bisa kunikmati indahnya. Aku masih harus bergelut dengan setumpuk tugas yang harus kuselesaikan. Ada perasaan kantuk, jenuh dan kesal dalam hati. Ternyata kuliah tak seindah yang aku lihat di FTV. Ditambah lagi dengan jarak yang harus aku tempuh dari rumah untuk sampai ke kampusku. Aku harus berangkat lebih awal dibandingkan dengan teman-temanku kebanyakan.

Terdengar suara ponsel dari dalam tasku, sudah bisa kutebak pasti Ibu yang menghubungiku. Namun, tak lantas aku mengangkatnya. Aku masih sibuk dengan tugasku, sampai tak menghiraukan panggilan dari Ibu. Tanpa perasaan bersalah, aku pun melanjutkan tugasku. Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB, lega rasanya akhirnya setengah dari tugasku berhasil diselesaikan. Sambil merapikan laptop dan buku yang masih berserakan di lantai, aku mengecek ponselku yang semenjak tadi aku diamkan di dalam tas.

*6 panggilan tidak terjawab
Benar saja, Ibu yang sedari tadi menghubungiku. Rasanya lelah sekali saat itu, sampai keluar kata-kata yang memang tak pantas menurutku.
“Ah Ibu, bawel sekali” Gerutuku dalam hati.
Aku hanya membalasanya lewat pesan singkat. “Iya, Bu. Aku pulang”. Sambil setengah kesal aku mengetiknya.
“Aku duluan, ya?” Ucapku sambil melambaikan tangan kepada dua orang temanku yang masih betah berdiam diri di lorong kampus.

Dengan perasaan lelah, aku beranjak pergi dari kampus dan segera menunggu kendaraan umum di pinggir jalan untuk kutumpangi agar dapat segera sampai di rumah.
“Hmm lama sekali” gumamku dalam hati.
Tak bisa kutahan rasa laparku. Akhirya sambil menunggu, kusempatkan untuk membeli makanan yang ada di pinggir jalan. Tak lama setelah aku memesan, angkot yang kutunggu pun datang. Aku pun duduk tepat di pinggir supir. Ya, ini selalu menjadi tempat favoritku saat di kendaraan umum. Karena aku tak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Saat hendak menyantap jajanan yang baru saja aku beli, tiba-tiba saja supir di sebelahku bertanya.
“Neng, pulang kuliah ya?” tanyanya sambil sambil menghadapkan kepalanya kepadaku.
“Iya, Bang” jawabku singkat.
“Kuliah di mana, Neng?” Ia masih saja bertanya.
“Di IPB, Bang” jawabku lagi-lagi dengan singkat.

Akhirnya aku bisa benar-benar menyantap makanan yang sejak tadi sudah dipanggil oleh perutku. Namun, sepertinya masih ada segudang pertanyaan dalam hatinya. Terlihat saat ia mulai melontarkan pertanyaannya lagi.
“Sekarang udah semester berapa?” masih dengan tema pertanyaan yang sama.
“Semester 5” jawabku sambil sesekali menyantap makananku.
“Oh, ngambil jurusan apa?” tanyanya lagi.
“Informatika, Bang” jawabku.

Ada perasaan risih dalam hati ketika harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Bagaimana tidak, disaat kondisi lapar, kantuk, dan lelah aku harus meladeninya berbincang. Tak sengaja lampu kendaraan menyorot wajahnya, ketika kuperhatikan nampaknya jarak usianya tak berbeda jauh denganku. Sebelum kutanyakan rasa penasaranku, ia sudah memulai pertanyaannya lagi.
“Kuliah di sana berapa duit, Neng?” tanyanya
“Oh sekarang 5 juta” timpalku sedikit demi sedikit mulai merasa nyaman mengobrol dengannya.
“Kalau kuliah sore ada gak sih, Neng?” tanyanya lagi.
“Ada kok, Bang” Jawabku.
“Kalau saya punya rezeki, pengen deh kuliah” satu pertanyaan yang sontak membuatku kagum pada sosoknya.
Senyum, hanya itu yang terisarat dari bibirku. Tak bisa kubayangkan, seorang supir angkot yang duduk di sampingku saat ini mempunyai keinginan besar agar bisa sepertiku. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya kepanya.
“Emang abang lulusan SMA tahun berapa?” tanyaku sedikit penasaran.
“Saya lulusan 2011. Nyesel deh saya dulu sekolahnya bandel. Jadi sekarang cuma bisa jadi supir angkot deh“ Jelasnya dengan penuh penyesalan.
Benar saja, usianya hanya selisih tiga tahun denganku.
“Hehehe coba kuliah aja, Bang.” Ucapku sedikit menghibur.
“Duhh, duit dari mana Neng? Susah ya kalau udah gak punya orangtua. Kangen deh saya sama mereka” ucapnya lagi dengan sedikit menurunkan nada bicaranya.

Satu kalimat yang lagi-lagi membuat hatiku tersentak. Seketika saja aku langsung teringat Ibu. Bagaiamana bisa aku mengabaikannya disaat beliau jelas-jelas sangat mengkhawatirkanku. Bagaimana bisa aku merasa risih diperhatikan disaat orang lain justru rindu akan hal itu. Sambil menahan air mata, aku alihkan pikiranku. Rasanya ingin cepat sampai rumah dan memeluk erat Ibu.

“Neng, tau buku Cara Mencapai Kesuksesan gak?” tiba-tiba saja ia menanyakan sesuatu yang menurutkan sangat asing ditanyakan oleh seorang supir angkot.
“Duh saya kurang tahu, Bang” jawabku .
“Bagus loh Neng bukunya. Setiap malem saya suka iseng-iseng baca itu. Lumayanlah, bisa sedikit menginspirasi saya” ujar supir angkot itu.
“Oh iya, Bang?” sahutku dengan sedikit perasaan malu. Bagaimana tidak, aku saja yang seorang mahasiwi hanya sesekali membaca buku. Itu pun jika mendekati ujian saja.
“Iya, Neng. Makanya sekarang saya jadi supir ngumpulin uang buat kuliah. Kalau terkumpul Alhamdulillah, kalau enggak ya mungkin saya harus cari pekerjaan lain.” Ucapnya.
Lagi-lagi supir angkot mampu menamparku dengan kata-katanya. Betapa tak bersyukurnya diriku. Kenapa aku harus mengeluh, ketika aku tak perlu bersusah payah mencari uang untuk kuliahku. Apa masih bisa aku bermalas-malasan, ketika orang lain justru mencuri-curi waktunya untuk bisa sekedar membaca buku.

Satu malam penuh arti, satu malam yang banyak memberikan pelajaran padaku. Satu malam yang berhasil membuat aku begitu rindu pada Ibu. Dan satu malam yang mengajarkan aku untuk bersyukur atas apa yang telah aku miliki saat ini.
Aku berterimakasih pada malam itu, sampai akhirnya aku sampai di tempat tujuanku. Sambil memberikan uang ongkos, aku berbisik dalam hati ”Terimakasih, Bang”.

Cerpen Karangan: Angga Envios
Facebook: Angga Envios

Cerpen Satu Malam Penuh Arti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Terminal

Oleh:
Minggu lalu, di terminal, aku menunggu truk mau pulang kampung. Siang itu memang panas sekali. Tampak bukan hanya penjual asongan yang kepanasan. Barang-barang dagangan mereka pun tampak kepanasan. Mereka

Bayangan Dalam Risauku

Oleh:
“Ayah, kenapa kita tidak bisa mengulang masa lalu?” Seseorang yang dipanggil ayah itu menengok ke arah bocah kecil di pangkuannya, dengan beberapa kerutan di dahinya. “Kenapa kamu bertanya seperti

Normala Sang Purnama

Oleh:
Malam masih berayun bersama bintang, Angin masih meraba pepohonan, Tanah masih menghisap sisa air hujan, Dan aku tetap saja bersandar di kursi goyang tua ini, Di depanku terdapat beberapa

Hari Kartini

Oleh:
Pagi ini wanita tua itu kembali menarik gerobak sampah. Jalannya agak terpincang-pincang, entah karena kakinya sakit atau karena keberatan menarik gerobaknya. Sandal jepit yang mengalasi kakinya, seperti baju kaos

Danau Biru Tua

Oleh:
Bawalah aku ke danau biru tua, atau setidaknya kau meberiku setetes air dari sana. Waktu, kau tau, waktu tak pernah bisa kau kendalikan. Pernahkah kau pergi ke masa lalumu?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *