Sebatang Lilin Kehidupan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 25 July 2019

Mereka percaya tuhan. Mereka juga percaya keajaiban, meskipun tuhan jarang memberi mereka keajaiban, dan dunia malah berbalik menyerang mereka, tapi mereka menerima semuanya dengan lapang dada. Mereka menganggap bahwa masih ada kesempatan untuk hidup yang lebih baik.

Di sebuah gubuk di pinggiran kota ini, yang hanya memiliki dua ruangan, satu ruangan sebagai dapur, dan ruangan lainnya dipakai untuk kamar, dan ruang tamu
Mereka membuat kisah bersama orang yang mereka cinta. Sekalipun duduk beralaskan tanah, dan dinding yang suatu saat bisa saja roboh jika angin kencang, mereka tetap bisa tertawa, dan bercanda. Mereka beranggapan bahwa bagusnya rumah tidak menjamin kebahagianan, dan di sinilah mereka, tinggal di antara bangunan pencakar langit.

Seorang lelaki yang ditinggal cerai istrinya, hidup dengan seorang putra yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kerasnya kehidupan rupanya membuat sang istri harus pergi, dan menikah dengan pria lain. Lelaki itu tidak menyalahkan istrinya yang memilih untuk meninggalkannya, dan lelaki itu malah mendoakan hidup bahagia untuk sang mantan istri, semoga dikehidupannya sekarang ini, wanita yang pernah dicintainya itu bisa hidup lebih layak.

Sudah seminggu dapur mereka tidak berasap. Kuali dan tungku pun sudah terbengkalai di dapur yang kecil ini. Lelaki itu hanya memberikan nasi sisa kepada anaknya, yang ia dapatkan dari tempat sampah sebuah rumah makan mewah di kota. Kendati seperti itu, mereka masih bisa tersenyum dan bahagia, seakan mereka menertawakan dunia yang kejam ini.

Hanya tersisa dua lilin sebagai penerangan jika malam datang, yang akan dimatikan lelaki itu -untuk menghemat- jika putra tercintanya sudah tertidur. Setelah lilin kedua habis terpakai, maka lelaki itu akan mengikis keraknya, dan mengumpulkannya di dalam kaleng bekas susu kental, untuk kemudian dibakar, lalu dikeringkan, hingga membentuk lilin kecil yang baru. Begitu seterusnya hingga tidak ada lagi kerak yang tersisa.

“Ayah, malam ini kita tidak punya lilin lagi bukan? Lilin terakhir sudah habis kemarin malam.” Ucap si anak dengan lugunya.
Dengan nada lirih yang dikuatkan lelaki itu menjawab pertanyaan polos ankanya, “Ya, sebaiknya kau mengerjakan semua tugas sekolahmu siang ini, sementara ayah akan mencari lilin.”
“Kemana ayah hendak mencari lilin? Bukannya lilin itu dibeli?” si anak terlihat bertanya-tanya.
“Maksud ayah, ayah akan membeli lilin, dan mencari dimana tempat menjualnya.” Ujar ayahnya sambil tersenyum menahan pilu.
Si anak kemudian mengangguk tanda memahami apa yang diucapkan ayahnya.

Lelaki itu lalu melangkah keluar rumah, meninggalkan putranya yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Dia bingung, bagaimana caranya mendapatkan duit untuk membeli lilin, saat tidak ada sekeping logam pun yang tersisa. Dia sering melamar kerja di berbagai tempat, tapi tidak ada yang mau menerima orang yang tidak punya skill apapun. Waktu dihabiskannya dengan berkeliling dari satu warung ke warung lainnya, berharap ada seseorang yang dermawan yang mau menyumbangkan sebatang lilin untuk digunakannya malam ini. Tapi sepertinya orang-orang tidak peduli. Bahkan kehidupan mereka sendiri pun susah, dan tidak berada dalam posisi untuk membantu orang lain. Dia mencoba mengamen seharian di pingir jalan, tapi hanya terkumpul tiga logam yang tidak bisa ditukarkan dengan sebatang lilin.

Dengan langkah yang putus asa, lelaki itu kemudian pulang ke rumah dengan tangan kosong, bahkan dia tidak berhasil membawa sebungkus nasi sisa. Hari ini, rumah makan mewah itu-yang tempat sampahnya seperti harta karun baginya-tutup tanpa alasan. Mungkin para pelayannya mudik ke kampung halaman atau dengan alasan lain. Lelaki itu hanya pulang membawa sebungkus rasa kecewa dan sekotak kegundahan. Dia tidak mengapa jika tidak makan -dia sudah sering melaluinya- tapi anaknya butuh gizi sekalipun hanya sebagian. Dia tidak akan sanggup melihat rasa kecewa putra berharganya itu, karena dia tidak membawa apapun.

Setibanya di rumah, dia disambut pelukan hangat dari sang putra. Anaknya mengatakan jika dia tidak bisa menyelesaikan semua tugas rumahnya hari ini, dan percuma menunggu malam, karena malam ini tidak akan ada penerangan sama sekali. Dengan mata yang berkaca-kaca, lelaki itu mengatakan kepada putranya jika tidak ada makanan untuk malam ini.

“Ayah, tidak mengapa. Aku anak yang kuat. Tidak makan semalam saja tidak masalah buatku. Lagian tadi pagi di sekolah khusus anak jalanan, kak Mirza memberikan kami makanan yang banyak.” Si anak berkata sambil memeluk ayahnya yang ringkih itu.
Lelaki itu tak kuasa menahan haru, dia tidak menyangka jika kata-kata itu keluar dari mulut seorang bocah yang berumur delapan tahun, yang bahkan dengan perut kosong sekalipun, ia tetap membesarkan hati ayahnya. Lelaki itu memeluk erat putra berharganya itu. Satu-satunya harta yang tersisa yang dititipkan tuhan padanya. Tidak peduli hidup sekeras apapun, asal putranya berada di sisinya, ia akan sanggup menghancurkan kerasnya batu karang kehidupan itu.

Malam dilalui tanpa penerangan apapun, gelap, suram tak bersahabat. Langit seperti tanpa belas kasih, dan awan hitam terus saja membendung cahaya bulan. Sang putra tidur terlelap di pelukannya. Seolah tidak peduli dengan keadaan di gubuk kecil ini.

Hari pun kian larut, tapi sepertinya mata lelaki itu enggan terpejam. Dia masih memikirkan apa yang akan dilakukannya besok untuk mendapatkan uang. Tidak peduli apa pun, yang pasti dia harus membeli sebatang lilin, agar putranya bisa belajar, dan mengerjakan tugas pada malam hari. Dia memandang wajah sang putra, yang tertidur lelap di sampingnya. Berharap suatu hari nanti dia bisa memberikan kehidupan yang layak kepada anaknya itu. Dia terus memandang wajah lirih anaknya itu, hingga akhirnya ia pun terlelap.

Malam berganti pagi, putranya sudah berangkat ke sekolah khusus anak jalanan, dan lelaki itu pun memutuskan untuk keluar rumah, berharap kali ini berbeda dari hari kemarin.

Hari sudah sangat terang saat dia keluar, dan matahari terik langsung menerpa kulitnya yang keriput. Dia lalu mengamen di pinggiran jalan utama, tempat yang sama seperti kemarin. Saat lampu merah, tiba-tiba jendela kaca sebuah mobil mewah berwarna hitam terbuka sedikit, dan memberikan duit padanya, lelaki itu sangat senang menerima penghasilan pertamanya di pagi yang cerah ini.
“Terima kasih pak.” Kata lelaki itu. Dia ingin melihat wajah dermawan baik itu, tapi kemudian kaca mobil tertutup lagi.

Seharian sudah dia menghibur orang-orang yang sebenarnya tidak perlu dihibur, keringat bercucuran dari pori-pori wajahnya, dan kulitnya merah terbakar terik matahari. Sepertinya malaikat pemberi rejeki sedang berada di dekatnya. Dia mengumpulkan logam yang banyak, dan beberapa duit kertas yang didapatnya dari pria bermobil mewah tadi. Hatinya sangat gembira, hari ini dia akan sanggup membeli sebatang lilin, dan sebungkus nasi. Putranya pasti sangat senang melihat ayahnya pulang ke rumah dengan membawa lilin yang akan menerangi makan malamnya.

Kali ini, lelaki itu pulang membawa sebatang lilin, dan sebungkus nasi yang dibelinya di warung pinggiran jalan tadi. Namun langkahnya dihentikan oleh seseorang dengan pakaian compang camping, dan membawa tongkat, tidak terawat. Sepertinya dia tidak memiliki tempat tinggal.
“Tolong saya pak, saya sudah berhari-hari tidak makan,” kata pria lusu itu. “Perut saya sakit sekali.” Pengemis itu terus meminta dengan berlinangan air mata.
Lelaki itu termenung sejenak … memandang ke arah pengemis malang itu, merasa kasihan padanya, lalu memberikan nasi yang dibelinya tadi kepada pengemis itu. Tidak tahu apa yang ada di pikirian lalaki itu, di situasi seperti ini, dia bahkan rela memberikan nasi berharga yang didapatnya dari hasil mengamen. Tetapi dalam hati dia bersyukur, sesusah apa pun hidupnya, dia masih memiliki tempat tinggal sekalipun berupa gubuk, dan seorang putra yang sangat disayanginya. Sehingga dia tidak perlu hidup terlantar seperti pengemis ini.

Lelaki itu kemudian sampai di rumah, yang disambut pelukan hangat dari sang anak.
“Ayah, lihat. Aku menyisihkan makan siangku di sekolah untuk kubawa pulang. Aku tahu, ayah pasti lapar kan?” si anak lalu memberikan sekotak nasi yang penuh dengan lauk.
Tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba lelaki itu meneteskan air mata haru, dan langsung memeluk erat putranya itu. Anaknya bahkan memikirkan keadaannya. Di saat bahkan lelaki itu memberikan makan malamnya kepada pengemis tadi, tapi anaknya malah menyisihkan makan siangnya untuk ayahnya itu.

Benar-benar sebuah hal yang mengharukan. Si anak yang masih berumur delapan tahun, tapi sudah bisa berfikir layaknya seorang dewasa. Di situasi serba kekurangan ini, dia bahkan tidak mengeluh sedikitpun. Sebaliknya, si anak malah belajar dengan sangat giat. Bahkan di sekolah pun, si anak terlihat berbeda seperti anak-anak yang lain. Saat anak-anak seumurannya harus mengamen setelah pulang sekolah, si anak malah sibuk belajar. Memang, saat ini belajar tidak bisa membantu perekonomian mereka yang di ujung tanduk, belajar juga tidak bisa membeli sebungkus nasi, tapi si anak percaya, jika suatu hari nanti, akan tiba masanya dia akan bisa menggunakan kepintarannya demi meningkatkan perekonomiannya. Dia yakin bisa memberikan kehidupan yang layak pada ayahnya, dia percaya itu, dan sampai masa itu tiba, dia akan terus belajar tidak peduli sekeras apa, sekalipun hanya ditemani sebatang lilin sebagi penerang semangatnya yang tidak pernah berhenti berkobar.

Malam kembali diterangi sebatang lilin yang menyala di sudut ruangan. Terlihat si anak sedang belajar dengan giatnya di sana. Keningnya mengerut, alisnya bersatu, dan sesekali dia menggigit bibirnya tanda keseriusan. Lelaki itu memakan nasi yang tadi dibawa anaknya dari sekolah. Anaknya tidak mau ikut makan bersamanya, katanya dia sudah kenyang, karena tadi siang dia sudah makan banyak di sekolahnya.

Pagi pun tiba. Si anak sudah siap-siap hendak berangkat sekolah saat seorang tamu mengetuk pintu mereka. Belum pernah terjadi sebelumnya, ada seseorang yang ingin bertamu di rumah yang seperti gubuk ini. Lelaki itu lalu membuka pintu, dan melihat seorang pria tinggi, berwajah tampan, dan mengenakan jas, dengan rambut yang disisir rapi ke belakang. Sejenak lelaki itu terpaku, siapa gerangan pria bersih ini, ada keperluan apa dia datang ke sini, ataukah dia orang dari pemeritah yang hendak menggusur gubuk mereka? Tiba-tiba beberapa pria berseragam masuk menerobos rumah mereka, si anak kelihatan takut, dan berlari memeluk ayahnya.
“Tidak mengapa,” kata pria rapi itu menghibur si anak. “Mereka tidak akan menyakitimu.”

Pria rapi itu lalu memberikan keranjang yang penuh dengan buah-buahan segar, dan juga menyodorkan sebuah amplop ke pada lelaki itu.
“Mungkin ini tidak seberapa pak, tapi pergunakan dengan bijak untuk biaya kehidupan kalian sehari-hari, dan juga buah-buahan ini baik untuk anak bapak. Dia membutuhkan gizi untuk pertumbuhannya.” pria itu menggenggam tangan lelaki yang lusuh itu, dan menatap dalam-dalam ke arah matanya.
Seperti tidak percaya dengan apa yang baru terjadi, lelaki itu terlihat bingung dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Mereka akan memasang arus listrik ke rumah bapak,” pria itu melanjutkan dengan menunjuk orang-orang berseragam yang tadi masuk tanpa izin ke rumahnya. “Jadi bapak tidak perlu lagi merasakan gelapnya malam, dan anak bapak akan belajar efektif dengan penerangan baru.”

Setelah pekerjaan orang-orang berseragam tadi selesai, mereka lalu beranjak pergi, pria rapi itu pun pamit dan melangkah menjauh,
“Terima kasih atas semuanya, semoga tuhan membalas kebaikanmu” teriak lelaki itu dari kejahuan. “Tapi kau siapa?”
Pria itu pun berkata sambil tersenyum, “Anggap saja aku keajaiban yang sudah lama kalian tunggu-tunggu.”
Lelaki itu langsung menangis haru. Siapa gerangan pria dermawan ini. Tapi siapa pun ia, kebaikan hatinya telah membuat perubahan besar pada hidup lelaki miskin itu.

Saat ini, semua ruangan sudah dipenuhi cahaya lampu pijar, tungku yang sudah berkerak kini diganti dengan sebuah kompor gas, di ruang tamu sendiri sudah berdiri sebuah kipas angin. Lelaki itu lalu membuka amplop yang tadi diberikan pria itu padanya. Betapa terkejutnya dia melihat isi amplop itu. Uang yang sangat banyak, cukup banyak untuk mencukupi kebutuhan mereka untuk beberapa bulan kedepan. Si anak terlihat sangat senang, dan langsung memeluk ayahnya. Lelaki itu balik memeluk anaknya, dan berpikir dalam hati, jika mereka tidak akan kekurangan lagi untuk sekarang. Lelaki itu pun berjanji jika dia akan mencari pekerjaan yang lebih layak, dia akan terus berusaha meskipun harus menerima kenyataan pahit penolakan.

Pria rapi itu melangkah masuk ke dalam mobil hitam mewah, dia terlihat sangat senang, dan sesekali air mata jatuh dari pipinya yang mulus.
“Mengapa bapak harus menghabiskan uang untuk orang yang tidak bapak kenal?” tanya supirnya.
“Well, siapa bilang aku tidak mengenalnya?” balas pria rapi itu. “Aku sering melihatnya memungut nasi sisa di tempat sampah restoranku, awalnya aku pikir dia hanya pengemis yang kelaparan, hingga aku melihatnya mengamen di jalan utama. Saat itu matahari sangat terik, dan dia kelihatan sangat senang saat aku memberikannya uang.”
“Yah, baiklah. Tapi bapak juga tidak perlu menyamar jadi pengemis menyedihkan, dan meminta nasinya kan?” ucap supir itu sambil tersenyum. “Orang lain akan mengira bapak pengemis sungguhan, penampilan bapak kemarin benar-benar meyakinkan.”
“Mungkin itu memang tidak perlu, tapi aku hanya ingin melihat orang seperti apa dia, maukah dia memberikan nasi yang sudah didapatnya dengan susah payah kepada pengemis yang dia temui di jalan.”
“Oh iya, satu lagi,” pria itu menambahkan. “Besok panggil lelaki itu, katakan padanya dia diterima bekerja di restoranku, tapi dia jangan sampai tahu jika aku pemilik restoran itu, kau paham?” dia berkata sambil memasang sabuk pengamannya.
“Baik pak.” Jawab supirnya.

Mereka lalu pergi beranjak dari komplek kumuh itu, dan kembali ke jalan utama.

Cerpen Karangan: Nugibara
Blog: Mozaickata.wordpress.com

Cerpen Sebatang Lilin Kehidupan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Mamah Pindah Ke Mataku

Oleh:
Ada seorang anak perempuan yang sangat suka memainkan alat musik. Alat musik tersebut gitar dan piano. Anak itu sangat pintar memainkannya. Tapi tuhan memang adil, dalam kelebihannya bermain alat

Adikku Yang “Istimewa” (Part III)

Oleh:
WHEN IPUNG FALLIN’ LOVE Ipung dan cinta, hmm….rumit dan complicated, aku tak tahu harus mulai dari mana kawan. Antara ipung dan cinta, terlalu banyak ironi, kejutan-kejutan, dan…..aib. mari kuceritakan

Ketinggalan

Oleh:
Pada hari minggu, Fika menemani mamanya ke pasar kecil di sebuah gang. Dari rumahnya menuju ke pasar tersebut mungkin sekitar 2 km sehingga Fika dan mamanya menggunakan motor. Saat

Inner Beauty

Oleh:
Sekali lagi Novi memandangi diri nya di depan cermin. Lalu mata nya menatap poster Britney Spears yang sedang tertawa. “Aku harus bisa! Aku ngak mau punya badan seperti ini

Laksana Pengembara yang Tersesat

Oleh:
Semilir angin menampar wajahku. Rerimbunan pohon akasia dan sepasang merpati dara menatapku lekat seolah ingin bertanya, siapakah anak itu? Mengapa anak lugu seperti dia tiap senja selalu di sini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Sebatang Lilin Kehidupan”

  1. moderator says:

    Ahhh… another heart touching stories…

    Thanks nugi, 2 cerpen terakhir ini ga kalah istimewa seperti cerpen cerpen sebelumnya…

    ~ Mod N

  2. dinbel says:

    kerens sekali cerpen nya. good job deh pokonya.

  3. Rofhyk says:

    Apa tema cerpen di atas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *