Sebelum Habis Masa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 December 2012

Kabut hitam tebal berfose di angkasa sang pencipta. Udara dingin merasuk menembus pori-pori kulit keriput yang menyimpan seribu sejarah. Gubuk sederhana menjadi saksi bisu sandiwara kehidupan. Yang terkadang ada tawa bahagia dan terkadang ada duka nestapa.

“Kreeeeek,,,,pagi yang mendung, semoga semangat kita tak akan pernah mendung” Harap seorang janda tua dibalik bilik.
“Ya mak,,,,semoga hari ini menjadi lebih baik dari hari-hari yang sebelumnya” Sahut seorang gadis remaja yang tengah asyik menata kue dagangannya. Ya sebut saja tanti. Tanti adalah seorang gadis remaja yang pantang menyerah. Meski dia hanya tinggal bersama ibu dan adiknya yang bernama tio. Tanti sudah merasa bersyukur dan bahagia. Setidaknya ia merasa bahagia masih mempunyai keluarga dan tempat tinggal. Meski tak semewah hotel berbintang tapi tanti selalu menanamkan “Baiti Jannati” seperti yang diajarkan oleh baginda nabi SAW.

“Tanti,..” dengan gugup tanti melangkah ke depan kelas. Jantungya berdebar hebat bagaikan pacuan kuda. “Selamat ya!!! Terus semangat dan terus tingkatkan prestasimu” ucap bu Diana guru fisika tanti. Tanti mengulumkan senyum. “Trimakasih ya ALLOH ,,, semoga hamba bisa menjadi lebih baik lagi” gumam tanti dalam hati.

Tanti memang bukan berasal dari keluarga yang berada.Tapi niat yang terpatri dalam benaknya begitu kuat. Tinggal menghitung bulan lagi tanti akan menghadapi Ujian akhir nasional. Beban berat yang kini di pikulnya. Bukan masalah mata pelajaran yang diujikan tapi masalah biaya ujian. Tentu saja bukan biaya ujian tanti karena tanti telah mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Tapi tio adik tanti yang sekarang duduk dikelas 3 smp tak seberuntung tanti. Tio memang bukan anak yang malas. Tapi kemampuannya dalam mengingat materi pelajaran memang tak sepeka ingatan tanti.

Sore itu hujan begitu lebat. Atap rumah tanti yang bocor seakan telah mengizinkan air hujan menerobosnya.
“Huk…huk….huk…huk.huk..bruuuuuaaaaaak” tubuh kurus itu tergeletak lemas di atas lantai.
“Maaaaaaak…mak kenapa mak….hikz..hikz..hikz” teriakkan histeris tanti dan adiknya beradu dengan suara Guntur hujan.
“Tolooooooooooong….mak sabar mak…” digoyang-goyangkannya tubuh emaknya.
“Maaak,,,,mak kenapa mak???” Tio tak mau tinggal diam. Dia segera berlari keluar mencari bantuan. Meski tanti melarangnya karena hujan yang masih lebat tapi tio tetap melangkah dan tak menghiraukan tanti.
“Nduuk,,manusia itu tidak ada yang kekal. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Ma’afkan semua salah emak jika untuk esok dan seterusnya emak tidak bisa menemanimu. Jadilah ibu dan bapak bagi adikmu. Emak tau ini akan menjadi beban beratmu. Ma-ma-ma’aff kan e-e-emak nduk,, LA-I-LA-HA-ILLALLAAAH MU-HAM-MADUR-ROSULULLAAH” Perlahan kelopak mata emak mengatup.

“EEEMMAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaak………………….ya Alloooh..emaaak….in-nalillahii ,,hikz-hikz-hikz,,wa-innaillaihi roji’un…” tanti memeluk tubuh emaknya erat-erat.Berharap ini semua hanya mimpi buruk baginya. Dilihatnya diluar rumah adiknya berlari munuju rumah mereka.
“Mbak tanti……. A yo kita bawa emak kerum ah sakit,aku sudah minta tolong P.Ahmad”Ucap tio terengah-engah.
“Tidak perlu tio.Emak sudah berpulang kepangkuanNYA,” hati tio tersentak mendengar bahwa emaknya telah meninggal.Tubuh tio menggigil.diselonjorkannya kakinya dilantai.”Innalillahi wainnailaihi raji’un……”

Selang beberapa bulan setelah kematian ibunya , tanti terus berusaha memendam mimipinya untuk dapat melanjutkan menimba ilmu ke perguruan tinggi. Dan pagi itu dia mendengar kabar bahagia namun menyesakkan hatinya.
“Duuuooor,,,nglamun ya kak ,,” getak tio mengagetkan tanti.
“ihhh,,,kamu ini yo ,,kebiasa’an dech,,”
“Ada apa sih kak ? cerita doonk …jangan anggap tio kaya orang laen ..”
“ehmmm,,,gini yo,,,kakak kan ikut snmptn di UI dan hari ini pengumumanya , dan,,,” tanti diam sejenak. “kakak diterima menjadi mahasiswi UI yo,,” tanti tertunduk menahan tangis.
“trus kenapa kakak sedih ? harusnya kan kakak bahagia”
“tapi kalau kakak kuliah beban hidup kita pasti bertambah, dan tio kan juga masih SMA”
“Kak (tio menatap kakaknya tajam), Kak sa’at pemakaman ibu tio telah berjanji didepan makam ibu kalau tio akan berusaha memberikan yang terbaik.masalah biaya dan kebutuhan hidup tio yang akan menanggungnya.”
“tapikan kakak ini yang lebih punya tanggung jawab tio…”
“kak,,tio ini anak laki-laki dan didunia ini wanita kedua yg paling tio sayang setelah ibu adalah kakak…tio akan bekerja keras untuk biaya kakak kuliah dan untuk biaya tio sekolah. kakak tenang saja tio tidak akan putus sekolah. karena kakak adalah semangat terbesar untuk tio”

Tanti hanya diam. Air matanya seakan tak ingin berhenti mengalir. Bukan air mata kepedihan, namun air mata bahagia.Tanti bersyukur memiliki seorang adik yang begitu menyayanginya.Ia peluk adiknya “tio,,,biar bagaimanapun tio gak boleh kerja keras sendirian. sekarang kita hanya berdua. jadi susah senang harus ditanggung bersama. tio kerja keras, kakakpun akan kerja keras. kita berjuang bersama yo”
Tio tersenyum dan berbisik “sebelum habis masa aku akan selalu menjaga kakak dan melakukan yang terbaik untuk kakak..”

…THE END…

Cerpen Karangan: Faddilatusolikah
Facebook: fadilatus sholikhah
Alamat: Kromengan, malang
TLf: 085748790625
Hobi: membaca dan menulis cerpen
Pndidikan: UIN Maliki Malang
Cita”: Bermanfaat untuk orang lain

Cerpen Sebelum Habis Masa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Seorang Ibu

Oleh:
Ibu tua itu sedang berjalan menelusuri setiap rumah yang berjajar rapi di suatu perumahan, dia memakai daster yang sederhana dibalut dengan kerudung yang biasa dan membawa sebuah tas seperti

Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

Makna Sebuah Coretan Bagi Seorang Anak

Oleh:
Kembali ke rumah merupakan ritual setiap hari yang menyenangkan bagi seorang ayah sepertiku. Berkumpul bersama anak dan istri serta merasakan nyamannya rumah kami. Rumahku terletak di pinggiran kota Bandung,

Naskah Kehidupan

Oleh:
Orang bilang hidup itu singkat sekali, hari ini sedih esoknya bahagia. Hari ini bangga esoknya kecewa. Sudahlah, ini sudah naskah kehidupan. Jalani saja dengan ikhlas. Aku adalah salah satu

Ibuku Cintaku

Oleh:
Pagi hari itu burung burung berkicau dengan suara indah, ayam berkokok, ibukku membangunkanku dari mimpiku, bintang yang masih TK ini mulet mulet seperti masih ingin tidur. Saat persiapan sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *