Sebidang Tanah Warisan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 7 October 2018

Pagi ini terasa damai, bebas dan tentunya menyenangkan. 10-06-2017 Liburan pesantren sudah dimulai, ratusan angkutan umum ribuan santri berlalu-lalang memenuhi jalanan.

Tepat jam 08.12 wib, aku sampai di gerbang utama pesantren, mencari-cari angkutan umum nomor 03. lalu aku masuk angkutan tersebut, kurang lebih 3 jam sampailah aku di gubug sederhana orangtuaku.

Liburan yang kuharapkan tersenyum gembira terhapuskan oleh pertengkaran kedua pamanku, hanya permasalahan sepele merebutkan secuil tanah warisan.
Masuklah kedua hero tersebut di dalam arena tempur, yaa.. aku beri nama arena tempur itu coloseum. Ribuan mata harus memandang dengan pandangan yang berbedaa-beda, menonton dua hero saling tempur merebutkan sehelai kertas keputusan.

Orang tua kedua hero nenangis menggeru-geru didalam kubur, mendengar berita anaknya bertempur di colesseum, hanya gara-gara merebutkan harta tinggalanya.

Ibu bapaku menangis ketakutan melihat kedua adiknya bertempur. Masyarakat menanti-nanti berita siapakah yang akan dibela oleh lelaki berkaca mata itu (hakim). Aku toleh kanan toleh kiri tidak mengerti tentang kejadian semua ini.
Sorak-sorak penonton membuat suasana semakin tegang. Kedua hero saling adu argumen untuk membuat dirinya menang.
Pertempuranpun berakhir, akan tetapi surat keputusan tidak juga diturunkan oleh lelaki berkaca mata itu.

Dan tak kusangka, tidak puas dia bertempur di colosseum. diteruskanya bertempur di belakang rumah, tidak hanya besenjatakan argumen, tapi bersenjatakan senjata tajam. Pertempuran belakang rumah berakhir dengan nilai 1-0, sang adik memenangkan pertempuran itu, akan tetapi malangnya nasib si kakak yang harus melepaskan nyawanya terbang dibawa malaikat maut.

“Hanya persoalan sebidang tanah warisan, kau bunuh kakakmu sendiri”, ucapan dari pak polisi yang duduk manis di depan komputer.

Cerpen Karangan: Asif Saifulloh
Blog / Facebook: Saifulloh

Cerpen Sebidang Tanah Warisan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Disiksa Pacarku

Oleh:
“Wi, aku sudah terlanjur mencintainya. Aku gak bisa ngelepasin dia begitu aja” ucap temanku Nisa di dalam pesan singkat yang kubaca di layar handphone ku. Aku berusaha meyakinkan dia

Si Kecil

Oleh:
Hari ini, semua terasa sama, tak ada yang berbeda, dunia masih berputar seperti biasa, matahari masih tersenyum seperti biasa, bulan selalu menyinari hari hari seperti biasa. dan dia, masih

Tempat Bercerita

Oleh:
“Anda tidak perlu repot. Saya sudah sangat paham tentang hal itu. Anda tahu saya sangat senang bercerita.” Lelaki berjaket cokelat musim dingin itu meletakkan lilac grape coffee-nya pada sebuah

Belenggu Tabir Kepalsuan

Oleh:
Jejak hujan masih membekas remang di antara rumput dan dedaunan. Helai daun yang gugur menyimpan sajak-sajak kepedihan. Nyiur melambai masih menyisakan gerimis di daun jendela. Menyingkap resah dalam hulu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *