Sebuah Buku Pengantar Masa Depan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 March 2016

Aku ingat saat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahku. Mobil itu merupakan pemilik dari salah satu warga perumahan yang dianggap sebagai orang yang memiliki perusahaan terbesar di Indonesia. Ia berdiri dengan gagahnya memakai pakaian khas orang kantoran. Ku lihat orang itu menghampiri rumah kecilku dengan membawa sebuah buku berwarna merah hati. Aku seperti mengenal buku itu. Iya, itu adalah buku milikku.

“Assalamualaikum..” kata orang itu di depan rumahku.
“Waalaikumsallam” jawabku dalam hati.
Aku masih di tempatku berdiri sedari tadi. Tidak beranjak sama sekali. Lalu ku lihat ibuku membukakan pintu untuk orang itu. “Loh, tuan. Ada perlu apa?” kata ibuku kepada orang itu. Dilihat dari cara bicara ibuku kepada orang itu, ku simpulkan bahwa orang itu adalah majikan ibuku.

Ibuku mempersilakan ia masuk ke dalam rumahku. Aku pun langsung berlari menuju kamarku dan mulai mendengarkan pembicaraan mereka berdua dari kamarku. Memang sepertinya tidak sopan. Hanya saja aku begitu penasaran, ada apa pengusaha besar seperti itu datang ke rumah kecilku dan membawa buku milikku yang ku cari-cari dari beberapa hari yang lalu? Buku berwarna merah hati itu memang sempat hilang beberapa hari yang lalu. Setahuku, buku itu masih ada sebelum aku berkunjung ke rumah majikan ibuku. Aku sempat mencari-carinya ke mana-mana namun belum juga ku temui. Dan ternyata buku itu ada pada tuan rumah majikan ibuku. Oh syukurlah, berarti buku itu tidak hilang. Hanya tertinggal di rumah majikan ibuku. Kalau sampai hilang, mungkin hidupku akan terasa hampa. Aku tahu mungkin ini terlalu berlebihan. Tapi, ketahuilah bahwa hanya di buku itu aku bisa berbicara. Hanya di buku itu, ku temukan duniaku. Sayup-sayup ku dengarkan percakapan ibuku dengan majikannya di ruang tamu rumahku.

“Jadi apa maksud kedatangan tuan ke sini?” tanya ibuku dengan nada sopan.
“Saya ingin bertemu dengan anak Mbak Sun,” jawab majikan ibuku.
“Anakku? Ada perlu apa ya tuan?” tanya ibuku lagi.
“Bisa tolong panggilkan?” perintah majikan ibuku itu.
“Iya sebentar ya tuan,” kata ibuku lalu langsung menghampiri aku yang ada di kamar.
Aku terperanjat saat ibuku tiba-tiba membuka pintu kamarku. “Ada apa?” kataku tanpa suara. Ku lihat ibuku memperhatikan gerak bibirku dan mengerti apa yang ku ucapkan barusan.

8 tahun lalu, pita suaraku bermasalah sehingga mengharuskan aku untuk melakukan operasi. Namun karena keadaan ekonomi keluargaku yang cukup sulit, operasi itu pun hanya ada di angan-angan saja. Sempat ibuku menawarkan padaku untuk melakukan operasi itu, namun di umurku yang baru 10 tahun itu aku sudah cukup mengerti betapa kerasnya ibu bekerja untuk membiayai hidupku dan bapakku yang sedang sakit waktu itu. Jadi aku menolak tawaran ibuku. “Lebih baik uang itu untuk beli obat bapak, Bu.” kataku waktu itu. Satu minggu setelah penolakan itu, aku mulai merasakan keadaan yang tidak biasa pada diriku. Aku kehilangan suaraku. Kata dokter, pita suaraku sudah rusak akibat tidak dioperasi waktu itu. Seperti halnya bintang yang hilang di kegelapan malam. Aku pun seperti itu.

Aku kehilangan harapan. Harapan tentang cita-citaku untuk menjadi seorang penyanyi. Aku sempat menyesal karena penolakanku waktu itu. Namun rasa penyesalan itu hilang saat ku lihat kesembuhan bapakku. Meski satu bulan setelah itu, bapakku meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang merenggut nyawa bapakku. Sedih memang saat ku sadari bahwa aku tidak hanya kehilangan suaraku. Tapi aku juga kehilangan cita-citaku dan salah satu orang yang ku sayang, yaitu bapakku. Sempat aku berpikir bahwa Tuhan memperlakukanku sangat tidak adil. Tuhan memberikanku cobaan secara terus menerus. Hidup dengan ekonomi yang sulit, kehilangan suaraku sekaligus impianku, dan sekarang kehilangan bapakku. Apalagi setelah ini ya Tuhan? Setelah itu, aku seperti menjadi diriku yang lain. Kalau dahulu aku sering bercerita banyak hal pada orangtuaku. Namun sekarang, jangankan untuk bercerita banyak hal. Mengeluarkan satu kata pun aku tak sanggup.

“Ayo ke depan! Pak Gunawan ingin bertemu dengan kamu,” kata ibuku sambil meraih pergelangan tanganku lalu membawaku ke hadapan Pak Gunawan. Aku pun bersalaman dengan Pak Gunawan lalu duduk di samping ibuku.
“Kamu yang bernama Annisa?” tanya Pak Gunawan padaku. Aku mengangguk ragu.
“Apa ini bukumu?” tanya Pak Gunawan sambil mengangkat buku merah hati milikku. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Toh, apa lagi yang bisa ku lakukan untuk meng-iyakan pertanyaan Pak Gunawan selain mengangguk? “Sejak kapan kamu mulai menulis di buku ini?” tanya Pak Gunawan lagi. Aku mengalihkan pandangan ke arah ibuku dan menatapnya dengan tatapan bingung.

Aku jadi teringat masa kelulusanku di sekolah menengah pertama dahulu. Wali kelasku, Ibu Irna, memberikan sebuah buku berwarna merah hati sebagai hadiah karena aku mendapat peringkat satu di sekolah. Buku itu sengaja diberikan bu Irna mengingat aku yang tak bisa bicara. “Ini untuk kamu. Mulai sekarang, berbicaralah melalui buku ini. Memang harganya tidak seberapa, tapi Ibu berharap buku ini bisa menjadi pendatang masa depan untukmu.” kata bu Irna sewaktu hari kelulusanku. Dan semenjak saat itu aku mulai banyak menuliskan apa yang ada di pikiranku di buku itu. Aku suka menulis puisi, cerpen, pantun, bahkan menulis lirik lagu ciptaanku sendiri dan lirik lagu yang dahulu selalu ku nyanyikan sebelum aku tidak bisa bicara. Buku itu cukup tebal. Jadi cukup untukku menulis selama 3 tahun belakangan ini.

Ibuku sepertinya mengerti arti tatapanku itu, lalu mulai berbicara pada Pak Gunawan. “Sejak lulus SMP tuan,” kata ibuku. “Loh, kenapa tidak Annisa saja yang menjawab?” tanya Pak Gunawan bingung. Sekarang gantian ibu yang menatap bingung ke arahku. Namun tidak lama ibuku mengalihkan tatapannya ke arah Pak Gunawan lagi.
“Pita suara Annisa sudah tidak berfungsi sejak 10 tahun yang lalu,” kata ibuku pelan. Aku hanya menunduk mendengar pernyataan ibu barusan.
“Oh begitu rupanya,” kata Pak Gunawan santai. Beda dari perkiraanku. Ku pikir majikan ibuku ini akan kaget setelah mendengar pernyataan ibu barusan, tapi ternyata biasa saja. “Jadi maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk mengembalikkan buku ini,” Pak Gunawan menyodorkan buku merah hati itu ke arahku.
“Loh, kok tuan repot-repot ngasih ke sini? Kan bisa saya ambil toh di rumah tuan besok.” jawab ibuku.

“Bukan hanya itu Mbak Sun. Sebelumnya maaf kalau saya lancang. Tapi saya sudah melihat semua isi dari buku itu dan saya sangat tertarik. Saya tidak menyangka bahwa Mbak Sun mempunyai anak yang sangat berbakat. Jadi saya menawarkan Annisa untuk menjadi redaktur di perusahaan saya. Dan semua karyanya yang ada di buku ini akan saya terbitkan di majalah saya. Perusahaan saya sedang membutuhkan redaksi seperti Annisa ini,” jelas Pak Gunawan panjang lebar. Aku kaget. Begitu pun ibuku. Setelah mendengar maksud kedatangan Pak Gunawan ke sini, aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap ke arah Pak Gunawan. Tanpa sadar mulutku menggerakkan kata ‘Serius?’. Pak Gunawan yang sepertinya mengerti gerakan bibirku pun mengangguk yakin.

“Tuan serius ingin menjadikan Annisa sebagai redaktur di perusahaan tuan?” tambah ibuku.
“Iya Mbak Sun,” jawab Pak Gunawan pada ibuku. “Mulai hari senin Annisa sudah mulai bekerja ya. Karena Annisa baru bekerja, jadi kamu berangkat dengan saya ya,” kata Pak Gunawan padaku. Aku hanya mengangguk mengerti dan langsung menghampiri Pak Gunawan lalu menyalami tangannya berkali-kali sebagai tanda bahwa aku sangat berterima kasih kepadanya.

Dan semenjak hari itu, aku bukanlah lagi gadis kampung bisu yang hanya berdiam diri di rumah. Kini aku menjadi redaktur majalah di perusahaan Pak Gunawan. Berangkat kerja, bergaul dengan banyak teman, dan lebih bersosialisasi. Penghasilanku pun lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan aku dan ibuku. Tapi sampai sekarang ibuku masih bekerja menjadi asisten rumah tangga di keluarga Pak Gunawan. Hitung-hitung sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Pak Gunawan karena beliau mempunyai andil dalam kesuksesanku saat ini.

Selain itu, aku juga menjadi salah satu novelis best seller di Singapore, Australia, dan Perancis. Terlebih lagi lirik lagu ciptaanku kini banyak dinyanyikan oleh penyanyi terkenal di Indonesia. Mereka sering menyebutku sebagai ‘Penyanyi Tanpa Suara’. Kini aku sangat berterima kasih pada Tuhan atas segala kekurangan yang ku miliki. Mungkin saja jika sejak dahulu aku bisa bicara, mungkin bu Irna tidak akan memberikanku buku merah hati itu, dan mungkin Pak Gunawan tidak akan menemukan itu di rumahnya. Sekarang aku tahu, pasti ada hikmah di balik cobaan. Pasti ada kelebihan dari setiap kekurangan. Seperti halnya mentari, aku ingin bersinar. Seperti halnya bunga, aku ingin harum. Seperti halnya pohon yang tumbuh di tengah gurun. Aku ingin bersinar, aku ingin harum, aku ingin tumbuh dengan segala kekurangan yang melekat pada diriku.

The End

Cerpen Karangan: Silvia Sakinah
Facebook: www.facebook.com/silvia.vivi.102
Ig: silvia.sakinah

Cerpen Sebuah Buku Pengantar Masa Depan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Women, Gossip & Reality (Part 2)

Oleh:
Amel dan Ocha masih menatap tajam wajah Vira, sepertinya mereka berdua mengharapkan penjelasan mengenai perkataan yang keluar dari mulut Maike tadi. Vira tersenyum lalu ia menatap Lila, tidak lama

Impian

Oleh:
Ini adalah kisah dari seorang gadis lugu yang mempunyai sejuta impian di dalam dirinya, namanya Zahra setiap menjelang fajar menyingsing dari balik gelapnya malam ia sudah siap dengan sekeranjang

Cerita 20 Tahun

Oleh:
20 Tahun. Dimana kita lagi seru serunya ketemu temen baru, suasana baru, tempat baru yang belum pernah kita temuin, tanggung jawab sama kerjaan, tugas tugas numpuk yang bikin tidur

Janin

Oleh:
Cemas. Resah dan gelisah. Itulah yang sedang dialami oleh Mirna, istri Solihun. Setelah melahirkan anak pertamanya sejam lalu, ia belum sadar seutuhnya. Kondisi badannya masih sangat lemas bahkan hampir

My Family

Oleh:
Usia Ku udh hampir 18tahun, sekarang aku dUduk di bangku kuliah (MABA). Aku adalah anak pertama dari dua berSaudara. Aku memiliki adik Laki-laki usianYa 13 tahun dan dia duduk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *