Sebuah Cake

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 2 June 2012

Menjadi kuat itu tak semudah bayangan, tak seindah keinginan, tapi seperti membuat sebuah cake yang hasilnya manis atau mungkin gosong dan bisa saja tetap menjadi bahan dasar. Filosofi manusia dalam sebuah cake adalah seperti telur, yang bisa dikocok agar mengembang, kemudian diaduk dan dicampur tepung, ditambah margarine yang telah dipanaskan, menggeliat dalam hujan kegelisahan dan kepanasan ketika disudutkan oleh banyak pihak. Diaduk terus sampai kelihatan mantap untuk kemudian sedikit demi sedikit diberi gula, agar air mata yang telah tumpah tidak terlalu membuat cake menjadi asin, tapi malah menimbulkan kesan gurih, perpaduan antara gula dan garam.

Setelah semua dirasa cukup, cake dimasukkan kedalam oven, bisa 30 hingga 45 menit, agar semua bagian cake masak merata. Jika tidak merata, apa salahnya kembali memutar cooking time selama yang diperlukan, jika masih belum masak, buang saja. Seperti cobaan manusia yang tiada habis, takkan berhenti hingga matang, bahkan setelah matang harus terasa memuaskan lidah sebelum akhirnya dimakan habis habis atau mungkin teronggok di balik keranjang sampah, kemudian dimakan oleh pengemis jalanan yang tak mandi selama 3 hari 3 malam, sambil berguman
“baru hari ini makan enak”

Sisa cake itu tetap dipeluk mesra, agar besok masih ada makanan yang mengganjal perutnya jika tak ada yang memberi sepeser uang receh.
Pengemis lelah berjalan, dan meletakkan sisa cake di samping tubuhnya yang ringkih, beralaskan tanah bumi segar, untuk sekedar meratakan pinggang. Tanpa disadari pengemis, seekor kucing mengendus cake, namun kucing pun berlalu. Seperti itu juga manusia, tak semua orang yang berada di sisinya selamanya dapat menjadi penggemarnya, ataupun penopang hidupnya. Pengemis juga manusia, butuh tidur dan makan, ketika pengemis tidur, cake teronggok diam karena tak sempat mengolah kaki waktu berada di oven. Binatang saja mudah lari darinya, karena paras cake tak seperti ikan, tak memuaskan dahaga kucing. Sama seperti manusia, ketika sudah tak memuaskan, akan dibuang, atau ditinggalkan.

Pengemis bangun kesiangan, terlambat masang tampang diperempatan, sehingga didahului oleh pengemis lain yang lebih memelas ditambah membawa bayi dan balita. Pengemis kalah. Tanpa sadar, cake semalam terinjak oleh kakinya, tanpa disadarinya pula. Pengemis lupa memiliki jatah sarapannya. Cake malang. Sudah bau akibat terinjak, sekarang penyet seperti bongkahan kotoran. Begitu juga kehidupan manusia, awalnya disayang, diberi perhatian dan perlindungan. Tapi jangan lupa, sama sama manusia. Masing masing punya kepentingan dalam hidup. Sama sama merasa dikerjar waktu, ditekan oleh ambisi, sehingga mampu meninggalkan yang dicintai. Dan bahkan lupa, bahwa pernah memiliki yang dicintai.
Cake bisa apa, menangis pun tak punya mata, ingin berteriak, mulut pun tak terbentuk, mau menggapai, tangan yang mana. Apalagi hendak berjalan, kaki saja mungkin cake tak kenal bentuknya.

Cake hanya sebuah hasil, dari kocokan telur, mengembang dan diberi tepung dan margarine, dengan harapan akan kuat namun lembut. Tak lupa ditaburi gula, agar merasakan senang dan pahit. Kemudian dibakar dalam panas yang seimbang. Cake adalah campuran, dari semangat, tekad, kerja keras, cinta, dan doa serta harapan si pembuat, agar menjadi cake yang sedap dimulut, indah bentuk dan rupanya, menawan dalam hidangan. Menjadi ratu yang menarik perhatian dari semua orang, hingga menaikkan dagu setinggi 5 inci.
Cake dijalan itu bukan cake yang diharapkan sang pembuat. Teronggok jelek dijalan, terinjak dan ditinggalkan.

Tapi cake masih punya satu harapan, satu jalan, dan satu perhatian. Si Pembuat cake masih mengharap cake kembali padaNya, karena Pembuat Cake mampu melakukan segalanya, bahkan mengembalikan kemulian sebuah cake, karena si Pembuat cake, adalah Sang Koki jagat raya.

Cerpen Sebuah Cake merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau tak Sendiri

Oleh:
Apakah diantara kalian ada yang pernah membayangkan yang akan terjadi pada diri kalian begitu hari berganti? Aku rasa kalian pernah membayangkannya, tapi hasilnya berbeda jauh dengan apa yang kalian

Taruhan Cinta

Oleh:
Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh

Sang Jazzy

Oleh:
Mr. Vyord melemparkan gulungan kertas ke atas meja, tepat di depanku. Sebelum laki-laki paruh baya itu berbicara, aku sudah tahu masalahnya. Kugigit kuku jari jempol tanpa menatapnya, tanpa ada

Berguna

Oleh:
“Aku tak mengerti mengapa aku tak dapat menjadi orang yang berguna”. Keluh Dian Anin hanya tersenyum seraya menatap Dian, dari tadi ia hanya menanggapi semua keluhan dian dengan senyuman.

Blur

Oleh:
Mencari nafkah, setiap orang pasti harus melakukan hal itu untuk bertahan hidup, paling tidak untuk menghidupi dirinya sendiri agar tidak mati kelaparan. Sama seperti yang aku dan orang lain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *