Sebuah Cerita Dari Ujung Langit Abu Abu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 January 2015

Sebuah cerita anak manusia yang diawali dari langit berwajah abu-abu, ditemani matahari yang seakan sedang menunjukan diri untuk menjadi yang terkuat dan disaksikan banyak pasang mata dari penghuni bumi. Seperti sebuah pesta penyambutan, hari ini alam seakan damai, bunga mulai bermekaran dan burung bersiul gembira meski langit terlihat memperingatkan akan adanya hujan yang turun.
Seorang bayi perempuan telah lahir, bayi itu berwarna merah ketika pertama kali hadir menjadi penghuni bumi. Matanya masih tidak sanggup melihat dengan jelas dan hanya suara tangisan yang mampu ia berikan untuk ibu.

Matahari semakin meninggi saat bayi perempuan nan cantik itu dipindahkan ke ruang khusus. Ibu masih menangis bahkan semakin keras saat dokter mengatakan bayi kecilnya mengalami kelainan jantung. Kesedihan ibu tersahut dengan hujan yang turun saat itu, hujan turun sangat deras padahal matahari masih berdiri bersinar.

“aku bilang itu percuma, lihatlah wanita itu menangis sedih dan kita pasti sudah tahu apa kelanjutannya” suara langit pada matahari.
“aku hanya berusaha membuatnya percaya bahwa ketidakmungkinan itu tidak berlaku lagi dan aku hanya ingin menyambut bayi cantik itu lahir ke dunia” suara matahari penuh harap
“saat anak manusia lahir, kami di bumi melakukan penyambutan. Tapi kami hanya mahluk alam yang sudah hafal apa yang akan dilakukan manusia ketika mendapati anugerah mereka berbeda. Kami diam dan melihat seperti penonton atas drama yang mereka buat.” suara alam

Nenek memaksa ayah untuk segera melakukan tindakan entah tindakan itu berupa “membuang” atau “memberikan” bayi kecil itu yang jelas nenek tidak mau menerima jika cucunya harus mengalami kelainan.
“berfikirlah yang real, lihat apa yang akan terjadi pada keluarga mu nanti. Kamu hanya akan mendapat belas kasihan dan nantinya kamu akan mengalami kesusahan atas penyakitnya” suara nenek terdengar penuh ancaman.
Ayah menjadi seperti orang yang depresi, air mata keluar dari kedua matanya dan ia hanya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.

“pertama, mereka akan dihadapkan pada kenyataan yang sulit untuk segera membuat keputusan dan kami tetap menonton awal dari sebuah cerita hidup anak manusia” -suara alam

Ibu masih menangis, ia tahu kalau keadaan putrinya dalam bahaya. Bahaya akan kesehatannya dan bahaya akan keadaan nya karena ibu mertuanya terlihat sangat membenci kelahiran anaknya kini.
“apa yang akan kita lakukan yah” suara ibu terdengar bergetar ketika melihat suaminya datang.
“maaf tapi aku bukan ayah yang baik” ucap ayah dengan frustasi dan ibu menangis dengan sangat kuat saat mendengar nya

Selama 3 hari ibu hanya bisa menangis, ia tak menyentuh makanannya hingga keadaan ibu memburuk dan terpaksa masuk ruang gawat darurat. Semua suster yang ada di rumah sakit itu terlihat khawatir, entah apa yang membuat mereka khawatir karena mereka merasakan perasaan itu begitu saja.

Bayi mungil itu masih tertidur di tabung khusus, wajahnya terlihat cemas dan tidak seperti bayi lainnya yang tidur dengan tersenyum.

“kedua, mereka akan tetap merasa terpuruk dan buntu karena yang mereka tahu hanya jalan keluar instan tanpa tahu itu berasal dari mana. Kami melihat itu di hampir setiap diri manusia dan anugerah tuhan itu akan terluka dan mungkin akan menghilang padahal ia belum melihat kami dengan jelas” -suara alam

Ayah duduk di ruang tunggu, hidupnya manjadi berantakan ketika anaknya lahir dan kini istrinya harus berjuang hidup lagi. Wajahnya terlihat sangat kusut sampai seorang anak kecil berlari dan memberinya sekotak susu dan permen.
“kata kakek, aku harus tersenyum agar ibu bisa terus hidup. Ini untuk paman dan tersenyumlah agar anak paman dan istri paman bisa terus hidup untuk paman.” anak kecil itu memberi susu dan permen sebelum berlari menuju kakek nya.

Ayah memperhatikan anak kecil dan kakek tua yang tersenyum padanya. Ia juga menatap susu dan permen yang ada di tangannya, titik air mata kembali menetes dan senyum kecil tersungging di ujung bibirnya.
“tuhan, aku tersadar dan aku mengerti akan masalah yang aku hadapi sekarang, aku hanya memperkeruh keadaan dengan hanya berkumbang dalam lumpur yang dalam. Aku percaya engkau ada dan terima kasih untuk pelajaran yang aku dapat sekarang” suara hati ayah

“ketiga, di antara mereka akan cepat sadar bahwa sesungguhnya mereka tidak pernah sendiri dan kami sedikit tersenyum untuk bagian ini lalu kembali terdiam penasaran apa yang akan terjadi atas kuasa tuhan selanjutnya” -suara alam

Keadaan ibu membaik dan kembali dipindahkan ke ruang rawat biasa. Dokter yang merawat ibu tersenyum lega melihat ayah tidak lagi semuram kemarin, ia berkata “tuhan itu ada dan kita serahkan semua nya pada tuhan pak”
Ayah mengangguk mengerti dan pergi menengok bayi kecilnya. Kini bayi mungil itu tertidur dengan tersenyum dan sangat lelap, tidak ada lagi kekhawatiran di wajahnya yang polos. Ayah tersenyum dan sorot matanya berkata kalau semua akan baik-baik saja.
“semua akan baik-baik saja, tetap kuat ya nak, ayah menyayangi mu” suara ayah pelan
Ayah meninggalkan ruangan itu dan menemui nenek. Nenek masih memaksa ayah untuk mengambil keputusan dan dengan tenang ayah berkata “aku tidak akan “membuang” atau “memberikan” anak ku kepada siapa pun dan maaf bu aku memilih untuk menjaga istri dan anak ku semampu ku dan sekuat aku bisa”

Nenek terlihat marah mendengar jawaban ayah. Ia mengusir ayah dari rumah nya dan berkata “kamu akan menyesal dengan apa yang kamu ambil sekarang”.

Sudah hari ke-7 sejak ibu melahirkan, kini dokter telah mengijinkan ibu untuk pulang sementara bayi mereka masih harus dirawat karena keadaannya belum membaik sepenuhnya.
“tapi anak ku akan sehat kan dok?” suara ibu terdengar cemas
“ini mukjizat tuhan karena pertama kalinya saya melihat seorang bayi yang baru lahir masih tetap bertahan hidup padahal mengalami kelainan pada jantungnya dan saya mengucapkan selamat karena bayi kalian semakin hari keadaannya semakin membaik tapi saya belum bisa mengizinkan bayi ibu untuk dibawa pulang” jelas dokter pada ayah dan ibu.
Ayah mengangguk mengerti dan berjalan menuju kasir untuk membayar administrasi sebelum pulang.

Ayah merenung sendiri di kamar ketika mereka sudah sampai rumah. Ayah terlihat sangat sedih dan titik air mata muncul di ujung matanya “terima kasih tuhan” suara ayah dalam hati.

Hari berganti dan kini bayi mungil itu sudah sehat, dokter sudah mengizinkan untuk dibawa pulang dan dokter juga menyarankan untuk segera melakukan operasi saat bayi ini sudah tumbuh menjadi kuat untuk sanggup melakukan operasi.
Ibu dan ayah menatap bayi mungil mereka dengan kasih sayang dan menitikan air mata saat melihat senyum kecil dari anugerah tuhan ini di bawah langit yang sangat cerah.

“kadang manusia harus merasakan susah untuk tahu bahwa tuhan ada. Kami melihat itu sepanjang kami ada di bumi dan di akhir cerita kami semua tersenyum menyambut hari esok bersama mereka yang mampu bertahan dengan senyum di bibir meski tengah berdiri di tepi jurang yang curam.” -suara alam.

Cerpen Karangan: Suma Anio Lui Alamsyah
Facebook: Suma Anio Lui Alamsyah

Cerpen Sebuah Cerita Dari Ujung Langit Abu Abu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkah di Malam Minggu

Oleh:
Malam Minggu adalah malamnya anak remaja katanya. Karena beberapa remaja sering nongkrong di malam Minggu. Enggak sih bukan Cuma malam minggu aja, tapi lebih tepatnya kebanyakan di hari minggu.

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada malam itu Novi bertengkar hebat dengan ibunya.karna sangkin marahnya mereka ibunya mengusir Novi.Dan ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun.. Setelah lama berjalan,Novi melewati sebuah kedai mie.Ia lapar

Perfect Life

Oleh:
Dinara namanya. Matanya bagaikan bintang kejora, sungguh indah. Rambutnya hitam mengkilat dan lebat. Kulitnya halus seperti pualam. Alisnya nyaris menyatu, bagaikan semut beriring. Tutur katanya pun halus dan sopan.

Bintang

Oleh:
Dia, duduk di samping jendela, dibawah sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang gelap, hanya ada rembulan yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari. Tak ada bintang yang terlihat,

Indahnya Hidup ini

Oleh:
“Waktu” ya itu sebutan yang pas untuk salah satu hal yang kejam di dunia. Begitu cepatnya waktu berlalu tanpa memikirkan bagaimana seseorang seharusnya bertindak. Hai namaku Niken Amanda Putri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *