Sebuah Kata Sederhana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Langit masih sama seperti kemarin, tanpa awan dan tanpa matahari, memperlihatkan ketidaksempurnaan di dunia ini. Mungkin itulah yang aku alami, ketidaksempurnaanku yang telah ditelan oleh bumi. Sudah hampir satu jam, aku menunggu di sini, melihat lautan manusia yang lalu lalang di hadapanku, menunggu seseorang yang akan membeli kueku.

“Ini, untukmu.” kata seorang pria yang ada di hadapanku. Sembari memberikan uang kepadaku.
“kau ingin membeli kueku?” Tanyaku.
“Ah, tidak ambilah, kau pasti sangat memerlukan ini,”
“Tidak tuan, ambilah beberapa kue sebagai pegantinya.”
“Tidak terima kasih. Ambil saja uang ini.” kata Pria itu dan pergi begitu saja.

Begitulah orang-orang memandangku, melihat pakaian lusuhku yang selalu menganggapku sebagai seorang pengemis. Sebenarnya aku tidak ingin mereka berpandangan seperti itu kepadaku. Mata mereka selalu memperlihatkan keprihatinan, dan terkadang mereka melihatku dengan pandangan jijik. Ya, berbalut dengan debu dan sampah yang selalu menempel di badanku, jadi tidak heran jika mereka akan selalu menutup hidung bila melintas di depanku. Seperti inilah aku, bebalut dalam ketidaksempurnaan yang telah ditelan oleh bumi.

“Nenek, aku pulang.” Kataku saat kembali ke pondok kecilku.
“Kamu sudah pulang Hana?” Tanya Nenek.

Di sinilah aku hidup, di gubuk yang kecil, dan tinggal hanya berdua bersama nenekku. Hidup bersama dengan kekurangan yang selalu ada di dalam diriku. Betapa aku merindukan, kehidupanku yang dulu, dengan ayah, ibu, dan nenek. Saat mereka tidak ada lagi di sisiku, dunia seakan tidak berguna lagi untuk aku tempati, buat apa aku di dunia ini, jika aku sendirian? Buat apa aku melihat dunia, jika mata kananku sudah tidak berfungsi lagi? Sudah tidak ada gunanya lagi.

“Nek, Buat apa aku ada di sini, jika aku rasanya aku tidak sempurna?” Tanyaku lirih.
“Kau ada karena dunia membutuhkanmu. Sudah kamu tidur saja, kamu pasti lelah seharian berjualan.” Katanya sambil berlalu meninggalkanku.
Aku hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan Nenek. Kalau benar dunia ini akan membutuhkanku, kenapa aku terlahir tidak sempurna?

Embun dengan riangnya menari di atas dedaunan yang hijau, dan mentari masih belum beranjak dari tidurnya. Ketika pagi akan datang saat itu juga aku akan beranjak pergi, memulai aktivitasku untuk mencari keping demi keping rupiah. Kan ku dahului mentari, ketika ia terbangun dia akan tahu betapa kerasnya aku menjalani hidup ini. Benar saja, ketika sang mentari terbangun ia tersenyum melihatku. Menyinari dengan panasnya bumi ini.

Aku berhenti di sebuah gerbang sekolah. Tidak ada salahnya jika aku berjualan di depan sekolah ini. Walaupun hati sangat miris ketika melihat para siswa yang sebaya denganku, bisa mengenyam pendidikan. Tapi, apa daya kekuranganku ini yang menyebabkan tidak ada sekolah yang mau menampungku. Buat apa aku hidup jika aku ini bodoh? Dan aku yakin, kata-kata yang diucapkan nenek semalam hanyalah sebatas kata untuk menghiburku.

“Juno, kau ingin membeli kue?” Tanya seorang gadis yang ada di hadapanku.
“Lisa, kita kan baru saja selesai makan. Apa kau belum kenyang juga ya?”

Gadis tadi yang berada di depanku pergi menjauh, dan membisikkan kata ke telinga laki-laki yang bersamanya.
“Kami ambil 2 ya?” katanya. Aku memberikan dua bolu kering yang harganya hanya 2 ribu rupiah.
“Simpan saja untuk kembaliannya?” katanya saat aku hendak memberikan kembaliannya.

Mentari semakin memancarkan sinarnya, dan kini ia tepat berada di atas kepalaku. Satu persatu para siswa ke luar dari gerbang sekolah. Tidak tanggung-tanggung satu, dua mobil datang menjemput. “Berarti ini sekolah ini sekolah khusus orang-orang elit.” pikirku.
“Hei! siapa yang mengizinkanmu berjualan di sini?!” kata seorang laki-laki yang masih berseragam, yang tiba-tiba datang menghampiriku.
“Satpam di sini tidak melarangku kok.” jawabku.
“Aku yang melarangmu! Cepat pergi dari sini!”

Aku hanya terdiam, aku diam karena aku memang tidak bersalah. Dari awal aku berada di sini aku belum melihat tulisan larangan untuk berjualan di sini. Satpam di sekolah ini juga tidak mengusirku sejak tadi. Lalu kenapa laki-laki yang ada di hadapanku berlagak seperti ia memiliki sekolah ini? “Aku bilang cepat pergi!” bentak laki-laki itu sambil menendang tempat kueku.

Aku hanya bisa terdiam dan melihat kue-kueku yang jatuh di tanah. Kue itu sudah tidak bisa dijual lagi, siapa yang akan membelinya jika sudah berada di tanah seperti itu? Inikah perlakuan yang aku terima dari orang yang mempunyai jabatan seperti dia? “Coba lihat, dia memang kasar, mentang-mentang Ayahnya pemilik sekolah ini, perlakuannya sangat sombong.” Bisik seorang siswa yang berada tidak jauh dariku.

Jadi aku tahu mengapa ia memperlakukan aku seperti ini. Ternyata dia pemilik sekolah ini. Pantas saja kelakuannya lebih sombong. Orang yang memiliki jabatan dan kedudukan yang tinggi selalu memandang rendah orang seperti aku. Aku memungut kembali kue-kueku yang jatuh. Tidak ada gunanya lagi jika aku terus berada di sini. Semua orang memandang jijik ke arahku. Dan dia menatapku bagaikan sampah yang tidak berguna.

Mereka yang tidak tahu bagaimana sulitnya kehidupanku, tentu hanya akan memandangku seperti itu. Aku berjalan meninggalkan sekolah elit itu. Aku putuskan untuk pergi ke suatu tempat. Aku sudah tidak bisa menjual kueku ini, apa yang akan aku katakan pada nenek kalau seperti ini? Haruskah aku memakan nasi garam lagi? Tuhan kenapa hidup ini tidak adil? Kenapa Engkau memberikan begitu banyak penderitaan padaku. Dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku terlahir dengan begitu susah seperti ini.

Aku sampai ke sebuah Pura, tempat yang sangat sejuk dan damai untuk menenangkan diriku. Sebuah kolam yang berada di pintu masuk Pura, menambah kesan sejuk saat aku memasuki tempat suci ini. Aku duduk di wantilan Pura itu. Aku sesekali aku melihat ke dalam Pura, untuk memastikan kalau tidak ada orang di sini. Iya, aku memang sendiri sekarang ini. Hanya ada Aku dan Tuhan yang berada di sekitarku. Aku bahkan bisa merasakan kehadiran-Nya di dalam diriku. Tuhan, memang sangat ahli membuat diriku tenang seperti memberikan energi yang bisa memberikan aku semangat kembali.

“Bukannya, kau pedagang yang ada di depan sekolah tadi?” Aku membuka mataku saat aku mendengar suara itu.

Aku melihat seorang laki-laki berdiri di depanku. Dia memakai pakaian adat Madya dengan sesaji di tangan kanannya. Ku lihat dari kejahuan mulai banyak para siswa mulai berdatangan, seperti akan ada sebuah persembahyangan di sini. Tanpa berpikir panjang, ku langkahkan kaki kecilku dan pergi meninggalkan Pura. Aku tidak ingin dilihat oleh semua siswa itu, aku tidak ingin mereka mengasihaniku. Melihat mereka mengunakan seragam putih abu-abu membuat aku sakit hati.

“Hei!” Aku bisa mendengar dia memanggilku, tapi aku tidak peduli, bagaimana pun juga aku tidak boleh berada di sini. Kekuranganku hanya membuat mereka memandang rendah diriku.

“Nenek aku pulang.” Kataku saat aku tiba di rumah. Tapi, Nenek tidak merespon panggilanku. Mungkin Nenek sedang istirahat pikirku. Aku tidak akan menganggunya, beliau sudah cukup lelah bekerja di kebun sebelah.

Titik kecil itu kembali bersinar di malam yang gelap hari ini, ada sebuah kisah bila kita melihat bintang jatuh doa kita bisa terkabul. Apakah hal itu bisa terjadi, bisakah aku melihat bintang jatuh sekarang? Agar semua doaku bisa terkabul. Jika itu benar adanya izinkan aku untuk melihatnya sekali saja, aku hanya ingin sebuah kebahagiaan. Aku hanya ingin mendapatkan itu. Titik kecil yang bersinar itu memperlihatkan keindahannya, dia terjatuh. Aku pejamkan mataku dan mulai berdoa, berdoa untuk aku dan Nenekku. Dan sebuah kebahagiaan yang ingin aku cari.

“Sudah aku bilang aku tidak ingin berada di sana, rumah itu sama saja dengan sebuah penjara, kau tahu!” Aku mendengar suara teriakan yang tidak jauh dari rumah. Siapa kiranya malam begini berada di sini. Aku melihat seorang laki-laki, sebuah handphone masih menempel di telinganya. Wajahnya tidak asing lagi, tidak salah lagi dia adalah laki-laki yang pemilik sekolah elit tadi. Yang dengan kasarnya menghancurkan tempat jualanku. Untuk apa dia berada di sini, tersesatkah?

“Di mana aku sekarang ini?” Pikir Nicky, dia sendiri tidak tahu harus ke mana setelah apa yang ia lihat di rumahnya.

Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari rumah yang bagaikan sebuah penjara baginya. Ia bahkan tidak pernah bertatap muka langsung dengan kedua orangtuanya. Sampai pada akhirnya ia berada di sebuah gang sempit, dan melihat sebuah rumah atau ia mungkin melihatnya sebagai sebuah gubuk dan tidak pantas untuk ditinggali. Dan ada seorang gadis yang sedang duduk di depan rumah itu, kepalanya melihat ke atas, tapi matanya terpejam. “Apakah, dia sedang berdoa? Tapi, wajahnya tidak asing lagi. Di mana rasanya aku melihatnya?” Pikirnya. Handphone-nya berdering, dan Nicky menjawab panggilan dari handphone-nya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kataku.

Dia tampak tersentak saat aku tiba-tiba datang, nampaknya dia sangat terkejut dengan kehadiranku. Bagaimana ia tidak kaget dengan penampilanku ini, mataku saja hanya satu yang berfungsi, tentunya saja orang-orang yang melihatku malam-malam seperti, pasti mengira kalau aku ini adalah hantu. “Aku hanya sedang berjalan-jalan di sini. Tidakkah kau lihat aku ini ingin melihat bagaimana orang-orang sepertimu menjalani sebuah kehidupan.” Katanya. Memang seperti yang aku pikirkan, dia sangatlah sombong dan merendahkan kaum sepertiku.

“Jadi begitu? Lanjutkan saja penelitian kehidupanmu itu tentang orang-orang sepertiku itu.” Aku pergi meninggalkannya.

Aku tidak peduli dengan orang kaya, pejabat, atau apalah dia yang beraninya merendahkan orang-orang miskin sepertiku ini. Aku biarkan dia terpaku di sana, awan gelap mulai menyelimuti bintang, nampaknya hujan akan turun. Ah, aku tidak peduli dengannya toh dia selalu memandang kami dengan sebelah mata. Walaupun mataku tidak normal, tapi aku masih bisa melihat dengan mata hatiku, karena kehidupan ini tidaklah mudah. Tidak akan ada langit jika tidak ada bumi, tidak akan ada pelangi yang muncul sebelum hujan. Karena hidup penuh dengan sakit dan susah. Dan hanya sebuah kebahagiaan yang bisa mengatasinya.

Air mulai jatuh dari langit, berlahan hingga akhirnya turun dengan derasnya. Aku menuju ke kamar Nenekku, ku lihat wajahnya. Kerutan yang ada di wajahnya memperihatkan betapa kerasnya selama ini ia menjalani sebuah kehidupan. Aku Tarik sebuah selimut dan mulai menyelimutinya. Walaupun hanya beralaskan tikar bambu, aku tidak ingin Nenek kedinginan. Aku melihat ke luar, hujan turun makin derasnya. Dan dia masih berdiri di sana. Ada rasa penyesalan dan kekecewaan yang terlihat di raut wajahnya. Apakah orang yang telah memiliki segalanya dapat merasa kecewa atau sedih? Bukankah dia sudah memiliki segalanya, seharusnya dia bisa hidup dengan bahagia, iya kan?

“Haruskah aku kembali ke rumah. Tidak aku hanya ingin agar orangtuaku mencariku, aku hanya ingin tahu seberapa berharganya aku di mata mereka.” Pikir Nicky. Bagaimana pun dia tidak mau kembali ke rumahya, tempat itu hanya sebuah sandiwara, orang-orang melihat kalau keluarganya adalah keluarga yang bahagia. Mereka menganggap kalau uang adalah sumber kebahagiaan, tapi kenyataannya tidak. Uang hanya membuat mereka buta akan segalanya.

“Kau akan mati kedinginan bila terus berada di sini.” Kataku sambil menaruh sebuah payung di atas kepalanya.

Bagaimana pun orang itu memperlakukanku dengan tidak baik, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama dengannya. Aku tidak bisa membalas dendam dengan seseorang yang telah menghinaku. Dengan membalas dendam tidak akan membuat seseorang bahagia. Dan biarkan Tuhan yang membalaskan dendam itu, karena aku yakin Tuhan sangatlah adil. Begitu juga denganku, aku telah hidup dengan penuh kesusahan dan aku tidak ingin seseorang sepertiku juga. Dia hanya diam saat aku memberikan payung kepadanya.

“Kau mau tetap berada di sana, atau kau ingin ke tempatku untuk berteduh? Lagi pula kau tidak terlihat sedang jalan-jalan, wajahmu penuh dengan kekhawatiran.”
“Bukan urusanmu! Sudah tunjukkan saja di mana kau tinggal aku akan berada di sana sampai hujan ini reda.” Jawabnya. Dasar munafik! Pikirku, kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti ini. Sudahlah, lagi pula tidak ada salahnya membantu orang sombong seperti dia, lagi pula aku belum mengenalnya dengan baik. Mungkin saja dia memiliki sisi yang lain yang tidak banyak orang ketahui.

“Jadi ini rumahmu? Ini rumah apa kandang ayam?” Aku sudah mengira dia akan berkata seperti itu saat melihat rumahku. “Rumah itu juga istanaku, kalau kau tidak ingin berada di sini kau bisa kembali ke rumahmu yang lebih bagus dariku.”
“Aku kan sudah bilang, aku akan berada di sini, sampai hujan berhenti!”
“Jangan berisik! Nenekku sedang tidur, dan aku tidak ingin membangunkannya. Kalau kau ingin berada di sini cukup diam saja jangan buat keributan.”

Hujan turun makin derasnya, rasanya langit akan terus menurunkan air kehidupannya. Apakah langit sengaja memberikan situasi ini kepadaku? Terjebak dengan seseorang yang telah menghinaku dan aku sendiri aku tidak tahu dia siapa. Apakah langit sengaja memberikan aku sebuah ujian? Agar aku tidak dengan mudah membalas dendam dengan orang yang telah menghinaku? Aku sungguh tidak mengerti dengan situsi seperti ini. Aku melihat ke arahnya. Dia teridur, wajahnya Nampak lelah. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Tapi ada satu hal yang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Perasaan apa ini, aku sendiri tidak tahu.

“Sudah sampai, ini rumahmu kan?” kataku saat kami tiba di sebuah rumah yang cukup mewah.
“Emm, terima kasih karena kau sudah mau mengantarku.”
“Nicky? Apakah itu kau? Dari mana saja kau semalam ini, Ibu berusaha untuk menghubungiku dan mencarimu.” Kata seorang wanita paruh baya yang ke luar dari rumahnya.
“Oh, siapa kau? Ini ambil uang ini, dasar sepagi ini sudah ada seorang pengemis yang meminta di sini.”

Wanita itu malah memberikanku uang, bukannya berterima kasih kepadaku karena telah mengantarkan anaknya. Begitukah perlakukan orang yang memiliki segalanya terhadapku? Apakah aku selalu rendah di matanya. Aku memberikan uang itu kepada Nicky dan pergi meninggalnya yang nampaknya khawatir kepadaku. Aku tidak peduli lagi, aku sudah muak dengan orang-orang yang memiliki uang, jabatan atau semacamnya. Mereka selalu merendahkan orang-orang yang seperti kami. Uang bukanlah alat untuk menyelesaikan masalah. Tapi uang hanya akan membuat masalah.

Aku merasakan pipi sebelah kiriku hangat. Ah, aku menangis lagi, tidak seharunya aku menangis seperti ini. Harusnya aku bisa lebih tegar dengan perlakukan wanita itu, padahal sudah sering aku diperlakukan seperti ini. Tapi, kenapa aku bisa menangis seperti ini. Tanganku ditarik dan aku membalikkan badanku. Aku melihat sepasang mata itu lagi, sebuah mata yang sangat teduh dan memperlihatkan sebuah kebaikan dalam dirinya. Tangan kanannya menahan tanganku. Dan tangan kirinya berusaha untuk menghapus air mataku yang terus mengalir. Apakah ia ingin menghilangkan kesedihan yang selama ini menyelimutiku?

“Maafkan aku? Dan maafkan Ibuku, aku tidak ingin kau pergi begitu saja. Aku bahkan belum sempat tahu namamu. Selama aku berada di dalam rumahmu semalam, aku jadi tahu bahwa sebuah kesedarhanaan itu jauh lebih indah, bahwa sebuah kebahagiaan bisa kita dapatkan saat melihat seseorang yang kita cintai itu ternyesum. Aku melihatmu begitu keras dalam menjalani hidup ini.”

“Aku melihat bagaimana kau terbangun dini hari untuk membuat sebuah kue yang nantinya kau jual. Sedangkan aku masih tertidur dengan mimpiku. Aku sangat bersyukur berada di rumah sederhanamu semalam yang telah mengajarkanku banyak hal. Walaupun itu tidak lama, tapi sekarang aku mengerti tentang hidup. Terima kasih dan maafkan aku soal kemarin yang telah memperlakukanmu secara kasar.” Sebuah kata-kata yang membuatku terdiam, mungkinkah dia telah berubah hanya dalam semalam? Tapi, mata itu memperlihat sebuah keyakinan, matanya telah memperlihatkan sebuah kebaikan. Inikah sisi lain darinya.

“Hana, namaku Hana.” Hanya itu yang bisa ke luar dari bibirku, setelah aku mendengarkan kata-katanya.
“Hana ya? Bisakah aku berada di sampingmu untuk sekarang dan selamanya?” Katanya.
“Aku tidak memiliki apa-apa, dan aku tidak sempurna. Aku juga tidak memiliki siapa-siapa, bahkan seorang teman pun aku tidak punya. Apakah kau memang benar-benar tulus mengatakan itu?”

“Dasar bodoh! Tentu saja aku ini tulus mengucapkan itu. Aku ini ingin menjadi temanmu, apakah kau sekarang mencoba menolak seseorang yang akan menjadi temanmu ini?” Aku hanya tersenyum sambil mengeleng, untuk pertama kalinya aku tersenyum bahagia seperti ini.

Ketika ada seseorang yang mengakui keberadaanmu dan berusaha membuatmu bahagia, saat itulah senyum itu berkembang. Sebuah kebahagiaan yang sangat sederhana sekali. Senyumannya telah membuatku bahagia. Memang benar bahagia itu saat melihat orang lain tersenyum karena kita. Aku ingin selalu seperti ini, tersenyum bersama hingga kami lupa kapan terakhir kita menangis. Hingga kita lupa kapan kita terjatuh, dan bangkit untuk bersama lagi. Dan sebuah kata sederhana itu telah mengubahku.

Cerpen Karangan: Deva Diana
Facebook: Deva Hana

Cerpen Sebuah Kata Sederhana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tinta Merah

Oleh:
Darah mengalir dengan perlahan dari luka yang terbuka. Kau tersenyum padaku seakan menjahit mili demi mili luka ini. Perih menjalar ke urat sarafku menyadarkan otakku, aku mulai memutar lagi

Kota Mbah Karsono

Oleh:
Warung kopi sederhana milik seorang janda yang dirintisnya kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu masih ramai mampu bersaing dengan caffe-caffe yang ada di sekitarnya. Warung mak Ijah

Kebodohan Nyonya Vinvy

Oleh:
Nyonya Vinvy adalah istri seorang pejabat tinggi di daerahnya. Ia sangat sombong, tetapi bodoh. Ia gemar mengoleksi lukisan karya pelukis ternama. Ia tak mau kalah dengan istri pejabat lainnya.

Taman Surga

Oleh:
Di balik sebuah jalan kehidupan yang terkadang kelam dan terang, kini aku berada di tepian jurang tanpa dasar yang ku sebut dengan sebuah jalan pilihan. Sebuah jalan pilihan dalam

Malaikat Keempat

Oleh:
“Juno, jangan lupa yaaa, reuni emasnya,” kata Ninuk melalui WA. “Yooo, insyah Allah, aku hadir.” “Juno, sampeyan ditunggu sama Dewi dan Putri,” kata Ninuk lebih lanjut. “Ha…, ha…, ha…,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *