Sebuah Kebiasaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 December 2017

Sedari tadi, lelaki itu masih duduk terdiam. Rupanya, ia masih ingin berada di tempat ini. Kedua anaknya tengah berdiri di belakang menatapnya. Anak perempuannya, mendekat dan berbisik: “Pak. Aku pamit dulu sama Jaya”. Lelaki itu masih terdiam, membetulkan posisi dasi yang melingkar di lehernya dan mengangguk pelan ke kedua anaknya tersebut. Setelah menyiapkan diri, ia pun mulai berbicara.

Perpustakaan itu terletak di lain gedung sekolah, namun masih dalam satu lingkungan. Sebagaimana biasa, tempat tersebut tidak banyak dikunjungi oleh murid. Hanya murid kutu buku yang senang berada di tempat seperti itu. Sesekali beberapa murid datang, tak lama pergi hanya untuk meminjam sebuah buku. Dan, suasana perpustakaan tersebut tengah sepi.

Seorang gadis tengah kebingungan mencari sebuah buku di sebuah perpustakaan yang sepi tersebut. Wajar, ia merupakan murid baru di sekolah itu, pindahan dari Jakarta, baru beberapa hari. Ia berjalan dari rak ke rak, berharap menemukan seseorang yang bisa membantunya.

Setelah beberapa saat, sampailah gadis itu ke sudut ruang perpustakaan, terdapat satu orang siswa bertubuh kurus serta berkacamata hitam yang tengah membereskan buku-buku. Nampaknya, pemuda itu telah menjatuhkan buku-buku paket.
“Maaf, apakah kamu tahu di mana pustakawan? Sedari tadi aku mencarinya, tapi…” tanya gadis itu kebingungan.
“Oh, Pak Aji sedang pergi ke ruang guru. Mungkin aku bisa sedikit membantumu mencarikanmu buku… atau apa?” potong seorang pemuda itu dengan sigap.
“Kamus Bahasa Jerman,”
“Kamus itu… Banyak sekali yang meminjam hari ini. Ada sisa satu, tapi sudah aku pinjam.”
“Oh ya sudah, terima kasih,” balas gadis itu pelan. Lalu berjalan ke arah pintu keluar.
“Hei! Kamu bisa ambil punyaku ini, kamu pakai saja,”
“Benarkah?”
“Tentu.”

Pemuda itu sengaja meminjamkan kamusnya kepada gadis itu. Hanya untuk berkenalan, niatnya.
“Saya Getar.” Pemuda itu memperkenalkan dirinya. Sembari membetulkan kacamata hitamnya. “Maaf, namamu?” tanya gadis itu bingung. Mungkin gadis itu aneh mendengar namanya, atau pendengarannya sedang tidak berfungsi dengan baik. Lama terdiam, pemuda itu kembali berbicara, “Nama saya, Getar. Getar Adhiman.” balasnya dengan pelan. Entah sudah berapa banyak orang yang berkenalan denganku bingung, karena namaku ini, pikir Getar. “Saya Sani. Salam kenal.” gadis itu mengulurkan tangannya. Tersenyum. Dengan sigap, tangan itu diraihnya untuk bersalaman.

Sesudah perkenalan untuk kali pertama itu. Getar berusaha mencari tahu siapa perempuan yang ia temui dua minggu yang lalu. Setelah ditelusuri lebih lanjut selama satu minggu, Getar akhirnya tahu bahwa perempuan itu merupakan siswi satu tingkat dengannya. Dan ternyata, letak ruang kelas Sani tak jauh dari kelasnya sendiri.
“Aku tidak pernah melihatmu sekali pun,”
“Jarang sekali aku ke luar kelas, aku lebih suka di sana. Duduk di sudut kelas, bagian belakang, sembari membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan.”

Pukul sembilan, ketika jam istirahat pembelajaran tiba, mereka menghabiskan waktu di kantin lalu perpustakaan. Selalu seperti itu setiap hari, saat sekolah. Terkadang, Getar meminjam sebuah gitar dari ruang musik dan mereka menyanyikan lagu favorit mereka: ‘Wish You Were Here’ dari Pink Floyd di taman sekolah.

Hingga hubungan mereka berdua berlanjut ketika mereka menjadi seorang mahasiswa dan mahasiswi di sebuah universitas. Kebetulan juga mereka bertemu kembali di satu fakultas yang sama: Fakultas Kehutanan. Semakin dekatnya hubungan mereka, Getar pun berniat untuk melamar Sani.

Satu bulan setelah pelamaran itu, mereka pun menikah pada tanggal 26 Juni 1989. Hingga mereka dikaruniai dua orang anak, Lia dan Jaya.

Getar mulai berbicara, perlahan.
“Sani. Saya datang kembali,”
Hening.
“Kamu pasti baik ya,”
“Saya ke sini ingin cerita sedikit saja.”
“Hari ini hari yang begitu berharga bagi saya, mungkin kamu juga. Jaya hari ini lulus dari SMP dengan nilai ujian nasional yang cukup tinggi. Semoga saja dia bisa lolos tes seleksi dan dapat masuk ke SMA Negeri yang ia impikan. Itu keinginan serta impiannya. Ia tipikal orang yang pendiam. Sering kali saya lihat ia tersenyum-senyum sendiri. Entahlah, mungkin ia sedang jatuh cinta? Juga anak kita…” Lelaki itu menunduk, lalu tersenyum. Melanjutkan.
“Anak kita, Lia, juga tak lama lagi akan menikah. Hari ini, tepatnya malam nanti, kekasihnya akan datang ke rumah. Membicarakan soal pernikahan. Padahal, baru kemarin ia masih sekolah. Waktu berlalu begitu cepat, dan saya merasakan hal itu.”
“Tapi, ada satu hal lagi. Saya ingat sekali, tepatnya pada hari ini. 26 Juni,”
Tempat tersebut masih hening. Sesekali detak jam terdengar.

“Hari pernikahan kita. Belasan tahun yang lalu saya menikahimu. Dua tahun yang lalu, kita masih sempat merayakan hari pernikahan kita dengan pergi berlibur menghabiskan liburan panjang ke Surabaya.”
“Sani. Satu minggu lagi. Saya akan pergi, untuk bertugas ke Sulawesi. Saya dipilih langsung oleh atasan saya. Namun, sepertinya, saya berat untuk meninggalkan kedua anak saya. Lia, memang sudah besar. Tapi, Jaya yang terkadang, aku khawatirkan.”
Lama Getar terdiam, ia pun melanjutkan.
“Saya kemarin lagi beres-beres gudang. Ada album foto, lalu saya buka. Ada foto sewaktu kita masih di bangku sekolah. Ingat betul saya saat-saat itu, juga ada foto waktu Lia yang saat itu masih umur satu tahun yang masih lucu-lucunya,”
“Sudah lama kamu pergi, dari rumah,”
“Seandainya kamu bisa kembali ke rumah lagi, ya,”
“Saat kamu pergi, saya berpikir. Apa saya bisa mengurusi kedua anak itu? Lia yang saat itu masih seorang gadis, yang saya harus jaga diri dan kehormatannya. Begitu pun dengan Jaya, jiwa remajanya yang masih labil, dan nafsunya yang tinggi. Saya harus beri pemahaman kepadanya. Supaya dia tidak salah dalam menjalani pergaulannya. Tapi, saat saya jalani itu sendiri, ternyata saya bisa, karena terbiasa.”
“Dan, kamu sepertinya lebih baik di sini,”
“Itu saja yang ingin saya sampaikan. Sani, aku pamit dulu.”

Tidak ada jawaban, sebagaimana biasa.
Getar pun pergi.

Sudah sepuluh menit saya berada di dalam mobil berwarna hitam ini. Menanti kedatangan Bapak. Sedari tadi, ia masih ingin berada di tempat itu. Saya tidak bisa memaksanya untuk cepat pergi. Saya bisa melihat dirinya dari kaca. Rencananya, hari ini, saya ingin mengajak pergi bersama adik dan Bapak saya. Mengajak mereka untuk menonton film dan pergi ke toko buku di pusat kota. Selama ini, saya jarang berpergian dengan mereka berdua. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacar saya, Radi.

Langit semakin mendung saja, dan tak lama lagi akan turun hujan. Di samping kanan saya, ada Jaya. Ia tengah membuka laptopnya, membuat tugas sekolah, katanya. Sering kali ketika saya berada di tempat ini, suasana hati dan perasaan saya seketika berubah. Bapak mungkin juga merasakan hal itu.

Saya sendiri masih mendengarkan ‘Peaceful Easy Feelings’ dari The Eagles, dengan earphone di kedua telinga saya. Mata saya pejamkan untuk sesaat. Tak lama, lengan baju saya ditarik oleh adik saya.
“Kenapa, Jaya?” tanyaku.
“Bapak masih sering kak, melakukan itu?” tanyanya sembari melihat ke arah Bapak yang bersiap-siap untuk pergi.
“Terkadang.” Jawabku pelan.
“Rupanya, Bapak masih melakukan kebiasaannya ya,”
“Ya begitulah. Berbicara sendiri. Dan juga, dulu, ia pernah dianggap gila oleh Pak Zainal.”
“Karena melihat kebiasaannya?”
“Iya. Lalu, Bapak pun menjelaskan kepada Pak Zainal.”
Beberapa saat terdiam, Jaya kembali menanyakan kepada saya.
“Aku penasaran. Kenapa ia melakukan hal itu?”
“Entahlah. Tanyakan saja kepadanya. Mungkin…” Saya terdiam sesaat.
“Mungkin apa?”
“Mungkin itu membuatnya lebih baik.”

Ketika Bapak semakin dekat dengan mobil. Saya menyelesaikan percakapan dengan adik saya, Jaya. Hujan pun turun dengan derasnya. Tampak kemeja biru Bapak, basah. Entah itu karena tetesan air hujan, atau tetesan air mata. Bapak membenarkan posisi kacamatanya, dan ia menoleh ke arahku.
“Lama menunggu, ya?” tanyanya.
“Nggak kok, Pak.”
“Mau ke mana kita hari ini?”
“Pergi ke mall kan? Ada film yang menarik lho.” Jawab Jaya.
“Kita pulang ke rumah dulu ya. Sebentar saja. Nanti dari rumah kita langsung pergi. Bapak hanya ingin mengganti pakaian.”
“Baik, Pak.” Jawabku.

Bapak pun menyalakan mesin mobil. Saya membuka kaca mobil, mengeluarkan uang dua ribuan, lalu saya berikan ke tukang parkir yang tengah menjaga kendaraan-kendaraan yang terparkir.

Hari ini, 26 Juni. Beberapa minggu lagi, tepatnya 1 Agustus. Kami semua bakal kembali lagi ke tempat pemakaman umum ini. Karena pada tanggal itulah, Ibu kami, meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Juga, sebagaimana biasa, bapak kembali melakukan sebuah kebiasaannya.
Dan, dengan cepat kami meninggalkan tempat itu.

Cerpen Karangan: Panca Erlangga
Facebook: Panca Erlangga (pancaerl)
Seorang pelajar yang gemar membuat cerita pendek. Ingin berkenalan lebih lanjut: @pancaerlangga13

Cerpen Sebuah Kebiasaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Sayang di Dinding

Oleh:
Prang! Prang! Prang! Bia kembali menerbangkan gelas ke kanan dan ke kiri dinding hingga pecah. Gadis tak waras itu selalu melakukan hal tersebut ketika tengah mengamuk. Gadis yang baru

Pelita Hidupku

Oleh:
Pikiranku melayang ke masa silam. Hari-hariku terselip dengan berbagai sensasi. Ocehan ibu dan ayah tak pernah terhiraukan dalam nuraniku. Yang hanya terpikir dalam benakku hiruk pikuk canda tawa di

Love At First Sight

Oleh:
Aku terburu-buru berangkat ke sekolah. Baru kali ini aku bangun kesiangan, lebih sialnya lagi papa juga tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah dikarenakan papa sudah berangkat ke kantor. Jam

Hampir 3 Tahun Penantian Itu

Oleh:
Siang itu, aku duduk di bawah pohon depan kelasku. Aku kelas X SMA. Melihat cowok manis lewat di depanku dengan sepeda modifannya. Tiap jam istirahat, aku pun sering melihatnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *