Secercah Asa

Judul Cerpen Secercah Asa
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 5 November 2016

Saat itu, aku masih berusia 9 tahun. Ayahku sudah meninggal, beliau hanya mewariskan malaikat tanpa sayap padaku, Ibuku. Aku sudah merasakan kerasnya hidup dimana anak-anak seusiaku hanya menikmati harta yang mengalir dari orangtuanya, tanpa harus bersusah payah. Aku iri! Mereka dengan mudahnya menempuh pendidikan, sedangkan aku? Untuk pergi ke sekolah saja, aku harus berjuang. Apa ini yang dinamakan dengan adil? Namun, dibalik getirnya kehidupan ini, selalu ada kata-kata yang terangkai dari bibir mungil Ibuku.

“Ibu hanya ingin, kamu rajin belajar. Ibu yakin, kunci kesuksesan ada di genggamanmu.”

Usiaku semakin bertambah, dan keluhan-keluhan akan kehidupan semakin redup. Aku masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Prestasiku di sekolah semakin gemilang, saat aku meraih juara cerdas cermat tingkat kabupaten. Aku merasa, bukan hanya orang terpandang yang bisa meraih mimpi.

Malam itu, hujan deras mengguyur bumi. Aku hanya diselimuti oleh rasa khawatir, karena Ibuku belum pulang. Tak seperti biasanya, ia pulang semalam ini. Rasa khawatirku semakin memuncak, ketika seseorang datang ke rumahku dan ia berkata, “Ibumu masuk Rumah Sakit karena kecelakaan tadi sore.”
Runtuh semua hasratku. Harta paling berharga yang kumiliki, kini berada dalam masa sulitnya.

Di rumah sakit, aku melihat seseorang yang baru saja ke luar dari ruang Ibuku. Aku mengabaikannya. Aku masuk ke dalam ruangan, lalu memandang wajah Ibuku dan menangis di atas tangannya yang lembut. Rasa khawatirku semakin mereda, saat Ibuku mulai menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Aku tersenyum. Beliau berkata, “Jangan khawatirkan Ibu, Dika. Jaga diri kamu baik-baik, ya.” Namun, itu semua hanyalah kebahagiaan yang semu. Ibuku kembali terlelap. Terlelap dalam tidur panjangnya tanpa bernafas. Hatiku menjerit kesakitan. Hartaku, telah lenyap bersama angan.

Satu tahun berlalu, kehidupanku semakin cerah. Aku meraih nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolahku. Aku semakin yakin, kesuksesanku ada di genggamanku. Aku melanjutkan sekolah ke tingkat SMP melalui jalur beasiswa. Meskipun, banyak cibiran dan ejekan yang keluar dari mulut teman-temanku. “Ah, kamu orang miskin, ya. Sekolah aja dikasih gratisan.” Namun, ada sosok Bu Dewi (wali kelasku) yang selalu membangkitkanku. Itulah mengapa aku selalu merindukan sosok Ibuku saat aku bersama Bu Dewi. Kini, cibiran dari teman-temanku berangsur-angsur larut menjadi sebuah kebanggaan. Aku yang semakin menonjolkan prestasiku, membuat mereka ingin berteman denganku. Tanpa melihat status keluarga.

Aku bersyukur, Ibu mewariskan kepadaku bakat yang membuat aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri. Hingga bakat itu mampu mengantarku sampai jenjang Sekolah Menengah Atas. Usiaku kini sudah 16 tahun. Dika cilik yang polos, kini telah berubah menjadi Dika yang dewasa. Aku bahagia. Meskipun, aku masih tinggal di gubug kecil tanpa siapapun.

Suatu hari, aku sedang berjualan di stasiun. Aku melihat seseorang yang sepertinya kukenal. Aku ingat! Dia adalah orang yang dahulu keluar dari ruangan Ibuku setelah kecelakaan itu berlangsung. Aku menghampiri dan menyapanya. Namun, ia menatap wajahku seolah-olah mengingat kembali.
“Apa Ibu ingat kejadian lima tahun lalu?” aku mencoba mengingatkannya.
Sontak ia terdiam. Air matanya menetes di pipinya. Sedangkan aku, apakah aku berdosa membuat orangtua menangis karena ucapanku? Ia memelukku dan berkata.
“Kamu anak dari wanita itu? Kamu sudah besar? Maafkan saya, Nak. Saya telah menabrak Ibumu. Saya benar-benar bersalah, maafkan saya, Nak. Saya akan bertanggung jawab untuk merawatmu. Saya akan mengangkat kamu sebagai anak. Kamu mau ya?” air matanya kembali mengalir dengan deras.
“Tak apa, Bu. Dika sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup Dika sendiri. Untuk masalah Ibu Dika, Dika sudah memaafkannya.”
Ia tetap memaksaku untuk menjadikan aku sebagai anak angkatnya. Mungkin, ia ingin menebus kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Ibuku. Aku menerimanya sebagai Ibu angkatku.

Kini, kehidupanku semakin gemilang. Setelah lulus SMA, aku didaftarkan oleh Ibu angkatku untuk kuliah di salah satu Universitas ternama di kotaku. Di Universitas itu, aku mendapatkan banyak hal. Mulai dari kunci masa depan sampai calon pendamping hidup pun aku dapatkan di sana. Tak terasa, aku akan diwisuda. Suatu hari, pelaksanaan wisuda itu berlangsung. Ibu angkatku yang datang untuk melihatku, kembali mengeluarkan air matanya.

“Ibu dan Ayahmu pasti bangga padamu, Nak. Kamu sudah memberikan hadiah terbaik untuk mereka. Seandainya, orangtuamu masih ada disini. Mereka pasti bahagia menyaksikan buah hatinya yang sudah menggenggam masa depannya.”

Perjuanganku tak hanya sampai di sini. Kini, aku sudah menjadi seorang pengusaha ternama di Kota ini. Sudah waktunya untuk memikirkan pendamping hidup. Salmah, kekasihku saat aku masih kuliah. Rencananya, aku akan menikahinya dalam waktu dekat ini.

Semua orang-orang terdekat, sudah menyetujui pernikahan kami. Kami pun menikah. Kini, hidupku semakin terang benderang. Ditemani oleh seorang istri yang cerdas dan anak yang lucu. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan merawat anakku dengan baik. Yang terpenting, ia dapat menempuh pendidikan dengan layak.

Cerpen Karangan: Nesa Tikasari
Facebook: facebook.com/nesatikasari
Nesa Tikasari, 16th. Email: nesatikasari14[-at-]gmail.com

Cerita Secercah Asa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lebih Dari Satpam

Oleh:
Di sebuah ruangan kecil berbentuk persegi empat ukuran 3×3, terdapat seorang yang bertubuh besar, berotot, dan tinggi. Sebenarnya itu adalah sebuah pos satpam. Sebuah tempat dimana laki-laki itu setiap

Terima Kasih Mang Udin

Oleh:
Pagi ini seperti biasanya. Aku berpamitan ke sekolah tanpa mencium tangan kedua orangtuaku. Aku tahu itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Tapi aku tidak peduli. Persetan ah! Selalu

Bukan Orang Suci

Oleh:
Mobil hitam itu masih di sana. Aku tak tahu sejak kapan, tetapi mobil itu tidak akan meninggalkan tempat parkir itu tanpa membawaku ikut serta di dalamnya. Di depan kemudi

Perjuangan Seorang Gadis

Oleh:
Mengingatkanku pada sebuah perjuangan seorang gadis yang ingin menggapai impiannya kala itu. Tepat setahun yang lalu.. Ia baru saja lulus SMA. Seperti siswa pada umumnya, ia ingin melanjutkan pendidikannya

Hujan

Oleh:
Hujan. Pada siang menuju sore hari ini, hujan terus mengguyur tanah pertiwi. Lebih tepatnya kota saya, Jakarta. Karena saya tidak tahu apakah di belahan kota sana, hujan juga turun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *