Sederhananya Mimpi Andi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Liburan
Lolos moderasi pada: 20 November 2019

Matahari pagi bersinar cerah, langit biru membentang luas, kicauan burung saling bersahutan, seolah menandakan hari itu akan jadi hari yang paling indah.

Andi adik Ana, sudah mandi sejak adzan subuh berkumandang. Juga Ibu, yang sudah sibuk mempersiapkan segala keperluan pagi itu.

Pukul enam pagi, sarapan sudah tersedia di meja makan. Seperti itulah Ibu, setiap hari selalu bangun lebih awal dibanding yang lain, sekalipun itu hari libur. Dan ketika yang lain sudah bangun, Ibu sudah siap dengan olahannya yang membuat siapapun melihatnya, pasti tergoda untuk mencicipinya.

Hari ini hari Ahad, hari libur. Andi dan Ana sudah siap di meja makan, sementara Ibu masih saja berkutat dengan cucian piring kotor yang menumpuk sisa dari memasak tadi.

“Bu, makan dulu saja. Biar nanti aku yang cuci piring” Ana meminta Ibunya untuk menemani mereka makan pagi. “Sudah kamu makan saja, Ibu udah makan duluan tadi. Lagian kalau ditunda, nanti malah gak selesai. Kan kita mau berangkat, pasti pulangnya malam” jawab Ibu sambil tetap mencuci panci yang ada di tangannya.

“Yeeeaayyy akhirnya kita jadi juga jalan-jalan” teriak Andi bahagia dengan mulut penuh terisi makanan. “kalo gak jadi gimana Dek” sahut Ana menggoda adiknya. “Bu, kita jadi kan yah ke Jakarta” mendengar ucapan Kakaknya, ia langsung bertanya pada Ibu. Ibu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.

“Ana, jangan goda Adikmu terus ah, kasihan dia” Pinta Ibu pada gadis kesayangannya. “Hhehhe iyah Bu, maaf” ucap Ana.

Makan pagi mereka sudah selesai, cucian piring Ibu pun sudah beres semua, tak ada lagi piring atau panci yang masih kotor. Semua sudah kinclong dan tersusun rapi di rak piring.

“Bu, kita jadi ke Monas kan” tanya Adik masih penasaran. “Ngga, kita gak ke Monas” lagi-lagi Ana menggoda adiknya yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar itu. “Bu….” Andi mulai merajuk. “Hahahahha iyah Dek, kita jadi kok ke Monas” Ujar Ana, tak tega ia melihat Adiknya sedih.

“Andi udah siap, yuk kita berangkat” ajak Ibu. “Horreeee berangkat kita. Ayo Bu” Andi melompat kegirangan saat hendak berangkat. Ini adalah perjalanan pertama Andi ke Ibukota menggunakan kereta. Sepanjang perjalanan Andi banyak memperhatikan sisi-sisi jalan, sesekali bertanya tentang gedung-gedung yang berdiri kokoh di hadapannya.

Ana, yang senang menggoda sang Adik pun selalu punya cara untuk menggodanya. Tak terasa, perjalanan mereka hampir sampai di stasiun tujuan. Juanda. Dari kejauhan, Tugu monas sudah terlihat gagah berdiri menjulang ke atas seolah menatap langit biru.

“Bu, itu monasnya yah?” teriak Andi saat ia melihat tugu Monas dari dalam gerbong kereta. “Itu bukan Monas Dek, tapi tugu emas. Hahaha” lagi, Ana menjawab pertanyaan Adiknya dengan iseng.

“Itu Monas kan Bu, sama kaya yang ada di buku gambar Adek?” tak mengerti dengan jawaban kakaknya, ia pun bertanya lagi pada Ibunya. Belum sempat Ibu menjawab, “Iyah Adekku yang baweeeelll” Ana kembali menjawab pertanyaan Andi sambil memegang hidung, tanda gemas pada adik kesayangannya.

Tak berapa lama mereka tiba di stasiun tujuan. Juanda, stasiun terdekat dengan Monas. Tak memerlukan waktu lama untuk mereka tiba di pelataran Monas, sebab ada banyak bajai yang bisa mengantarkan mereka tanpa harus capek berjalan kaki.

Setibanya mereka di sana, Andi langsung melompat-lompat bahagia melihat monas yang kini berdiri dengan gagah di hadapannya. Ya, ini adalah keinginan Andi sejak lama. Keinginan yang sangat sederhana. Ia hanya ingin melihat monas dari dekat dan photo di pelatarannya, seperti yang ia lihat di poster-poster selama ini.

Melihat Ibu dan Adiknya bahagia melihat tugu Monas, seperti ada sesuatu yang menyusup ke dalam hati Ana. Ada rasa bahagia penuh syukur. Bahagia sudah bisa menepati janji pada Andi. Bersyukur atas rezeki-Nya, ia bisa membawa Adik dan Ibunya melihat sesuatu yang mereka impikan sejak lama. Datang ke Ibukota dan berphoto di depan bangunan penuh nilai sejarah yang menjadi kebanggaan warga Jakarta, Monas.

Cerpen Karangan: Senja Pelangi
Blog: Goresansenja08.blogspot.com
Wanita Sederhana yang selalu suka senja.

Cerpen Sederhananya Mimpi Andi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Sedih Untuk Thara

Oleh:
Sore itu, angin tak seperti biasanya, ia berhembus dengan sangat tenang. Sore itu seorang wanita berpakian serba hitam berjalan menuju sebuah pemakaman umum. Dia berjalan menyusuri setiap petak tanah

Kupu Kupu Malam

Oleh:
Malam yang cukup terang di kota jakarta, terlihat seorang wanita muda bernama Risa sedang duduk dengan tatapan kosong di tepi jalan “Ya allah kenapa nasibku begini?” gumamnya dalam hati

Maaf Untuk Masa Lalu

Oleh:
Dasar bodoh! Pikirku. Orang-orang kaya selalu menambah tinggi pagar mereka, sedangkan apa yang terjadi dengan sekolah ini? Apakah tak ada lagi barang berharga tersisa di sini? Mengapa rendah sekali

Wanita Kelabu

Oleh:
Pagi yang tak begitu bersahabat denganku. Matahari rupanya sedang tak bersemangat menyinari hari di sabtu pagi ini. Langit tak begitu cerah mengulas warna yang kurang menarik untuk dilihat olehku.

Padun

Oleh:
“Dun, mau kemana kamu?” tanya mbak Ayu sambil menarik tanganku. “Merantau, aku ora tahan nak kaya gini terus. Hidup dalam kemiskinan bukan tujuanku mbak” ketusku sambil melepas gegaman tanganya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *