Sekardus Uang Cinta Untuk Lala

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 August 2018

Pagi itu Selasa 20 Juni 2017. Bak petir mengelegar, gempa 9.9 skala ricter menguncang dasyat Negeri Bencoolen yang notabene merupakan pagi yang sejuk, meriah, aman, rapi, kenangan. Akronim dari Negeri Semarak, seperti yang disambanginya sekira setahun delapan bulan yang lalu.

Sekira pukul 09.10 WIB, Rimuk sedang menjalani rutinitas yang hampir 28 hari ditinggalkannya. Sebagai pemimpin multi power, urusan dayang-dayang pun harus menjadi perhatian penting lainnya bagi Rimuk bin Linggo. Makanya satu handphone android tak lepas dari pakitnya.

“Te no net no net… crut crut crut”, terdengar nada dering Hp yang bergetar di atas meja kaca. Sedikit mengabaikan, karena sedang bicara dengan beberapa pegawai kepercayaannya. Akhirnya Hp warna Pink itu pun diangkatnya juga.
“Halo ini Pak Rimuk… Saya dari Lembaga Anti Rasuah, isteri saudara kami tangkap di rumah saudara”, kata seorang penelepon.
Mendengar suara di telepon, mulanya Rimuk tak menghiraukan. Dikiranya seseorang dari lembaga di Sumatera Barat salam telepon ke nomor handphonenya.

Usai beberapa detik, baru ia tersentak kalau yang mengontaknya merupakan Lembaga Anti Korupsi Negara. Rimuk berusaha tenang, agar asmaanya tidak kambuh. Segera yang mengontak para penjaga rumahnya, ternyata apa yang dikatakan itu benar adanya. Bergegas ia pulang ke rumah untuk meyakinkan kekuatirannya.

Naas setiba di rumah, istri tercintanya sudah diboyong beberapa aparat lembaga ke kantor polisi. Dengan melangkah gontai, namun di sebisanya untuk tetap tampak gagah, Rimuk memasuki rumah. Belum sempat sereguk air putih diminumnya, perintah untuk ikut aparat pun harus dilaksanakannya dengan berat hati Rimuk gontai melangkahkan kaki.

Rupanya, di luar halaman rumah, sudah ramai para awak media dan masyarakat yang melonggo atas kejadian penangkapan itu.
Usut punya usut, ternyata istri yang dinikahinya beberapa tahun lalu itu, terjaring Operasi Tertangkap Tangan, karena menerima uang. Wajah Rimuk tampak pucat pasi, terkadang memerah seketika, kala melangkah menuju kendaraannya.
“Oh Tuhan bagaimana ini… Bagaimana Lalaku Tuhaaaan?” pikir Rimuk sembari mematikan radio di mobilnya yang masih terdengar sendu alunan lagu “Surat Cinta Untuk Starla”.

Saat memasuki kendaraan dinas pribadinya bersama aparat, tedengar teriakan dari sudut rumah dari seseorang lelaki berwajah sangar berbaju kuning langsat.
“Gawak tenang bae Yung, kagek aku yang ngurusi segalonyo buayo-buayo banyak ni”, teriak pria dengan logat bahasa daerah itu pada Rimuk yang tak peduli lagi akan sekelilingnya.
Aparat Lembaga Anti Rasuah Negara awalnya sempat kaget, namun akhirnya tak dihiraukan, karena mungkin mereka tidak apa yang dikatakan pria yang ada jerawat besar tumbuh di hidungnya.
Seorang jurnalis Koran Mingguan yang dari tadi berusaha mengamati kejadian yang ada, sempat nyeletuk pelan, “Kalau tak berada-ada, tak kan burung tempua bersarang rendah Pak” ujarnya. Untuk saja pria itu tidak mendengar, akibat hiruk pikuk masyarakat sekitar yang ada.

Di seberang jalan persis di depan rumah Rimuk, tampak pemulung tua beritirahat di bawah pepohonan yang ada. Seakan tidak begitu menghiraukan keadaan yang terjadi. Pemulung tua tampak berbincang dengan cucu yang bercita-cita nantinya akan jadi seorang Gubernur Negeri Bencoolen.

“Kenapa kamu bersikeras mau jadi gubernur Cu?” Tanya pemulung tua ke cucunya yang sibuk membersihkan tangannya yang kotor di atas rumput pinggir jalan.
“Wah… Enak kek jadi gubernur itu, banyak duitnya. Apalagi kala ada proyek, kan kita dapat fee-nya kek!” jelas sang cucu,
“Huss…Haram itu” bentak pemulung tua. “Siapa yang ngajari kamu?”
“Nggak ada yang ngajari Kek, aku cuma dengar kata teman-teman di tempat sampah di ujung jalan tadi”.
Alis pemulung tua berkerut. Ditariknya sang Cucu di dekat tempat duduknya. “Coba kamu dekat sini sebentar”.
Pemulung tua yang dalam satu hari hanya mendapatkan uang 50 ribu rupiah, itu pun kalau cuaca cerah dan sampah banyak, mencoba menjelaskan keinginan cucunya tadi.

“Itu namanya korupsi atau mencuri atau mengambil punya orang lain. Memberi dan menerima uang sogokkan itu itu sama-sama masuk neraka”.
“Waaiiiii…” Sang cucu tampak kaget mendengar neraka.
Sembari mengeluarkan sobekan kertas buku, pemulung tua itu memaksa cucunya mendengarkan ajaran agamanya.
“Ini kata hadits nabi cu… Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”.
“Terus kek…”,tannya Sang cucu ingin tahu.
“Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seolah-olah aku melihatnya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,”Ada apa gerangan?” Dia menjawab, “Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian.”
Nabi Muhaammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Aku katakan sekarang, barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, maka hendaklah dia membawa seluruh hasilnya, sedikit maupun banyak. Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya. Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh.”
Terlihat ngos-ngossan napas pemulung tua itu. “Jadi itulah korupsi, nggak boleh… Agama apapun melarangnya, juga hukum dunia!”
Sang cucu hanya terdiam tanpa ekspresi bertanda paham ataupun tidak.

Matahari mulai memancarkan teriknya. Seperti biasanya saat umat muslim menjalankan ibadah puasa di Bulan Raamadhan, aparat Lembaga Anti Rasuah Negeri dan Rimuk sudah tiba, singgah di kantor polisi, untuk persiapan menuju ke Ibukota.
Di kantor polisi, Rimuk sempat memeluk isterinya yang merengek ketakutan. “Sudahlah ma! Ini semua temuan hidup. Pasrah sajalah”, ucap Rimuk dengan mata berbinar, sambil memeluk istrinya, Lala.
“A ah papa nih… Mama takut. Mau mati aja kalau begini” rengek Lala di hadapan dua pelaku lagi yang dituding sebagai pemberi fee proyek yang juga seorang pengusaha.

Rupanya terkuak, ulah Rimuk, istrinya dan rekanan proyek itu sudah lama di incar aparat Lembaga Anti Rasuah Negeri. Kali ini mereka tak berkutik setelah tertangkap tangan melakukan usaha korupsi, dan beberapa alat bukti berhasil disita.
“Untung tertangkap tangan… Kalau tertangkap kaki tadi, bisa dikawinkan secara adat tuh”, canda seorang aparat kepada temannya.

Pesawat pun mendarat mulus di bandara Ibukota. Rimuk dan isterinya Lala serta pelaku lainnya turun pesawat dalam kawalan ketat aparat, bersama barang bukti dugaan korupsi.
Setibanya di kantor Lembaga Anti Rasuah Negeri, pertanyaan penyidikpun segera dilancarkan.

“Anda Rimuk? Apakah benar anda yang menyuruh istri anda menerima uang fee proyek dan disimpan dalam brankas?”
Gagap Rimuk menjawab. “Mau dibilang tidak menyuruh, nanti alangkah kasihannya istri tercinta masuk sel sendirian, mau dibilang benar, nanti bakal masuk bui sama-sama!” pikirnya cemas.

Suasana tampak santai, teh manis atau air mineral pun tersedia bila haus.
Bermacam pikiran terlintas saat Rimuk ditanya penyidik. Mulai dari bagaimana anak-anaknya, usahanya hingga isterinya yang bakal hidup tanpanya. Rimuk mulai tampak frustasi. Atas saran beberapa temannya yang sempat menjengguknya, agar dirinya melepaskan semua jabatan apapun yang ada saat ini.

Para teman sejawat dan pegawainya sempat kaget. Mereka seakan tak percaya akan tudingan yang dialamatkan pada Rimuk dan isterinya Lala. Setahu mereka Rimuk gencar memproklamirkan untuk tidak korupsi. Apalagi Lala yang sangat luas bergaul dan disenangi berbagai pihak.
“Mungkin benar pantun orang tua dahulu Cik! Anak cicak di dalam bambu. Entah bekaki entahla idak. Tekato tepijak tanah Bencoolen, entahla balik entahla idak”.
“Ai… Itu kamuorang ajo. Kalu Cik la lamo tau, tapi Cik slow” kata salah seorang pegawai Rimuk yang tampaknya berang, karena sempat dinonjobkan dari jabatannya sebagai penagih hutang.

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie
Blog / Facebook: benny hakim benardie
penulis merupakan jurnalis tinggal di Bengkulu

Cerpen Sekardus Uang Cinta Untuk Lala merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Membawa Takdirku

Oleh:
Di ruangan yang minimalis dengan susunan ranjang, lemari dan cermin hias yang tertata rapi, membuat suasana kamar ini indah di malam hari. Kupandangi wajah suami yang sangat aku cintai.

Sarung Terakhir

Oleh:
Perutku semakin tidak karuan setelah sekian lama berada di kereta yang para penumpangnya bersatu padu dalam satu gerbong. Dimana segala macam wewangian yang menusuk hidung sedang berperang memasuki hidungku.

Lorong Gelap

Oleh:
Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *