Selamat Jalan Pak Dudung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Ah, tak ada yang bisa kugambarkan secara detail tentangmu teman paling lucu, paling cengeng dan paling menjengkelkan. Pak Dudung entah kapan kita bertemu di sekolah ini dan entah kapan juga kita menjadi dekat, aku telah lupa. Yang aku ingat kau guru IPA dan mantan wakil kurikulum yang selengean.

“Is situ gak punya perut apa?” Teriaknya dari bangku pojok, tempat favoritnya.
“Hihihi yuk makan siang di mana nih?” Tantangku sambil bercanda padahal satu mangkuk mie instan pakai telur made in kantin sekolah telah kusantap.
Pak Dudung hanya mesem-mesem sembari menggoda siswa yang sedang menaruh tugas di ruang guru.

“Eh, Riska! Bu Is nih anaknya bu Dian. Persis galon kan? Kalau Riskanya galon, emaknya apa ya? Wakakakak.”
“Wah, parah nih Pak Dudung! Bu Dian dikatain Pak Dudung tuh.” Kataku cengengesan menahan tertawa lepas melihat ekspresi Bu Dian yang seperti hendak memakan Pak Dudung.
“Si Dudung mah emang kaya gitu, lihat saja nanti aku makan sama ayam gak akan dibagi kamu.” Jawab Bu Dian sambil melotot.
“Terus… terus… terus!” Kami yang berada di ruangan karena sedang jam istirahat menyaksikan kelakar mereka dengan gembira seolah mendapatkan hiburan.

“Ayo Beb ke warung makan ayam! Eh, mana tangannya. Kok saya gandeng kakinya?” Pak Dudung menghampiri Bu Dian sambil terus bercanda, tawa kami pun pecah.
Begitulah hari-hari kami di ruang guru pada sekolah ini diwarnai canda dan kadang-kadang benturan antar teman guru. Namun, itu yang membuat aku berasa hidup.

Pak Dudung memang tidak bisa lepas dari image bercanda, pernah suatu Senin dia menjadi pembina upacara. Ketika hendak menyampaikan amanat, siswa-siswa yang berbaris sudah tertawa terpingkal-pingkal padahal Pak Dudung belum berbicara. Tak pelak kami pun rekan guru ikut tertawa.
Kenangan-kenangan seperti itu yang membuat dadaku terasa sesak bila mengingat dia. Bukan hanya aku, melainkan semua teman-temanku dan bahkan siswa-siswa kami. Di Jumat pagi dengan iringan hujan di rumahku, jantungku terasa berhenti saat membaca what’s up grup sekolah.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun, telah berpulang rekan kita Dudung Anggara Mukti, S.Pd.”

Badanku lemas karena kakiku terasa melayang. Ingatanku berputar ke masa yang telah lalu. Banyak kejadian yang kami lalui bersama dan banyak jasa yang telah Pak Dudung berikan untuk sekolah dan aku. Tanpa jasanya aku tidak mungkin bisa melanjutkan hidup setegar ini melanjutkan hidup sesudah meninggalnya anak ke duaku. Air mataku masih mengintip di pelupuk jika mengingat sosok Pak Dudung, sahabat tercinta kami.

Cerpen Karangan: Iis Nia Daniar
Blog: jinggasenjamemerah.blogspot.co.id

Cerpen Selamat Jalan Pak Dudung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret of Adriana (Part 2)

Oleh:
“Mas Rasydan!!” seru wanita itu sambil berlari, Rasydan yang tengah memandangi desain bangunan seketika menoleh, wanita itu mendekat, wajahnya sumringah. “Mas, aku bawa berita apa coba?” Rasydan mengernyitkan dahinya.

Cinta Yang Berakhir Tragis

Oleh:
Perkenalkan dulu, kenalkan Shinta temen sebangku Ayu mereka bersekolah di SMA Harapan Jaya Jakarta Selatan kelas XI-IPA/3, dan temennya atau cowok yang Ayu yaitu Tian yang bersekolah di SMA

Aku dan Kau

Oleh:
Sebelum kau hadir di kehidupku hidupku terasa hampa, tak ada kebahagian yang membuat diriku tersenyum lepas bahagia, hanya kenangan pahit di pikiranku, masalaluku yang kejam dan tetesan air mata

Akhir Dari Sebuah Cerita Cinta

Oleh:
‘Deb, ntar malam kita nonton bareng mau gak?”, “Aduh gimana ya,…..mama aku pasti gak ngijinin dech”, “Ya ampun sayang, kamu cari alasanlah…mau ibadah, mau ngerjain tugas atau apa. Masak

Impianku Menjadi Pianis Terkenal

Oleh:
Hari ini hari yang kutunggu. Setelah lama menunggu. Katanya, hari ini SMP Mentari akan mengadakan seleksi untuk mengikuti lomba pianis tingkat internasional. Aku menggenggam erat tanganku yang bergerak dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *