Selamat Ulang Tahun, Emak !

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 December 2012

Aku masih sibuk mondar-mandir diantara keranjang-keranjang bunga. Warna-warni harum mewangi menggoda mata, namun tetap saja belum ku temukan yang menarik hati. Hampir 1 jam aku disini, di toko bunga Florist Flower. Setiap 2 minggu sekali aku berkunjung membeli bunga krisan untuk Meliya. Gadis yang sudah menjadi teman terbaikku bahkan lebih dari itu hampir 22 bulan ini. Dia, gadis cantik anggun dengan kerudungnya hitam manis rupawan. Sudah menjadi kebiasaanku memberikan kejutan-kejutan kecil untuk gadis manis ini. Seperti hari ini, kami akan bertemu untuk makan siang dan akan kubawakan bunga krisan kesukaannya. ?
Aku berhenti di keranjang ketiga dari depan pintu utama toko ini. Enam tangkai krisan terbungkus plastik biru transparan dengan hiasan pita. Segera aku menuju kasir untuk membayar. Aku pun keluar dengan perasaan tak sabar ingin bertemu Meliya, dara manisku. ? Oh, iya sampai lupa aku disini adalah Ariko Fahryan, biasa dipanggil Riko. Disini aku bekerja di salah satu perusahaan manufaktur bagian accounting. Merantau jauh dari tempat asalku, Gunungkidul, salah satu kabupaten di Yogyakarta.
Masih kuamati krisan putih berpita ini, harum. Tak terbayang pasti akan senang sekali Meliya menerima ini. Namun, tiba-tiba saja langkahku terhenti belum jauh dari pintu utama toko Florist Flower. Aku mendengar sayup-sayup tangisan anak kecil, dan ternyata benar. Gadis kecil duduk di dekat tempat sampah. Menangis tersedu-sedu sambil menyeka matanya. Segera saja kuhampiri anak itu.
“hai cantik, kamu kenapa kok menangis ? ” tanyaku ramah.
Lama tak ada jawaban. Anak itu tetap menangis terisak. Aku makin penasaran. Kuamati anak itu dari ujung kaki sampai kepala. Tubuhnya kurus, rambutnya dikepang satu tetapi agak berantakan, bajunya juga lusuh. Lalu kutanya lagi,
“kok ga jawab ? Apa ada orang yang jahat sama kamu ?”
Anak itu hanya menggeleng, kemudian mengangkat wajahnya dan menatapku.
“aku pengen beli mawar merah itu Om !” jawab anak itu sambil menoleh dan menunjuk keranjang yang penuh bertangkai-tangkai mawar merah. “tapi uangku gak cukup.” Jawabnya lagi sambil menunjukkan uang lima ribuan dan beberapa keping uang receh di genggamannya. Aku kaget terpaku di depan anak itu. Merasa iba..,
“yuk beli sama Om !” ajakku.
Anak itu tersenyum bahagia, kemudian menggandeng tanganku dengan rasa tak sabar memasuki toko ingin memiliki mawar-mawar itu. Lima menit kemudian kami keluar dengan membawa seikat mawar merah.
“setelah ini kamu mau kemana, biar Om anter.” Tanyaku ramah
“hmm, Dini mau menemui Ibu om, hari ini Ibuku ulang tahun.” Jawabnya puas.
“waah, asyik sekali. Oke , Om siap mengantarmu.”
Di dalam mobil Dini cerewet sekali itu karena dia menunjukkan jalan dimana dia akan bertemu Ibunya. Sesekali dia juga bercerita tentang Ibunya itu. Cerita-cerita dari gadis kecil itu mengingatkanku pada sosok wanita tua. Pikiranku mulai menggelayut pada wanita itu, Emak. Aaah bagaimana kabar Emakku di kampung lama sekali aku tak bersua bahkan sekedar mendengar suaranya lewat telepon saja itu jarang atau mungkin lebih tepatnya tak pernah. Apa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan baruku di sini, hingga meluangkan waktu untuknya saja aku tak sempat. Hatiku ikut bergejolak mengikuti pikiranku yang mulai memborbadir rasa, entahlah…
“nanti pertigaan di depan itu belok kiri ya Om !” perintah Dini lembut, membuyarkan semua pikiranku
“oh, iya manis.” jawabku tak kalah lembut
Mobilku berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah tempat yang menurutku aneh. Dari luar tanpak sepi, hanya ada beberapa orang saja namun mereka sibuk dengan aktivitasnya iut sendiri. Meskipun aneh namun tak perlu waktu lama untuk berpikir sedang dimana kami saat ini. Papan nama yang cukup besar terpampang jelas sekali “TPU RUMAH WANGI” belum sempat aku menata pikiranku yang tak pasti tadi soal sekilas tentang Emak kini beribu-ribu pertanyaan kembali menyerangku. Kenapa Dini ingin bertemu Ibunya disini, bukankah beliau ulang tahun, kenapa harus di tempat pemakaman ???
“ayo om !” tiba-tiba Dini menggandeng tanganku sambil berlari-lari kecil dengan senyum cerianya. Aku kaget dan semua pertanyaanku buyar semakin membuatku bingung. Kami berhenti di salah satu makam. Dini melepaskan gandengannya kemudian duduk di samping makan itu dan aku mengikutinya di belakang. Ku amati dan kubaca nisan di depanku. “Yuliati Binti Sholeh 12-09-1971— 07-05-2012” astaghfirullah…jadi ternyata…??
“Assalamualaikum selamat siang Ibu. Dini kangen nih. Oh iya, Dini bawakan mawar merah lho special untuk ulang tahun Ibu, semoga Ibu selalu bahagia disana karena Dini yakin Allah pasti memberika tempat yang indah buat Ibu. Baik-baik ya Bu. Dini sayang Ibu.” Ucap Dini polos, sambil membersihkan rumput-rumput di pusara Ibunya dan meletakkan seikat mawar merah tersebut. Aku masih duduk terpaku di belakang Dini, dia memandangku. Aku hanya tersenyum sedang dalam benakku masih terus mencerna kata demi kata yang diucapkan Dini. Tanpa sadar, air metaku menetes. Entah karena apa aku juga bingung dan tiba-tiba saja aku teringat Emak yang jauh-jauh juga telah kupikirka sebelumnya.
“ini Om Riko Bu. Dia baik banget. Om ini yang mengantarku kesini dan membelikan bunga untuk Ibu.” Ucap anak itu memperkenalkanku pada Ibunya seolah-olah Ibunya itu masih hidup. Hatiku menjadi kelu berada dalam keadaan seperti ini, aku bingung harus berkata dan berbuat apa. Aku merasa iba pada anak ini diusianya yang masih kecil dia ditinggalkan oleh sosok seorang Ibu. Sedang dia disini hidup sendiri tanpa sanak saudara.
Apartemen, at 16.47 p.m.
Aku sudah mengabaikan telepon dan pesan dari Meliya berkali-kali bahkan tak ada yang ku balas satupun. Dia pantas kecewa atas janji yang aku buat untuk makan bersama ku ingkari sendiri. Namun, sungguh perasaanku saat ini sedang tak menentu setelah kejadian tadi siang. Aku seperti mendapat hidayah. Tiba-tiba saja aku ingat Emak di kampung dan entah kenapa rasanya aku ingin pulang. Apa kabar Emakku di sana setelah sekian lama tak bertemu ???
Wonosari, at 08.12 a.m.
Suara mesin jahit tua itu menderu menggebu seolah dipaksa untuk terus bekerja. Sedang wanita tua ada dibaliknya. Sambil berdendang lagu campursari yang didengarnya dari radio. Namun suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar menghentikan kerja dan nyanyian wanita tua itu. Setelah membuka pintu yang didapat bukanlah tamu melainkan seikat bunga dengan hiasan pita biru lengkap dengan kartu ucapan yang tergeletak di lantai rumahnya.
“aneh, bunga dari siapa ini ya ?” ucap wanita itu penasaran
Dia mencari-cari orang yang mungkin saja mengirimkan bunga ini namun tak menemukan siapa-siapa. Diamati bunga itu, menciumnya sambil tersenyum dan dibacanya kartu ucapan itu. Meski sudah tua wanita itu masih bisa membaca.
“hmm, ucapan selamat ulang tahun dari siapa ini ?” semakin bingung dan penasaran.
“Emak…!” kataku lirih dari arah belakang
Wanita itu menoleh. Tatapannya tepat di mataku. Kami saling terpaku, diam. Ku lihat gurat rasa tak percaya diwajahnya sedang matanya langsung meneteska air mata.
“Emak, Riko kangen..!” langsung saja kupeluk Emakku, kudekap erat. Kutumpahkan segala rasa yang selama ini mengganjal di hati. Rasa kasih, sayang, rindu, semuanya ingin kucurahkan namun sulit kusampaikan. Aku hanya bisa memeluk Emak sambil menangis tersedu menyesali perbuatanku yang telah mengabaikan adanya.
“kepie kabarmu cah bagus ? Emak khawatir keadaanmu” tanya Emak sambil mencium keningku
Subhanallah…aku semakin terharu ternyata orang yang selama ini kuabaikan masih dan selalu perhatian dengan keadaanku. Kurasakan hangatnya bulir-bulir kasih dan sentuhan lembut sayangnya. Bodohnya diriku yang tak pernah sadar akan karunia Allah yang masih memberiku nikmat umur dan rizky. Dan dibalik semua itu masih ada orang yang tulus menyayangi meski aku telah melupakannya sibuk dengan dunia baruku. Kasih Emak yang tiada tara yang tak pernah meminta kembali tetapi selalu memberi lebih. Emak maaf. Riko sayang Emak. Engkaulah bidadariku. Selamat ulang tahun…!

Cerpen Karangan: Enik Ermawati
Facebook: www.facebook.com/ndundukzEnikk
Aku penulis amatir, masih membiarkan jari-jari menari di atas lembaran-lembaran kosong dan mengetik liar di atas keyboard 🙂

Cerpen Selamat Ulang Tahun, Emak ! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berakhir Tanpa Harus Diawali

Oleh:
Aku menghidupkan si merah kesayanganku (sepeda motor.. donk) dan meninggalkan orang yang berdiri disana.. aku akan memilih pergi dari hadapanmu dan teman2mu.. tapi dengan satu syarat ;, apa ituh

Hutang Tingkat Dewa

Oleh:
Aku terus berlari menerobos hutan cemara, entah berapa lama aku berlari aku tak tahu pasti. Yang kurasa nafasku sudah hampir habis. GEDEBUGG… aku terjatuh. Kuarahkan pandangan kesekelilingku, rupanya aku

Hari Kartini

Oleh:
Pagi ini wanita tua itu kembali menarik gerobak sampah. Jalannya agak terpincang-pincang, entah karena kakinya sakit atau karena keberatan menarik gerobaknya. Sandal jepit yang mengalasi kakinya, seperti baju kaos

Tegar, Ikhlas dan Bersyukur

Oleh:
Aku adalah seorang pria yang boleh di bilang lugu, cupu dan kurang pergaulan, Semasa aku smk aku di kenal sebagai anak yang biasa saja tapi aku mempunyai mimpi dan

Rantai Kenangan

Oleh:
Suara riak lumpur yang menyatu dengan langkah kaki kian menjauh, dalam rintik hujan terdengar suara beberapa orang di sekitarku saling berbisik. Pandanganku hanya tertuju kepada gundukan tanah merah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *