Semangkuk Bakso Diskusi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 7 February 2017

Di siang hari yang terik memang mantab menyantap yang segar-sagar, bakso. Bakso tidak pernah kehabisan untuk dijelajahi dan bakso selalu hadir dengan pesonanya yang pedas dan seksi. Siang yang terik ini aku mengadakan pertemuan dengan teman, aku pilih bakso karena aku hanya bisa realistis. Bakso yang biasanya aku tempati memang tak pernah sepi pelanggan, mereka datang ketika jam makan siang ataupun mengisi perut yang kosong di malam hari. Untuk ukuran baksonya memang ada yang jumbo, terkadang orang tergiur dengan saesuatu yang jumbo.

Aku duduk tepat di depan kipas angin, berasa sejuk. Inilah tempat paling special tanpa harus ada sajian mewah, pelayanan, dan kursi empuk. Cukup disediakan kipas angin, karena golongan darahku O dan aku mudah sekali berkeringat, itu sudah sangat spesial bahkan terpaku. Aroma kuah bakso begitu kuat ketika sang penyaji membuka tutup panci, dituangkannya ke dalam mangkuk bakso dan menggelindingkan beberapa butir biji bakso. Air liur menetes.

Dia datang, temanku, teman semasa SMA yang telah lama tak jumpa kini ada di depan mata. Rambut pendek masih sama seperti dahulu. Ada rasa senang, kangen, dan kesal menjadi satu. Kami berbalas senyum.
“Waktu mempertemukan kita kembali”. Ucapku.
“Berterimakasihlah kepadanya”. Balasnya.
“Cicipilah, nanti aku yang bayar”. Tawarku.
“Dengan senang hati, kapan lagi bisa ditraktir teman lama”.

Dan akhirnya, beberapa butir bakso diracik dalama mangkuk, tangannya begitu lihai merciknya, seperti koki. Hingga beberapa langkah tukang bakso hadir menyodorkan dua mangkuk bakso. Panas. Uap menyebul dari mangkuk, aroma kuah dan bola-bola bakso menambah lezatnya pertemuan kali ini. Kami makan bersama. Setelah makan, ini yang aku tunggu. Diskusi.

“Mana yang kau pilih. Waktu atau Tuhan?”. Tanyanya.
“Tuhan”
“Aku waktu, kenapa?”. Balasnya. “Karena dengan waktu, semua bisa terjawab”
“Tapi Tuhan yang menghendaki”
“Ya, memang. Jika Tuhan belum menghendaki waktunya apa mungkin terjadi, seperti ini kalau bukan waktu siapa lagi yang mempertemukan kita”
“Jadi, kau tidak percaya Tuhan?”
“Percaya, tapi waktu adalah segalanya”
“Mungkinkah Tuhan mengenakan jam tangan?”
“Ya, mungkin merek Swiss Army”. Kemudian kami tertawa.

Ada lagi, beberapa dijadikan alat diskusi.
“Apa yang menyamakan raja dan pengemis?” Tanyanya. Aku berpikir panjang. Aku tahu dalam kepalanya ada sesuatu yang tak terduga-duga.
“Kau tidak tahu?”
“Enggak”
“Jika raja dan pengemis menadahkan tangannya, pasti diksih”
“Kukira tidak, pengemis tidak langsung dikasih”
“Ini terlepas dari intensitasnya, memang raja seketika langsung diberi, terbalik dengan pengemis. Tapi lihat lebih dalam. Banyak penguasa dan pejabat yang hidupnya seperti pesakitan. Apapun menyuruh
dan banyak pejabat yang mengemis jabatan dan pangkat. Apakah tidak sama dengan pengemis yang berbaju sobek, rombeng dan bau”. Jawabnya.
“Hebat…”. Batinku. “Mengapa kau tidak menyalonkan diri?”
“Aku tahu disana dipenuhi orang-orang jujur, seperti d*lly dan kalijodo yang dipenuhi wanita muslimah lagi perawan”.
“Hahaha… kurang ajar”.

AKU merasa waktu seperti terhenti. Banyak bahasan yang membahas lingkungan sekitar. Mulutku tak pernah berhenti haus, sudah beberapa botol minuman aku habiskan untuk meladeni temanku. Tapi ia lebih sedikit menghabiskan minuman.
“Kau tidak haus?”. Tanyaku.
“Buat apa, sedangkan kita punya liur. Telanlah, mumpung gratis”.
“Menjijikan…”. Dan kami bersalam erat dan hangat.
“Kukiraa kita bisa bertemu kembali”. Pintanya.
“Apakah kau tak…”
“Besok aku jelaskan”. Potongnya. Hari telah senja, kami berpisah untuk sesi hari ini. Besok, aku harus menajamkan otakku agar bisa mengimbanginya.

HARI ini adalah hari kemarin yang dijanjikan, di depan kipas aku menanti teman diskusi. Pemilik kedai bakso menyalakan sound system kencang-kencang, lagu dangdut dengan dentuman kendangnya membuat jempol ingin bergoyang, lumayan membunuh rasa bosan. Kemudian, ia datang.

“Silakan pesan, aku yang bayar”. Tawarnya.
“Tak perlu… Tak perlu menunggu lama”. Jawabku, ia tersenyum.

Seperti biasa bakso kita santap dahulu, setelah mangkuk kosong kita lanjut diskusi.

“Cinta…”. Ungkapnya. “Membuat banyak orang dibutakan”
“Hmm…”
“Apapun rela dilakukan. Walaupun hujan, badai, dan bencana mengahadang, tapi ketika hujan sedikit sang pria lalai akan janjinya”
“Ya, hanya nonsense”
“Jika, cinta membuat buta. Hanya membuat sang penikmat melakukan hal-hal bodoh bahkan membunuh. Mengapa cinta diciptakan?”
“Lalu, apa menurutmu cinta itu?”. Tanyaku.
“Cinta itu menerangi, menerangi jalan dan tujuan. Sepasang pasutri jatuh cinta, cinta itu akan menerangi jalan yang akan dilalui bersama. Lebih sulit jatuh cinta atau memabangun cinta?”
“Membangun”. Pikirku.
“Ya benar, karena sesuatu yang telah jatuh akan sulit untuk dibangun kembali”.

Banyak yang kami bahas dalam dua mangkuk bakso yang telah kita nikmati, di atas meja sudah tertuang ratusan pemikiran dan mungkin akan terus bertambah. Pemikiran tak akan pernah mati dimakan jaman atau belatung, ia akan selalu abadi bersama mereka yang mau berpikir. Masih banyak yang belum dapat manusia pikirkan tentang alam ini, selagi ujung angkasa belum ditemukan manusia masih dapat terus berpikir.

“Menurutmu dalam menikmati sisa umur ataupun menikmati tahun-tahun dengan pasangan. Kau memilih menambah cinta atau mengurangi cinta?”. Tanyaku.
“Aku lebih memilih, mengurangi”. Jawabnya.
“Kenapa kau pilih itu? Kau tak ingin rumah tangga yang harmonis”
“Karena aku mencintai atas dasar Tuhan. Aku cinta Tuhan dan penyayang mahklukNya”. Kami pun tersenyum.

“Dian, anakmu lho nangis terus..!”. Teriak seorang wanita.
“Urusi dia dulu, anak kita. Baru setelah itu diskusi kembali”. Pintaku. Ia tersenyum dan membelakangiku.

Cerpen Karangan: Hasan Ibarahim
Blog: Hasanjovi83.blogspot.co.id
Hasan Ibarahim, berusaha menjadi penulis profesional. Penyuka olahraga basket dan bergolongan darah O ini lahir di jakarata. Bisa dikunjungi karya-karyanya di akun steller @Hasanaibra_ twitter @hasan4sacker. Dan, ditunggu koreksi dan masukannya.

Cerpen Semangkuk Bakso Diskusi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Senja

Oleh:
Sendiri aku menatap langit sore melalui kaca bus yang mengantarkan aku pulang ke kontrakan di daerah Cawang. Sengaja aku mengambil bangku tidak terlalu di sudut, dengan alasan agar mudah

The Power ff Liar (Sang Pembohong)

Oleh:
Di pintu masuk suatu kampung yang paling maju di daerah iwak toman, tampak ramai. Beberapa orang berseragam mengelilingi 3 orang anak muda yang membawa alat-alat musik. Ketika diperhatikan seragam

Dinda – makam dan kenangan

Oleh:
tanah merah basah… kuresapi rinai hujan yg perlahan mulai meluap dari daratan bumi.. sementara Aku masih bertahan di tempatku berpijak sejak sejam yang lalu.. Nenek Aida, “Kepada-Nyalah kita semua

Gorengan Nasi Uduk

Oleh:
06.10 Grup LINE SEPSOSA tiba-tiba berbunyi. Mirza Satrio “TIDAK ADA KATA GAGAL SELAMA KITA MASIH BERUSAHA UNTUK MENCOBA SUKSES” “Yee.. si Ijul. Ngirimin kata motivasi mulu..” kata Dela. “Tau

Puisi Sedih Untuk Thara

Oleh:
Sore itu, angin tak seperti biasanya, ia berhembus dengan sangat tenang. Sore itu seorang wanita berpakian serba hitam berjalan menuju sebuah pemakaman umum. Dia berjalan menyusuri setiap petak tanah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *