Senandung Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 12 February 2018

Ingin kupetik bintang yang bertabur di langit malam, lalu kugenggam erat. Kudekap, kusimpan di sudut jemari agar suatu saat bila aku kembali, kupersembahkan untukmu bunda. Lihatlah cahaya yang ditumpahkan bulan dan bintang ke bumi, menggantikan tugas camar siang tadi. Malam ini bumi bermandikan cahaya pucat sang rembulan serta kerlap-kerlip bintang di angkasa.

Semua peristiwa kembali runut di pikiranku, Terngiang semua kata-kata bunda yang berusaha menahan kepergianku. “Jadi Nia akan meninggalkan bunda sendiri demi melanjutkan pendidikan Nia?” Ulang bunda kepadaku
“Maafkan Nia nda, tapi ini kesempatan langka. Bunda tahu harapan Nia besar selama ini. Dan Allah memberi kesempatan ini jadi Bagaimana Nia menolaknya?” Jawabku sambil memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koper.
“Tapi lima tahun itu tidak sebentar dan meski jakarta masih dalam negeri tapi itu jauh, bagaimana kalau sesuatu terjadi selama Nia di sana?” Aku menghela nafas,
“Nda, Nia janji akan jaga diri sebaik-baiknya, Nia akan berusaha menyelesaikan secepat mungkin pendidikan Nia. Nia ingin bunda bangga memiliki anak seperti Nia”

“Selama ini bunda sudah bangga pada kamu nak, kamu tidak perlu pergi, dan apa yang sebenarnya Nia cari di luar sana? Apa Bunda kurang memperhatikan Nia selama ini?” Bunda lagi-lagi mengatakan hal itu
“Bukan begitu nda, ini bukan karena bunda tidak memperhatikan Nia. Tapi ini hanya karena Nia ingin mandiri. Mungkin ini cara yang Allah kasih”

“Nia, coba lihat bunda!” Ujar bunda, aku pun menuruti perintah bunda. Kutatap mata bunda dengan sayu
“Apakah dengan meninggalkan bunda di sini, Nia akan bahagia? Belum cukupkah ayahmu saja yang pergi? Atau Apakah bunda tidak berarti untuk Nia?”
“Bunda satu-satu yang paling berarti dalam hidup Nia. tapi nda, ini kesempatan Nia. Nia mohon bunda mengerti. Terlebih lagi semua ini demi bunda. Nia mau bunda bahagia dengan prestasi yang Nia raih. Ini tidak akan lama bunda.”

Bunda hanya menghela nafas sembari menundukan kepalanya, aku melihat bulir air mata di pipi bunda. Namun, kutahan hati ini agar tidak iba. Bukan aku tak terluka tapi aku berusaha tegar untuk menyakinkan bunda, ia bisa melepasku

“Bahkan air mata bunda pun tak bisa menghentikan keinginan Nia.” Itu kalimat terakhir bunda sebelum meniggalkanku di ruang hampa ini. Bunda berjalan menuju kamarnya tanpa menyuruhku beristirahat seperti bisanya bahkan menatapku pun tidak bunda lakukan. Begitu bunda pergi segera kusiapkan perkerjaanku. Setelah semua selesai kurapikan, kuraih bingkai foto di atas bufet, potret diriku dan bunda. Bunda tersenyum menatap kamera, sembil memelukku. Ahhhh aku semakin dilema dengan semua ini, satu sisi aku tak ingin meninggalkan bunda yang pasti begitu kesepian di rumah ini nanti setelah aku pergi. Tapi keingginanku untuk pergi jauh lebih besar lagi, harapanku aku akan membuat bunda bahagia dengan melanjutkan pendidikanku ini. Aku sadar mengapa bunda berat melepasku, salama ini akulah teman hidupnya, setelah ayah memilih pergi dengan kesenangannya. Aku tak membenci dirinya, karena bunda selalu mengatakan bukan salah ayah memilih pergi hanya saja bunda dan aku yang tidak berarti dalam hidup ayah. Dan aku tidak mempersalahkan juga mengapa ayah pergi, bagiku memiliki bunda saja sudah lebih dari cukup.

Kubaringkan tubuh ini di atas ranjang kamar ku, kucoba memejamkan mataku namun tak kunjung bisa. Hatiku masih tak tenang. Akhirnya aku beranjak dari ranjangku dan melangkah menuju kamar bunda, kulirik jam di ruang tamu yang berada di hadapan kamar bunda ternyata telah menujukan pukul 01:43 menit dini hari. Perlahan kubuka pintu kamar bunda, sedikit demi sedikit mulai terbuka. Kulihat bunda telah terlelap, sedikit ketenangan mulai kurasa. Aku kembali ke kamar sebelum tidur kusempatkan untuk bermunajat di hadapan Illahi.

Dengan harap-harap cemas kutarik koperku dengan perlahan, kulihat bunda telah menunggu di depan. Entah akan membiarkanku pergi, atau malah akan memaksaku tetap di sisinya.

“Bunda.” Sapaku, bunda menoleh. Tuhan matanya sembab, sebegitu pilukah hati wanita terhebatku ini.
“Nia, maafkan bunda” bunda memelukku dan air matanya turut mewarnai pagi ini
“Maaf untuk apa nda?”
“Maaf untuk kebahagiaan yang tidak bisa bunda kasih ke Nia, maaf untuk keterbatasan bunda yang tidak bisa meneruskan pendidikan Nia, maaf untuk kekurangan yang Nia rasakan selama ini.” Allah, aku tak mampu menahan bulir ini. Kumohon bunda jangan teruskan kata-kata bunda.

“Kamu, anugrah terindah yang bunda miliki, karunia terbesar yang diberi Allah untuk bunda. Semua yang bunda lakukan demi kamu. Tapi,” bunda kembali terisak
“Nda” hanya itu yang keluar dari lisanku, aku tak kuasa berkata-kata lagi ku peluk bunda dengan erat
“Bunda tidak kuasa nak. Keinginanmu jauh dari jangkauan bunda. Maka dari itu bunda ikhlas jikalau Nia akan pergi” bunda melepaskan pelukannya

Aku bersujud di kaki bunda, hatiku hancur bunda tak melarangku pergi, namun kata-katanya menyadarkanku pada satu hal, penyesal! entah menyesal pada ayah yang memilih pergi atau pun menyesali takdirnya.

“Demi Allah nda, jangan katakan itu. Nia bahagia bersama bunda, semua yang bunda lakukan itu sempurna. Nia tidak mengeluh dengan semua kesederhanaan ini, Nia pergi demi bunda. Nia sedih nda, selama ini orang-orang menilai rendah bunda yang hanya seorang diri membesarkan Nia, dari itu nda Nia harus sukses supaya jangan ada yang memandang bunda sebelah mata. Nia mohon nda, biarlah Nia pergi!”. Bunda memegang bahuku
“Bangun nak, bunda izinkan Nia pergi, yaa walau bunda merasa berat. Tapi Nia sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup Nia, bunda hanya bisa meridhoi pilihan Nia dan berdoa semoga apa yang Nia impikan tercapai.” Bunda mengapus air mataku

“Sekarang, pergilah nak. Bunda akan menunggu Nia kembali dengan kemenangan.” Aku tersenyum
“Nia pergi nda, Assalamualaikum.” Kucium tangan bunda begitu lama, entah kapan aku akan mencium tangannya lagi.
“Waalaikum salam nak” dan akhirnya kutinggalkan bunda dengan sepi yang akan menjadi teman sejatinya dalam penantian panjang ini, Bunda aku pasti kembali!! Itulah janjiku.

Semenjak kepergianku bunda sering mengirimiku surat. Dalam surat-suratnya bunda selalu berpesan untuk terus menjaga diri sebaik-baiknya, juga selalu mengungkapkan kerinduan di hatinya. Surat pertama bunda, bunda bercerita, “setiap malam bunda menatap bintang di langit, karena dengan begitu bunda merasa seakan-akan melihatmu tersenyum seperti biasa. Itulah cara bunda mengobati rindu ini.” Akh, surat bunda selalu mengundang air mata. Betapa aku ingin melihat wajah yang sudah renta itu. Namaun keinginan untuk bertemu selalu terpatahkan dengan rutinitas hidup di rantau orang.
Dan kini dalam genggamanku berada surat keempat bunda setelah empat tahun kepergianku

“Nia, kapan kamu pulang? Bagaimana dengan sekolahmu? Apakah belum cukup juga waktumu untuk sekolah? Bunda rindu. Begitu banyak peristiwa yang telah terjadi di sini, dalam situasi seperti ini bunda memerlukanmu, dan selalu merindukanmu. Itulah sebabnya bunda memberimu nama Saunia Rindu. Kamu selalu menjadi ladang kerinduan bunda.”

Surat bunda singkat, namun mampu menguras habis air mataku dan menyebakkan dada. Malam semakin larut, aku melangkah satu-satu menuju pintu. Sungguh, aku tak tau kata-kata apa yang mesti kutulis untuk bunda, namun aku sangat harus membalas surat bunda. Oh bunda inginnya aku kembali! Namun bintang itu belum juga berhasil kugenggam.

Cerpen Karangan: Lisnur Ridayani
Facebook: Lisnur RidaYani
Cerpen Pertama yang dipukbilkasikan, mohon kritik dan saran yang membangun kawan supaya kedepannya lebih baik. Kalau mau berteman add fb aku Lisnur RidaYani atau Lysnur Rida yani ok…

Cerpen Senandung Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah, Aku Berjuang

Oleh:
Namaku ika, aku kini duduk di bangku sma kelas 12. Aku bisa dibilang murid yang cerdas karena aku selalu menempati posisi peringkat 3 besar di kelasku. Aku benar-benar berjuang

Kepergianmu

Oleh:
Suatu hari ketika aku masih duduk di bangku SMA Ibuku jatuh sakit, sebelumnya ia tak mengetahui penyakitnya, setelah lama kelamaan Ibuku mengetahuinya, ketika ia merasa matanya telah rabun hingga

Samudera Rasa Tepian Pantai

Oleh:
Tak ada apa pun yang mampu membuatnya tertidur dengan lelap di malam yang dingin itu. Bayangan anak–anaknya yang tengah tertidur dengan pulas terus membayangi benaknya. Ia segera terjaga saat

Renungan “NASIB”

Oleh:
25 tahun yang lalu, Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun

Tekun Awal Yang Sukses

Oleh:
Burung berkicauan, di antara hempasan gelombang yang tinggi menerpa pantai. Nama ku fachri aku hanyalah anak seorang nelayan, penghasilan ayahku tidak terlalu tinggi, tapi kedua orangtua ku tetap berusaha

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Senandung Rindu”

  1. nindya says:

    Bikin terharu sampai nangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *