Sepanjang Jalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

Masih terekam jelas percakapanku dengan Maggie sore tadi. Kami mempermasalahkan kondisi keuangan kami. Terakhir kali aku dipecat dari perusahaan pengalengan ikan dan harus rela menyandang status sebagai pengangguran hingga saat ini.

Kualihkan perhatianku pada jalanan dengan lampu jalan sepanjang aku melangkah. Semua orang sibuk dengan urusannya sendiri, mempertemukan bayangan satu dengan yang lain untuk ditinggalkan kembali.

Kuputuskan masuk ke dalam bar tempat sahabatku bekerja. Tanpa kuminta, Fred langsung menyiapkan segelas anggur favoritku. Aku tidak tahu sejak kapan aku suka berhutang. Sepertinya sejak aku menikah dengan Maggie, yang kemudian kusadari bahwa itu adalah kesalahan.

“Perusuh itu datang lagi,” bisik Fred kepadaku. Kupalingkan wajah ke arah yang dimaksud oleh Fred.

O’Connel bersaudara mengitari meja Blackjack mencoba menaklukkan kasino yang pasti akan menuaikan kekalahan bagi penjudi manapun, terutama O’Connel yang tak pernah berpikir panjang. Hal buruk lainnya adalah saat O’Connel mendapat kekalahan dalam jumlah besar dan mengamuk di depan bar. Sesekali mereka juga memalak seorang asing untuk membayar minuman mereka.

Kupalingkan wajah kembali pada Fred. Mereka hanya mencari kepuasan dengan cara mereka sendiri. Sama seperti aku yang saat ini duduk di depan bar dengan gelas berisi Muscat yang akan kubayar saat aku mendapat pekerjaan baru.

“Tak seburuk diriku,” gumamku membuat Fred mengulum senyum.
“Keberuntunganmu sudah kau gunakan tahun lalu.”
“Ya. Keberuntungan terbodoh di meja judi,” sahutku sambil meneguk anggur di depanku.

Pandanganku terantuk pada penyanyi bar yang turun dari panggung hanya untuk menghampiri seorang laki-laki tua. Aku sering melihat wanita itu saat berkunjung. Biasanya dia hanya berada di atas panggung sambil menyanyi. Meski tak jarang pula aku memanggilnya dan mengobrol berdua saja ditemani anggur merah kesukaannya dan putih favoritku. Bahkan aku yakin masih mengingat aroma parfum murahannya.

Maggie selalu memarahiku jika aku merok*k di depannya tapi tidak dengan gadis itu. Peony tak akan keberatan sekalipun aku mengepulkan asap rok*k ke wajahnya. Mungkin juga menyukainya.

“Aku harus pergi,” ucapku. Bukan saatnya bagiku bersenang-senang di bar sementara istriku meringkuk sendirian di rumah sembari mengelus perut besarnya.

Fred melepaskanku. Terlebih lagi karena dia sibuk menenangkan suasana yang sedikit ricuh kala O’Connel menggebrak meja dengan berang. Kukenakan kembali topi lebarku sambil membuka pintu bar.

Seorang laki-laki muda segera menyambutku sebelum aku menjejakkan kaki sejengkal pun di pelataran bar.
“Tuan, boleh aku menyemir sepatu Anda?” tegur anak laki-laki yang kira-kira seusia John, keponakanku.
Aku tahu aku tak akan bisa memberi cukup uang untuk membayar jasanya. Bukan tak punya, tapi Maggie membutuhkannya untuk kehamilannya yang menginjak bulan ke-7 ini. Meski demikian, kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
“Aku hanya memiliki 1 dollar. Apakah itu cukup?”
“Itu cukup,” sahutnya singkat sambil menurunkan kotaknya di tanah.

Dia memberiku kursi kecil agar aku bisa duduk dengan nyaman. Kulihat dia tidak begitu mahir menyemir. Bahkan gosokannya tidak terlalu merata. Aku diam tak berkomentar. Sesaat lalu aku merasa iba karena aku hanya bisa memberinya 1 dollar, tapi kemudian aku merasa bahwa dia pantas mendapatkannya.

Tidak sesuai dengan janjiku, kuberikan 2 dollar dari kantongku untuknya setelah kegiatannya selesai. Dia terlihat sedikit salah tingkah dan kikuk.
“Ambil saja. Ternyata aku memilikinya dalam kantongku,” ucapku sembari berlalu.
“Maafkan saya, Tuan.”
Aku menoleh sekilas lalu tersenyum. Kulanjutkan kembali langkahku menyusuri jalanan Leicester. Lampu-lampu jalan menyala menerangi keramaian yang seolah tak pernah habis di bawahnya.

Kupalingkan wajah ke salah satu restoran di sisi kiriku. Seorang pemain biola membawakan lagu yang menyayat hati pendengarnya. Aku tahu dia berniat menghibur para tamu. Tapi, apakah dia bisa menyebut lagu itu sebagai hiburan jika para pendengar justru menitikkan air mata karenanya?

Tak sengaja aku menabrak seorang gadis karena terlalu fokus memperhatikan sang pemain biola. Bukan hanya aku, nampaknya gadis itu pun serius memperhatikan sang musisi dari balik kaca.
“Maaf,” ucapku sambil membantunya memunguti barang-barang yang berceceran di teras restoran.
“Tidak apa. Seharusnya aku segera pergi. Ah, aku juga ingin membeli boneka untuk adikku,” sahutnya meskipun aku tidak bertanya. “Permisi, Paman.”
Kuanggukkan kepalaku sebagai sahutan. Melihat caranya berbicara dan bersikap, aku tahu persis jika dia berasal dari kota kecil di perbatasan Wales. Mata hijau gadis itu berputar seolah berusaha menutupi kekagumannya pada jalanan ini.

Aku hampir memperingatinya sesuatu tapi terlambat. Untuk kedua kalinya dia bertabrakan di jalan yang sama, oleh sebuah pintu restoran yang tiba-tiba terbuka.
“Maaf. Aku tidak melihatmu di balik pintu,” ucap seorang lelaki pada gadis itu.
Kulihat gadis berambut pirang itu mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Tak berbeda halnya dengan lelaki yang baru saja membuka pintu restoran. Aku yakin ada seorang peri tak kasat mata yang baru saja melepaskan anak panah dari busurnya.
Kutinggalkan kedua insan yang sedang sibuk merangkai pundi-pundi hati mereka masing-masing. Aku sudah pernah mengalaminya bersama Maggie.

Kuhela napas dalam-dalam sambil merapatkan mantel yang kukenakan. Aku tahu Maggie putus asa. Dia bisa saja meninggalkanku namun tidak dilakukannya. Tapi apa yang bisa kuberikan untuknya demi seulas senyum bahagianya?

“Percayalah padaku. Aku akan lebih baik daripada sebelumnya. Aku tak akan melakukannya lagi,” ucap seorang laki-laki pada gadisnya.
“Tidak. Aku percaya Tuhan. Manusia tidak menjanjikan apapun.”

Aku bukan seorang yang taat beragama, namun aku mempercayai keberadaan Tuhan. Mungkin Maggie berpikiran sama seperti gadis itu, tidak mengharapkan apa-apa dariku, dan aku memang bukan orang yang pantas diharapkan.

Aku mengulum senyum tipis. Aku tak mungkin bisa menciptakan kebahagiaan Maggie. Menikahinya adalah kesalahan. Lagipula seharusnya, kebahagiaan datangnya dari diri sendiri. Jika sejak awal bahagia itu tidak ada, apa yang bisa diharapkan lagi?

Kulihat selebaran di kaca toko untuk pekerjaan penjaga toko. Jika aku tidak melakukan apapun, bahagia itu memang tak akan pernah kudapatkan selamanya. Setidaknya aku sudah memilih. Kepedihan hati datangnya dari diri sendiri.

Kulepaskan topi di kepalaku sambil membuka pintu toko itu. Semuanya akan kumulai dari hari ini. Semua orang pasti memilih bahagia. Dan aku cukup percaya bahwa aku mampu membuat pilihan itu menjadi nyata. Seperti orang-orang lain yang kutemui sepanjang perjalanan.

Mereka pun telah memilih.

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy
Cerpen ‘Sepanjang Jalan’ adalah salah satu cerpen karya Amarta Shandy yang diterbitkan dalam buku antologi cerpen berjudul ‘Kagome-Kagome’s Suicide’ (AE Publishing).

Cerpen Sepanjang Jalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Sudah Menikah Tiga Kali

Oleh:
Seorang saudara sepupu yang tidak bertemu, hampir 28 tahun, yang teringat ia seorang anak lelaki 5 tahun ditinggal ibu kandungnya, berperut buncit bernama Mimid. Dan dalam pertemuan itu, Nana

Penaluna

Oleh:
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama

Ludah Untuk Si Cermin

Oleh:
Matahari pagi seperti menjadikan kulit si Hari kecil memerah. Ternyata bukan karena terik surya, tapi di pagi itu raut wajah kekecewaan dan kekesalan terlihat jelas menemani setiap langkahnya yang

White Musk

Oleh:
“Maaf ra”. Sepintas kata yang mudah itu keluar dari mulutnya itu. Aku tidak menyangka bahwa dia, orang yang sangat disayang bisa pergi begitu saja. Malamnya aku tidak bisa tenang

Puisi Sedih Untuk Thara

Oleh:
Sore itu, angin tak seperti biasanya, ia berhembus dengan sangat tenang. Sore itu seorang wanita berpakian serba hitam berjalan menuju sebuah pemakaman umum. Dia berjalan menyusuri setiap petak tanah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *