Sepasang Album Kembar (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 June 2022

Malam itu, ketika sedang makan mie rebus dan minum kopi di ruang makan asrama, Agus menghampiriku.
“Juno, aku perhatikan suara mesin tikmu tidak pernah terdengar lagi. Selama beberapa bulan, kamu murung. Apa ada masalah?”

Aku diam agak lama.
“Agus …, hubunganku dengan Dewi putus.”
“Putus? Kenapa?”
“Hubunganku putus untuk suatu alasan yang tidak masuk akal. Orangtua Dewi tidak menyetujui gara-gara aku orang Jawa dan Dewi orang Sunda.”

Agus memandangku dengan penuh iba.
“Juno, pernah dengar perang Bubat?” Perang antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda?”
Aku menggelengkan kepala. Memang dari dahulu, aku tidak tertarik dengan pelajaran sejarah.
“Ini, cerita singkatnya. Bermula dari utusan Majapahit yang mengantarkan surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana, Kerajaan Sunda, untuk menyunting putri mahkota Dyah Pitaloka. Lamaran diterima dengan suka cita. Majapahit adalah kerajaan besar, menguasasi hampir seluruh wilayah Nusantara kecuali daerah Pasundan. Maharaja Linggabuana dan rombongan membawa Dyah Pitaloka ke Majapahit. Rombongan tiba di Bubat, tidak jauh dari ibu kota Kerajaan Majapahit. Gajah Mada, patih Majapahit yang terikat dengan Sumpah Palapa meminta Maharaja Linggabuana takluk kepada Majapahit dan menyerahkan putrinya sebagai upeti, untuk dijadikan selir. Sementara Maharaja Linggabuana, hanya mau menyerahkan putrinya sebagai permaisuri. Maka, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Maharaja Linggabuana, beserta para pengawalnya gugur. Dyah Pitaloka bunuh diri.”

“Terus apa hubungannya denganku?”
“Ya…, sebentar, cerita belum selesai.”
“Prabu Niskalawastu Kencana, putra Maharaja Linggabuana menggantikan ayahnya sebagai raja. Dia memerintahkan rakyatnya untuk tidak menikah dengan orang Majapahit, orang Jawa. Makanya larangan pernikahan antara orang Jawa dan Sunda masih berkembang hingga sekarang.“
“Juno, orangtua Dewi, sepertinya masih percaya dengan mitos perang Bubat.”

Alhamdulillah. Akhirnya, meski terlambat hampir satu tahun, aku dapat meraih gelar insinyur pertanian. Ibu dan bapak sangat bangga, bersuka cita. Aku satu satunya orang yang berhasil menyandang gelar insinyur pertanian di desaku.

“Juno, apakah sudah punya calon.” Tanya ibuku.
“Belum Bu.”
“Bagaimana kalau Ibu jodohkan dengan putrinya Pak Camat?”
“Saya masih ingin sendiri Bu.”
Bayang-bayang Dewi masih setia mengikuti kemanapun aku pergi.

Tiga tahun berikutnya, aku tidak berani menolak keinginan ibu.
“Juno, Ibu kepengin menggendong anakmu. Bapak dan ibu sudah melamar putrinya Pak Camat, Putri namanya.”
Aku sebenarnya juga sudah tahu tentang Putri. Cepiring itu kota kecil, kala aku SMA kelas 3, dia masih kelas 1 SMP.
“Juno…, nanti kamu akan cinta dengan sendirinya. Witing tresno jalaran soko kulino. Dulu Ibu sama bapak juga langsung dinikahkan. Sampai sekarang ya… tetap langgeng.”

Hari berjalan tanpa lelah, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dua puluh tujuh tahun telah berlalu tanpa terasa. Seiring berjalannya waktu, bayang-bayang Dewi semakin lama semakin kabur dan akhirnya hilang bagai tertiup angin.

Minggu itu, ketika sedang berjemur matahari di halaman rumah.
“Ayah…, ada tamu gadis cantik mencari ayah.” Kata Topan, anakku.
“Gadis cantik? mencariku? Siapa ya…?”
Dheg…, aku lihat gadis cantik mengingatkanku akan seseorang, gadis remaja yang usianya sekitar usia Topan. Aku lihat gadis tersebut membawa sebuah album. Bentuk dan warnanya sama persis seperti album yang aku miliki.

“Selamat pagi Om, Saya Ira, putrinya Ibu Dewi .”
Dewi? Nama ini begitu familiar bagiku, aku coba mengingatnya, apakah Dewi mantan kekasihku?
“Saya dan Ibu tinggal di Bogor. Ibu sudah lama berpisah dengan ayah. Saat ini Ibu sedang berbaring di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Sakitnya yang sudah cukup lama, kanker stadium 4. Ibu sering mengigau, menyebut nama Om Juno.”
Aku lihat mata Ira berkaca kaca, kepalanya menunduk, menyembuyikan kesedihan.
“Pesan Ibu, Om diminta untuk melihat album ini.” Ira menyerahkan album kepadaku.

Ketika aku buka albumnya, ternyata dugaanku tidak keliru. Dewi, mantan kasihku. Foto-foto di album sama persis seperti foto-foto di album yang aku miliki. Foto hitam putih yang usianya sudah puluhan tahun. Bentuk album dan warnanyapun sama. Bahkan urutan foto-foto yang dipasang di album juga sama. Kala itu, setiap foto selalu dicetak 2 lembar, satu untukku dan satu untuknya. Foto-foto di lekatkan pada album saat memadu kasih di bawah naungan pohon randu raksasa IPB.

“Om, Ira sangat terima kasih sekali kalau Om berkenan menengok Ibu saat ini. Ira takut, permintaan Ibu tidak terpenuhi, kepengin ketemu sama Om Juno” Ira terisak, air matanya mengalir.
“Topan …! Kita ke Rumah Sakit Kanker Dharmais.”

Sampai di Rumah Sakit Kanker Dharmais, aku, Ira dan Topan bergegas masuk ke kamar Mawar. Dewi tergolek lemah. Matanya terpejam.
“Ibu…, ini Om Juno, Ibu…, ini Mas Topan, putra Om Juno .”

Dewi membuka matanya, melihatku, melihat Topan dengan tatapan kosong. Aku tatap matanya, aku pegang tangannya. Matanya berbinar ketika dapat mengenaliku. Dipegangnya tanganku dengan erat, ditempelkan di dadanya.
“Mas Juno …, ma’afkan Dewi …” Suaranya pelan sekali hampir tidak terdengar. Aku mengetahui ucapannya dengan melihat mimik bibirnya. Air matanya mengalir membasahi pipi.

“Mas Juno …, ada satu permintaan, tolong Ira, anakku.” Suara semakin lemah.
“Baik Dewi, Mas Juno berjanji …, akan menjaga Ira.” Kataku di dekat telinganya.
“Terima kasih …, Mas Juno. Terima kasih.” Matanya tertutup, wajahnya tersenyum.
Aku bisikan ditelingannya kalimat tauhid, La ilaha illallah, La ilaha illallah, La ilaha illallah. Sepertinya, Dewi mendengar dan menirukannya, detak jantungnya pun berhenti.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Dewi, selamat jalan kasih, semoga ibadahmu di terima Allah SWT dan dosa dosamu di ampuniNya. Doaku menyertaimu.“ Air mataku mengalir tanpa bisa aku cegah.

Ira memeluk ibunya, cukup lama, menangis tanpa suara, kemudian memelukku.
“Terima kasih Om Juno, terima kasih Mas Topan. Ibu tersenyum, sangat bahagia. Keinginan terakhinya terpenuhi.” Matanya merah, air matanya masih membasahi pipinya.

“ACUNG…, “ Teriak cucuku, sambil berlari menuju ke arahku, minta gendong.
“A…, KUNG.”
“A…, CUNG.”
Cucuku yang pertama. Sangat lucu, menggemaskan. Perempun, cantik. Usianya sudah dua tahun tapi bicaranya masih cadel. Wajahnya mirip Dewi, ibunya Ira. Oleh Topan diberi nama Dewi Yuniani. Tiga tahun yang lalu, Topan menikah dengan Ira. Keduanya saling mencinta.

“Ayah, ini foto Topan dan Ira di Kebun Raya.”
Aku lihat beberapa foto Topan dan Ira. Duduk berdua di atas banir pohon shorea, menyeberang di jembatan gantung Kebun Raya Bogor dan foto-foto lainnya persis seperti fotoku bersama Dewi. Alangkah bahagianya mereka.

“Ayah, besok kita berfoto seperti yang ada di album.” Kata istriku.
“Ya…, ya…, ya…, meski sudah tidak muda lagi tapi ya… tidak mengapa.”

Ternyata larangan perkawinan orang Jawa dengan orang Sunda hanya mitos yang masih dipercayai sebagian masyarakat Jawa Barat.

Bogor 1 Juli 2020
Kebun Raya Residence Blok F-23 , Ciomas; BOGOR 16610

Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Blog / Facebook: Bambang Winarto
BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang 15 Juni 1954. Setelah lulus dari SMA Kendal, mengikuti pendidikan di Fahutan- IPB (1974-1978). Bekerja sebagai ASN di Kementerian Kehutanan sampai purna tugas (1979-2010). Memperoleh gelar Magister MM di UGM tahun 1993, dengan predikat lulusan terbaik. Ia aktif menulis berbagai artikel tentang kehutanan di majalah kehutanan. Saat ini sedang menekuni penulisan Cerita Pendek. Cerpen-cerpen yang dikirim di CERPENMU masuk nominasi terbaik : Malam Yang Tidak Diharapkan (Part 1,2) (Bulan Juni, 2022) Malaikat Keempat, Sepenggal Catatan (Part 1,2), Konspirasi, Menjemput Rindu. (Bulan Mei 2022). Pencuri Raga Perawan, Pita Putih Di Pohon Pinus.(Bulan April 2022).
Alamat: Kebun Raya Residence F-23 Ciomas, BOGOR, Email: bambang.winarto54[-at-]gmail.com ;

Cerpen Sepasang Album Kembar (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Penghujung Langit

Oleh:
Dan Lucas masih duduk setelah seharian ini menendangi bola yang berdebu, dia dan kawan lainnya yang entahlah namanya beristirahat di tribun sederhana yang sudah berkarat dan merintih kadangkala mereka

Cerita Sejanak di Waktu Berdetik

Oleh:
Cerita ini akan menceritahkan tentang seseorang dimana dia mulai melangkah memulai masa depan dijalan yang dia sendiri tidak tau akan mengarah kemana. Tiap sejanak waktu dia terus berjalan-berjalan menuju

When The Caterpillar Fly

Oleh:
“Hidup. Sesuatu yang harus kujalani karena paksaan waktu yang terus mendorongku maju.” – Reina Raja langit perlahan-lahan mulai keluar dari persembunyiannya. Menciptakan gradasi warna sisa langit malam dipadu dengan

Love is Really Pain

Oleh:
Bulan purnama masih setia menggantung di atas sana dengan kepersikannya yang membias, melapisi legamnya langit yang bercorak awan-awan pembawa takdir. Lengkingan suara jangkrik yang khas sepertinya mendominasi kesunyian malam

Kertas Usang

Oleh:
Rina termenung ketika menemukan secarik kertas di antara tumpukan pakaian yang sedang dia bereskan. “ini apa ya?”. Kemudian dia mengambil dan membuka kertas tersebut. Seketika hati dan pikirannya melayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *