Sepasang Merpati Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 10 June 2020

Sisa-sisa hujan lebat menjelang pagi masih tersisa. Usapan gerimis masih menyapu wajah tua yang memikul singkong di pematang sawah. Pagi itu Mbah Kartimen sedang memanen singkong di kebunnya. Ia mendapatkan lima karung singkong. Singkong hasil panennya akan dijual ke pasar yang berada di desa sebelah.

Kaki Mbah Kartimen gontai menahan beban satu karung singkong yang dipanggulnya. Ia sangat berhati-hati melangkahkan kaki menapaki pematang sawah yang sangat licin. Terkadang kaki kanannya tergelincir hingga ia membiarkan tubuhnya tercebur ke sawah. Ia bangkit. Mbah Kartimen kemudian mengangkat sekarung singkong ke pundaknya. Mbah Kartimen berjalan merayap melumat lumpur dan jalanan becek di pematang kecil.

Beberapa hari terakhir ini hujan terus mengguyur kampung Mbah Kartimen. Hampir satu minggu matahari tak muncul menerangi kampung yang berada di 20 km dari kecamatan tersebut. Di kampung itu tak ada jalanan yang kering. Semua jalan dan pelataran basah dan becek semua. Warga pun mengeluh karena tak bisa menjemur pakaiaannya yang usai dicuci.
Para petani di kampung tersebut juga mengeluh. Mereka beranggapan bahwa hujan yang turun pagi-pagi itu akan membawa benih penyakit tanaman padinya. Oleh karena itu, mereka sangat berharap agar Tuhan tidak menumpahkan hujan saat hari masih pagi. Akan tetapi, apa boleh buat, hujan merupakan kehendak Tuhan dan Insya Allah juga membawa berkah bagi penghuni bumi.

“Mbah Kartimen, akan dibawa kemana singkong itu?” tanya pemuda tampan di ujung pematang.
“Ke pasar, Nak!” jawabnya dengan suara tidak jelas karena terganggu dengan beban yang ia panggul.
“Saya bantu, Mbah!”
“Tidak usah. Ini berat sekali.”
“Ah, barang segitu saja berat. Sini saya bantu.”
Mbah Kartimen membiarkan pemuda itu mengambil sekarung singkong yang berada di panggulannya. Tiba-tiba tubuh pemuda itu terhuyung-huyung lantas tercebur ke parit.
“Kamu tidak kenapa-napa, Nak?” tanya Mbah Kartimen.
“Tidak, Mbah.”

Pemuda yang tak lain adalah tetangga dekat Mbah Kartimen yang baru saja datang dari kota itu mencoba mangangkat sekarung singkong itu lagi. Namun apa daya, otot pemuda itu tak sekuat otot Mbah Kartimen. Pemuda itu tak mampu mengangkat sekarung singkong dan membiarkan singkong tersebut berada di parit sawah.

Mbah Kartimen memaklumi pemuda itu. Ia tidak memarahi pemuda tersebut karena telah menghambat perjalanannya. Ia hanya tersenyum lalu mengangkat sekarung singkong itu lagi ke pundaknya. Sedangkan pemuda itu hanya bisa menatap Mbah Kartimen yang masih kuat mengangkat beban seberat itu.

Setiap hari Mbah Kartimen hidup bersama istri serta seorang cucunya yang mengalami kelumpuhan. Cucu dari anak tunggalnya itu ikut mereka karena kedua orangtuanya meninggal saat menumpang MPU yang mengalami kecelakaan tragis. Dua tahun lalu, anak tunggal Mbah Kartimen bersama suaminya menumpang MPU ke pasar kecamatan. Mereka bermaksud menjual kacang hasil berkebunya untuk membelikan seragam sekolah anaknya yang akan dipakai pada tahun pelajaran baru. Agar ukuran seragam itu bisa pas, maka anaknya juga diajak. Di tengah perjalanan ke pasar, MPU yang mereka tumpangi menabrak pohon mahoni yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Seluruh penumpang MPU itu meninggal dunia kecuali cucu Mbah Kartimen itu yang masih hidup. Cucu Mbah Kartimen mengalami luka berat. Kedua kakinya patah dan divonis oleh dokter kalau dia mengalami kelumpuhan seumur hidup.

“Nek, boleh aku minta sesuatu?” Cucuk Mbah Kartimen bertanya kepada neneknya.
“Minta apa, Jo?”
“Aku pengen gethuk. Sudah lama aku tidak makan gethuk. Aku kangen makan gethuk bersama ayah dan ibu.”
“Sabar, ya! Kakekmu baru memanen singkong di sawah. Dia sebentar lagi pulang dengan membawa beberapa karung singkong yang bisa dibuat gethuk,” kata si nenek.

Cucu Mbah Kartimen diam. Ia terbaring di atas dipan dari bambu. Matanya menatap usuk dan reng atap rumah kakeknya yang lapuk. Air matanya meleleh di pelataran pipinya yang tambah kisut. Tulang-tulang pipi cucu Mbah Kartimen tambah menonjol karena badannya mengurus semenjak peristiwa tragis menimpa keluarganya.

Hari sudah siang. Andaikan matahari tidak tertutup mendung, sinarnya akan menyengat kepala hingga terasa mendidih. Namun hingga kini Mbah Kartimen belum juga pulang. Cucu satu-satunya yang terbaring di dipan bambu berharap cemas. Ia seakan tidak sabar ingin segera membantu neneknya mengelupas kulit singkong, merebus, lalu menumbuknya hingga menjadi makanan yang diidamkan. Apalagi di tengah cuaca mendung berhari-hari seperti ini. Gethuk hangat merupakan makanan yang paling nikmat.

“Nenek akan ke mana?”
“Menyusul kakekmu. Dia mungkin kesulitan membawa singkong hasil panennya,” jawabnya.
Si nenek segera mengenakan caping lebar yang terbuat dari anyaman bambu untuk melindungi rambutnya dari belaian jemari gerimis. Dia berjalan agak tergesa agar cepat menyusul suami tercintanya.

Si nenek kemudian sampai di tanggul sungai yang memisahkan sawah penghasil singkongnya. Ia bertemu dengan sang arjuna tua. Sepasang merpati tua itu kemudian bercakap-cakap sesaat. Si nenek bercerita tentang cucunya yang tidak sabar ingin sekali makan gethuk. Sedangkan Mbah Kartimen mendengarkan dengan perasaan bersalah karena belum bisa membawa singkongnya pulang.

Kedua insan yang termakan usia namun masih mesra ini berjalan beriringan. Mereka bahu-membahu membawa singkong hasil panennya ke rumah. Kakek-nenek yang diibaratkan sepasang merpati tua ini berjalan berhati-hati agar kakinya tidak tergelincir dan tercebur ke empang.

Hari menggelap. Rupanya hari sudah mulai sore. Kedua kakek-nenek ini mempercepat jalannya agar sampai ke rumah. Sesampai di rumah Mbah Kartimen menurunkan setengah karung singkong yang dipanggulnya. Setelah itu, dia membantu istri tercintanya menurunkan seperempat karung singkong di gendongannya. Mereka lega karena bisa membawa sebagian singkong untuk memenuhi keinginan cucu satu-satunya yang kangen makan gethuk. Sedangkan singkong yang lain masih dibiarkan tergeletak di tanggul sungai dekat dengan sawahnya.

“Jo, ini kakekmu sudah pulang membawa singkong,” kata si nenek di depan pintu rumahnya.
Si nenek tertegun. Dia menghentikan langkahnya. Ia curiga telah terjadi sesuatu di dalam rumahnya. Biasanya kalau dia berbicara di luar, cucu kesayangannya selalu menyahut pembicaraannya dari dalam rumah. Kali ini, cucunya diam. Tak ada suara siapa-siapa di rumah. Kedua manusia yang sudah renta ini saling memandang. Mereka kemudian membuka daun pintunya. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat cucunya tergeletak di tanah sambil mengerang kesakitan. Cucunya yang lumpuh itu menangis sambil memegangi kedua kakinya.

“Kenapa kamu, Jo?” tanya si nenek sambil menangis.
“Iya, kenapa kamu bisa jatuh?” sahut kakeknya yang menyusul si nenek.
Cucunya masih menangis. Ia mengerang menahan sakit pada kedua kakinya. Sepasang merpati tua itu kemudian mengangkat tubuh cucunya. Mereka panik karena takut terjadi sesuatu kepada cucunya.

Si kakek heran melihat cucunya yang merasakan sakit pada kakinya. Padahal kaki orang lumpuh itu tidak bisa merasakan apa-apa karena urat syarafnya tidak berfungsi.

Saat Mbah Kartimen mengangkat tubuh cucunya, dia mencoba melepaskan kedua tangannya yang menahan tubuh cucunya. Betapa kagetnya Mbah Kartimen ketika melihat cucunya bisa berdiri. Mereka saling memandang. Si nenek terperangah, si kakek tertawa, sedangkan si cucu terharu dengan kakinya yang bisa menyangga tubuhnya lagi.

“Kamu bisa berdiri, Jo!” kata sepasang merpati tua bersamaan.
“Iya, kek, nek. Aku bisa berdiri sendiri.”
“Coba, Jo, buat berjalan!” Cucu Mbah Kartimen yang sudah lama lumpuh ini ternyata bisa berjalan.
“Aku bisa berjalan lagi.”

Tawa haru pecah di rumah keluarga Mbah Kartimen. Mereka terharu karena cucu kesayangannya bisa pulih lagi. Mbah Kartimen kemudian membawa masuk singkong yang digeletakkan di depan pintu ke dalam rumah. Si nenek dengan cekatan mengambil sebilah pisau untuk mengelupas kulit-kulitnya. Potongan-potongan singkong yang sudah bersih itu direbus. Setelah matang kemudian ditumbuk hingga halus.

Keluarga yang sedang berbahagia karena cucunya bisa berjalan ini akan membuat acara selamatan. Mereka bersyukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikan kepada mereka. Mbah Kartimen mengundang para tetangga agar datang ke rumah untuk berdoa dan memakan gethuk bersama-sama dengan cucunya. Para tetangga datang semua. Mereka berdoa lalu menikmati gethuk hangat di tengah cuaca mendung yang tak segera sirna ini. (*)

Cerpen Karangan: Ahmad Zaini
Blog: zainicentre.blogspot.com
Ahmad Zaini, Lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya sastranya baik berupa cerpen maupun puisi pernah dimuat oleh beberapa media massa. Antara lain Kompas.com, okezone.com, Radar Bojonegoro, Duta Masyarakat, majalah MPA (kemenag Jawa Timur), majalah Indupati, Tabloid Maarif Lamongan, Tabloid Lensa Lamongan, Media (PGRI Jawa Timur), dan Majalah Wanita UMMI.
Puisi-puisinya terkumpul dalam buku antologi bersama di antaranya Bulan Merayap (DKL,2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Sehelai Waktu (Scolar, 2011), , Pengembaraan Burung (DKL, 2015), Matahari Cinta Samudra Kata (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2016), dan Antologi Puisi Penyair Dunia Kopi 1.550 mdpl (Takengon, Aceh, 2016).
Cerpen-cerpennya terkumpul dalam buku kumpulan cerpenTelaga Lanang (Lima Dua, Gresik, 2012), A Moment to Feel (Pustaka Jingga, 2012), Sayap-Sayap Cinta (D3M Kail Tangerang, 2013), Matahari Baru Buat Katro (D3M Kail Tengerang, 2014), Lentera Sepanjang Rel Kereta (Pustaka Ilalang,2014), Titik Nol (Pustaka Ilalang, 2015), Bukit Kalam (DKL, 2015) dan Penitis Jiwa (Pena Ananda Indie Publishing, Tulungagung). Novel perdananya berjudul Mahar Cinta Berair Mata (Pustaka Ilalang, 2017). Selain menulis, ia juga sebagai guru di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat dan SMA Mambaul Ulum Pucuk Lamongan Jawa Timur. Saat ini berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur. Nomor HP/Wa 085732613412, Facebook: ilazen[-at-]yahoo.co.id/ Ahmad Zaini.

Cerpen Sepasang Merpati Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manusia Praktis

Oleh:
Namanya Darmo, orang terkaya di kota sekaligus di negeri ini. Ia seorang pria muda pencipta alat-alat canggih. Bisa dibilang kami cukup akrab. Bukan karena kami satu sekolah dulu dari

Keteguhan Hati

Oleh:
Aku adalah seorang siswi di sekolah swasta di Jakarta. Orang tuaku berkerja sebagai penjual gorengan. Sehari-hari setiap sore sampai malam mereka berjualan di warung pinggir jalan. Terkadang, Aku ingin

Mengulang Rindu

Oleh:
“Ingat anak-anak, kalian harus berpuasa, sholat tarawih, dan perbanyak beribadah di bulan Ramadan ini!” kata Bu Rosmini ketika kami hendak pulang. Aku menempuh jarak 10 km pulang dari sekolah

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

Kabar Mengejutkan

Oleh:
Aku terhenyak tak percaya mendengar kalimat yang diucapkan Windu, adikku. “Yu, mohon restunya, minggu depan aku akan melakukan operasi pergantian kelamin,” katanya seperti sebuah bom di telingaku. Aku tahu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *