Sepeda Agus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 August 2015

Saat terbit fajar, ia bangun dan segera mandi di sumur. Dengan langkah cepat dan sigap Agus, anak lelaki berumur 12 tahun itu berpakaian sekolah. Baru pukul 06.00 pagi, ia sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya yang sudah mulai lusuh, tas sekolah yang mungkin bisa dibilang tidak layak untuk dipakai lagi karena sudah banyak tambalan serta jahitan tangan sembarang di sana-sini, dan sepatu yang berlainan antara kiri dan kanannya. Itu karena sepatu kanannya sudah koyak dan tidak bisa dipakai lagi. Didapatinya sebuah sepatu di dalam parit dekat sekolahnya. Sepatu itu juga koyak tetapi masih bisa dipakai. Sayangnya warna sepatu itu putih. Tak habis akal, ia beri arang sepatu itu. Alhasil, meski tidak terlihat sempurna namun telah didapatinya sepasang sepatu berwarna hitam.

Dengan langkah penuh semangat Agus berjalan mendekati gudang yang berada tepat di seberang rumahnya. Betapa senang hatinya melihat banyak karung di gudang. Semua karung itu berisi beras, sayuran dan kelapa. Hampir tiap-tiap barang terdiri dari dua karung.
Dengan hati-hati, Agus mengetuk pintu rumah di sebelah gudang itu. Beberapa saat, keluarlah lelaki hitam legam yang telanjang dada dan hanya memakai sarung saja dengan tampang sangarnya. Bukannya ketakutan, Agus malah tersenyum lebar seraya menyapa ramah lelaki itu.

“Pagi, Pak Hasan. Barangnya sudah boleh diantar?” tanya Agus dengan sopan.
“Ya…” Jawab Pak Hasan singkat tanpa nada keramahan sedikitpun.

Agus berlari kencang kembali ke dalam rumahnya. Ia keluarkan sepeda tuanya yang sudah bertenggerkan dua buah keranjang besar pada sisi kiri dan kanannya. Ia kayuh sepedanya ke gudang Pak Hasan. Dengan ligat ia masukkan satu karung sayuran ke keranjang kiri, dan satu karung beras ke keranjang kanan. Ia kayuh kencang dan semangat sepedanya itu menuju ke arah pasar.

Sesampai di pasar, ia antar sayuran itu pada Bu Hasan yang sudah menunggu di tokonya. Kemudian ia kembali mengayuh sepedanya menuju gudang Pak Hasan dan membawa satu karung sayuran dan satu karung kelapa. Diantarnya lagi karung-karung itu ke pasar. Kemudian, ia kembali lagi ke gudang Pak Hasan untuk mengambil satu karung kelapa dan karung terakhir karung beras.

Keletihan terbaca jelas dari wajah Agus. Peluhnya bercucuran di kening dan perlahan membasahi seragam lusuh itu. Tapi hal itu sudah biasa ia rasakan dan pastinya terkalahkan dengan semangatnya yang tinggi demi upah yang tidak seberapa. Dengan laju ia terus mengayuh sepedanya. Tapi, kali ini dirasanya lebih berat karena yang dibawanya adalah karung yang berisi kelapa dan beras. Tapi bagaimanapun, ia harus tiba di pasar sebelum cahaya matahari mulai menyapa dunia.

Dan setelah itu dengan sesegera mungkin ia kayuh kembali sepedanya menuju sekolah. Tapi, belum sempat hal itu menjadi nyata, sesuatu yang tidak pernah disangka-sangkanya terjadi. Ia tidak melihat sebuah batu cukup besar melintang di hadapannya. Naas, ia beserta sepedanya dan kedua karungnya terpelanting ke semak tepi jalan. Sikut dan lututnya lecet. Tetapi ia tidak mempedulikan hal itu karena ada hal yang lebih penting. Kedua karungnya. Keadaan karung kelapa baik-baik saja. Tetapi, ikatan karung berasnya terlepas dan membuat sedikitnya empat genggam beras terserak.

Ia tiba-tiba merasa sangat ketakutan. Tidak mungkin dipungutnya beras yang sudah bercampur debu dan pasir itu. ia bingung dan takut bagaimana cara menjelaskan semua ini pada Pak Hasan. Empat genggam beras itu sama saja dengan makannya untuk dua hari. Bisa-bisa ia tidak dibayar oleh Pak Hasan. Ternyata ketakutan Agus benar. Sebenarnya Pak Hasan bisa saja tidak tahu masalah kecelakaan itu kalau saja Agus mengikat karung beras itu dengan benar. Pak Hasan curiga bukanlah karena isi berasnya, tetapi karena ikatannya yang longgar.

“Kau apakan ikatan berasku?” tanya Pak Hasan sangar.
“Ma.. ma-af.. Pak..” Agus gemeteran ketakutan. “tadi…” ia ceritakanlah semua yang terjadi.
Yang Agus harapkan ialah Pak Hasan bisa sedikit meredam amarahnya karena itu murni kecelakaan dan tidak disengaja. Tetapi itu hanya harapan. Pak Hasan seketika murka. Dicaci makinya Agus dengan perkataan yang bukan main menyakitkannya buat Agus.

“ANAK KURANG AJAR! TAK TAHU DIUNTUNG! Sudah untung kau ku kasih pekerjaan! Kau anggap sepele saja pekerjaan kau ini? Aku masukkan kau ke tempat anakku sekolah. Tidak bisa kau bayar semua dengan bekerja yang serius?! Enak saja bapak kau itu dikuburan. Tidak merasakan lagi susahnya nyari uang! Ibu kau entah ke mana! Entah benar dia TKW atau melarikan diri karena tak sanggup lagi membiayai kau dan adikmu itu!”

Awalnya Agus diam. Namun ia tidak bisa lagi menahan kesakitannya, kerinduannya dan kesedihannya. Ia menangis tersedu di hadapan Pak Hasan. Namun hal itu ternyata membuat Pak Hasan semakin marah.
“Jangan cengeng kau! Jangan kau kira kau tidak akan membayar semua ini! Satu genggam beras kau bayar seribu!” ucap pak Hasan seenaknya.
“empat genggam berarti empat ribu. Aku tahu kau tidak ada uang. Jadi kau tidak ku gaji empat hari kedepan!” Agus hanya pasrah dengan keputusan pak Hasan. Ia sadar itu kesalahannya yang kurang hati-hati. Tapi, yang menjadi beban pikirannya adalah makan adiknya untuk hari ini dan empat hari kedepan.

Hari ini hari terakhir Agus bekerja tanpa gaji. Selama empat hari ini, ia dibantu Bu Sinah, tetangganya untuk makan. Untuk membalas jasa Ibu itu, tak jarang Agus dan Siti adiknya membantu Ibu Sinah menyapu halaman dan menyiram bunga. Hal itu membuat Bu Sinah, janda yang tak punya anak itu menjadi iba pada Agus dan adiknya.
Setiap salat Bu Sinah selalu berdoa mohon keberkahan serta lindungan Allah untuk Agus dan Siti. Ia juga berdoa semoga Allah memberikan kehidupan yang bahagia untuknya juga orang yang disayanginya.

Dengan hati-hati Agus membawa karung terakhir untuk hari ini menuju pasar. Ia sudah merasa sedikit lega karena jika esok ia bekerja sudah menerima gaji kembali, yakni dua ratus rupiah per karungnya.
Kali ini Agus sengaja mengantar karung itu hingga masuk ke dalam toko. Ia hendak menanyakan pada Pak Hasan mengenai utangnya.

“Maaf sebelumnya Pak, kalau saya tidak salah, hari ini hari terakhir saya untuk melunasi utang saya. Benar Pak?”
“Ya…” jawab Pak Hasan acuh sambil terus menghitung uang-uang yang tergeletak di mejanya.
“Kalau begitu, besok saya bekerja sudah mendapat gaji kembali?” tanya Agus girang.
“Apa? Besok?! besok kau tidak perlu pagi-pagi datang ke gudangku lagi.” Ucap Pak Hasan sambil tertawa aneh. Ia menggeleng-geleng heran ke arah Agus.
“Maksud Bapak?” tanya Agus tak mengerti.
“Kau lihat itu apa?” tanya pak Hasan sambil menunjuk sebuah becak motor yang terparkir tak jauh dari tokonya.
“Becak motor, pak…” jawab Agus apa adanya.
“Kau tahu itu punya siapa?” tanya pak Hasan lagi. Agus hanya menggeleng tak mengerti sama sekali. “itu punyaku… hahaha!!” Jawab pak Hasan terbahak bangga.
“jadi kau sudah mengerti kenapa kau tidak usah datang ke gudangku lagi?” lagi-lagi pak Hasan bertanya.
“Belum, Pak…”
“Dasar gobl*k! T*lol! Ya karena aku sudah punya becak motor buat ngangkut karung-karungku! Jadi aku tidak membutuhkan kau lagi, gus. Apalagi sepeda bututmu itu. hahaha!!” untuk kesekian kalinya pak Hasan tertawa bangga.
“ya sudah, kamu pergi sana! Saya tidak perlu jasa kamu lagi. Sudah lambat, gajinya besar lagi!”

Agus mengayuh sepedanya dengan lemah, tak bersemangat. Terngiang terus ucapan Pak Hasan di telinganya.
“Dasar gobl*k! T*lol! Ya karena aku sudah punya becak motor buat ngangkut karung-karungku! Jadi aku tidak membutuhkan kau lagi, gus.”
Dan teringat pula ia ucapan guru komite sekolahnya.
“Agus, Ibu tahu kamu sedang susah. Tapi uang komite itu adalah kewajiban siswa. Bagaimanapun setiap siswa wajib untuk membayarnya. Jika minggu depan kamu belum bisa membayar satu bulan dari tiga bulan yang nunggak, Ibu terpaksa memanggil orangtua atau wali kamu ke sekolah.”
Ia mulai menunggak pembayaran komite sejak pak Hasan mengaku sedang kesusahan ekonomi. Jadi dia tidak lagi membiayai sekolah Agus.

Perlahan meneteslah air mata Agus. Teringat ia akan Bapak dan Ibunya. Bapaknya seorang kuli bangunan meninggal ketika ia berumur tujuh tahun akibat terjatuh dari bangunan lantai tiga. Tambah sengsara lagi hidupnya semenjak kematian Bapak. Apalagi Ibunya pada saat itu tengah mengandung Siti dan sebentar lagi akan melahirkan dan tentunya akan menghabiskan banyak biaya. Akhirnya ketika Siti berumur 3 tahun, Ibu rela meninggalkannya dan Siti untuk menjadi TKW. Hingga tiap malam, semenjak keberangkatan Ibu, Agus harus menunggui Siti sampai lelah menangis dan akhirnya tertidur. Tapi, hingga sekarang Ibu belum pernah mengirim uang ataupun kabar.

“Ya, Allah. Sanggupkah hamba menanggung semua beban yang begitu berat ini? Apakah begini caraMu menunjukkan sayangMu dengan melimpahkan semua ujian ini pada hamba yang masih ingusan? Ya Allah… hamba yakin Engkau mendengar, Engkau melihat. Berilah kami secuil kebahagiaan sebelum Engkau mencabut nyawa kami ya Allah…” doa Agus dalam hati. Hatinya merintih menahan sakit. Matanya tak sanggup membendung air lagi. Hingga tidak jelas lagi jalan yang ada di hadapannya.

Brukkk!!! Agus pingsan seketika dan terjatuh lemas dari atas sepedanya.

Agus melihat Siti dengan mata basah tertidur di sampingnya. Ia memandang sekitar. Ini bukan rumahnya! Tapi ia kenal tempat ini. Ini…
“Alhamdulillah Ya Allah. Agus, ini minum teh hangatnya dulu. Kamu dari pagi pasti belum makan. Ibu sudah masak sup ayam. Biar Ibu ambilkan ya…” Bu Sinah dengan penuh perhatian menyeduhkan teh pada Agus.
“Mas Agus udah sadar!!” teriak Siti senang sambil memeluk Agus.
“Mas lama banget tidurnya. Dari pagi sampai hampir magrib.” Cerita Siti. Agus hanya tersenyum heran. Bagaimana ia bisa ada di sini?
“Tadi, Bu Sinah yang lihat mas jatuh di jalan. Bu Sinah bawa mas ke sini. Kata dokter, mas kecapean dan kelaparan. Waktu dengar itu Bu Sinah nangis. Terus Bu Sinah ngompres Mas. Dan Siti dikasih makan yang enak banget…” Ujar Siti panjang lebar.

Tiba-tiba Bu Sinah datang dengan membawa semangkuk sup dan sepiring nasi. Disuapnya Agus dengan sayang. Hatinya terharu melihat kelahapan Agus makan. Seraya ia berdoa semoga makanan ini membawa keberkahan buat Agus.
“Siti, kamu duluan ambil wudu, ya.” Kemudian Bu Sinah berlalu. Diikuti Siti yang hendak mengambil wudu. Dan kemudian Agus bangkit dari tempat tidurnya.

Usai salat magrib, Bu Sinah mengajak Agus dan Siti berbincang sebentar. Sudah disiapkannya cemilan serta teh hangat di meja tamu. Dan sebelum itu, disuruhnya pula Agus dan Siti berpakaian yang bersih.
“Nak Agus, Nak Siti. Sebenarnya ada hal yang ingin Ibu sampaikan. Sebelumnya, Ibu melakukan ini semata-mata karena Allah swt. Ibu ingin mengangkat kalian menjadi anak Ibu. Ibu yang akan menanggung segala kebutuhan kalian. Sekali lagi, Nak. Ibu melakukan ini semata-mata karena Allah. Bagaimana mungkin Ibu membiarkan kalian, anak Ibu, sesama muslim, tetangga Ibu, hidup terlonta-lonta, penuh kesusahan. Sedanggkan Ibu hidup sendiri dan Alhamdulillah Ibu sanggup untuk membiayai kalian sampai tamat SMA. Insyaallah. Ibu akan menjadi Ibu kalian hingga ibu kandung kalian kembali. Apa anak Ibu berkenan?”

Agus menangis terisak dan berjalan mendekati Ibu Sinah serta menyalaminya. Siti pun berlari memeluk Bu Sinah.
“Bagaimana bisa kami menolak niat mulia Ibu…” ucap Agus terisak.

Akhirnya Allah memberi jalan yang terbaik untuknya dan Adiknya. Kini, kehidupan Agus dan Siti jauh lebih baik. Bu Sinah merawat mereka penuh tanggung jawab. Meskipun begitu, harapan Agus untuk bertemu kembali Ibunya tetap ada. Dan sampai kapanpun, ia akan menunggu Ibu karena ia yakin suatu saat Ibu akan menemuinya.

Cerpen Karangan: Dhea CLP

Cerpen Sepeda Agus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimana Tuhanku?

Oleh:
“Selamat pagi tuan putri”. Sapaku pada Anna dengan senyum mengembang. “Kak Zaki? Kakak kok di sini? Aduh, sepertinya aku lagi mimpi nih”. Kata Anna sembari mengucek matanya. Anna tampak

Penyesalan Pahlawan

Oleh:
Waktu bergulir. Matahari kembali ke peraduanya. Bintang mulai berserakan di langit luas. Bulan sedikit menampakan dirinya, malu-malu tertutup gumpalan mega hitam. Aku pandangi sekelilingku, sepi, sunyi. Sangat berbeda dengan

Saat Terakhir

Oleh:
Jujur, aku adalah tipe pria yang sulit memberikan perhatian pada pasangan. Entah karena ada hal apa yang membuat diriku ini terlihat menarik bagi kaum hawa. Aku bukan pria yang

Mr. Introvert

Oleh:
Aku lihat keringat dingin ke luar bercucuran, matanya yang tajam dan alisnya yang tebal tak beraturan ternyata belum bisa membantunya ke luar dari tekanan ini, kabur sejauh-jauhnya dari tempat

Firman

Oleh:
“Firman Tuhan halus mengundang, mengundang jawabanku..” Lagu tema religi nasrani itu di mengerti oleh Abdul Firman, seorang pemuda muslim, 25 tahun yang memang berkepribadian baik dan teman dari Steven

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sepeda Agus”

  1. Linggom nababan says:

    Untung sy tidak cengeng. kalau tidak, sy akan terisak membaca ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *