Sepenggal Kata Yang Kutitipkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 June 2013

Ketika pilihan menuntutku untuk memilih, ingin rasanya aku menjelajah waktu, meloncati masa yang tak terhingga kemudian berlari meninggalkan roda waktu yang ujungnya tak di sangka. Aku terpuruk, menangis seolah mengetuk pintu surga tapi Tuhan tak mendengarku. Aku tahu seribu permohonan tak kan bisa mengubah peristiwa yang sudah ditetapkan olehNya. Mengubah takdir seperti halnya ingin mendaki langit ketujuh. Sebuah tempat yang tak ada satu manusia pun yang pernah menapakkan kaki di atasnya kecuali para Nabi yang sudah diizinkan Allah.

Dulu hampir setiap saat aku selalu berhap agar kamulah yang menjadi pendamping hidupku. Aku sangat yakin bahwa sayap-sayap cintamu mampu membawaku menyebrangi lautan keegoisan, menapaki amarah dan melindingiku dari terpaan badai kehidupan. Namun, kini aku tak bisa berbuat apa-apa ketika rengkuhan tangan-tangan Tuhan telah mengubah semuanya. Aku tak bisa menyalahkan siapa pun karena ini memang kehendak dan jalan dariNya yang harus kulalui. Dan inilah letak sari pati kehidupan.

Hmm.. Entahlah! Aku merasa hidup ini aneh. Semakin aku berusaha untuk mengerti semakin aku tak mengerti. Semua penuh kejutan, tak ubahnya seperti menjelajah luar angkasa : begitu membingungkan! Di sana beratus milyar bintang berubah menjadi kunang-kunang, berputar-putar mengelilingiku dan aku seolah-olah terombang-ambing oleh asteroid kehidupan, tertarik oleh gravitasi cinta kemudian jatuh tersungkur ke dalam jurang kepedihan. Satu hal yang paling kutakutkan adalah tak bisa keluar dari jurang itu. Jika sudah seperti itu apalah arti raga tanpa jiwa dan apalah arti jiwa jika hanya dikalahkan oleh cinta.

Huft…! Ternyata apa yang paling kutakutkan terjadi. Aku masih belum bisa keluar dari jurang kepedihan itu. Aku tengah berusaha semampuku untuk kembali bangkit, dan ternyata aku masih terperosak dalam jurang itu. Butiran kristalku masih saja membasahi pipi tiap kali mengingatnya. Aku sadar semua yang kulakukan salah. Terlebih aku tahu dia tengah bersama yang lain dan bahagia, sedang aku masih dalam jurang. Beribu nasihat dan upaya kulakukan tuk kembali bangkit, tapi entahlah Tuhan masih senang melihatku berurai air mata.

Aku selalu mencoba menjadi sosok Ilalang yang ceria, cuek, gokil dan terlihat tak pernah ada masalah. Dan tak kubiarkan seorang pun tahu tentang keadaanku terlebih orang tuaku. Tapi ternyata aku tak bisa membohongi hatiku. Aku masih terluka dan masih bersimbah air mata. Terlebih jika aku sendiri. Untaian aksara tengah ku urai sekedar melepas laraku. Lantunan doa dan ibadah sunah kuperbanyak. Tapi lagi-lagi Tuhan masih senang melihatku bersimbah Air mata. Sampai suatu ketika aku jatuh sakit. sakit yang tengah beberapa tahun silam terbenam kini mencuat kembali. Melihat kondisiku yang kembali sakit orang tuaku begitu khawatir. Orang tuaku pun mengizinkan aku pindah kerja.

Masalah kepindahan kerja sebanarnya telah setahun silam kubahas dengan orang tuaku. Tapi jawabnya selalu “Sabar dan legowo, kalau ingin kejar materi bukan jadi guru”. Sebanarnya alasan kepindahanku bukan karena materi semata. Tapi aku melihat ketidak adilan terhadapku, singkatnya aku sendiri diperlakukan sama dengan TIM. Mungkin semua orang menilai itu adil dan memang seperti itu, tapi batinku berkata itu tak adil. Masih ada beberapa yang tak bisa ku urai. Aku tak bisa mengelak permintaan orang tuaku untuk bertahan dengan alasan tunggu sampai NUPTK keluar. Kuputuskan untuk bertahan.

Kesedihan kembali menghampiriku. Di tahun ajaran baru dua sahabat terbaikku keluar. Aku benar-benar sedih dan kehilangan. Tapi aku berusaha bangkit. Dengan berpikir memang inilah jalan yang kulalui. Dalam bait kata kutaungkan harapku!

Menatap mentari pagi ini masih enggan tersenyum
Langkah gontai mengawali aktivitasku
Lembar baru telah diberikan dan tertoreh untaian aksara
Baru … semuanya baru
Entahlah… cerita apa yang kan tertuang di lembar berikutnya
Kubiarkan sang pena berlaga
Tapi tak’kan kubiarkan sang pena menorah sembarang
Kertasku!!!

Hari itu memang banyak wajah-wajah baru. Di sini semua yang baru sudah tak asing lagi. Sudah menjadi rahasia umum dan hm… memang begitu jika ada hal yang baru sudah tak aneh. Justru kalau banyak yang lama malah jadi aneh…

Hampir setahun sudah kubertahan, tinggal satu bulan sepuluh hari lagi. Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Dalam waktu tersebut banyak kisah yang terjadi, tapi aku masih kembali menangis. Sempat tercipta bahagia tapi hanya sekejap mata. Selebihnya aku kembali menangis. Dan kini aku lebih sering menangis.

Kini keputusanku untuk keluar dari tempat kerja sudah bulat, orang tuaku pun telah setuju. Harusnya aku sudah bisa tersenyum, tapi nyatanya tidak, Aku masih teringat dengan cintaku. Kami berpisah hanya karena komunikasi yang kurang kumanfaatkan dengan baik. Aku memang bukan orang yang berpengalaman dalam cinta… tak mengerti malah. Suatu hari tanpa sepengetahuanku orang tuaku mengetes rasa yang kubangun. Aku disudutkan pada sebuah pilihan yang benar-benar tak bisa kuelakan. Orang tuaku memberi alasan-alasan yang logis yang membuatku berpikir “mungkin benar kata orang tuaku, kalau ia tak sungguh-sunguh mencintaiku”. Lagi-lagi kukatakan komunikasiku kurang baik dengannya. Aku benar-benar tersudut, sikapnya pun seolah membenarkan alasan yang diberikan orang tuaku. Aku tak minta berpisah dengannya. Aku hanya menepi dan menunggu jawaban istikhorohku yang belum terjawab.

Aku semakin tersudut dengan peraturan jam kerja, hp dikumpulkan. Semakin memperburuk komunikasiku. Aku memang hanya seorang guru tapi jam kerjaku mulai dari jam 07.15 – 14.30, di tambah dengan jam enrichment dan solat berjamaah selesai jam 16.00. Banyak sekali kegiatan yang kadang tak terencana, peringatan hari-hari yang belum pernah kutemui di sekolah lain. Terkadang aku masih mengisi waktu privat dan membantu orang tuaku mengajar privat juga di rumah. Semakin memperburuk komunikasiku. Sampai suatu hari dia bertanya tentang hubungan kami. Beberapa kali aku tak menjawab, karena aku belum menemukan jawaban istikhorohku. Sampai pada suatu hari dia menanyakannya lagi, kali ini aku tak bisa mengelak, ku jawab “ya”. Aku sangat sedih, tadinya aku berpikir dia akan memperjuangkan cintanya untukku, ternyata tidak. Aku tak ingin berpisah dengannya, aku masih sayang padanya, sikapnya padaku pun tak banyak berubah. Ia masih mau membantu dan mengantarku ke tempat yang memang aku tidak tahu. Suatu hari aku berkata padanya “sampai saat ini aku masih sayang tak bisahkah di perbaiki”. Dia menjawab “Maaf aku gak bisa jagain sayangnya kamu”. Aku tak bisa mengungkapkan dan membahasakan rasaku aku hanya merasakan sakit… dan tanpa sadar air mataku kembali terurai.

Bumi masih berputar pada porosnya. Detik berkumpul menjadi menit, menit berkumpul menjadi jam, jam berkumpul menjadi hari. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan sudah 6 bulan aku kembali berpisah dengannya. Rasa sakit ini masih sangat terasa. Aku lebih sering menangis. Lagi-lagi kusembunyikan rasaku. Aku tatap ceria, gokil dan menjadi Ilalang yang senang bersahabat dengan orang lain. Bukan aku tak kembali mencoba membuka hati tapi tak bosan kukatakan Tuhan masih senang melihatku bersimbah air mata membalut luka. Kuungkap rasaku pada ibu. Ibu pun selalu memberi semangat bahwa aku pasti bisa melewatinya. Sedikit tenang, tapi Tuhan masih lebih senang melihatku menangis. Aku masih menangis, belum benar-benar sembuh balutan luka dan rasa sakitku karena belum bisa melupakan cinta… rasa kecewa kembali menyapaku.

Kali ini rasa itu malah datang dari orang tuaku. Ayah. Ayah kembali naik pitam ketika aku berucap bahwa aku akan mencoba mengadu peruntungan di Jakarta. Tak jauh dari kampus tempat kuliahku dulu dan tempat kosku. Hanya butuh waktu 10 menit kalau macet untuk sampai di sana. Belum sempat ku jelaskan ia tengah marah-marah seolah menyudutkanku dengan alasan yang menurutku tak logis. Aku sudah besar sudah bisa memperkirakan baik dan buruk. Sekiranya aku tidak mampu dan tidak ada peluang tentu tak akan ku coba. Jangankan untuk mencoba, berniat pun mungkin tidak akan pernah. Aku juga sadar kemampuanku. Kalau aku mau mencoba berarti aku mampu. Aku bisa melewati segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin nanti akan menyapaku. Lagi pula ini baru sekedar mencoba belum tentu di terima. Tapi ayah mematahkan begitu saja semangatku. Aku hanya ingin lebih baik, ilmuku berkembang dan wawasanku bertambah. Itu saja. Apa aku salah berpikir seperti itu? Aku tak habis pikir, orang lain bisa mengembangkan ilmu, pengetahuan dan wawasannya merantau ke negeri sebrang sedangkan aku masih di sekitar kampus, Jakarta perbatasan Depok, begitu sulit.

Emosiku masih belum stabil karena rasaku, sekarang lagi-lagi disudutkan dengan perdebatan ini. memang ini bukan kali pertamaya aku berdebat dengan orang tuaku tentang tempat kerjaku yang baru. Mereka tak mengerti dengan jalan pikiranku. Aku hanya ingin lebih baik dari sekedar materi, pengetahuan dan wawasan. Aku butuh suasana baru untuk memperbaiki rasaku. Mengapa orang tuaku tak mengerti itu… lagi-lagi aku hanya bisa menangis dan berdiam diri. Suasana rumah dan dukungan orang tua sebenarnya sangat kubutuhkan saat ini, tapi mereka tak mengerti. Mereka berpikir dengan jalan pikirannya. Tak pernah berpikir apa yang kurasa saat ini, bagai mana ia kalau di posisi aku. Tujuannya memang baik. Tapi aku tak suka dengan cara dan jalan pikiraanya. Tidak semua orang berpikir dan dapat keluar dari jurang dengan cara dan pikiran mereka. Aku tak minta banyak dari orang tuaku. Aku hanya minta dukung aku dengan segala keputusanku dan doakan aku.

Aku masih diselimuti dengan kesedihan dan kekecewaan karena rasa dan sikap orang tuaku di rumah. Tapi kesedihan dan kekecewaan kembali menyapaku. Kali ini datang dari serdadu cilikku. Telah kukatakan sebelumnya waktu perpisahan hanya tinggal 1 bulan sepuluh hari. Bahkan lebih cepat dari itu. hanya tinggal 23 hari lagi. Di sekolah diadakan acara perpisahan. Semua telah mempersiapkan acara tersebut. Tinggal kelas 6 yang belum. Hm… karena sebelumnya kami disibukan dengan persiapan UN. Deadline terus mengejar. Latihan kami tak maksimal, entah siapa yang salah. Anak-anak yang tak bersemangat dan sulit di aturkah atau aku yang salah. Selama ini aku bersikap professional. Jika di sekolah aku meninggalkan rasa, dan masalahku. Aku juga telah memberikan motivasi dan semangat untuk sedadu cilikku tapi hasilnya nihil.

Kali ini aku benar-benar kehabisan semangat sampai berpikir percuma aku berdoa, solat wajib, sunah, meningkatkan amalan sunah, tapi Tuhan masih saja senang melihatku menangis. Ynag membuatku makin sedih bahkan terkadang aku tak sanggup, sering kali aku sendiri menghendel anak 2 kelas dengan kelakuan super. Selalu berusaha berpikir positif. Akulah yang salah. Aku tak berhasil mendidik anak-anakku.

Maaf. Mungkin hanya kata itu yang dapat ku ucap sekarang. Sobat aku tak bermaksud meninggalkan tanggung jawabku. Aku titip para serdadu cilikku. Aku hanya ingin menepi dan menenangkan pikiranku.

Ibu, saat kau baca tulisan ini aku telah pergi. Ibu maafkan aku yang selalu membuatmu kecewa dan sakit hati. Aku sama sekali tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin menepi, mencari ketenangan. Aku akan kembali. Tak usah cari aku.

Cerpen Karangan: Ilalang Rieyani
Facebook: Ilalang Rieyani

Cerpen Sepenggal Kata Yang Kutitipkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Atas Kertas Ku Berjanji

Oleh:
Ku tuliskan secarik kertas itu, tanda kekesalanku hari ini. Aku tak mengerti mengapa aku dianggap berbeda. Tatapan mereka, menganggapku seperti hewan yang menjijikkan bahkan lebih dari itu. Aku hanya

Bukan Harta Penggantinya

Oleh:
“Cepat bangun den waktunya sekolah.” Teriakan Bi Imah memecah mimpi Viro. “Aaaahhh berisik banget sih bi nggak cape apa teriak-teriak setiap pagi?!” Viro yang merasa kesal membuang selimutnya ke

North

Oleh:
KRIIINNNGGG!!! Suara jam weeker memaksa Yora untuk terjaga lebih dulu dari kehadiran sang surya. Ia atur kestabilan nafasnya, seraya sesekali mengucek kedua matanya. Masih dengan kesadaran yang mengambang, Yora

Kebohongan Yang Indah

Oleh:
Ketika pagi akan menjelang, rerumputan masih terbasahi embun yang memaksa mendinginkan udara pagi di kaki bukit Gunung Slamet. Embun pula yang meneteskan air di dedaunan pohon-pohon hijau. Ayam-ayam berkokok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *