Sepenggal Kisah Mira

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 18 May 2018

Aku bingung. Semua orang menatapku sedih. Bahkan tidak sedikit yang menangis. Aku masih termenung. Mama tidak menjawabku. Apakah mama marah padaku? Apakah aku tidak melakukan permintaan mama? Aku rasa mama tidak memintaku apa-apa. Mama juga tidak melarangku melakukan sesuatu. Tadi malam, mama hanya memintaku untuk jadi anak yang kuat dan bermanfaat bagi orang lain. Hanya itu. Dan aku sudah menepati permintaan mama.

Tadi pagi aku membantu Tante Sekar mengisi ember-ember hitam besar. Tante Sekar bilang air itu untuk mandiin mama.
Tapi kenapa mama tidak juga menjawabku? “Ma…” aku memanggil mama lagi. Tapi mama masih diam. Bahkan tidak mau membuka mata. Aku bingung. Aku menatap Tante Sekar yang sekarang menangis sambil memelukku. “Apa Mira nakal Tante?” Tanyaku padanya. Tante Sekar menggeleng dan malah semakin menangis. “Tapi kenapa mama tidak mau menjawabku?” Tanyaku lagi.

Tante Sekar menunduk. Kemudian mengecup keningku lama.
“Mama kamu mau pergi sayang. Mama mau ketemu sama Papa. Mau ketemu sama Tuhan. Dan tidak bisa ke sini lagi.” Kata Tante sekar. Aku sedih. Mama pergi. Mama dulu juga bilang begitu ketika aku bertanya ke mama, kenapa Mira tidak punya papa seperti teman-teman Mira yang lain. Mama bilang papa pergi ketemu sama Tuhan dan tidak bisa ke sini lagi.

“Tante yakin Mira gak nakal?” Tanyaku lagi. Tante Sekar menggeleng. “Tapi kenapa mama sama papa tidak mau ketemu Mira lagi? Kenapa mama sama papa tidak mengajak Mira pergi sama-sama? Mira takut sendirian.” Aku menangis. Aku takut. Tante Sekar semakin memelukku erat. Kemudian mengecup keningku lagi.

Orang-orang mengangkat tubuh mama. Ada Pak Kasim, Mas Teo, Om Deni, dan beberapa tetangga lain. Mereka membawa mama keluar rumah. Apa mereka mau membawa mama pergi? Ke mana mereka mau membawa mama pergi? Tante Sekar menggendongku mengikuti mereka. Orang-orang mengikuti kami.

Mereka menurunkan mama. Kemudian memasukkan mama ke lubang galian. Mereka mengubur mama. Tapi mama tidak bergerak. Mama tidak berontak. Mama hanya diam saja. Setelah itu mereka menaburi banyak bunga di atas gundukan itu. Mira benci bunga itu. Mira benci. Bunga-bunga itu selalu membuat mama sedih. Terkadang mama menangis. Mira benci bunga itu.

Tante Sekar mengajakku pulang. Aku diam saja ketika Tante Sekar mengajakku menjauhi mama. Aku bingung. Kenapa Tante Sekar bohong sama Mira? Mama tidak pergi. Mama masih ada di sana. Di bawah gundukan tanah itu. Mama terkurung di sana. Bagaimana mungkin mama bisa pergi menemui papa? Tante Sekar bohong. Mama masih ada di sana. Aku yakin.

Sorenya, orang-orang kembali berdatangan. Aku sudah mandi. Sudah berganti pakaian. Aku melakukannya sendiri. Mama bilang mama bangga Mira bisa mandi dan berganti pakaian sendiri. Tante Sekar sibuk menemui orang-orang. Aku bosan duduk terus. Aku teringat mama. Mama masih ada di sana. Akhirnya aku putuskan untuk menemui mama.

Jalan itu sangat sepi. Aku bahkan tidak bertemu satu orang pun. Pak Kasim yang biasanya berjaga di pos ronda juga tidak ada di tempat. Setelah sampai di sana, aku menghampiri mama.
“Ma… maafin Mira ya kalau Mira nakal. Mira janji gak akan nakal lagi. Mama pulang ya? Di rumah banyak orang. Gak sepi lagi kayak dulu. Mama pulang ya?” Mama tidak menjawab. Aku menunggu lama sekali, tapi mama masih tidak menjawab. Aku lelah. Aku mengantuk. Aku kemudian tiduran di samping mama.

Aku mendengar mama memanggilku dari arah dapur. Menyuruhku bersiap untuk sekolah. Aku bergegas mandi dan berganti pakaian. Lalu ke dapur untuk sarapan. Mama tidak ada di sana. Di dapur tidak ada siapa-siapa. Lampunya juga masih mati. Mungkin mama di kamar mandi.

Aku ke kamar mama. Tapi juga tidak ada orang. Di kamar mandi mama juga tidak ada. Aku kembali ke meja makan. Mungkin mama baru membangunkan Tante Sekar. Sebentar lagi pasti ke sini. Tapi mama tidak datang juga. Aku ke kamar Tante Sekar. Tante Sekar masih tertidur. Aku naik ke tempat tidurnya. Menatap Tante Sekar. Mama pernah bilang kalau Mira harus jadi anak yang baik. Tidak boleh merepotkan Tante Sekar. Aku janji tidak akan merepotkan Tante Sekar. Tante Sekar baik. Sayang sama Mira. Mira akan jadi anak baik untuk Tante Sekar.

Tante Sekar terbangun dan menatapku. Tante Sekar menangis lagi. Aku tidak mau melihat Tante Sekar sedih. Aku menghapus air mata Tante Sekar. Dan mencium kedua pipinya. Tante Sekar memelukku. Tapi malah semakin menangis. “Tante Sekar jangan sedih. Kalau Tante Sekar sedih, Mira juga sedih”.

Cerpen Karangan: Chaa
Facebook: Annisa Aan Icha

Cerpen Sepenggal Kisah Mira merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malin Tambang

Oleh:
“Nak, ingek pasan Bundo, satinggi-tinggi tupai malompek pasti jatuah juo. Kok hujan batu di nagari awak, hujan ameh di nagari urang, nagari awak tetap nan utamo. Dek ulah tangan

I Love Grandfather

Oleh:
Suara itu nampaknya mengejutkan kakek Rusman yang baru saja menunaikan shalat Ashar. Di rumahnya yang sederhana dan tinggal sendirian itu kakek Rusman menjalani hidupnya sebagai orang sesepuh di desa

Jiwa Klasik

Oleh:
Ann mengendarai mobilnya memasuki pekarangan. Ia memarkirkannya di bawah pohon eik yang ada di sisi rumah. Ann keluar dari mobil, tidak repot-repot untuk menguncinya. Siapa juga yang berminat mencuri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *