Sepotong Daging Buat Asih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 8 June 2014

Angin sepoi berhembus menggoyangkan daun-daun kangkung. sinar matahari mulai meredup tak seperti waktu siang hari yang terik. sengatanya membuat kulit serasa terbakar. Marni. seorang wanita tua, masih sibuk memotong batang-batang kangkung dengan arit. sepetak sawah dekat sebuah sungai kecil, menjadi satu-satunya harta yang paling berharga baginya. selain rumahnya yang terletak tak jauh dari situ. Angin dari arah barat mulai berhembus kencang, menyikap kerudung kuning kusam yang membalut kepalanya. Sore hari, merupakan waktu yang paling tepat bagi perempuan tua itu. dimana ia bisa melihat matahari berubah warna dari kuning lalu menjadi kemerah-merahan lalu perlahan-lahan menghilang di ufuk barat. ia merasa senang melakukan pekerjaan itu. semua itu ia lakukan demi menghidupi suaminya dan anak perempuan satu-satunya.

Setelah batang kangkung dipotong dan dikumpulkan lalu diikatkan pada sehelai tali yang dibuat dari batang bambu yang dipilar sangat kecil. 10 ikat terkumpul sudah. Ia merasa capek. keringatnya bercucuran meluncur di wajahnya. Setelah itu, kangkung yang sudah di ikat tadi dimasukkan ke dalam karung.
“semoga besok bisa membelikan sepotong daging buat asih” gumamnya.
Selama ini ia tak tega kepada anak gadis satu–satunya memberikan lauk olahan kangkung dari sisa menjual daganganya itu di pasar trayeman. Pernah suatu hari gadis itu memprotes. Acap kali mendapati yang dimakan hanya tersedia lauk tumis kangkung. Semua hasil jualan sering habis buat kebutuhan hidup. kali ini ia berharap bisa memberikan segenggam kebahagiaan bagi anak semata wayangnya.

Setelah merasa cukup, wanita tua itu memutuskan untuk pulang. Ia memilih jalan yang biasa dilewati. Dengan tergopoh-gopoh ia menggendong karung tadi dengan selendang. ia berjalan menembus rimbunan padi yang menutupi pematang sawah. Dibawahnya seekor kepiting sungai terlihat berdiam diri di liang yang tertutup air. Sesekali kepiting itu mengeluarkan gelembung. membuat buih-buih di permukaan air berwarna kekuningan. Hampir saja ia terpeleset di pematang sawah, tanah lempung yang lunak menjadikan pematang sangat licin. tapi untung keseimbanganya dapat terjaga dengan baik. Kejadian tersebut membuat burung-burung emprit yang bersembunyi di rimbunan tanaman padi berhamburan. Kawanan itu membentuk koloni besar seperti koloni sarden yang dikejar hiu di lautan. kawanan burung itu lalu pergi ke arah utara mencari sepetak sawah yang sepi.

Karman, suaminya sudah lama terbaring di tempat tidur. Usia senja telah menggorogoti lelaki tua itu. Dulu ketika suaminya masih muda. pekerjaannya tak seberat sekarang ini. Dulu setiap hari, suaminya bekerja di sebuah pabrik lem sepatu di desa tetangga. terkadang seminggu sekali keluarganya bisa menyembelih ayam. tapi disaat sekarang ini. makan 3 hari hanya dengan lauk tumis kangkung saja. ia merasa sudah bersyukur. Suatu hari pernah terbesit dalam pikiranya. kenapa manusia tak bisa awet muda. Andaikan ia dan suaminya masih seperti 20 tahun silam. pasti keluarganya tak seperti sekarang ini. Ia khawatir dengan asih, gadis yang berusia 18 tahun itu masih belum siap mengarungi hidup ini yang begitu keras. apalagi usianya sudah semakin tua. Dan terlebih asih memiliki sifat yang agak manja. setiap pagi hanya mau berangkat sekolah, setelah pulang. ia pergi bermain dengan teman-temanya. ia begitu menyayangi anak semata wayangnya. Maklum, ia baru mempunyai seorang anak saat usianya 42 tahun. Saat ini usianya sudah hampir 60 tahun.

Matahari telah menghilang dari ufuk barat. Meninggalkan coretan warna merah lalu perlahan-lahan menghilang. Suara derik pintu yang keropos memecah keheningan sebuah rumah kecil. Setelah menaruh bawaanya. ia menuju ruang kamar dekat ruang tamu. Seorang lelaki tua yang terbaring menyambut kedatanganya dengan senyuman. Senyuman yang membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.
“kamu sudah pulang?” ucap suaminya.
“sudah. Aku membawa 10 ikat kangkung, besok seperti biasa. aku akan menjualnya di pasar”
“apa tidak terlalu banyak? Biasanya hanya membawa 5 ikat?” lelaki tua itu memandangi wajah istrinya yang telah keriput. Kantung matanya telah mengendur, pertanda kalau usia senja telah merenggut kecantikan. Namun di matanya wanita tua itu adalah sosok bidadari yang telah turun dari surga. Ia teringat ketika masih kecil. melihat wanita pujaanya bermain lumpur bersama teman-temanya. Di belakangnya, gunung slamet menjulang tinggi menjadi background bagi sang pujaan hatinya. Ia pernah mendengar cerita gunung mahameru di india yang menjadi tempat ratu sima berdiam diri. Konon seorang kesatria memotong gunung itu dengan kesaktianya. sehingga ratu sima marah. namun ketika ratu itu melihat pemuda itu. Ia malah jatuh cinta bahkan ia menerima pinangan pemuda itu.

“akan aku buatkan secangkir kopi” ucapan wanita itu membuyarkan lamunanya. Ia lalu pergi ke dapur meninggalkan aroma lumpur. Rasa lelah masih merajam di seluruh tubuh, rasanya malam ini ia ingin mandi air hangat. Tabung LPG dan kompor pemberian pemerintah sudah lama tersimpan di bawah kolong meja yang lapuk. Sudah setahun lebih ia tak mengisi tabung itu, harga yang terlampau mahal untuk mengisi ulang adalah hal yang membuat barang pemberian cuma- cuma itu tak lebih menjadi seongok batu kali. Dulu ketika minyak tanah tak semahal sekarang ini. Ia sering menggunakan kompor minyak tanah selain tungku untuk memasak.

Setelah membuat secangkir kopi. ia menuju ke kamar suaminya. Aroma lumpur kembali mwnyeruak seisi ruangan.
“Ini kopinya pak” ucapnya
“taruh saja di meja itu”
“asih dimana pak?” lelaki itu menggelengkan kepala mendengar pertanyaan istrinya.
“dia sedang tidur, mandilah, nanti aku meminum kopi itu” ucapnya sambil memandangi wajah istrinya.
lalu ia pergi ke ruang belakang. Bau lumpur kembali menyibak seisi ruang kamar seperti bau parfum alami dari sawah. Lalu bau itu menghilang setelah beberapa menit wanita tua pergi. Suara kecipak air di kamar mandi memecah malam yang mulai melarutkan setiap helaian sunyi. Ledakan suara angin yang menampar dinding dan desing serangga malam menjadi konser alam yang sunyi.

Setelah segala kotoran dan daki hilang, wanita tua itu kembali mendekati suaminya. Kopi yang ia taruh sebelum mandi belum diminum. Lelaki tua itu malah memandang ke arah atas. Sebuah tatapan kosong.
“pak” lelaki itu masih terdiam.
“pak!” setelah dipanggil dua kali lelaki itu lalu mengadah ke arahnya.
“tidak ada apa-apa bu, bapak cuma sakit kepala” Jawabnya berbohong.
“ya udah pak. Kopinya nanti diminum. ibu mau menjahit baju seragam asih yang kemarin sobek”. Ia lalu pergi dari ruang kamar. Lelaki itu kembali melanjutkan lamunannya. Menembus batas-batas alam nyata menuju alam khayalan. entah apa yang dilamunankannya. Hanya tuhan dan lelaki tua itu yang tahu.

Pagi-pagi sekali wanita tua itu sudah bangun. seperti biasa ia akan menjual kangkungnya. dengan kaki yang telanjang ia berjalan menyusuri jalanan setapak menuju ke pasar trayeman. letaknya agak jauh dari desanya. Sebenarnya ia hendak meminta bantuan kepada asih. Tetapi ia tidak tega membangunkan putri kesayanganya. Meskipun hari itu libur sekolah. Ia lebih memilih melakukan hal itu sendiri. ia bertekad biarkan dirinya saja yang mengalami kepahitan hidup asalkan anaknya bahagia. namun ia tak tahu apakah dengan cara tersebut. Ia akan membawa kebaikan kepada sang anak atau malah menjerumuskanya ke dalam jurang ketergantungan.

Sesampainya di pasar. ia lalu menggelar dagangannya dengan tikar kecil. Selang beberapa lama daganganya mulai terjual. Menjelang siang. daganganya habis diborong bu lurah. mungkin ia merasa kasihan dengan wanita tua itu. sehingga mau membeli semua jualannya. ia kenal betul wanita itu. Apalagi dulu wanita tua itu pernah merawat kedua anaknya waktu kecil. Melihat daganganya habis. Wanita tua itu tampak senang. Niatnya untuk membeli sepotong daging untuk anaknya akhirnya kesampaian juga.

Sebelum pulang. Ia pergi ke penjual daging sekitar pasar trayeman. Setelah membeli sepotong daging. Ia lalu pergi ke penjual bumbu-bumbu masak. Setelah semuanya terbeli. ia memutuskan untuk pulang. hari ini semua kangkung yang dibawa terjual semua. Ia pulang dengan membawa daging walaupun hanya potongan kecil. Ia sangat bersyukur atas rezeki dari tuhan. Niatnya akhirnya terlaksana juga. Biarlah ia dan suaminya yang makan kangkung seumur hidup. “Semoga asih senang dimasakkan daging rendang” gumamnya.
Wanita itu lalu menyeberang. ia sudah setengah jalan. ia tak tahu kalau ada truk bermuatan semen datang dari kanannya. Beberapa orang di pasar yang melihatnya berteriak.
“awas.. minggir!”
Namun ia terlambat. Truk sudah semakin dekat. Kali ini moncong truk sudah berjarak kurang dari satu meter dengan dirinya. Ia tak bisa menghindar lagi. Truk itu menghantam dirinya. daging yang ia bawa di kantong plastik terlempar di pinggir jalan. setelah itu ia merasakan seperti semua tulangnya remuk. tapi ia tak dapat merasakan rasa sakit, hanya rasa lemas dan lelah yang ia rasakan. Matanya serasa berputar-putar lalu tiba-tiba semuanya mulai gelap gulita.

Di dalam kegelapan. ia melihat anaknya berdiri di pinggir jalan dengan memakai baju kumal. Ia lalu mendekati anaknya.
“asih, kamu mau kemana nak?” Tanyanya. Gadis itu diam tak menghiraukan pertanyaan wanita tua itu.
“kamu kenapa nak?” tanyanya lagi.
ia masih tetap diam, malah melahap sepotong daging yang dibawanya di kantong plastik.
“kenapa kamu memakan daging mentah itu nak?” ia kembali bertanya.
“kamu siapa?” kata gadis itu sambil terus mengunyah daging mentah tadi.
“aku ibumu nak”
“aku tidak mempunyai ibu!” gadis itu lalu berteriak seperti orang gila lalu berlari ke arah seberang jalan. Tiba-tiba sebuah truk pengangkut semen datang dari arah kiri jalan. Ia tak dapat menghindar. tubuhnya terpental lalu mendarat ke aspal dengan keras. Darah berceceran dimana-mana. Wanita tua itu terkejut bukan kepalang. Tepat saat itu ia melihat sebuah roh keluar dari raga anaknya. Roh itu terbang dengan tersenyum ke arahnya lalu perlahan-lahan datang sebuah cahaya putih yang terang membawanya pergi.

Cerpen Karangan: Mohamad Firdaus
Facebook: Mohamad Firdaus
Mohamad Firdaus lahir dan tinggal di kota tegal 08 oktober 1993. sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Aktif di Himpunan Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia dan UKM Teater Perisai. Bergiat di Komunitas Penyair Institut Dan Komunitas Pojok Stasiun. Saat ini sedang menyibukan diri dengan terus belajar menulis lebih baik dan berteater. sekarang penulis tinggal di kota purwokerto.

Cerpen Sepotong Daging Buat Asih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketinggalan

Oleh:
Pada hari minggu, Fika menemani mamanya ke pasar kecil di sebuah gang. Dari rumahnya menuju ke pasar tersebut mungkin sekitar 2 km sehingga Fika dan mamanya menggunakan motor. Saat

Wahyu Dan Sekeranjang Gorengan

Oleh:
Ini kisah tentang Wahyu, salah seorang anak kecil yang sedang berkeliling membawa keranjang berisi gorengan di sebuah terminal bus sambil berteriak, “gorengan.. gorengan..!!!” dan menawarkan ke beberapa orang yang

Karena Ada Rumah Yang Tak Akan Hancur

Oleh:
Ia terduduk di sudut kamarnya yang terkunci. Matanya ia pejamkan lekat-lekat, tangannya menutup rapat telinga -mencoba menghalang semua suara gaduh menyentuh syaraf pendengarannya, ia bernapas dengan cepat dan berat-bagai

Karman Sudirman

Oleh:
Hari ini hari Minggu. Seperti biasanya, di hari Minggu, aku membersihkan rumah. Seharusnya Rini, adikku turut membantuku untuk membersihkan rumah. Akan tetapi untuk karena dia sedang mengikuti kegiatan karyawisata

Tanah Merah

Oleh:
Aku masih diam membisu, berteman dengan duka aku sendiri. Melihat keramaian kota di atas bukit paling tinggi, hamparan rumput hijau dan angin merdu sudah lama menjadi temanku. Duduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sepotong Daging Buat Asih”

  1. asni oktarina rambe says:

    wahhh…kren ya… aku suka deskripsi tokoh dalam ceritanya,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *