Sepucuk Kata Unuk Suamiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 18 October 2017

Kukatakan sekali lagi. Sudah berapa kali aku mengatakan padamu? Jangan pernah lagi pulang malam malam. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Adakah di dunia ini yang hidupnya hanya menghabiskan waktu di luar? Ada. Dia adalah dirimu. Apa yang kau biasa lakukan di luar sana? Apa kerjaanmu? Beranjak dari rumah jam tujuh pagi, pulang jam dua malam. Pulang pun hanya makan dan tidur sebentar. Apa maumu?
Kapan kau memiliki waktu untuk istrimu ini? Dulu waktu kita menikah, kau sudah berjanji akan menggauliku dengan cara yang baik. Namun apa hasilnya? Aku belum merasakannya. Sudah lima tahun kita hidup bersama. Hanya aku dan pembantu yang mengurus anak kita. Apa kau tidak rindu pada istri dan anakmu? Betapa teganya kau. Aku sayang padamu. Tetapi semakin hari, tingkah lakumu semakin menjadi jadi. Memangnya apa salahku sekarang ketika menjadi pendamping hidupmu? Apa aku kurang cantik?

Ya benar. Aku tak bisa meredam emosiku ketika ini terjadi. Bagaimana bisa seorang istri seperti diriku kerjanya hanya menunggu pintu di malam hari. Dan itu kulakukan setiap hari kecuali malam minggu. Bukan karena malam minggu dia pulang lebih awal untuk menghabiskan waktu bersama istri dan anak, tetapi dia tidak pulang. Ketika hari minggu jadwal pulang dia berubah menjadi pukul enam pagi. Begitu pulang langsung dia minta makan, dan menaruh semua baju kotornya pada ember. Setelah makan, dia langsung tertidur lama. Dan keesokan harinya, siklus dia kembali. Berangkat jam tujuh pagi dan pulang jam dua malam.

Aku ingin memarahinya, tetapi tidak boleh ketika seorang wanita memarahi seorang pria. Aku ingat sekali ketika dulu dia menimang aku. Katanya dia berjanji akan melindungku, menyayangiku, dan menggauliku dengan baik. Aku rindu ketika dulu dia belum menjadi jadi seperti ini. Tepat satu tahun yang lalu, hubungan kita masih baik baik saja. Dimana setiap pagi aku selalu membuatkannya secangkir teh hangat, setelah teh hangat aku merebuskan air untuk mandi, setelah merebus air aku membuatkannya sarapan pagi. Setelah sarapan pagi, dia selalu berpamitan denganku sembari aku mencium tangannya yang dilanjutkan dengan kecupan manis di keningku darinya. Aku rindu masa masa itu.

Namun semua itu berubah ketika dia dimutasi kerja ke kantor lain. Entah di kantor mana dia bekerja. Aku pun tidak tahu pekerjaannya setelah dia dimutasi karena dia tidak pernah bercerita kepadaku. Yang jelas, semanjak itu dia berbeda. Jarang berkomunikasi denganku. Mungkin dia telah lupa pada istri dan anaknya.

Dia adalah suamiku. Aku sayang padanya, namun aku sakit hati melihat tingkah lakunya yang seperti itu. Aku tak kuasa bila harus menjadi istri yang seperti ini. Malam malam aku harus begadang untuk membukakan pintu ketika jam dua malam suamiku pulang. Ekspresi suamiku ketika pulang selalu tidak enak dinikmati. Ketika pulang, suamiku langsung menuju meja makan untuk makan karena makanannya selalu masih ada ketika malam hari, lalu tidur. Sementara aku menunggunya selesai makan dan kemudian tidur bersamanya. Kadang kadang dia juga menuju kamar mandi sembari membawa tumpukan baju yang kotor.

Iya kalau dia pulang malam untuk bekerja mencari nafkah, tetapi kalau dia melakukan hal yang lain? Aku tidak akan tahu. Tidak ada orang yang bekerja setiap hari pulang jam dua malam. Lantas apa yang suamiku lakukan di luar sana? Suamiku tidak pernah menceritakan apa apa padaku. Aku pun takut bila bertanya padanya.

Pernah suatu ketika aku bertanya dengan penuh rasa kesal, ini terjadi pada waktu awal awal suamiku pulang malam. “Mengapa kau selalu pulang malam?” tanyaku. Tetapi dengan kesal suamiku menjawab, “Pulang pulang langsung diberi suguhan seperti ini? Kau ini istriku. Kau seharusnya tahu aku pulang malam untuk bekerja. Mencari uang, mencari nafkah untuk kau dan anak kita. Camkan itu,” katanya. Semenjak itu aku sudah takut dan tidak berani lagi bertanya tentang pekerjaannya.

Pandangan tetangga terhadap keluarga kami pun seperti yang sudah kuduga. Banyak tetangga yang bertanya kepadaku pasal suamiku. Namun aku tidak bisa menjawabnya karena itu sama saja akan merusak nama baik suamiku. Aku hanya menjawab suamiku bekerja untukku dan anakku. Sehingga itu membuatku takut, apa yang terjadi apabila ibu ibu suka menggosip tentang keluargaku. Bisa jadi kasusku ini sampai menyebar ke kampung sebelah.
Memang harus sabar menghadapi suami yang seperti ini. Dia ini memang bekerja, atau memang melakukan kegiatan lainnya? Jikalau suamiku bekerja, memangnya ada orang yang bekerja hingga larut malam? Mencurigakan. Namun apa daya, aku hanya bisa menikmati ini semua. Tidak bisa melakukan apa apa lagi.

Pernah aku berpikir bahwa aku akan menceraikannya. Namun aku berpikir panjang, bagaimana bila dia benar benar bekerja. Bagaimana bila dia ternyata masih sayang padaku. Bagaimana bila dia tidak melakukan perbuatan yang macam macam di luar sana. Karena setiap bulanannya suamiku selalu memberikan jatah uang padaku untuk digunakan berbelanja. Kalau itu bukan hasil dari bekerja apa lagi? Itu yang menjadi pertimbangan untukku. Mencuri? Kurasa tidak. Terdengar aneh.

Malam ini, seperti biasa aku akan melaksanakan tugasku. Yaitu menunggu pintu hingga pada pukul dua malam ada yang mengetuk pintu dan aku bukakan. Pukul dua belas malam, dan kadang anakku terbangun sehingga aku harus menjaganya. Di kamar ini, aku ditemani anakku dan suara jangkrik di luar sana yang turut meramaikan malamku. Memang mau tidak mau aku harus melakukan ini.
Ketika pintu diketuk dan kubuka, datanglah suamiku yang berpakaian sudah lusuh. Malam ini, kusapa dia dengan senyuman yang ramah. Namun suamiku tetap saja memasang raut wajah yang tidak enak dipandang. Semakin hari aku semakin bingung. Ini rumah tangga, benarkah?
Dia langsung menuju meja makan dan melihat bahwa tidak ada makanan apa apa di meja makan. Suamiku kesal dan memintaku untuk membuatkan seporsi nasi goreng. Memang aku sengaja membuat meja makan itu kosong. Kemudian aku langsung membuatkannya nasi goreng. Hingga pukul tiga pagi, suamiku baru selesai makan. Kemudian kami berdua tidur walaupun hanya dua atau tiga jam. Karena suamiku pukul tujuh pagi kembali berangkat. Entah dia pergi ke mana.

Semakin hari aku semakin sadar. Seorang wanita pada umumnya diciptakan untuk membahagiakan seorang suami yang dicintainya. Namun apa kenyataannya? Iya kalau suamiku adalah orang yang jelas, tapi pada kasus ini suamiku bukanlah orang yang jelas. Aku tak tahu pekerjaannya. Aku tak tahu apa yang telah dia lakukan di dunia luar. Ingin sekali aku bertanya padanya, namun seperti yang sudah kukatakan, aku takut.

Ketika pagi ini suamiku berpamitan, suamiku hanya mengatakan sepatah dua patah kata saja seperti, “aku berangkat,” atau, “berangkat dulu, ya,”. Apadaya. Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu. Sehingga tetanggaku merasa aneh dengan rumah tanggaku. Aku tidak mau tetanggaku tahu akan masalah yang sedang aku hadapi dengan suamiku.

Dengan ini, sepuluh bulan dua puluh empat hari persis aku diperlakukan seperti ini oleh suamiku, aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus menindaklanjuti masalah ini dengan caraku sendiri. Entah bagaimana caranya, aku harus mengetahui apa yang suamiku lakukan diluar sana. Namun apadaya, aku tidak tahu tentang temannya atau rekannya. Aku masih sayang dengan dia, tetapi karena tingkahnya yang semakin menjadi jadi itulah yang membuat pertimbangan padaku.

Malam pun tiba, tepat pukul 21.00. Itu adalah saat dimana aku, pembantuku, dan anakku sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Paling enak memang ketika suasana seperti ini. Namun terdengar aneh, lantas apa yang aneh? Ya, tanpa suami.
Suasana memang enak. Aku, pembantuku, dan anakku berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi dan menikmati secangkir teh hangat. Sementara anakku ku jada di kasur kecil di ruang keluarga pula. Di sela sela menonton televisi, pembantuku juga sering menanyakan bagaimana keadaan suamiku. Mengapa dia selalu pulang malam. Pembantuku tidak tahu kapan suamiku pulang karena pembantuku pasti sekitar pukul sepuluh malam sudah tidur di kamar belakang. Yang jelas pembantuku tahu bahwa suamiku selalu pulang larut malam.

Tepat. Sepuluh bulan dua puluh lima hari aku menunggu pintu untuk suamiku. Dan sekarang aku serius akan menyelidiki teka teki dalam rumah tangga ini. Aku harus tahu dari fisik suamiku akan apa yang telah dia lakukan di luar sana. Tepat ketika pintu diketuk, aku bukakan pintu. Dan kulihat, suamiku pulang. Bajunya lusuh, tasnya basah karena pada malam itu sedang hujan. Melihat tasnya yang basah, aku berniat untuk mengeringkannya dengan cara menggantungnya di belakang rumah. Karena pada saat itu suamiku langsung membanting tasnya dan menuju meja makan. Seperti biasa.
Ketika ku lewat depan suamiku yang sedang makan di meja makan untuk menuju ke belakang rumah sembari aku membawa tas untuk digantungkan, suamiku dengan sigap bertanya, “Tasku mau dibawa ke mana?” tanyanya. Dengan spontan aku menjawab, “Mau aku keringkan di belakang rumah, tas ini basah,” kataku.

Sampailah aku di belakang rumah yang jaraknya agak jauh dari rumah makan, aku mendengar dalam tas itu ada suara semacam dua cermin yang bersenggolan. Entah apa yang ada di dalam tasnya. Tetapi demi kebaikan, aku harus mengetahui apa isi tas itu. Kemudian aku membukanya, dan. Wah betapa shock nya diriku melihat isi tas itu.

Aku tidak menyangka. Seberapa lama suamiku menyembunyikan semua ini. Sedih dalam hatiku melihatnya. Mengapa selama ini aku bisa tidak tahu. Mengapa aku tidak mencurigainya dari awal dia pulang malam. Apa sebenarnya yang membuat suamiku berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini. Ya Tuhan, aku ingat ketika suamiku membelai rambutku dulu. Aku ingat ketika suamiku mengatakan janji nikah pada saat dinikahkan dengan penghulu. Namun semua itu hanyalah omong kosong.

Hampir saja daku meneteskan air mata. Aku tak mau air mataku menetesi lantai. Aku harus bisa menutupi ini semua dari suamiku. Oh ya, isi tas itu adalah beberapa pil nark*ba dan beberapa botol minuman keras yang sudah habis. Beberapa bungkus rok*k juga tersebar di semua bagias tas. Bau tasnya saja sudah tidak karuan. Dapat dari mana suamiku? Apa yang meracuni pikiran suamiku hingga terjadi seperti ini? Sekarang aku bingung, apa yang harus aku lakukan.

Tak disangka, tak disadari. Suamiku tiba tiba muncul di depan pintu belakang rumah, mungkin karena dia sudah selesai makan dan curiga. Kemudian kaget melihat aku sedang mengungkap semua rahasia suamiku selama ini. Suamiku marah dan langsung menamparku hingga aku terjatuh. Betapa teganya, betapa jahatnya suamiku. Aku menyesal telah mencintainya. Semua hanya omong kosong. Aku takkan mengerti bila akhirnya menjadi seperti ini. Sakit hati dan sakit dari tamparan suamiku membuatku sudah tak sanggup lagi melayaninya. Sungguh, aku ingin menceraikannya. Beberapa tahun aku hidup dengannya, dan itu diakhiri dengan peristiwa pahit seperti ini.

Ketika itu, ketika hari berganti malam. Suamiku mengetuk pintu pada pukul setengah enam sore. Dia pulang dan mengecup keningku walaupun tubuhnya masih berkeringat dan lusuh. Itu semua sungguh indah.
Ketika itu, ketika hari Senin. Suamiku diharuskan berangkat pukul setengah enam pagi untuk persiapan apel pagi di kantornya. Karena suamiku adalah komandan apel. Aku selalu bangun pagi pagi dan mempersiapkan sarapan untuk suamiku. Itu semua sungguh indah
Ketika itu, ketika mentari mulai menampakkan dirinya di hari selain Senin. Suamiku memanggilku dan memintaku untuk membuatkan secangkir teh hangat. Aku masih hafal dengan porsi teh hangat kesukaan suamiku. Yaitu secangkir teh dengan gula satu setengah sendok. Karena kadang kadang dia mau dibuatkan oleh aku, bukan pembantuku. Itu semua sungguh indah.
Ketika itu, ketika motor sudah siap di depan rumah. Selepas mengeluarkan motor, suamiku turun dari motor untuk berpamitan denganku. Aku selalu mencium tangannya, dan dilanjutkan kecupan manis di keningku. Itu semua sungguh indah.
Ketika itu, ketika pukul dua belas siang. Yaitu ketika jam istirahat suamiku. Suamiku selalu telepon pada aku dan menyatakan bahwa dia rindu padaku. Suamiku juga selalu mengingatkanku supaya jangan lupa untuk makan siang. Itu semua sungguh indah.

Itu semua sungguh indah.
Tepat beberapa tahun yang lalu, itu semua terjadi. Itu semua sungguh indah. Namun ketika sekarang, hal yang janggal terjadi. Semenjak suamiku dimutasi ke kantor lain, itu semua lenyap tak bersisa. Keindahan itu seketika hilang entah ke mana.
Itu semua sungguh indah.

Kemudian, suamiku dengan keras memarahiku sehingga pembantuku bangun dari kamarnya dan anakku menangis karena berisik. Pembantuku sejenak menenangkan anakku, sembari mendengarkan percakapan antara aku dan suamiku di belakang rumah dari kamarku.
“Dasar istri yang tidak berbakti pada suami!” bentak suamiku.
Aku pun emosi, aku tidak mau kalah. Bagaimana bisa aku dikatakan istri yang tidak berbakti pada suami?
“Apa yang kau lakukan di luar sana?” kataku.
“Memangnya apa urusanmu membuka tasku? Punya otak kan? Aku ini suamimu. Seharusnya kau tidak boleh membuka tasku sembarangan!” bentak suamiku.
“Lho, aku ini istrimu dan aku berhak mengetahui apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu rahasiakan. Ternyata ini yang kamu lakukan. Sudah berapa lama kamu merahasiakan ini? Apa yang membuatmu seperti ini? Siapa yang meracuni pikiranmu hingga kau bisa melakukan ini semua? Apa kau tidak tahu, betapa letihnya aku dan pembantu mengurus rumah dan anak sementara kau hanya mabuk saja di luar sana? Uang yang kau dapat adalah hasil dari perjudian dan mencuri, bukan? Aku ingin segera bercerai denganmu! Percuma saja memiliki suami yang pemabuk. Orang yang seperti itu tidak bisa menuntunku ke masa depan. Anakku mau jadi generasi yang seperti apa nantinya jikalau ayahnya adalah seorang pemabuk?” tindas dariku.
“Kebanyakan omongan kamu! Sudah! Aku mau pergi saja!” kata suamiku.

Sebuah kalimat yang sulit dipercaya ketika suamiku akan pergi. Kubiarkan saja dia pergi. Ternyata benar. Dia membawa tasnya dan keluar dari rumah dan pergi dari rumah. Aku tak peduli apakah dia akan kembali atau tidak. Yang jelas, aku besok akan pergi ke Kantor Urusan Agama untuk menceraikannya.

Kemudian, aku pergi ke kamar dan menceritakan pada pembantuku akan apa yang terjadi. Pembantuku turut menjatuhkan air matanya. Dan aku menyuruh pembantuku untuk tidur bersamaku di kamarku bersama anakku. Sembari menemaniku yang sedang shock menerima keadaan ini.

Pagi pun tiba. Semalam, aku tidur pukul tiga pagi karena aku tidak bisa tidur. Pikiranku tentang suamiku selalu terngiang di kepalaku. Aku bingung di mana dia sekarang, karena tadi malam hujan sangat deras. Pembantuku juga berusaha menenangkanku pada pagi ini. Aku juga dibuatkan secangkir teh. Secangkir teh itu mengingatkanku pada suamiku yang dulu meminta aku untuk membuatkan teh.
Pembantuku hanya bisa menenangkanku dengan kata kata yang dia bisa. Karena hanya itulah yang pembantuku bisa lakukan untukku. Sekarang di sini aku hanya punya pembantuku, dan buah hatiku.

Dering ponsel membuatku bingung, ada apa di pagi hari ini ada yang menelepon? Karena ponselku ada di meja depan kamar, sementara aku sedang rebahan diri di kamar, aku menyuruh pembantuku untuk mengambilkan ponselku. Kebetulan itu adalah telepon dari nomor yang tidak dikenal. Aku bingung, di suasana seperti ini sempat ada telepon dari orang yang tidak aku kenal. Lantas aku mengangkat telepon itu.

Setelah selesai menelpon, aku langsung memeluk pembantuku dan anakku. Air mata dari ku dan pembantuku bercucuran deras mendengar telepon itu. Aku tak menyangka akan terjadi seperti ini. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Polisi menelfon. Ketika malam tadi, suamiku mengalami kecelakaan dengan sebuah truk. Dan sekarang keadaan suamiku kritis di rumah sakit. Suamiku langsung mengalami geger otak.
Polisi memberitahuku, pada saat itu jalanan sepi sehingga suamiku sempat pingsan agak lama di jalan. Beberapa saat, tidak ada orang yang mengetahui adanya kecelakaan itu. Orang pertama yang mengetahui kecelakaan itu langsung menelepon polisi dan menindaklanjuti kejadian itu. Polisi mengambil nomor ponselku dari dalam tas suamiku. Kemudian meneleponku dan akhirnya aku menangis.

Ya, walaupun aku sudah benci pada suamiku aku masih bisa menangis jikalau terjadi kejadian seperti ini. Bagaimana tidak. Tadi malam, baru saja dia menamparku. Tadi malam, baru saja dia makan di meja makan. Tak disangka sangka, akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini. Kemudian aku langsung bergegas menuju ke rumah sakit.
Rumah sakit Adi Sulaiman, itulah namanya. Di depan pintu masuk aku sudah dijemput bapak polisi yang tadi pagi meneleponku. Aku dituntun menuju ruangan suamiku. Bukan ruangan biasa, namun itu adalah ruangan ICU, dimana itu menandakan kondisi suamiku sudah sangat parah dan kemungkinan selamat adalah kecil.

Di sini aku berpikir, bagaimana keadaan suamiku untuk kedepannya. Aku sangat ingat ketika banyak pil nark*ba, batang rok*k, dan botol minuman keras memenuhi isi tasnya tadi malam. Bagaimana jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada suamiku.
Di sini, aku memandangi sebuah tubuh yang telah tak berdaya. Di tangannya, terdapat selang pengganti makanan untuk nutrisi. Sebuah layar dengan suara ritmik teratur di sampingnya. Sebuah kop yang menempel pada mulut dan hidungnya untuk bernafas. Aku membayangkan, di dalam tubuh suamiku ini, tersimpan ratusan pil narkoba. Bagaimana keadaan suamiku untuk kedepannya. Di dalam tubuh suamiku ini, tersimpan berlapis lapis asap rok*k. Bagaimana keadaan suamiku untuk kedepannya.

Tak kuduga, sebuah suara sangat merdu nan indah melintas di telingaku. Apa yang sebenarnya terjadi. Suamiku sadar. Suamiku melihat aku dan dokter di sampingnya. Suamiku langsung menangis, dan aku memeluknya. Keringat suamiku dan air mataku membanjiri pundak dan leher suamiku. Tak kusangka. Baru pernah aku merasa sedih yang sangat mendalam seperti ini. Baru tadi malam kita bertengkar karena masalah nark*ba. Namun, sekarang suamiku berubah. Dengan ujian ini, suamiku memiliki tekad untuk kembali ke jalan yang benar.

Bertaubatlah suamiku, bertaubatlah. Memohon ampunlah pada Tuhan. Karena kau telah melakukan perbuatan dosa. Mabuk, berj*di, dan boros. Bertaubatlah. Tuhan Maha Pengampun. Jika kau bersungguh sungguh, pasti Tuhan akan mengampuni kesalahanmu.
Bertaubatlah.
Bertaubatlah.

Kemudian, tak kusangka. Terdengar suara yang amat panjang dari layar, yang menandakan bahwa nafas dari suamiku telah hilang. Suamiku meninggal dunia di rumah sakit ini, karena kecelakaan lalu lintas. Dokter segera mengambil penanganan yang serius dengan alatnya, namun sayang. Takdir Tuhan memang sudah ditetapkan.

Suamiku, tenanglah di sana. Tunggu aku di sana. Aku akan berusaha semaksimal mungkin di dunia ini. Semoga, amal baikku akan menyeret kau ke surga di masa mendatang. Aku tidak tahu apakah kau mendengar sepucuk kata terakhir yang kukatakan tadi. “Bertaubatlah”, itulah sepucuk kata untuk suamiku.

Cerpen Karangan: Muhammad Hafidz Agraprana
Facebook: facebook.com/muhammad.agrapranaii
Nama: Muhammad Hafidz Agraprana
Umur: 16 tahun

Cerpen Sepucuk Kata Unuk Suamiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Kecilmu

Oleh:
Mama aku rindu. Perasaan itu aku rasakan seumur hidup aku, allah lebih sayang mama sehingga beliau dipanggil begitu cepat, meninggalkan aku dan ayahku. Sejak aku berumur 5 bulan mama

Teruslah Tersenyum Aa (Part 1)

Oleh:
Malam itu suasana begitu lembap. Hujan yang turun seharian membawa serta awan pekat yang terseret di antara hamparan mega. Kawanan katak di sela-sela selokan terus menggemakan nyanyiannya, ditimpali suara

Langkah Hati Aina (Part 1)

Oleh:
Hidup harus memiliki tujuan, melangkahlah! Entah sudah berapa ribu kali ku baca kalimat yang tertulis besar di dinding kamar kos ukuran lima kali lima meter ini. Jam menunjukkan pukul

Di Balik Mendung

Oleh:
Dulu aku hanya memandangi taburan bintang di langit malam, mereka berkilauan dengan indah menggoda tanganku yang tidak luas hati untuk menggapainya mimpi seorang astronot mungkin tidak lebih tinggi dari

Perjuangan Seorang Ibu

Oleh:
Suatu hari di sebuah desa terpencil ada seorang Ibu yang baru melahirkan seorang anak perempuan di bidan terdekat. Setelah proses melahirkan selesai, sang Ibu ingin melihat keadaan bayinya. “Bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sepucuk Kata Unuk Suamiku”

  1. sakinah says:

    kata KETIKA berulang2 itu kurang aik digunakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *